CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
KEMBALI GAGAL


__ADS_3

πŸ’— MUTIARA CINTAπŸ’—


~>πŸ’—"Cinta tidak di tulis di atas kertas,


Karena kertas bisa di hapus oleh waktu.


~>πŸ’—Cinta juga tidak terukir di atas batu.


Karena batu bisa pecah.


~>πŸ’—Tetapi cinta tertulis di hati


Maka ia akan menetap abadi selamanya.


~>{ Maulana Jalaludin Rumi}<~


βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›πŸ’—βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›βš›


Wira Akhirnya mengalah, dan ia pun mengajak Asyifa ke meja makan yang ada di kamar itu, sebenarnya memang sudah tersedia makanan di sana hingga Wira tak perlu repot-repot untuk memesan makanan lagi.


"Makanlah, sayang maaf aku sudah membuat mu kelaparan" ujar Wira merasa bersalah.


"Nggak papa kok kak," bales Asiyfa lalu ia pun mulai memakan, Makananya, hening sesaat karna mereka sedang menikmati makanan penuh Hikmat. setelah selesai Wira pun mengajak Asyifa duduk di sofa.


"Kak, kapan kita akan pulang?" tanya Asiyfa saat mereka sudah duduk di sofa.


"Ra, kita baru di sini beberapa menit saja kamu sudah bertanya kapan pulang?" tanya Wira heran.


"Eh maaf kak" bales Asyifa, menundukan wajahnya


"Ra, waktu kita menikah sangatlah sederhana tidak ada pesta, tidak ada kamar pengantin, karena waktu itu keadaan kita memang tidak memungkinkan untuk itu, jadi makanya aku ingin kamu merasakan seperti pengantin pada umumnya, jadi untuk itu kita di sini sayang " ujar Wira lembut sambil menempelkan dahinya pada dahi Asyifa dan sesekali ia mengecup bibir Asyifa singkat. membuat Asyifa tersipu.


"dan untuk pesta pernikahan kita mami meminta kita menyelenggarakannya di kota J, kamu maukan sayang?" lanjut Wira lagi membelai pipi Asyifa lembut.


"Apakah harus kak?," tanya Asiyfa yang sepertinya berat mengatakan mau.


"Mami mengatakan harus sayang, karena mami ingin memperkenalkan kamu pada keluarga serta teman-teman bisnis mereka" jelas Wira membuat Asyifa tak bisa berkata-kata lagi.


"Ya sudah deh kalau itu keinginan umi Syifa nurut aja kak" bales Asyifa pasrah.


"Gitu dong sayang, pasti mami akan senang mendengarnya" ujar Wira sambil menoel hidung Asyifa.


"In syaa Allah," bales Asiyfa..


"Sayaang..?" bisik Wira sedikit menggoda.

__ADS_1


"hmm?" bales Asyifa merasa geli karena hembusan nafas Wira yang terasa hangat di telinga Asyifa


"Kita lanjutkan yang tadi yuk " bisik Wira lagi dan kali ini ia mencium leher Asyifa yang putih dan memberi sedikit tanda hak kepemilikannya, dan membuat badan Asyifa bergetar.


"K..kak.?" panggil Asyifa dengan suara bergetar dan dia juga merasa badan sedikit aneh, bila tersentuh oleh Wira


"Iya sayang?" ujar Wira yang masih aktif menciumi telinga, leher, Asyifa membuat Asiyfa bergeliat hebat..


"A..Ara gr..Li kak hum.." bales Asiyfa dan di iringi suara lenguhannya membuat Wira semakin semangat dan semakin bergairah dan dengan cepat ia pun menggedong Asyifa dan membawanya ke ranjangnya yang di penuhi bunga mawar merah


Wira pun menurunkan Asyifa ke ranjang dan memulainya dengan ritual awal yang artinya ia berdoa dulu, lalu ia memulainya dengan satu kecupan lembut di dahinya lalu turun di kedua matanya dan turun ke ujung hidungnya dan berpindah di kedua pipinya dan kemudian ia pun meraih bibir nan merah merona itu, dengan lembut, dan ia seperti memakan permen isap hingga suara kecapan terdengar jelas..


setelah ia merasa puas di tempat favoritnya ia pun mulai menjelajahi bagian dunia lainnya, tangannya juga aktif, membuat Asiyfa bergeliat dan tubuhnya terasa menghangat..


"k..kak.hum..jangan..kesana hm" ujar Asyifa dengan suara bergetar..


"Kenapa sayang?" bales Wira dengan nafas yang masih memburu karena di penuhi hasrat yang bergairahnya ia pun mengangkat kepalanya sedikit dan Melihat wajah istrinya yang memerah seperti menahan sesuatu..


"Lepaskan sayang "ujar Wira yang sepertinya paham apa yang sedang di tahan oleh sang istri..


"ka..k..Aakh.." pekikkan Asyifa membuat Wira Tersenyum, karena ia tahu sepertinya istri kecilnya sudah mencapai puncak pertamanya, karena ia ingat saat pertama mereka melakukan istrinya tidak sampai seperti itu, mungkin karena saat itu ia sedang menahan sakit karena itu adalah pertama baginya.


Wira masih tersenyum melihat wajah istrinya yang masih memerah dengan nafas yang agak tersengal-sengal, Wira pun membelai pipi istrinya dengan lembut.


"Sayang,..?" bisik wira kembali ketelinga istrinya yang masih terpejam..


" kita belum menyatu loh" Bisik Wira lagi, membuat Asyifa kembali membuka matanya


"Ya tapi k.." perkataan Asyifa tak lagi keluar karena bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Wira.. sepertinya Wira ingin menaikkan gairah sang istri lagi, namun saat bersamaan terdengar suara HP milik Wira berbunyi. membuat Asyifa tersadar..


"K..ak hp mu berbunyi " ujar Asyifa sedikit mendorong dada Wira..


"Biarkan saja sayang, kita belum menyatu" ujar Wira dengan suara serak yang sudah di penuhi hasratnya.


"Tapi kak, siapa tahu itu penting" ujar Asyifa mengingatkan Wira..yaa memang suara hp itu sangatlah mengganggu konsentrasi wira membuat Wira sangat kesal..dan akhirnya ia bangkit dari atas tubuh Asyifa lalu ia mengambil HPnya yang ternyata panggilan video dari maminya..


" Mami?, Agrrr, ganggu saja !!" ujar Wira frustasi dan sambil mengacak-acak rambutnya karena kesal, membuat Asyifa Tertawa kecil karena melihat suaminya tampak lucu di matanya.


"hihihi, Sabar kak Wira" ujar Asyifa


"Hmm, ya harus sabar walaupun kembali gagal," balesnya pasrah, lalu dengan cepat ia mengambil baju Asyifa yang tadi ia lemparkan ke bawah


"Pakailah sayang, sepertinya mami ingin melihat mu" ujar Wira lagi dan kemudian ia juga langsung mengambil miliknya, dengan wajah yang masih kesal ia juga memakai baju serta celana dengan cepat..


"iya kak" Asyifa pun memakai bajunya kembali dan tidak lupa dengan hijab juga..

__ADS_1


"Ara, kamu angkat ya panggilan mami, aku mau kekamar mandi dulu " ujar Wira


"Iya kak," setelah Asyifa menjawab Wira pun pergi kekamar mandi, sepertinya ia harus menuntaskan hasratnya dengan cara lain.


Sementara Asyifa langsung menerima panggilan video dari mami Wira..


πŸ“±' Assalamu'alaikum umi" salam Asyifa saat Sambugan mulai terhubung..


πŸ“²"Wa'alaikumus salam nak, loh Mas Bagus Mu mana nak?" tanya mami Wira dan pertanyaannya membuat Asyifa bingung..


πŸ“±"Maksud umi, mas bagus siapa umi ?" tanya Asyifa balik


πŸ“²"Ya suamimu loh ndok.." jelas mami Wira lembut.


πŸ“±" Oh kak Wira, dia lagi di kamar mandi umi" bales Asyifa lembut.


πŸ“²" kok kakak nak?, dia bukan kakak kamu loh nak, dia suami kamu, jadi panggil mas dong, " protes mami Wira.


AsyifaπŸ“±" Iya umi, nanti Ara panggil mas ya"


MamiπŸ“²" Iya dong nak, apa lagi mas mu masih ada keturunan ningrat seharusnya ia di panggil kang mas, tapi karena takut kamu ribet panggil mas saja nggak papa nak"


Asyifa πŸ“±"baiklah umi"


MamiπŸ“² " Nak jangan lupa Minggu depan kalian datang ke kota J ya, bilang juga sama mas mu, Acaranya tidak bisa di tunda "ujar mami Wira lagi.


Asyifa πŸ“±" Iya mi, in syaa Allah nanti Ara sampaikan" namun saat berbarengan Wira pun telah kembali." oh ini kak, eh mas wiranya umi" ujar Asyifa yang masih kagok menyebutkan Wira mas. Asyifa pun menyerahkan hp pada Wira, dan Wira pun menerimanya lalu ia berjalan menuju balkon kamarnya dan meneruskan pembicaraannya pada sang mami.


Setelah selesai..


"Alhamdulillah, pengganggu telah telah padam," Ujar Wira yang ternyata telah menonaktifkan hpnya.." Oke junior kita lanjutkan perjuangan kita,..Let's go!" ujar Wira penuh semangat dan ia kembali masuk ke kamarnya dan ternyata ia melihat istrinya sudah tertidur pulas..


" AGHRRR!!! kembali gagal !! " Pekiknya frustasi sambil Ia mengacak-acak kembali rambutnya..


**********


Author "CK..CK .CK.. sing sabar Yo kang mas Wira 😁😁😁 perjuangan mu harus di tunda"


Wira " Author mah tega πŸ™„πŸ™„ membuat aku tergantung lagi hmm menyebalkan!!πŸ˜’πŸ™„"


Author" Ya maaf kang mas besok kita lanjutkan lagi yaa..


jangan lupa tinggalkan jejaknya ya..


Kasih Author VOTE, sebagai bonus karena menyukai bab ini, dan berl LIKE, sebagai penyemangat buat Author dan KOMENTAR adalah pemicu Author untuk segera update..

__ADS_1


Syukron πŸ™πŸ˜Š


__ADS_2