
°°°°°°✨ MUTIARA HIKMAH ✨°°°°°°
"Baik Ataupun Tidaknya, Skenario Yang Allah Rangkai. Dalam Cerita Kehidupan Kita.
Tugas Kita Hanya Menjalani, Dengan Ikhlas Dan Penuh Rasa Syukur, Karena Semuanya Yang Terjadi Atas. Kehendak-Nya, Dan Yakinlah Pasti Ada Nikmat Keindahan Yang Terselip, Dari Setiap Rangkaian Cerita Kehidupan Yang Kita Jalani, So Apapun Yang Kita Hadapi, Semuanya Karena Allah. Dan In syaa Allah, Akan Indah Pada Akhirnya Nanti 😉😇
>[ Quotes of the day}<
$$$$$$$$$$$$$$$▶✨◀$$$$$$$$$$$$$$
Di pondok Asyifa..
Asyifa yang paling suka berada di belakang pondoknya, bila kegiatan pondok telah berakhir, selain ia merasa dekat pada almarhum neneknya ia juga sering melakukan apa yang sering di lakukan sang nenek, yaitu, memanfaatkan tanah di belakang dengan menanam berbagai sayuran di belakang rumahnya
Seperti saat ini, ia sedang membersihkan rerumputan yang ada di sekitar sayuran sawinya, dan ia melakukan itu sembari berselawatan, dengan suaranya yang merdu.
*Sholawat Innal Habibal Mushthofa *
اِنَّ الْحَبِيْبَ الْمُصْطَفَى
Innal Habibal Mushthofa
ذُوْرَأْفَةٍ وَذُوْوَفَا
Dzuu rofati waa dzu wafaa
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
اِنَّ الْحَبِيْبَ الْمُصْطَفَى
Innal Habibal Mushthofa
ذُوْرَأْفَةٍ وَذُوْوَفَا
Dzuu rofati waa dzu wafaa
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
نِلْنَا بِهِ طُوْلَ الْمَدَى
Nilnaa bihi thuulal madaa
نَصْرًا عَلَى كُلِّ الْعِدَى
Nashron ‘alaa kullil ‘idaa
نِلْنَا بِهِ طُوْلَ الْمَدَى
Nilnaa bihi thuulal madaa
نَصْرًا عَلَى كُلِّ الْعِدَى
Nashron ‘alaa kullil ‘idaa
يَسُرُّنَا اَن يُفْتَدَى
Yasurrunaa ayyuftadaa
بِالرُّحِ مِنَّا وَالْمُقَلْ
Birruuhi minnaa wal muqoll
__ADS_1
يَسُرُّنَا اَن يُفْتَدَى
Yasurrunaa ayyuftadaa
بِالرُّحِ مِنَّا وَالْمُقَلْ
Birruuhi minnaa wal muqoll
Asyifa begitu menikmati pekerjaannya yang ia sertai dengan Shollawatannya, hingga ia tak menyadari kalau saat ini ia sedang di perhatikan seseorang, dan juga mendengarkan ia bersholawat juga, hingga akhirnya saat ia hendak mengambil air untuk menyirami tanamannya di situlah ia baru tersadar hingga ia tersentak kaget.
"Astaghfirullah!, mas Wira!, bikin kaget aja deh!" seru Asyifa pada orang itu yang ternyata adalah Suaminya sendiri yaitu Wiraxsana.
"Maaf sayang, habis Sholawatan kamu menyejukkan hati mas, jadi mas tak mau membuyarkan konsentrasimu sayang'' Ujar Wira sembari ia mendekati Asyifa dan kemudian melingkari tangannya di pinggang istri kecilnya itu.
"Hmm, Alasan deh," protes Asyifa dengan bibir di manyunkan, membuat Wira gemas dan ia pun memberikan kecupan singkat pada bibir manyun sang istri, membuat mata Asyifa membulat.
"Ikh, emas!" bentaknya sembari memukul pelan dada Suaminya itu
Wira malah tertawa melihat wajah istrinya yang mulai memerah" Hahaha, siapa suruh kamu menggoda mas" katanya sembari mencubit gemas pada hidung Asyifa.
"Awu, sakit mas!" keluh Asyifa sembari mengusap hidungnya yang bekas di cubit Wira.
"tapi ngomong-ngomong kok masih udah pulang sih jam segini?" tanya Asyifa heran.
"Iya sayang, Mas pulang cepat karena nanti malam kita akan pergi berbulan madu ke Mekkah sayang" ujar Wira, yang masih dengan posisi memeluk pinggang Asyifa,
"Hah?, kamu bilang apa mas?" tanya Asyifa seperti tidak percaya akan pendengarannya.
" Nanti malam, kita akan pergi berbulan madu ke Mekah sayang '' kata Wira mengulangi perkataannya lagi,
"Benarkah Mas? Ara tidak salah dengar kan?"
"Iya sayang, kita akan berbulan madu, juga sekaligus umrah, dan semoga sepulangnya kita dari sana, kamu tidak akan pernah merasakan sakit lagi pada kepalamu lagi ya" tutur Wira lembut, sembari ia menyatukan dahinya ke dahi Asyifa.
"Aamiin, in syaa Allah mas, Terimakasih ya mas atas semua kebahagiaan ini " Ucap Asyifa, yang kini tangannya telah terlingkar di leher Wira.
"Sama-sama sayang, " bales Wira dan ia pun memberikan kecupan lembut di dahinya Asiyfa,
"Itulah yang mas inginkan Melihat mu bahagia" sambungnya lagi.
"Ya sudah sekarang kamu harus melanjutkan Sholawatan mu lagi, ma masih ingin mendengarkannya sayang" Ujara Wira, sembari ia melepaskan tangannya yang ada di pinggang Asyifa, kemudian ia pun menarik tangan Asyifa menuju ke gubuk kecil yang ada di sana, dan ia pun menyuruh Asyifa duduk di gubuk itu, setelah itu ia pun membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Asyifa.
"Eh, kok gini mas, nanti kalau di lihat orang gimana?"
"Biarkan saja mereka melihat, orang kamu sudah halalnya mas kok, jadi mereka tidak bisa protes dong" tutur Wira, sembari ia memiringkan tubuhnya, dengan wajahnya yang kini menghadap ke perut Asyifa.
"Sekarang bersholawatlah sayang, karena saat ini, Mas dan anak kita ingin mendengar Mymah bersholawat " Ujar Wira sambil memberikan kecupan pada perut Asyifa.
Asyifa mengerutkan dahinya mendengar kata Mymah, " Eh kok Mymah, mas?" tanyanya heran.
"Oh, baiklah, Mymah, ikuti kata Bypah aja deh" ujar Asyifa polos.
"Eh, kok Bypah?"
"Iya, Aby dan papah, atau mas maunya di panggil bypih ajakah, Aby dan papih?
"Ah, kok nggak enak banget sih Ra dengarnya."
"Bagus lagi mas, Mymah dan Bypah, belum ada loh, panggilan seperti itu" kata Asyifa dengan mata berbinar, Melihat Asyifa mengatakannya dengan begitu semangat Wira pun tak ingin protes lagi.
"Baiklah Sayang, sesuai perkataan Mymah, kelak Anak-anak kita Akan memanggil kita Mymah dan Bypah " Ujar Wira pasrah, walaupun sebenarnya ia merasa aneh dengan panggilan itu. "Oke Mymah, apakah sekarang sudah boleh kami mendengar Sholawatan Mymah sekarang?" Lanjut Wira lagi, sembari ia kembali memposisikan wajahnya ke arah perut Asyifa.
"Baiklah Mymah bersholawat sekarang, tapi Sambungan yang tadi ya mas?"
"Iya sayang " setelah mendengar jawaban dari Wira, Asyifa pun melanjutkan Sholawatannya yang tadi,
اِنَّ الْحَبِيْبَ الْمُصْطَفَى
Innal Habibal Mushthofa
ذُوْرَأْفَةٍ وَذُوْوَفَا
Dzuu rofati waa dzu wafaa
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
وَذِكْرُهُ فِيْهِ الشِّفَا
Wa dzikruhu fiihis-syifaa
اِذَا تَمَادَى بِالْعِلَل
Idzaa tamaadaa bil ‘ilal
طَارَتْ لَهُ اَرْوَاحُنَا
__ADS_1
Thoorot lahu arwaahunaa
دَامَتْ بِهِ اَفْرَاحُنَا
Daamat bihi afroohunaa
طَارَتْ لَهُ اَرْوَاحُنَا
Thoorot lahu arwaahunaa
دَامَتْ بِهِ اَفْرَاحُنَا
Daamat bihi afroohunaa
زَالَتْ بِهِ اَتْرَحُنَا
Zaalat bihi atroohunaa
فَهُوَ الرَّجَاءُوَالْاَمَلْ
Fahuwar-rojaa-u wal amal
زَالَتْ بِهِ اَتْرَحُنَا
Zaalat bihi atroohunaa
فَهُوَ الرَّجَاءُوَالْاَمَلْ
Fahuwar-rojaa-u wal amal
Terjemahan Indonesia
Sesungguhnya Nabi Muhammad yang terpilih
Memiliki kasih sayang dan kemuliaan
Dan mengingatnya adalah obat
Bila ditimpa penyakit
Dan mengingatnya adalah obat
Bila ditimpa penyakit
Kami memperoleh pertolongan
Dalam menghadapi setiap musuh
Kami memperoleh pertolongan
Dalam menghadapi setiap musuh
Kami bahagia
Saat ruh dan perkataan kami jadikan tebusan
Kami bahagia
Saat ruh dan perkataan kami jadikan tebusan
Sesungguhnya Nabi Muhammad yang terpilih
Memiliki kasih sayang dan kemuliaan
Dan mengingatnya adalah obat
Bila ditimpa penyakit
Dan mengingatnya adalah obat
Bila ditimpa penyakit
Ruh – ruh kami berterbangan
Kekal rasa bahagia kami
Ruh – ruh kami berterbangan
Kekal rasa bahagia kami
Hilang kegelisahan kami dengannya
Itulah harapan dan keinginan kami
Hilang kegelisahan kami dengannya
Itulah harapan dan keinginan kami
Suara Asyfa yang mendayu-dayu terdengar begitu merdu, di tambah lagi dengan suasana yang sejuk karena terpaan angin yang sepoi-sepoi membuat Wira semakin terlena hingga tanpa terasa ia pun tertidur di dalam pangkuan Asyifa.
********
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 😉🙏
SYUKRON 🙏😊