
๐ซ๐ซ MUTIARA ALFAQIROH ๐ซ๐ซ
"Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku"
__๐ซUmar Bin Khattab๐ซ__
NNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNN
Sudah dua Minggu juga mereka berada di tanah suci, dan kini mereka telah kembali ke tanah air, dan bahkan mereka juga sudah melakukan aktivitas mereka masing-masing
Seperti Wira yang saat ini sudah beraktivitas kembali, di kantornya yang sudah dua Minggu ia tinggalkan
" Bagaimana perusahaan selama aku tinggalkan Ren?" tanya Wira saat ia sudah menduduki kursi kebesarannya.
"Baik, hanya saja perusahaan cabang yang di kota J, lagi bermasalah pak, dan itu membuat tuan besar terserang jantung karena sahamnya sangat anjlok" jawab Rendi, membuat Wira terkejut.
"Apaa?!, kapan itu terjadi?"
"Tiga hari yang lalu pak,!"
"Kenapa kau tidak mengabari Aku?!"
"Saat itu saya hendak mengabarkan bapak, tapi ibu bapak melarang saya" jawab Rendi apa adanya.
"Ya sudah pesankan aku tiket pesawat untuk berangkat siang ini" titah Wira yang ia langsung bangkit dari duduknya.
"Baik pak!, oh ya satu atau dua tiket yang harus saya pesankan pak?" tanya Rendi.
"Satu saja karena, aku tak mungkin membawak istriku, karena ia baru melakukan perjalanan jauh, jadi nggak mungkin aku membawanya itu akan membahayakan dirinya." jelas Wira.
"Baiklah Pak! saya akan pesankan tiket pesawat hanya untuk anda saja" kata Rendi.
"Ya sudah Ayo kita kembali ke pondok!" Ajak Wira dan dengan langkah cepat wira meninggalkan ruangannya dan langsung menuju lift untuk turun dan pintu lift terbuka kembali tepat di area perparkiran khususnya yang berada di lantai paling bawah dan dengan cepat juga ia memasuki mobilnya setelah di rasa majikannya telah siap, Rendy pun mulai melajukan mobilnya dengan perlahan keluar meninggalkan area perparkiran dan setelah di jalan raya Ia mempercepat laju mobilnya menuju ke pondok tempat Asyifa berada
__ADS_1
Dan hanya memakan waktu 45 menit akhirnya mobil mereka memasuki area pondok, dan setelah mobil terparkir dengan sempurna Wira pun turun dari mobilnya dan langsung melangkah cepat menuju pondok Asyifa dan sesampainya di sana.
"Assalamu'alaikum" Salam Wira Saat ia memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumus salam!," Jawab Asyifa sedikit kaget " loh mas? baru pergi kenapa sudah pulang lagi?" tanyanya penasaran.
"Iya sayang, karena mas mau pergi ke kota J kamu nggak papakan Ra, kalau Mas tinggal?' tanya Wira sedikit cemas.
"Nggak papa sih mas, Tapi emang ada apa ke kota J, kak mendadak sekali Mas mau perginya" tanya Asyifa penasaran
" Papi sakit Ra, dan kantor cabang di sana sedang ada masalah jadi Mas harus pergi menyelesaikan itu Ra" jelas Wira.
"Eh, Papi sakit?, Kenapa Mas enggak ngajak Ara kalau papi sakit?
"Tidak sayang, Mas tak ngajak kamu karena mas takut itu akan membahayakan kandunganmu karena kamukan baru melakukan perjalanan juga Ra, jadi nggak papa ya kamu tidak ikut " kata Wira sembari ia melingkari tangannya ke pinggang Asyifa.
"Oh, ya udah nggak papa mas, yang penting mas hati-hati ya di sana" balas Asyifa lembut.
"Baiklah Sayang, kamu juga ya, dan ingat jangan menunggang kuda lagi, kalau sampai kamu melanggarnya maka hukumnya sangatlah kejam, mengerti kamu Ra?"
"Kenapa?, apa kamu mau mencoba hukuman beratnya sekarang?" tanya Wira balik.
"Yaa, apa dulu hukumannya looh?" tanya Asiyfa penasaran.
Melihat istrinya begitu penasaran, Wira pun mendekati mulutnya ke kuping Asyifa.
"Hukuman, bercinta sebanyak lima ronde " bisiknya, membuat Asiyfa bergidik karena hembusan nafas Wira..
"Hah?, siapa takut!, 10 ronde juga Ara jabanin,!" kata Asyifa, membuat Wira membulatkan matanya.
"Haiis, kamu semakin nakal yaa!" bales Wira sembari mencubit gemas hidung Asyifa.
"Aduuh, sakit mas!" keluh Asyifa Sambil berusaha melepaskan tangan Wira yang masih berada di hidungnya.
__ADS_1
"Rasain, makanya jangan menantang emas " Ujar Wira
"Ya itukan salah emas Yee, mana ada hukuman kok bercinta sih, " protes Asyifa dengan mulut cibirkan, membuat Wira gemas dan langsung menyambarnya, lumayan lama ia menikmati kenyalnya bibir Asyifa, hingga tautan itu berubah menjadi panas, dan ia mulai juga merasakan hasratnya Meminta lebih,
"Sayang?"
"Hmm?",
"Mas menginginkannya, lagikan mas mau pergi sayang " kata Wira yang Kepalanya sudah menyusup kedalam hijab besar milik Asyifa dan entah apa yang dia lakukan di dalam sana, hingga membuat Asyifa mengeluarkan suara lenguhannya
"Eh, umh, tapi Maskan pergi hanya sebentarkan? hum" Mendengar suara lenguhan sang istri malah membuat Wira semakin bersemangat,
"Belum tahu Sayang, tapi mas usaha secepatnya mas pulang " bales Wira dengan suara yang sudah berat, karena menahan hasratnya dan tak mau basa-basi lagi ia pun langsung menggendong Asyifa ke kamarnya, hingga ia melupakan Rendi yang sedang menunggunya.
Hampir dua jam Rendi menunggu Wira, yang entah apa yang di lakukannya bersama Asyifa, hanya merekalah yang tahu, cuma Rendi jadi gelisah karena bosnya tak kunjung datang, pasalnya keberangkatannya sudah hampir mendekati waktu yang sudah di jadwalkan,
"Aduh bos kemana sih?, keberangkatannya tinggal 45 menit lagi, apa dia lupa kali jarak pondok ke bandarakan lumayan jauh, hais apa aku susul aja ya, " Gumam Rendi yang nampak sangat gelisah. " Sudahlah gue susul aja, dari pada entar gue juga yang susah" Gumam Rendi lagi, dan ia pun langsung turun dari mobilnya dan hendak melakah namun langkahnya terhenti karena suara seseorang.
"Mau kemana kamu?"
"Eh bos!" Sentak Rendi saat melihat Wira yang wajahnya nampak segar serta rambut yang masih sangat basah Rendi tertegun melihatnya.
"Ada apa?!" tanya Wira dengan Alisnya yang naik sebelah.
"Eh, Nggak papa bos"
"Ya sudah ayo cepat berangkat!" titah Wira dan ia pun langsung masuk ke dalam mobilnya.
setelah sang bos telah naik Rendi pun langsung menutup pintu mobilnya, setelah itu ia pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudinya dan setelah itu Ia pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
Rendi mengemudikan mobil nampak gelisah karena ia mengejar waktu sementara sang bos sejak tadi hanya senyum-senyum saja, tanpa menghiraukan jadwal keberangkatannya.
"Hmm, kenapa aku jadi nggak rela meninggalkan Asyifa yaa?, Akh, gue belum berangkat tapi gue udah merasa rindu, apa lagi sekarang, istri kecil semakin pintar dan ia juga semakin hot " Batin Wira. '" apa yang sedang gue pikirkan sih?, akh sudahlah, hanya satu malam ini, Tunggu mas ya sayang" _: masih Batin Wira.
__ADS_1
Ya begitulah di sepanjang jalan Wira hanya hanyut di dalam pemikirannya ingatannya saat ia bercinta tadi membuatnya tak rela meninggalkan Asyifa, namun apalah Daya tugasnya sebagai anak tunggal sangatlah berat makanya ia tak bisa mewakili dirinya pada orang lain, kalau sedang berurusan dengan yang namanya orang tua.
Mobil Wira kini sudah memasuki bandara, dan dengan cepat ia langsung naik ke pesawatnya. nasib baik ia memiliki seorang supir mantan pembalap makanya ia mampu membawa Wira tanpa harus tertinggal pesawat.