CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
KISAH FATIMAH AZ-ZAHRA


__ADS_3

Setelah melihat isi rumah bagian depan dan belakang, kini Wira menggendong istrinya menuju kamar yang akan mereka tempati.


Sesampainya di depan pintu, dengan perlahan Wira menyorong pintu dengan kakinya.


Dan terlihatlah kamar minimalis yang indah, membuat Asiyfa tercengang, tidak ada ada lagi tempat tidur kecilnya yang berukuran 4 kaki, yang hanya muat satu orang..



dan sekarang tempat tidur yang terbuat dari kayu dengan spring bed bersepraikan putih yang berukuran 6 kaki sudah pasti muat untuk dua orang bahkan tiga pun bisa,


Wira memperhatikan wajah Asyifa yang masih tercengang melihat perubahan kamarnya, ia tersenyum jahil, dan..


"Muach, kamu suka nggak?" Wira mengecup pipi Asyifa singkat sembari memberi pertanyaan. membuat Asyifa terkejut dan spontan mengatakan.


"Suka !!" dengan tegas.. sambil memegang pipi yang baru di cium Wira..


"Benarkah? kalau begitu tambah lagi, muach.." Asyifa kembali di kejutkan oleh kecupan susulan Wira.


"Eh, kenapa di cium lagi?" tanya Asyifa polos..


"Tapikan kamu bilang suka tadikan?" goda Wira membuat Asyifa salah tingkah..


"Eh, Iiss bukan suka sama ciuman kakak! tapi suka sama kamar ini.,!" Nampak Asyifa seperti kesal, karena suaminya salah paham dengan ucapan suka, sementara Wira yang melihat perubahan Asyifa malah membuat semakin gemas.


"Yaa maaf Araa..aku kira kamu suka ciumanku" ucap Wira sambil mengedipkan sebelah matanya., membuat Asyifa terkejut melihat mata genit sang suami.


"Eh, kak Wira genit!" ucapnya sambil menepuk dada Wira lalu ia tertunduk malu.


"Hahaha wajah kamu memerah Ara, bikin gemas tahu..tapi kamu tenang aja aku genit cuma sama kamu kok sayang.." ujar Wira lembut


"Iis apaan sih kak Wira turunkan Ara sekarang" titah Ara yang mulai merasakan jantungnya kembali berdendang saat Wira mengatakan itu tepat di telinganya.


"Baiklah sayang apapun kata mu" bales Wira yang sembari melangkah mendekati tempat tidur mereka.


Degh..Degh..Degh.. sekali lagi Jantung Asyifa semakin kencang detakan nya tatkala Wira mengatakan "Sayang".

__ADS_1


Setelah sampai di tempat tidur, Wira pun meletakkan Asyifa dan membenarkan bantalnya.


"Sudah nyaman sekarang?" tanya Wira lembut dan di anggukkan oleh Asyifa.


"Sudah siap untuk belajar?" Tanya Wira lagi, membuat Asyifa bingung.


"Belajar? belajar apa?" tanya Asyifa balik


"Belajar menjadi istri sempurna" jawab Wira lagi-lagi ia mengedipkan sebelah matanya, membuat Asyifa jantung Asyifa semakin nggak menentu dan semakin wajahnya memerah.


"Ma-maaf k-kak.. Sy-syifa belum si-siap " bales Asiyfa gugup, dengan menundukkan wajahnya. Wira yang melihatnya malah tertawa.


"hahaha wajah kamu semakin lucu Syifa, aku becanda kok, kamu tenang aja aku nggak sejahat itu kok, nggak mungkinkan aku menuntut kewajibanmu dengan keadaan mu yang lagi sakit? dan aku juga sudah berjanji padamu bukan? kalau aku akan menunggu kamu yang benar-benar siap, jadi kamu nggak usah pikirkan itu lagi yaa,.. fokus saja dengan kesembuhan kakimu oke.." Ucap Wira dengan lembut, namun membuat Asyifa merasa tenang.


"Ya sudah kalau begitu istirahatlah dulu, karena kaki kamu masih sakit aku tadi meminta Abi Ustadz, untuk menyuruh seorang yang biasa mengajarkan mu datang kemari, kmu sudah siapkan untuk belajar lagi?" lanjut Wira lagi.


"In syaa Allah kak Ara siap kok"


"Alhamdulillah, kalau begitu aku pergi dulu ya, tadi aku di minta untuk datang ke tempat ardiyan, kamu nggak papakan aku tinggal?"


"Baiklah sayang, kalau begitu aku pamit ya Assalamu'alaikum" pamiit Wira dan sebelum ia pergi ia menyempatkan untuk mengecup kening Asyifa, membuat Asyifa kembali merah.


"wa-wa'alaikumus salam" Balesnya gugup ,Wira Tersenyum lagi lalu ia pun melangkah keluar meninggalkan Asyifa yang masih merasakan jantungnya yang tidak normal menurutnya.


Dan benar saja tak lama Wira pergi seorang wanita pun datang.


"Assalamu'alaikum" salamnya wanita itu


"Wa'alaikumus salam eh ustadzah Nina?, masuk ustadazah " bales Asyifa dan mempersilahkan Nina masuk.


"Cie yang sudah menjadi seorang istri, maa syaa Allah banget perubahannya" goda Nina saat melihat wajah Asyifa yang masih merah.


"Apaan sih ustadzah, em sebenarnya juga Syifa tidak menginginkan ini, Syifa belum siap untuk berumah tangga Ustadzah" keluhnya.


"Astaghfirullah, kamu nggak boleh ngomong begitu, seharusnya kamu bersyukur karena Allah ingin kamu memiliki pahala yang banyak, apalagi kalau kamu taat pada suami kamu, seperti yang di katakan dalam hadits:

__ADS_1


Rasulullah ﷺ Bersabda:


إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ


“Apabila seorang istri menjaga shalatnya, puasa (Ramadhan)-nya, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka dikatakan kepada wanita tersebut, masuklah engkau ke Surga dari pintu mana pun yang engkau sukai.” [HR. Ahmad].


"Ma syaa Allah bangetkan? emang kamu nggak ingin masuk surga dari pintu mana saja?" jelas Nina dan di akhiri pertanyaan.


"Mau Ustadzah.."


"Kamu mau dengar kisah umma Fatimah Az-Zahra?"


"Mau Ustadzah.." Nina pun mulai bercerita kisah Fatimah Az-Zahra.


"Suatu hari Rasulullah saw mendapati Fatimah Az-Zahra, putrinya tercinta, sedang menggiling gandum sambil menangis. Fatimah menjelaskan bahwa menggiling gandum dan semua pekerjaan rumah tangga membuatnya bosan. Karena itu, dia menangis.


Mendengar itu, Rasulullah mengambil penggilingan itu seraya mengucapkan basmalah. Sekejap, penggilingan itu berputar sendiri dengan izin Allah SWT. Lalu terdengar batu itu bertasbih sambil terus menggiling gandum yang dilempar nabi. Maka, ketika Muhammad memintanya berhenti berputar, penggilingan itu berbicara dengan fasih bahwa dia siap diperintah menggiling gandum dari Timur ke Barat karena ia enggan --seperti yang didengarnya dari ayat Alquran-- masuk neraka yang bahan bakarnya terdiri atas batu dan manusia.


Rasulullah lalu berjanji bahwa penggilingan itu nanti akan menjadi salah satu batu mahligai Fatimah Az-zahra di dalam surga. Maka bergembiralah batu itu dan kemudian terdiam.


Nabi menoleh pada Fatimah dan berkata jika Allah menghendaki, niscaya penggilingan itu berputar sendiri untuk putrinya. Tetapi, itu dilakukan karena Allah menghendaki beberapa kebaikan ditulis dan beberapa kesalahan dihapuskan dari Fatimah. Ia diangkat derajatnya oleh Allah. ''Ya Fatimah, jika perempuan menggiling tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.''


''Ya Fatimah, jika perempuan berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya, maka Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Jika ia meminyaki dan menyisir rambut anak-anaknya dan mencuci pakaian mereka, Allah akan mencatatkan pahala orang yang memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang telanjang. Jika perempuan menghalangi hajat para tetangganya, Allah akan menghalanginya dari air telaga Kausar di hari kiamat.''


''Ya Fatimah, hal yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha padamu, tidaklah akan aku doakan kamu. Tahukah engkau bahwa ridha suami bernilai lebih di hadapan Allah dan kemarahannya adalah kemarahan Allah?''


Nabi kemudian mengungkapkan segala kebaikan lain yang bakal diraih perempuan sebagai rumah tangga, salah satunya adalah, ''Jika perempuan melayani suaminya sehari semalam dengan baik hati, ikhlas, serta niat yang benar, Allah akan mengampuni semua dosanya dan akan memakaikannya sepersalinan pakaian hijau dan dicatatkan untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan dikaruniakan untuknya seribu pahala haji dan umrah.''


**Bersambung


Jangan lupa ya Tinggalkan jejaknya.


VOTE.. LIKE.. KOMENTAR


SELALU AUTHOR TUNGGU LOH SEBAGAI PENYEMANGAT BUAT AUTHOR SYUKRON 🙏😊**

__ADS_1


__ADS_2