
βπΏπΊ MUTIARA ALFAQIROH πΊπΏβ
"Semua penulis akan meninggal.
Hanya karyalah yang akan abadi sepanjang masa, maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti"
ββπΏ(Ali bin Abi Thalib)πΏββ
βββββββββββπβββββββββββ
Wiraxsana, memasuki ruang rawat Asyifa dan terlihatlah olehnya istri kecilnya yang masih memejamkan matanya, yang nampaknya ia belum tersadarkan dari pingsannya tadi. lalu ia pun menghampiri ke ranjang tempat istrinya terbaring, kemudian wira pun duduk di sisi ranjang tersebut sambil tangannya mengelus pipinya, kemudian ia memberi kecupan lembut di dahi Asyifa.
Dan saat ia mengangkat wajahnya dari Dahi Istrinya, tiba-tiba Asyifa membuka matanya, dan itu membuat Wira senang melihatnya.
"Alhamdulillah, Akhirnya kamu sadar juga Sayang" Ujar Wira sembari menyatukan dahinya ke dahi Asyifa.
"Emang Ara kenapa mas?" tanya Asiyfa dengan suara masih lemah.
"Tadi kamu tidak sadarkan diri, saat kita menyelesaikan tawaf di Ka'bah tadi sayang" jelas Wira lembut, "Apa yang sebenarnya kamu rasakan tadi sayang?" tanya Wira lagi
"Ara juga nggak tahu Mas, apa yang terjadi pada diri Ara, soalnya Ara nggak ingat" bales Asyifa sembari pandangannya ke atas seperti ia sedang berusaha mengingat-ingat kejadian itu.
"Ya sudah Jangan diingat lagi, yang penting sekarang kamu harus banyak istirahat, dan Jangan berpikir yang macam-macam lagi oke" Titah Wira sembari ia membelai kepala Asyifa.
"Baiklah tapi dengan satu syarat mas"
"Hah?, mas kan cuma nyuruh kamu istirahat Ra, kok pakai syarat segala sih?"
" hmm ya udah kalo nggak mau Ara kan nggak maksain emaskan? " kata Asyifa dengan memutar bola mata malasnya.
"Iya, iya, apa syaratnya Ra?" tanya Wira yang akhirnya pasrah. Asyifa bukannya menjawab ia malah mengisyaratkan Wira agar mendekat padanya melalui jari telunjuknya yang ia goyangkan agar Wira mendekat pada wajahnya, seperti ia ingin membisikkan sesuatu padanya, dan Wira pun mengikuti isyarat itu dan ia pun mendekati wajahnya pada Asyifa.
__ADS_1
Melihat Wira sudah mendekat padanya, Asyifa mendekati bibirnya ke kupingnya Wira, dan ia pun mulai berbisik "Syaratnya Mas Harus menyenangi Ara dulu" bisiknya dan Wira langsung menatap wajah Asyifa, Namun seketika matanya membulat ketika melihat istrinya mengedipkan mata nakalnya.
"Eh, hmm ternyata Istriku mulai nakal ya!" Ujar Wira sambil menyentil pelan dahi Asyifa, "Baiklah sekarang aku akan menyenangkan mu," katanya lagi sembari menggelitiki Asyifa dan otomatis Asyifa langsung Tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahaha, ampun mas!, hahahah, hahaha" serunya di sertai dengan tawa terbahak-bahak
"Tidak ada ampun bagi mu" balas Wira yang masih menggelitiki Asyifa..
"Hahaha, berhenti mas hahahha" pinta Asyifa lagi yang masih tertawa terbahak-bahakΨ Wira yang teringat perkataan dokter, ia pun langsung berhenti menggelitiki Asyifa
"Bagaimana sekarang sudah senangkan?'' tanya Wira polos, dengan berpura-pura ia tak tahu apa yang dimaksud oleh Istrinya itu, padahal ia tahu apa yang di maksud oleh Asyifa, karena ia sudah mulai memahami istrinya semenjak ia hamil, ia suka bermanja-manja sayang padanya
Asyifa yang nampak kelelahan akibat di kelitiki ia tak bisa berbicara lagi, dan akhirnya ia hanya memandang Suaminya sesaat lalu ia pun memejamkan matanya.
" Eh, Ara?, kamu nggak papakan sayang?' tanya Wira sambil memegang pipi istrinya itu, mendengar pertanyaan suaminya Asyifa membuka matanya, dan ia tersenyum.
"Ara nggak papa kok mas" ucapnya lalu ia memejamkan matanya lagi, Wira yang melihat itu jadi merasa aneh biasanya Asyifa akan protes atau merengek bila Wira, mengalihkan keinginannya, tapi kali ini rasanya istrinya sangat berbeda dan karena merasa tidak tega akhirnya Wira membaringkan tubuhnya, di sisi Asyifa dan langsung disambut oleh Asyifa dengan memeluk suaminya.
Wira tersenyum dan sambil membelai kepala Asyifa " Tidurlah sayang agar kamu segera pulih kembali " ucapnya sambil mengecup dahi Asyifa penuh kasih sayang, dan setelah di lihatnya nafas sudah mulai teratur menandakan ia telah terlelap, Wira pun turun kembali dari ranjang tersebut, dan setelah membenarkan selimut Asyifa ia Kembali keluar menemui para sahabatnya
"Dia sudah sadar tadi Nis, dan sekarang dia sudah kembali tidur" Balas Wira
"Alhamdulillah Semoga dia kembali sehat seperti sedia kala ya Bang" kata Anisa lagi
"Aamiin, ya sudah sebaiknya kalian istirahat jugalah karena hari ini cukup melelahkan bagi kita semua'' kata Wira lagi.
"Iya benar kata Wira sebaiknya kalian istirahatlah dulu aku dan Nisah masih ada yang harus kami cari " sambung Ardiyan memberi titah pada temannya yang lain
"Tapi gue sama Nina juga mau pergi mencari oleh-oleh nih" Timpal Dika juga.
"Oh ya sudah kita sama-sama aja perginya biar biar Andi saja yang duluan ke hotel" Bakes Ardian "Nad, sebaiknya kamu kembalilah ke hotel, agar Andi bisa istirahat dulu" Lanjut Ardiyan pada Nadziha, karena ia melihat wajah Andi yang terlihat kelelahan karena ia sempat memaksakan diri agar bisa berjalan kembali.
__ADS_1
"Baiklah bang, kalau begitu, Ziha bawak mas Andi duluan ya?," Bales Nadziha pada Ardiyan,
"Ayo mas kita balik ke hotel duluan" Ajak Nadziha pada Andi, dan Ia langsung bangkit dari duduknya kemudian Ia pun menghampiri kursi roda Andi dan bersiap untuk mendorongnya
"Ya sudah kalau gitu gue sama Nadziha balik duluan ke hotel ya guys, Assalamu'alaikum" Pamit Andi pada teman-temannya
"Wa'alaikumus salam," jawab mereka secara serentak, dan setelah mendapat jawaban, Nadziha pun mulai mendorong kursi roda Andi menuju pintu keluar rumah sakit.
sementara Ardian, Dika dan Dimas beserta istri- istrinya juga ikut pamit pada Wira
"Ya udah Wir, gue sama yang lain kami juga ya Lo jaga Asyifa baik-baik, nanti in syaa Allah kami kesini lagi" kata Ardian pada Wira.
"Oke Kalian juga hati-hati ya" Balas Wira pada teman-temannya
"Sip bro, ya sudah kami pamit ya Assalamu'alaikum " pamit Ardiyan sembari menggandeng tangan Anisah, dan di ikuti juga dengan Dimas dengan Lisa, dan Dika sama Nina.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" setelah mendapat jawaban salamnya, Ardiyan Dimas dan Dika berserta istri-istrinya pun berlalu meninggalkan Wira seorang diri dan setelah para sahabatnya sudah tak terlihat lagi wira pun kembali ke ruang rawat Asyifa.
Sesampainya di sana ternyata Istrinya sudah terbangun, membuatnya kaget. " Loh kok sudah bangun sih?, kamukan baru saja tertidur Ra? Kenapa sudah bangun lagi " Tanya Wira saat ia sudah berada di samping ranjang Asyifa.
" Ara nggak bisa tidur, kalau nggak emmm.." kata Asyifa yang nampak malu untuk mengutarakan keinginannya, dan ia hanya memainkan ujung selimutnya tanpa berani menatap mata Suaminya.
"Emm apa Ara?, katakanlah?" tanya Wira lembut.
"Emm itu loh mas" ucapnya yang kali ini ia hanya menyatukan ujung jari telunjuknya serata memainkannya.
"Apa loh sayang?" tanya Wira semakin penasaran.
"Ngeee, Ara baru bisa tidur kalau sudah mencium bau ketek mas Wira loh" bales Asiyfa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya..
"Haaaah???"
__ADS_1
**********
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ππ