CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
PEMBALASAN SI GANTUNG.


__ADS_3

โ‡โ‡โ‡๐Ÿต๏ธ MUTIARA HIKMAH ๐Ÿตโ‡โ‡โ‡


"Sebagaimana yang telah diceritakan oleh para pendahulu kita. Berbuat baiklah kepada sesamamu, mulailah segala sesuatu sedari yang termudah terdekat, sehingga terbentuklah semua menjadi tersistem dan sistem yang terbaik adalah sistem ala Rasulullah ๏ทบ


Bermakna sarat aksara dan Terbentuk tersusun rapi, dari yang terkecil menuju ke yang besar, dari yang terdekat barulah kemudian meluas pada sekitar lingkungan kita"


__sแด›แดส€ษชแด‡s แดา“ แด›สœแด‡ แด…แด€ส__


โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ


Malam harinya, setelah mereka melakukan sholat berjamaah isya, Ardiyan mengajak teman-temannya membakar ikan bersama untuk makan malam mereka semua, di halaman belakang vila Ardiyan


Seperti biasa kalau lima sekawan telah berkumpul suasana tak pernah sepi selalu saja riuh dengan canda gurau mereka, yang membuat suasana menjadi hangat.


seperti saat ini setelah kelimanya menyelesaikan bakaran ikannya Mereka pun mengajak istri-istri mereka makan bersama namun tetap mereka makan terpisah, perempuan bersama perempuan laki-laki bersama laki-laki, makanya Dimas duduk bersebelahan dengan Ardian ia terlihat sangat menikmati memakan ikan bakarnya namun tulang-tulang bekas ikan yang telah Ia makan Iya taruh di dekat kaki Ardiyan.


"Ar, lo kok rakus banget sih makan ikan segitu banyaknya?," kata Dimas sembari ia menunjuk tulang-tulang ikan yang berada di dekat Ardiyan.


"Ah, lo lebih rakus, makan ikan sama tulang-tulangnya, tuh lihat aja piring lu bersih tidak ada tulang satupun." balas Ardian dengan senyum miringnya.


"Eh, aduuh kok jadi gue yang kenak yaa" kata Dimas sembari ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Uahahaha, mampos Lo!, itu namanya senjata makan tuan kasihan deh lo, hahaha." ledek Andi yang masih tertawa terbahak-bahak,


Dimas yang melihat Andi tertawa terbahak-bahak hingga mulutnya ternganga, timbulah Ide usilnya, dan ia pun langsung mengambil sebuah ikan yang masih utuh lalu dengan sigap ia memasukkannya ke mulut Andi.


"Nih, makan tuh, ikan, biar mulut Lo diam!" kata Dimas sembari memasuki ikan dari kepalanya terlebih dahulu, hingga membuat tawa Andi langsung berhenti seketika.


Andi pun langsung menarik kembali ikan yang ada di dalam mulutnya, " Dasar koplak Lo!, mau bunuh gue!" bentak Andi kesal.


"Ngapain juga gue bunuh lu, gue cuma ngasih pelajaran kalau tertawa tuh jangan lebar-lebar bro," balas Dimas santai.


"Haiis, kalian berdua selalu saja ribut tiada hari tanpa berdebat bikin pusing aja!" kata Dika sembari ia bangkit dari duduknya, "gue masuk duluan ya guys dah ngantuk lelah melihat perdebatan mereka mulu bye!" sambungnya lagi dan kemudian ia menarik tangan Nina dan kemudian ia langsung melangkah memasuki villa tersebut.


"Lo sih, ngancurin suasana aja sih!" protes Wira terhadap Dimas.


"Lah kok gue?,..."


"Sudah sudah, jangan berdebat lagi sebaiknya kita istirahat, saja karena hari ini sudah cukup melelahkan untuk kita." ujar Ardian memotong pembicaraan Dimas.


"Oke deh kalau begitu, ayo Ayang kita bobo cantik" kata Dimas semaria bangkit dari duduknya lalu ia juga mengajak Lisa memasuki wilayah Villa Ardian, dan diikuti oleh para teman-temannya juga yang akhirnya ikut masuk bersama istri-istri mereka ke dalam villa tersebut.

__ADS_1


******


Sementara Dika yang baru saja memasuki kamar mereka, ia langsung duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut, sambil memijit pelipisnya dengan kedua tangannya, Nina yang melihat suaminya langsung mendekati sang suami.


"Uda kenapa si Nina pijitin katanya sembari menggantikan tangannya Dika dengan tangan Nina dan iapun mulai memijat pelipis Dika.


"nggak tahu nih Sayang, kepala Uda tiba-tiba pusing aja," balas Dika sembari memejamkan matanya sambil menikmati pijatan dari Nina.


"Mungkin Karena kelelahan Da, kan tadi sore Kalian habis berkelahikan?" kata Nina yang masih memijiat pelipis Dika.


"Mungkin juga sih sayang, atau mungkin karna Uda belum mendapatkan jatah selama kamu hamil sayang, " kata Dika yang langsung menarik tangan Nina, hingga Nina terjatuh dalam pangkuannya.


"Aakh!!" Pekik Nina karena suaminya tidak memberikan aba-aba saat menariknya. "Uda!, bikin Nina kaget aja sih!" protes Nina dengan wajah kesal hingga bibirnya maju kedepan, membuat Dika gemas, dan tanpa aba-aba lagi ia pun langsung meraih bibir ranum Nina, membuat mata Nina membulat.


"Uhmm?" Nina seperti ingin protes tapi tak di hiraukan oleh Dika, karena ia sedang menikmati bibir bak permen itu, karena Dika memainkan bibir miliknya dengan lembut, membuat Nina akhirnya ikut terhanyut dalam permainan bibir Dika.


Dengan bibir yang masih bertautan, Dika pun langsung menggendong Nina yang tadi berada di pangkuannya dan ia langsung membawanya ke ranjang mereka dengan posisi bibir yang masih saling bertautan, sesampainya di ranjang, Dika pun meletakkan istrinya dengan perlahan, dan terlihat juga hasratnya semakin meningkat setelah mereka berada di atas ranjang.


" Sayang?" panggil Dika dengan suara beratnya, setelah Ia melepaskan tautannya, sembari ia membuka hijabnya Nina.


"Hmmm? "


"Uda sedang ingin, boleh ya?, Uda akan melakukannya dengan perlahan sayang." kata Dika dengan mata yang begitu berharap pada Nina di tambah lagi suara yang sedikit tertahan, membuat Nina tak sampai hati melihatnya.


Setelah mendapatkan lampu hijau dari Nina, Dika pun tak ingin menundanya lagi dengan semangat empat limanya, ia pun mulai berpetualang, mengarungi bahtera bercintanya, dari penelusuran jalan setapak hingga menuju ke perbukitan, ia begitu menikmati berpetualangnya di sana, hingga membuat Nina mengerang menandakan ia telah mencapai kenikmatannya, membuat Dika tersenyum puas melihatnya,


Dan kini ia pun meningkatkan permainannya yaitu permainan mengasah pedangnya yang kini sudah menyatu dengan gua belantara.


Namun di saat ia sedang menikmati dan meningkatkan ritme permainan pengasahannya, tiba-tiba..


Tok..Tok..Tok..


Terdengar pintu kamarnya di ketuk seseorang, hingga membuat Nina dengan spontan mendorong tubuh Dika, hingga penyatuan itu pun terlepas begitu saja.


Dika tersentak kaget, saat Nina mendorongnya tiba-tiba, karena ketika ia sedang menikmati permainannya membuat ia tak mendengar ketukan pintu kamarnya.


"Eh!, sayang ini nanggung banget!" kata Dika dengan nafas yang masih memburu juga suara yang nampak sudah berat sekali, sepertinya ia sedang menahan sesuatu yang akan meledak.


Tok..Tok..Tok.. ketukan pintu terdengar lagi.


"Tuh, ada yang mengetuk pintu Da." bales Nina yang nafasnya juga masih tersengal-sengal.

__ADS_1


"Sudah biarkan saja sayang, ayo kita lanjutkan lagi, ini sangat tanggung banget sayang" kata Dika dengan suara beratnya dan dia pun mulai mendekati Istrinya lagi, dan saat ia hendak menyatukan dirinya kembali kepada istrinya tiba-tiba..


TOK..TOK..TOK..


kali ini ketukannya terdengar keras, membuat sekali lagi Nina mendorong Dika dan itu membuat Dika semakin frustasi.


" Sabar Uda, Lihat dulu ya?, mungkin ada yang penting" Ujar Nina sembari memegang wajah suaminya yang nampak sudah frustasi banget.


"Haiiis!, iya iya!, Huh!, siapa sih mengganggu saja!" Ujar Dika yang terlihat amat kesal, dan dengan cepat ia kembali memakai bajunya, setelah ia membenarkan selimut sang istri ia pun langsung melangkah menuju ke pintu kamar dan langsung membukanya dan terlihatlah wajah nyengir Dimas serta senyum Smrik nya Ardiyan di depan pintu kamarnya.


"Kalian?, Ada apa!" kata Dika dengan suara sedikit keras menahan marah.


"Wow, wow, santai man, jangan marah-marah gitu" kata Dimas dengan wajah polosnya


"Ya kalian datang tidak pada tempatnya tau!" kesal Dika lagi, melihat kekesalan Dika dan keringat yang masih membanjiri wajahnya membuat Dimas dan Ardiyan tersenyum puas.


"Uahahahahaha" tiba-tiba Dimas Dan Ardiyan tertawa secara bersamaan, membuat Dika menjadi heran.


"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Dika dengan kening yang berkerut.


"Lo ingat pembalasan si Pitung? dan bertanya apa maksudnya kan?" tanya Dimas pada Dika.


"Iya, emang ada apa dengan itu?" tanya Dika polos.


"Nah, ini sekarang adalah Pembalasan si gantung Bro! " kata Dimas sembari mengedipkan matanya dan kemudian ia menyenggol pedang Dika yang ternyata masih belum tidur.


"Sompret!, sialan kalian berdua!" Bentak Dika dengan wajah yang sudah memerah, membuat para temannya tertawa terbahak-bahak.


"Sudah jangan banyak omong, ayo kita ke rumah bang Jafar" ajak Ardiyan.


"Apa mau ngapain malam-malam kesana?" tanya Dika yang masih terlihat frustasi.


"Ngelayat.!" kata Dimas sembari ia berjalan.


"Gue mandi dulu kalau gitu" kata Dika beralasan


"Lima menit!, jadi jangan ada acara menyambung Oke" kata Dimas dengan senyum liciknya.


"Sompret Lo pada!!"


*********

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ๐Ÿ™๐Ÿ˜‰.


__ADS_2