CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
SIAPA CALISTA?.


__ADS_3

โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’  MUTIARA ALFAQIROH๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ


*Kalimat Yang Allah Cintai*


๐Ÿ–‹๏ธ Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:


ู…ู† ุฃุญุจ ุงู„ูƒู„ู… ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฃู† ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุนุจุฏ ูˆู‡ูˆ ุณุงุฌุฏ: ุงู„ู„ู‡ู… ุธู„ู…ุช ู†ูุณูŠ ูุงุบูุฑ ู„ูŠ.


"Termasuk dari kalimat yang paling Allah cintai yaitu ucapan seorang hamba ketika ia bersujud: Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku"


[ Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, halaman 2984]


๐Ÿ”นโœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ’ โœฅ.โ–.โœฅ๐Ÿ”น


Semenjak kehamilan Asyifa yang mulai membesar ia selalu, berjalan-jalan di sekitar Mansionnya Wira, karena dia berharap bisa melahirkan dengan lancar dan normal, makanya ia menjadi rajin untuk berjalan-jalan di pagi hari maupun di sore hari.


Dan Wira pun selalu menemaninya disaat Asyifa berjalan-jalan di pagi hari, Namun disaat sore hari bila ia belum pulang bekerja, maka ia akan memperintahkan dua pembantunya dan dua pengawal yang akan menemani Asyifa berjalan-jalan bila Ia tak sempat menemaninya di sore hari.


Seperti saat ini Wira yang belum juga pulang maka Asyifa pun berjalan-jalan bersama kedua pembantunya dan kedua pengawalnya, mereka berjalan-jalan di sebuah taman yang tak seberapa jauh dari Mansionnya Wira, dan Asyifa akan duduk di tepi danau buatan bila ia merasa lelah berjalan seperti saat ini ia sedang menikmati keindahan kan danau buatan di taman tersebut, Namun tiba-tiba seorang wanita asing menyapanya.


"Hello, apakah Anda nyonya Wira?" Tanya wanita Asing, dengan bahasa Indonesianya yang masih sulit pengucapannya.


Mendengar nama suaminya disebut, Asyifa pun langsung menoleh kearah sumber suara.


"Nona Jennifer?!" sentak Asyifa saat melihat wanita tersebut.


"Oh my god, it turns out that I'm not wrong, you are really Mrs. Wira?" (Oh tuhan ternyata aku tidak salah, kamu ternyata benaran Nyonya Wira?)" Ujar Wanita asing itu yang ternyata Jennifer Gabriella, teman Wira, ia begitu senang saat ia menebak seorang wanita bercadar yang ternyata adalah Istri temannya yaitu Asyifa, hingga ia langsung memeluk Asyifa.


Asyifa, yang memang pengetahuan bahasa Inggrisnya belum begitu banyak jadi ya hanya diam saja saat Jennifer berkata-kata serta memeluknya.


melihat Asyifa yang terlihat bingung ini Jennifer, merasa bersalah, " Sorry, apakah nyonya Wira tidak bisa bahasa Inggris?" Tanya Jennifer, dengan suara khas orang asingnya.


"Iya nona saya hanya bisa sedikit-sedikit kalau Kalau bahasa Inggris tapi kalau bahasa Arab saya bisa. "Balas Asyifa apa adanya.


"Saya juga nona bisa sedikit-sedikit bahasa Inggris yes no, no smoking." sambung pembantu Assyifa yang terlihat berumur sebaya dengan Asyifa.


"Hihihi, Marni, kamu ada-ada saja sih" bales Asyifa dengan tertawa kecilnya yang melihat wajah Marni terlihat lucu.


"Heh?, siapa dia Nyonya Wira?, " tanya Jennifer yang ia juga ikut tersenyum mendengar perkataan pembantu Asyifa yang bernama Marni.

__ADS_1


"Mereka saudara saya nona." Ujar Asyifa yang memang ia tak pernah memperkenalkan pembantunya Dengan menyebutkan mereka pembantunya, dan itu membuat para pembantunya sangat menyayangi Nyonya mereka.


"Oh, hai?" sapa Jennifer kepada Marni dan salah satu pembantu Asyifa lagi.


"Hai, juga Nona." balas kedua pembantu Asyifa


"Oh, iya nyonya, waktu kita bertemu di mall ucapan saya sangat serius ingin belajar tentang agama anda." Ujar Jennifer yang terlihat wajahnya begitu serius.


"Benarkah itu Nona?, tapi apakah hanya sekedar belajar ataukah Anda memang berniat ingin pindah ke agama saya?," Tanya Asyifa penasaran.


"Saya belum tahu tapi saya benar-benar tertarik dengan cara berpakaian nyonya" Ungkap Jennifer


"Maaf Nona, kalau anda ingin mengetahui agama saya, hanya karena pakaian saya.


Saya rasa Anda tidak harus mempelajari agama saya, karena pakaian itu hanya fashion." Ujar Asyifa


"Oh, tapi di hati saya merasa ingin belajar tentang agama Anda nyonya." kata Jennifer yang sepertinya ingat sangat penasaran.


"Begini saja nona gimana..." perkataan Asyifa langsung terputus karena tiba-tiba..


"Assalamu'alaikum, Ada apa ini?" suara bass seorang pria mengagetkan Asyifa dan Jennifer membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.


"Mas Wira?, Wa'alaikumus salam Mas." balas Asyifa setelah melihat pemilik suara bass tersebut.


melihat Jennifer menyapanya Wira tidak ingin membalas sapaannya ia malahan terlihat tidak menyukai Jennifer mendekati Asyifa "Mengapa kamu ada di sini?." tanya Wira balik dengan ketus.


"Mas Kamu kok gitu sih sama Nona Jennifer?," Tegur Asyifa saat melihat ketidak sukaan suaminya pada Jennifer


"Mas nggak suka, Dia mendekati kamu sayang." ungkap Wira


"Tapi kenapa mas? orang Nona Jennifer mendekati Ara, hanya ingin belajar agama kita." jelas Asyifa.


"kalau memang dia serius ingin mempelajari agama, seharusnya sudah sedari dulu Ara sebelum seseorang meninggal!." kata Wira, menjawab pertanyaan Asyifa namun tatapan matanya mengarah ke Jennifer dengan tatapan dinginnya.


"What!, What do you mean Wiraxsana, do you mean you are accusing me of, Calista's death?"


(Apa!. Apa maksudnya Wiraxsana, apakah artinya kamu menuduh aku atas, kematian Calista?)" Tanya Jennifer dengan wajah yang terlihat kaget dan sedih.


"What do you think?, ah never mind!, but never see my wife again! you understand!"

__ADS_1


(Menurut kamu bagaimana?, ah sudahlah lupakan saja!, tapi jangan pernah menemui istriku lagi! kamu paham!)" Ujar Wira dengan tegas, yang kemudian ia pun langsung menarik tangan Asyifa, yang terlihat bingung dengan apa yang telah terjadi,


Dan karena melihat wajah suaminya yang terlihat marah Asyifa pun tak berani bertanya apapun pada sang suami dan ia hanya pasrah mengikuti Wira yang membawanya dan langsung menyuruhnya menaiki mobilnya.


Wira menjadi diam dan juga terlihat ada kesedihan di matanyaุŒ setelah mereka berada di dalam mobil membuat suasana di mobil menjadi Hening hingga akhirnya mobil mereka terparkir di halaman Mansionnya.


Dan Wira pun turun dari mobilnya dan langsung berjalan dan meninggalkan Asyifa begitu saja membuat Asyifa heran karena tidak biasanya suaminya meninggalkannya begitu saja pasti ia akan menggandeng tangan istrinya saat memasuki rumah mereka.


"Ada apa sebenarnya dan siapa Calista?, mengapa Mas Wira menjadi sedih?"_Batin Asyifa. yang kemudian akhirnya ia pun berjalan menuju ke belakang Mansion ia tak ingin mengganggu suaminya yang sepertinya ingin menyendiri dan akhirnya ia memilih untuk duduk di ayunan tempat yang biasa ia sukai


_____


Sementara Wira yang tadi masuk, kini iya berada di kamar mandinya yang mengguyur seluruh tubuhnya yang masih lengkap dengan bajunya di bawah shower


"Calista Kenapa bayanganmu muncul kembali di setiap aku melihat Jennifer dan kenapa kau menyuruhku untuk berjanji tidak menyelidiki kematian apa sebenarnya yang terjadi. Akh damn it !" Gumam Wira terlihat ada kemarahan yang luar biasa pada dirinya hingga ia memukul dinding kamar mandi dengan kesal.


Dan setelah itu tiba-tiba bayangan wajah Asyifa muncul membuatnya langsung teringat pada istri kecilnya itu, " Astaghfirullah, kenapa aku lupa pada Asyifa" gumam Wira yang kemudian ia langsung keluar dari kamar mandi dan kemudian dengan cepat ia mengganti pakaiannya setelah selesai, iya pun langsung melangkah keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan istrinya.


"Marni, di mana nyonya?" tanya Wira saat berpapasan dengan Marni.


"Nyonya berada di belakang Mansion tuan muda." bales Marni dan kemudian tanpa berkata apa-apa Wira langsung pergi ke belakang Mansion dan terlihatlah Asyifa yang sedang duduk di sebuah ayunan dengan mata yang menatap danau.


"Ara Kenapa kamu tidak langsung masuk disini begitu kencang anginnya arah nanti kamu bisa masuk angin loh ?," Ujar Wira disaat ia sudah berada di dekat Asyifa.


"Eh, Emas, sudah hilang marah dan sedihnya ya mas?" tanya Asyifa dengan wajah polosnya, membuat Wira kaget mendengar pertanyaannya.


"Eh, Sayang maafin mas ya, Mas tidak bermaksud.." ucapan Wira terhenti karena jari telunjuk Asyifa langsung menempel di bibir Wira.


"Sssth, jangan berkata apapun Mas, Ara nggak papa kok." Katanya membuat Wira merasa bersalah. "Ya sudah ayo kita masuk Mas" Ajak Asyifa dengan melingkarkan tangannya di lengan Wira, dan sedikit ditariknya dengan manja, agar Wira ikut berjalan, dan akhirnya mereka pun mulai berjalan dengan secara perlahan menuju pintu masuk Mansionnya.


Wira hanya diam saat Asyifa yang berjalan sambil memeluk tangannya agak manja.


"Mas?" panggil Asyifa lembut.


"Hemm?,"


"Apakah mas akan sedih?, Bila Ara yang meninggal?"


*******

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan penyemangat Author ya guys, dan bantu VOTE karya ini ya guys ๐Ÿ™


please ๐Ÿ™ ๐Ÿ˜Š agar karya ini ikut terpilih juga ya Guys ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜, SYUKRON ๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


__ADS_2