
Wiraxsana pun bergegas pergi meninggalkan Ardiyan, untuk mempersiapkan diri karena sebentar lagi acara Walimatul'urs nya akan di mulai, dan setelah melakukan sholat Ashar ia pun berpakaian dengan memakai stelan baju jas putih dengan celana senada putih, ia nampak gagah dengan stelan itu, di saat bersamaan tiba-tiba muncul dua orang masuk keruangan Wira yang sedang bersiap,
Wira yang melihat kedatangan mereka sangat senang dan langsung menghampiri.
"Papi, mami?, Assalamu'alaikum Pi, mi,? Ucapnya lalu menyalami tangan mereka satu persatu serta menciumnya, membuat kedua orang itu tercengang akan perlakuan Wira.
Ya ternyata kedua orang yang datang itu adalah kedua orang tua Wiraxsana "Restu Dwi Andara" dan "Winni Andini", dan kenapa mereka tercengang karena Wira yang dulu tak pernah melakukan hal seperti yang dilakukannya sekarang, dan meskipun kedua orang tua selalu ingin memanjakannya, tapi Wira bukan anak yang manja ia selalu menjaga jarak pada orang tuanya, maka sedari itu setelah melihat ada perubahan pada anaknya membuat kedua orang tua Wira sangat bahagia, terutama papinya..
"Wa'alaikum salam, nak, maa syaa Allah anakku yang gagah ini semakin dewasa " bales sang Ayah dan langsung memeluk Wiraxsana, sementara maminya masih terpaku melihat perubahan sang anak yang begitu mendadak baginya.
"Mami,? Kenapa mami melihat ndara seperti itu?" Tanya Wira bingung.
"Benarkah ini anakku? Mami terpukau pada dirimu nak, anakku begitu gagah dan tampan hiks anakku.." ucap sang ibu yang tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja, lalu ia memeluk Wiraxsana begitu erat.
"Kenapa mami seperti ini sih, jelas-jelas ndara anak mami, kenapa meragu begitu?" Tanya Wira mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Sayang mami bukan ragu, cuma mami heran tidak biasa kamu seperti ini, dulu kamu selalu dingin pada mami, sekarang begitu hangat, mami merasa ndara kecil mami sudah kembali.." ucap sang ibu lagi sambil mengelus pipi Wira.
"Sudahlah mami, anak mami sudah besar bukan kecil lagi, dan hari ini ndara akan menikah, masa di bilang kecil juga sih" bales Wira lagi.
"Haa jadi benaran kamu mau menikah? Di rumah sakit?.. nak jangan bercanda deh sama mami masa baru dua hari tidak jumpa dengan kami tiba-tiba ingin menikah sih.." Ucap mami seperti tidak percaya dengan perkataan Wira.
"Iya, kamu jangan sembarangan mengambil keputusan, ingat nak pernikahan bukan hal yang main-main" sambung papi Wira menimpali.
"Ndara nggak main-main kok Pi.. ndara serius akan menikah, dan kenapa di rumah sakit? Karena calon ndraa sedang sakit karena kecelakaan, dan penyebabnya ndara Pi, jadi ndara ingin bertanggung jawab padanya " jelas Wira kepada orang tuanya.
" Tidak segampang itu m.. wanita itu bukan wanita biasa mi.. sebenarnya ndara sudah jatuh hati sebelum ia kecelakaan";bales Wira dan dia mulai menceritakan awal ia bertemu dengan Asyifa, membuat papinya Wira tersenyum bahagia. Karena pada akhirnya anak semata wayangnya telah berikan sesuatu yang sangat berharga dari Allah.
Dan sebenarnya papi Wira termasuk orang yang paham agama, namun dia belum begitu berhasil mendidik anak dan istrinya, di tambah linkungan mereka tinggal, membuka anak dan istrinya agak sulit untuk di perbaiki, makanya ia sangat bersyukur ketika mendengar anaknya begitu bergetar mendengar Asyifa mengaji, menurut papinya ini adalah Hidayah dari Allah.
" Maa syaa Allah, papi jadi tidak sabar ingin melihat calon mantu yang membuat Anak papi, menjadi seseorang yang papi inginkan selama ini, " ucao papi Wira begitu terharu" Nak, papi tidak bangga kau menjadi orang terkenal, tapi papi akan bangga bila kamu menjadi anak yang Sholeh bagi kami, dan kini doa papi selama ini akhirnya di kabulkan Allah, karena Dia telah memberimu Hidayah-Nya, dan papi juga berharap kelak kau akan menjadi imam yang berhasil mendidik keluarga mu,"; lanjut papi Wira lagi.
__ADS_1
"Papi ! apa itu berarti papi menyetujui pernikahan ini,?!" sambung mami Wira sedikit kesal.
"Sangat.. Sangat.. sangat menyetujui mami, bahkan papi juga sudah tidak sabar untuk melihat calon mantu kita, karena lewat dialah Allah menitipkan Hidayah pada anak kita mi, lihat sekarang anak mami sudah berbeda sekali bahkan hari ini mami mendapatkan pelukan darinya, apakah itu tidak membuat mami bahagia?" ujar papi Wira lagi. membuat mami Wira terdiam." Percayalah sama papi mi, ini akan membawa kebahagiaan untuk kita dan anak kita, jadi restuilah anak mu mi karena Restu Orang Tua adalah doa menuju kebahagiaan bagi mereka." lanjut Papi lagi.
"Iya mi, Wira Meminta Restu sama mami dan papi agar pernikahan ini berjalan lancar" Sambung Wira juga.
"Baiklah, mami merestui kamu, tapi mami ingin melihat calon istri kamu" Bales mami Wira pasrah.
"Alhamdulillah.." ucap Wira dan Papinya.
**BERSAMBUNG YA..
Alhamdulillah,, Novel baru Author ini sudah banyak yang respon, Terimakasih ya sudah mau mampir ke Novel ini, dan terimakasih juga untuk komen dan likenya 🙏
Tetep dukung Author terus ya 🙏😊**
__ADS_1