CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
CALON USTADAZAH.


__ADS_3

*Sebaik-baiknya cinta adalah


Yang mendekatimu pada kebaikan.


Mencegahmu dari keburukan


Dan mengingatkan dari segala kesalahan.*


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Kenapa nyonya.. apakah ada yang salah?" Tanya Wira dengan membukukan sedikit badannya dan mendekati wajahnya sedikit ke wajah Asyifa..


"Astaghfirullah.. apaan sih kak Wira.." Balesnya dengan wajah yang sudah memerah. Wira tersenyum gemas melihat istrinya yang sedang malu-malu meong..


"Hehe, kamu kok sangat menggemaskan sih Ara?." Sambil mencubit hidung Asyifa lembut.


"Eh.." Asyifa tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena gemuruh yang ada di dadanya memakin kuat.


"Ya sudah, kamu sudah siapkan? Aku gendong kamu ya ke kursi roda?" Ujar Wira dan di anggukkan oleh Asyifa.. setelah mendapatkan izin dari Asyifa, Wira pun menggendong Asyifa dan mendudukinya di kursi roda.


"Eh tunggu sebentar ada yang tertinggal " ucap Wira lalu ia menghampiri meja dan mengambil kain hitam kecil.


"Kamu belum memakai ini Ara.." lanjutnya lagi sembari ia memakaikan sebuah kain hitam kecil ke wajah Asyifa, yang ternyata bandana Asyifa (cadar) dan mengikatnya..


"Alhamdulillah selesai.. kamu sudah siap nyonya?" Perkataan nyonya keluar lagi dari mulut Wira, membuat Asyifa semakin salah tingkah, dan dengan perlahan ia anggukkan kepalanya.


"Oke my wife let's go..! Brem, brem.." Ujar Wira sambil ia mengeluarkan suara seperti suara mobil sembari mendorong kursi roda yang di duduki oleh Asyifa dan menelusuri lorong-lorong rumah sakit,


Di sepanjang jalan mereka menuju keluar dari rumah sakit, Asiyfa selalu tertawa kecil, betapa tidak ia di dorong oleh suaminya seperti anak kecil yang bermain mobil-mobilan.


" Brem, brem.. brem.....Ngeeeeeeeeeeeng... Belok kanan ciiit..ngeeeeeeeeeeeng.. Belok kiri..ciiit ngeeeeeeeeeeeng, tin..tin.. Belok kiri lagi.. ciiiit. ngeeeeeeeeeeeng minggir..minggiir.. mobil my wife mau lewat ngeeeeeeeeeeeng" seperti itulah sepanjang jalan mereka di lorong rumah sakit, hingga menjadi perhatian bagi para dokter, suster, yang kebetulan mereka lewati, apa lagi para pengunjung yang ada di sana, ada yang menggeleng-gelengkan kepalanya, ada yang tersenyum tersipu-sipu karena melihat ke romantisan Wira terhadap istrinya. Hingga akhirnya mereka sampai di lobby rumah sakit Wira terus bertikah seperti anak kecil yang lagi main mobil-mobilan


Sesampainya di depan pintu rumah sakit, mereka sudah di tunggu dengan mobil Mercedes Benz berwarna putihnya dan seseorang yang sedang menunggu mereka, yaitu anak buah Wira tadi yang bernama Rendi. Wira pun menghentikan permainannya.


"Ciiiiikt.. kita sudah sampai nyonya.." ujar Wira sembari mengunci kursi roda Asyifa agar tak mudah bergerak lagi. sedangkan Asyifa sedikit tercengang saat mereka berhenti tepat di depan mobil Mercedes Benz putih, dan ia tambah heran ketika Rendi membuka pintu mobilnya..


"Maa syaa Allah, cantik sekali mobil ini?, apakah ini milik kak Wira? berarti ia bukan orang sembarangankah?" Batin Asiyfa yang masih tercengang memperhatikan mobil tersebut.

__ADS_1


" Mari nyonya saya gendong kembali, untuk berpindah ke mobil sungguhan" lanjut Wira lagi, dan ia pun menggendong Asyifa lalu memasukkannya kedalam mobil putih cantik itu, Asyifa hanya bisa pasrah dan tak berani protes


Setelah Asyifa masuk ke mobil, Wira pun ikut masuk, dan duduk di samping Asyifa. sedangkan Rendi memasuki kursi roda Asyifa ke dalam bagasi mobilnya. Setelah selesai Rendi pun ikut masuk ke mobil tepat duduk di belakang kemudi. Lalu dengan perlahan mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobil..


Asyifa hanya terdiam, sebenarnya Begitu banyak yang ingin dia tanyakan pada Wira, siapa Wira sebenarnya, kenapa ia memiliki mobil mewah, ya Asyifa memang tidak tahu kalau Wiraxsana Andara, adalah seorang CEO dari beberapa perusahaan dan saat dia di tolong pertama kali, ia dalam keadaan pingsan, jadi ia benar-benar tidak tahu siapa suaminya sebenarnya.


"Kenapa diam? apakah kamu mengantuk Ara..?'" suara Wira mengagetkan Asyifa yang lagi hanyut dalam pemikirannya.


"Eh..!.. ti.. tidak kok" jawab Asyifa gugup


"Lalu apa yang sedang kamu melamunkan?" tanya Wira yang sedari tadi ia memperhatikan Asyifa melamun.


"emm..ti.tidak ada kak..em itu, boleh ana bertanya?' tanya gugup dan sedikit ragu.


"Katakan lah ?"


"Em.. apakah mobil ini milik kk?" Akhirnya pertanyaan yang dia simpan di dalam hati pun keluar, saking ia penasarannya.


"Oh, jadi milik siapa mobil ini kak?"


"Milik kita Ara.." jawaban Wira membuat Asyifa bingung.


"Bukankah tadi kakak bilang bukan?" tanyanya yang belum paham dengan jawaban Wira.


"Asyifa, saat aku belum menikah, iya mobil ini milik ku, tapi sekarang aku sudah menikah, jadi mobil ini bukan milikku seorang, karena aku menikah dengan mu, jadi apapun yang aku miliki akan menjadi milik mu juga bukan?" ujar Wira memberi penjelasan.


"emm, berarti kakak orang kaya ya?" tanya Asyifa polos.


"Tidak kok, bukankah apapun yang kita miliki adalah titipan dari Allah, berati yang aku miliki sekarang hanya titipan yang harus aku jaga, benar apa tidak ustadazah?" ujar Wira dan di akhiri dengan pertanyaan.


"Iya sih.. eh tapi ana belum ustadazah kak.." sangkal Asyifa .


"Tapikan Calon Ustadazah.kan?"


"Aamiin in syaa Allah kak, tapi emang boleh kalau Ara tetap nyantri?"

__ADS_1


"Kenapa tidak..?"


"Hmm soalnya teman Ara pernah bilang, kalau sudah memiliki suami, nanti kita akan di kekang oleh suami kita, dan hanya mengurus suami ngurus anak trus di suruh masak, nyuci, jadi tidak akan sempat untuk belajar lagi " ucap Asyifa begitu polos..


"Maa syaa Allah, lugu sekali sih kamu Ara..? tidak Ara in syaa Allah aku tidak akan mengekang diri mu untuk belajar agama, bahkan aku juga ingin belajar agama juga Asyifa, jadi nanti kita sama-sama belajar agama oke.." Ujar Wira lagi, membuat Asyifa mendengar perkataan Wira menjadi senang..


"Alhamdulillah,, terimakasih kak?" bales Asyifa senang dan di saat mereka asik ngobrol, tiba-tiba..


"Kita sudah sampai pak" ucap anak buah Wira yang ternyata ia sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah besar dan mewah, Asyifa tercengang melihat rumah mewah itu.


"Rumah siapa ini kak?" tanyanya penasaran.


"Rumah kita Ara.."jawab Wira enteng.


"Eh, tapi bukankah kakak bilang akan mengantar Ara kepondok?" protes Ara seperti tidak suka dengan rumah tersebut.


"Tenanglah Ara, kita hanya sebentar saja kok disini, aku hanya ingin mengambil pakaian ku." balas Wira menenangkan Asyifa.


"Ya sudah kita turun dulu yaa, agar kamu bisa istirahat sebentar"


"Tapi.."


"Sssth, nggk boleh bantah perkataan suamikan?' ujar Wira yang langsung memotong ucapan Asyifa. dan akhirnya Asyifa hanya bisa pasrah, saat Wira Kembali menggendongnya, dan tetap, jantungnya selalu bergemuruh ketika mereka saling berdekatan, dan begitu juga Wira debaran jantungnya semakin kencang bila dekat Asyifa..


**NYAMBUNG LAGI YAA..


Ngantuk..😴😴😴😴


Jangan lupa yaa..


LIKE...


VOTE..


KOMENTAR..


Akan menjadi semangat Author loh**..

__ADS_1


__ADS_2