
Gemuruh di dada Asyifa semakin kecang tatkala wajah Wira mendekat kala membisikkan tadi, hingga ia bingung harus berbuat apa.
"Ada apa Syifa?, Atau adakah yang bisa aku bantu?" Tanya Wira dengan lembut.
"Ti.. tidak..a.ana..bisa..se..sendiri..syu..kron su.sudah..ba.bantu.A.ana.." bales Asyifa semakin gagap..
"Tenanglah Syifa.. kenapa kamu gugup begitu, ya sudah aku tinggal ya, kalau sudah siap panggil aku aja, Aku ada di depan pintu yaa" ujar Wira lagi, dan Asyifa hanya membalas dengan anggukan kepala saja.
Setelah itu Wira pun keluar dari kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi tersebut.
Setelah kepergian Wira, Asyifa menepuk-nepuk dadanya yang rasanya tak mau berhenti bergemuruh.
"Ya Allah, ada apa dengan jantung ana, kenapa detaknya begitu kecang sih.. ya Allah tenangkanlah gemuruh di dada ana ini" gumam Asyifa saat di dalam kamar mandi, dan setelah dirasa dadanya mulai tenang ia pun mulai berusaha mendekati kloset duduk bermaksud buang air kecil, namun karena kaki kanannya yang masih sakit jadi agak sulit untuk di gerakkan dan akhirnya..
BRUUUK...
Asyifa terjatuh, dan suaranya terdengar Wira yang di balik pintu kamar mandinya, dengan segera, Wira pun masuk dan melihat Asyifa yang tersungkur sambil meringis menahan sakit..
"Astaghfirullah, Ara,! apa yang terjadi?" Ucap Wira panik sambil membantu Asyifa dan mengangkatnya kembali ke kursi pelastik yang ia taruh tadi, sedang Asyifa tak mampu berkata-kata lagi.
"Kamu baik-baik saja Syifa?.. mana yang sakit?" Tanya Wira yang masih panik. Sambil meriksa badan Asyifa, mencari apakah ada yang luka.
"Ana,..ana.. tidak apa-apa Akhy, hiks.. hanya saja kaki ana sakiit hiks.." bales Asyifa yang akhirnya tangisnya pecah karena kaki terasa begitu sakit.
"Astaghfirullah.. kita kembali ketempat tidur yaa, biar aku panggil dokter" ujar Wira lagi, masih cemas.
"Hiks..ta.tapi..a.ana m.mau pi.pipis hiks" Balesnya masih menangis, sambil menundukkan wajahnya, antara sakit dan malu jadi satu..
"Astaghfirullah, kenapa kamu tidak bilang tadi, akukan bisa membantu mu, "ucap Wira yang merasa bersalah, karena ia meletakkan kursi pelastiknya agak jauh dari kloset duduknya.
Asyifa mendengar perkataan Wira tidak menanggapinya, ia masih setia menundukkan wajahnya.
"Asyifa, Izinkan aku membantu mu yaa?..Syifa, jangan sungkan terhadap ku Syifa.. aku suamimu, bukan siapa-siapa, jadi biarkan aku membantu mu yaa." Ucap Wira lembut, namun Asyifa masih terdiam.
__ADS_1
"Kamu masih malu pada ku Syifa? Tanya Wira yang mulai bingung akan diam Asyifa sejak tadi. Dan akhirnya Wira yang paham kalau istrinya masih malu padanya ia pun mengambil sapu tangannya
"Baiklah, sekarang begini saja, aku akan membantu mu dengan menutup mata ku dengan sapu tangan ini, kamu cukup memandu aku di setiap langkah ku, oke? Ujar Wira sambil menunjukkan sapu tangannya dan di bales Asyifa dengan anggukan pelan. Lalu Wira pun menutupkan matanya dengan sapu tangannya,
"Baiklah Asyifa, sekarang lingkari tangan mu di leher ku, " ucap Wira lembut penuh dengan kesabaran., Asyifa pun menuruti perkataan suaminya ia melingkai tangannya keleher Wira, merasa sang istri sudah siap, Wira pun menggendong Asyifa ala bridal style,
"Sekarang pandu aku ya, berapa langkah, untuk menuju kloset. " Ujar Wira kembali..
"Lima langkah kedepan akhy" bales Asiyfa pelan, lalu Wira pun melangkah perlahan mengikuti Arahan dari Asyifa.
"Tiga langkah lagi Akhy," tambah Asyifa lagi, Wira mengikuti kembali arahan istrinya..
"Sudah cukup, akhy.."
"Baguslah, aku turuni kamu perlahan, dan ingat kaki kanan kmu di tahan ya, berdiri pakai kaki kiri dengan perlahan oke..dan tetap berpegangan dengan ku, jangan khawatir aku tak akan melihat mu.." Ujar Wira memberi arah pada Asiyfa..
"Na'am" bales Asyifa singkat, lalu dengan perlahan wira pun menurunkan Asyifa. sesuai dengan arahan Wira, melakukan apa yang di katakannya, saat ia sudah mulai duduk, ia bingung takut terdengar oleh Wira, dan ia juga nggak mau ngambil risiko bila menyuruh Wira untuk keluar, dan akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.
""Baiklah Syifa aku akan menutup telinga ku" bales Wira, lalu ia melakukan apa yang di katakan oleh istrinya, yaitu menutup telinga dan sambil berbalik membelakangi Asyifa..
untuk beberapa saat Asyifa pun melakukan ritual buang air kecilnya setelah selesai ia pun menarik-narik pelan ujung baju belakang Wiraxsana, memberikan tanda bahwa ia telah siap
"Apakah sudah siap?"
"Na'am Alhamdulillah sudah"
"Kalau begitu apakah aku sudah bisa membuka mataku?" tanya Wira lagi.
"Na'am, silakan" bales Asyifa malu, Wira pun membuka penutup matanya.
"Baiklah sekarang kita kembali ke kamar yaa?" Ucap Wira hendak menggendong istrinya kembali.
"Tapi ana belum berwudhu, ana bingung harus bagaimana mana,." ucap Asyifa pelan.
__ADS_1
"ya sudah, ambillah wudhumu sekarang, tapi Syifa, bukankah bila sudah berwudhu tidak boleh bersentuhan akan menjadi batal bila bersentuhan bukan?," tanya Wira
"iya, sebagian Madzhab mengatakan batal, dan sebagiannya lagi mengatakan tidak, namun ada hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha menjelaskan:
"Pada suatu malam saya kehilangan Rasulullah SAW dari tempat tidur, kemudian saya merabanya dan tanganku memegang dua telapak kaki Rasulullah yang sedang tegak karena beliau sedang sujud." (HR Muslim dan at-Tirmidzi).
Di dalam riwayat yang lain, Aisyah pun pernah berkisah. "Sesungguhnya Nabi SAW pernah mencium beberapa istrinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudu lebih dahulu." (HR Ahmad).
Meski demikian, pendapat kedua menjadi landasan bagi Imam Syafi'i untuk berfatwa bahwa memegang perempuan dapat membatalkan wudhu. Seperti ditukil dari Ibnu Rusyd, Imam Syafii berpendapat bahwa siapa yang menyentuh lawan jenisnya tanpa alat, baik menimbulkan berahi atau tidak, maka batal wudhunya. Sementara, ada riwayat lain menyatakan bahwa dalam hal wudhu, Imam Syafi'i mempersamakan istri dengan semua mahram. Wallahu a'lam. akhy " Jelas Asyifa pada Wira.
"Baiklah sekarang kamu berwudhulah, biar tidak ada keraguan aku akan membungkus tangan ku dengan kain yaa " ujar Wira dan di anggukkan oleh Asyifa, lalu Wira pun keluar untuk mengambil kain pembungkus tangannya, sementara Asyifa memulai mengambil wudhunya.
Setelah selesai, Wira kembali menggendong Asyifa lagi dengan tangan yang sudah di bungkus kain, lalu meletakkan Asyifa kembali ke pembaringan lalu menyelimutinya dengan selimut bersih,
"Sekarang pakailah mukenah mu, aku berwudhu dulu yaa, nanti kita akan sholat berjamaah, bolehkah, aku menjadi imam di sholat mu Syifa? ujar Wira lembut.
"Na'am akhy, silahkan, dengan senang hati " jawab Asyifa tertunduk malu, sedang Wira yang mendengar Jawaban Asyifa, merasa sangat senang, lalu dengan segera ia pun pergi mengambil wudhu,
Setelah selesai mereka pun melakukan sholat berjamaah, dengan posisi Asyifa duduk di pembaringan sedang Wira berdiri agak maju sedikit disisi pembaringan kanan Asyifa mereka melaksanakan kewajiban mereka pada Rabb nya dengan kusyu', setelah selesai sholat dan berdoa Asyifa pun mengulurkan tangannya. Wira yang paham Akan uluran tangan Asyifa pun menyambutnya dan Asyifa pun menyalami tangan Wira serta mengecupnya ada perasaan senang di hati Wira saat Asyifa mengecup tangannya..
"Bolehkah aku mengecup kening mu Syifa?," tanya Wira ragu, namun di bales anggukan pelan oleh Asyifa,
"Alhamdulillah.."ucap Wira senang lalu ia pun mengecup kening Asyifa dengan lembut.
"Terimakasih Asyifa" Tambah Wira lagi.
**BERSAMBUNG
Maaf bila ada yang salah dalam pengucapan dalam hadits, maklum ana juga masih belajar.
Dukung terus author ya Syukron 🙏😊**
__ADS_1