
__๐ MUTIARA ALFAQIROH ๐__
"Kelak kau akan mengerti, bahwa menahan untuk menjaga orang lain agar tak tersinggung karena lisanmu, itu jauh lebih mulia daripada mengutarakan isi hatimu".
-Ali bin Abi Thalib-
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท>๐<รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
Di Rumah sakit..
Nampak Asyifa baru membuka matanya setelah tadi sempat tertidur..
"Sudah bangun?, gimana sudah enakan belum?" tanya Wira lembut, saat melihat istrinya sudah membuka matanya.
"Alhamdulillah, sudah enakan kok mas" bales Asyifa dengan suara seraknya ciri khas orang bangun tidur.
"Alhamdulillah, kalau gitu adakah yang kamu inginkan?, kan kata orang hamil muda itu banyak keinginannya sayang " tanya Wira sembari mengelus perut Asyifa yang masih rata.
"Hmm, pingin apa ya mas, kayaknya Ara nggak ada keinginan deh, " ujarnya sembari memutar matanya yang sepertinya sedang mencari apa yang dia inginkan.
"Apa kamu mau makan bubur saja sayang?" tanya Wira yang masih menunggu dengan sabar apa keinginan istrinya yang sedang hamil muda.
"Ikh, nggak mau, mas"
"Terus maunya apa dong sayang, kamukan harus makan sayang"
"Hmm.. hmm... hmm.." Nampak Asyifa sedang berpikir sembari menaruh jari telunjuknya di bibirnya dan di tepuk-tepuk kecil, membuat Wira gemas melihatnya.
"haiis mau makan aja lama banget sih mikirnya Ra?, atau kamu mau sarapan ini.." Ucap Wira dan ia langsung meraih bibir ranum Asyifa dengan bibirnya, ciuman singkat pun terjadi..
"Iss emas!, mana ada orang sarapan dengan ciuman," protes Asyifa Dengan cemberutnya.
"Ada kok"
"Hah?, dimana?"
"Kita loh sayang barusan sarapannya ciuman hayo" goda Wira sembari ia mengedipkan sebelah matanya.
"Ay, iikh, mas Wira genit akh!" protes Asyifa lagi, dengan mata membulat dan bibir di manyunkan, membuat Wira semakin gemas melihatnya, dan sekali lagi ciuman singkat terjadi lagi membuat mata Asyifa membulat kaget.
"Ay, iiiss, mas Wiraaa!!"
"Iya sayang?, hehehe maaf habis mas gemas melihat kamu sayang" ujar Wira sambil terkekeh.
__ADS_1
"Yaa sudah sana katanya mau beli makanan?"
"Ya makanya kamu bilang mau makan apa Ra?"
"Ya udah Ara ingin Nasi uduk pakai Ayam semur, pakai sate hati ayam, pakai semur tahu dan tempe, terus ada telur mata sapinya, dan jangan lupa pakai kerupuk yaa." tutur Asyifa sembari matanya menerawang memikirkan apa yang ia inginkan, membuat Wira terperangah mendengar keinginan istrinya yang begitu banyak.
"Haah?, banyak amat Ra, kamu yakin bisa menghabiskan semua yang kamu inginkan?" tanya Wira penasaran.
"Tuh kan, tadi katanya suruh mengatakan keinginan Ara, sekarang mas malah protes sih?" protes Asyifa dengan kembali cemberut.
"Eh, iya iya, maaf sayang, ya sudah kamu tunggu disini ya mas akan cari semua keinginan kamu" Ujar Wira lembut
"Hu'um!"
"Ya sudah mas pergi ya, Assalamu'alaikum"
"Hu'um, Wa'alaikumus salam" setelah mendapatkan jawaban dari Istrinya Wira pun berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Asyifa dan ia menghilang di balik pintu kamar rawat Asyifa dan belum Lama Wira pergi, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk seseorang, mendengar pintu kamarnya di ketuk dengan cepat Asyifa langsung memakai cadarnya setelah selesai.
"Masuk!" Ucap Asyifa pada orang yang mengetuk pintu, dan tak lama pintu terbuka dan ternyata yang datang adalah seorang Pria berjas putih dengan di dampingi oleh seorang wanita dengan pakaian putih, masuk dan menghampiri Ranjang tempat Asyifa berbaring.
"Selamat pagi Bu Asyifa?" sapa pria berjas putih itu.
"Pagi dok" bales Asyifa ramah.
"Beliau sedang keluar Dok, Ada apa ya Dok?" tanya Asiyfa balik.
"Ini saya ingin memberitahukan sesuatu, tapi sebelumnya saya mau bertanya, apakah Anda sering merasakan sakit kepala?" tanya dokter intens.
"Iya Dok, saya memang sering merasakan sakit kepala "
"Nah, saya ingin membahas itu pada beliau Bu" ujar Dokter tersebut.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada saya Dok, Bisakah saya mengetahuinya?" tanya Asyifa yang sebenarnya ia sangat ingin tahu kenapa ia sering merasakan sakit kepala yang amat sakit.
"Kalau bisa tunggu suami anda saja Bu" jawab sang Dokter.
"Tapi kalau bisa katakan pada saya Dok, saya mohon, agar saya bisa bersiap dengan apa yang harus saya lakukan" tutur Asyifa yang sangat berharap sang Dokter mau memberitahu apa yang terjadi padanya. dan nampak sang Dokter berpikir sejenak.
"Baiklah Bu, darah yang kami Ambil kemarin sudah kami tes di laboratorium dan itu menunjukkan ada sesuatu di kepala ibu, yang kemungkinan itu tumor tapi untuk lebih jelasnya ibu harus menjalani
tes biopsi " tutur sang Dokter membuat Asyifa terkejut.
"Apa!" Tiba-tiba saja terdengar suara pria dan tak lama ia pun masuk.
__ADS_1
"Bang Dika?" gumam Asyifa saat melihat sumber suara tadi.
"Apakah yang di katakan Dokter Ridwan benar?" Tanya pria itu yang ternyata Dika.
"Eh Dokter Dika?, ini hasil pemeriksaan tes Darah Bu Asyifa Dok " Ujar sang Dokter yang bernama Ridwan sambil menyerahkan Amplop berwarna coklat muda, dan langsung di ambil oleh Dika kemudian ia pun melihat isi Amplop itu, dan keningnya langsung berkerut saat melihat sesuatu di selembar kertas warna putih yang ia pegang, lalu ia pun menatap Asyifa.
"Kita harus melakukan tes biopsi Dok tapi saat ini pasien sedang mengandung, jadi apa yang harus kita lakukan Dok?" tanya Dokter Ridwan minta pendapat dari Dika, Namun Dika malah menatap wajah Asyifa yang tertutup cadar.
"Kenapa Dokter Ridwan langsung mengatakannya pada sang pasien?" tanya Dika yang kini pandangannya sudah beralih pada Ridwan.
"Syifa yang memintanya bang, jadi jangan salah Dokter Ridwan" Timpal Asyifa langsung karena ia tak ingin Dika marah pada Ridwan.
"Lalu apa yang harus Syifa lakukan bang?" tanya Asyifa lagi.
"Syifa mumpung kandunganmu masih kecil, sebaiknya kita gugurkan saja ya, karena ini akan membahayakan mu Syifa " Jelas Dika yang sebenarnya ia juga tak sampai hati mengatakannya.
"Tidak bang, Syifa tidak akan menggugurkan Anak Syifa, apapun yang terjadi, dia harus lahir dengan selamat!" Seru Asyifa yang terdengar suaranya sudah bergetar.
"Tapi Syifa ini demi kebaikanmu, oh iya Dimana Wira?" ujar Dika, dan ia juga bertanya keberadaan Wira.
"Kebaikan Syifa adalah melahirkan anak, Syifa bang, dan Syifa mohon jangan beritahu mas Wira ya bang" bales Asyifa sembari mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak Syifa Wira harus tahu!"
"Syifa mohon bang Syifa nggak ingin mas Wira sedih dengan keadaan Syifa " kata Asyifa lagi yang masih mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak Syifa Wira harus tahu, dan kamu juga harus menggugurkan kandunganmu biar kita bisa segera menangani penyakit kamu!" Tegas Dika,
"Kalau Abang memberitahu mas Wira, maka Syifa akan pergi meninggalkan mas Wira saat ini juga,!!" Ancaman Asyifa membuat Dika jadi serba salah.
"Tapi syifaa ini akan membahayakan mu!"
"Berjanjilah Bang!! jangan beritahu mas Wira!"
"Aku tak..."
"Berjanjilah!!"
Bersambung
************
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys ๐
__ADS_1