
═ ✥.❖.✥═🌸 Kalam Habaib 🌸═✥.❖.✥ ═
"Bukanlah kekayaan atau kemiskinan yang menjadi penghormatan seorang WANITA, tetapi akhlaq"
[ Al Habib Umar bin Hafidz ]
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤
**✥.❖.✥ ═•⊰❁🌸❁⊱•✥•⊰❁🌸❁⊱•✥═ ✥.❖.✥
Jantung Wira berdegup kencang tatkala ia melihat seorang Dokter wanita yang baru saja keluar dari ruangan bersalin tempat istrinya tadi di tanganin. Namun rasa penasarannya begitu kuat hingga iya dengan cepat menghampiri Dokter wanita tersebut
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?," Tanya Wira yang terlihat tak sabar ingin mengetahui kondisi istrinya saat ini.
"Maaf ya pak, mungkin karena faktor usia dan di tambah lagi ia harus melahirkan ketiga Babynya, jadi istri Anda saat ini mengalami koma pak, tadi saya sudah melakukan semaksimal mungkin, namun tubuh pasien tak merespon sama sekali, jadi untuk saat ini hanya doa dari bapak serta keajaiban dari Allah lah, yang di butuhkan istri bapak." Jelas sang Dokter membuat tubuh Wira langsung melemah dan dengan spontan ia pun terduduk di lantai.
"Wira!" Ardiyan tersentak saat melihat Wira yang terduduk lemas tanpa mampu mengatakan apapun lagi, dan bahkan ia pun langsung tak sadarkan diri. Dokter yang melihat keadaan Wira ia langsung meminta Ardiyan untuk membawanya ke ruang pemeriksaan dan dengan sigap juga sang Dokter menangani Wira.
" Bagaimana kondisi teman saya Dok?." tanya Ardiyan, setelah ia melihat sang dokter telah selesai menangani Wira.
"Teman anda hanya syok Pak, nanti setelah cairan di botol infusnya habis, pasti ia akan sadar kembali." Jawab sang Dokter.
"Oh, baguslah, tapi bisakah, ia di rawat dalam satu ruangan dengan istrinya Dok." Pinta Ardiyan, karena ia ingin saat Wira sadar ia bisa langsung melihat istrinya.
"Baiklah Pak, nanti saya akan minta salah satu suster, Untuk memindahkan Bapak Wira keruangan istrinya dirawat." Balas sang Dokter membuat Ardiyan merasa lega.
__ADS_1
Dan Sesuai dengan permintaan Ardiyan, Wira pun di pindahkan ke dalam ruangan tempat Asyifa di rawat, dan benar kata Dokter, Wira langsung tersadar saat cairan infusnya tinggal sepertiga botol lagi, Ardiyan yang melihat itu langsung menghampiri Wira, sedangkan Anisah duduk di sebelah ranjang Asyifa.
" Lo, sudah sadar Wir?." Tanya Ardiyan sembari ia duduk di sebelah ranjang Wira.
"Ar, gue harus ke tempat Asyifa dia pasti nungguin gue." Kata Wira masih dengan suara lemahnya, yang kemudian ia hendak bangkit dan hampir saja mencopot selang infusnya.
Ardiyan yang melihatnya dengan sigap ya langsung mencegah Wira untuk mencabut salam infusnya. "Tenanglah Wir, Asyifa ada di sebelah Lo, lihatlah di sana " Ujar Ardiyan sambil menunjuk ke sebelah kiri Wira.
Dan Wira pun langsung menoleh kearah samping sebelah kirinya, terlihat Asyifa yang terbaring lemah tak sadarkan diri dengan sebuah selang menempel di hidungnya dan beberapa peralatan yang menempel di dadanya, membuat Wira tak tahan melihatnya hingga tanpa terasa air matanya pun mengalir begitu saja.
"Ini salah gue..hiks.. seandainya gue mendengar perkataan Mama, hiks.. mungkin hiks.. ini tidak akan terjadi hiks.. ini salah gue...huhuhu..hiks.. Maafkan Mas Ara..hiks.." Ujar Wira, yang akhirnya tangisnya pecah.
"Sssth, tenanglah Wir, ini sudah takdir, Lo harus kuat dan Sabar Wir, jangan menyalahkan diri Lo Wir." Kata Ardiyan memberikan Nasihat pada Sahabatnya yang terlihat Rapuh itu.
"Tapi ini kenyataan Ar, ini memang kesalahan gue, hiks.. padahal nyokap gue, sudah berpesan untuk menunda kehamilan Asyifa, karena waktu itu ia masih 17 tahun, dan kata Nyokap, gue harus nundanya paling tidak tunggu umurnya 19 tahun, karena umur 17 atau 18, Rahim wanita masih rentan dan masih terlalu muda, gitu kata nyokap, walaupun ada sebagian wanita yang umur segitu Rahimnya sudah kuat, tapi tetap tidak semua wanita itu sama. " Ujar Wira yang masih teringat perkataan dari sang Ibu. Wira menarik nafas yang terasa sesak.
"Astaghfirullah Bang, Istighfar." Tegur Anisah yang terlihat tidak suka melihat kerapuhan Wira.
"Semua ini sudah menjadi kehendak Allah bang, dan ingat semuanya Milik Allah, jadi Dia yang berhak atas setiap makhluk di alam semesta ini seperti yang di katakan dalam firman-Nya
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
__ADS_1
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 189)
Tidak ada yang berkuasa selain Allah yang menguasai semua yang ada di alam semesta ini, bahkan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan atas kehendak Nya (Al-An'am: 59), karena Ia pemilik kerajaan langit dan bumi.
"Jadi Abang tidak boleh seperti ini, karena ini adalah ujian bagi bang Wira dan Asyifa, dan Abang juga tidak boleh pesimis begini. Pada dasarnya pertolongan Allah sangatlah dekat. Cobaan yang Allah berikan ialah bentuk dari kecintaan kepada hamba-Nya. Allah enggan melihat hamba-Nya tersiksa di neraka. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
Artinya: "Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji," (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).
Hal terpenting bagi seorang muslim ialah berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menimpakan ujian atau cobaan di luar kadar kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir," (QS. Al-Baqarah: 286).
"Jadi berdo'alah Bang, karena itu senjata paling ampuh bagi kita umat muslim, Memohonlah pada-Nya yang terbaik buat Asyifa, dan pasrahkan semuanya pada-Nya, dan menangis kepada-Nya bukan menangis di depan kami, yang tak akan mampu membantu Abang, karena hanya kepada-Nya pertolongan itu ada, dan in syaa Allah, Allah akan berikan yang terbaik untuk Abang dan Asyifa.!" Ujar Anisah yang kali ini perkataannya begitu tegas, karena ia tak suka melihat Wira yang terlihat menyalahkan dirinya.
"Astaghfirullah, Maaf Nis, dan terimakasih karena telah mengingatkan Abang, in syaa Allah Abang akan terus berdoa untuk kesembuhan Asyifa." Kata Wira dengan suara yang bergetar dan terdengar lemah.
"Bagus, sekarang Abang harus kuatkan diri Abang, ingat anak-anak Abang belum di Adzankan jadi sekarang istirahatlah dahulu, bila sudah lebih kuat Adzankanlah mereka." Kata Anisah lagi yang kini suaranya sudah lebih lembut.
"Iya Nis Abang istirahat ya." Kata Wira parah dan kemudian ia pun memejamkan matanya.
__________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😉 SYUKRON 🙏🥰.