CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
ADA APA DENGAN ASYIFA.


__ADS_3

⚛💠 MUTIARA ALFAQIROH 💠⚛


"Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit..


Sebagaimana sesuatu yang menyakitkan ada kalanya menjadi obat untuk penyembuh rasa sakit"


~Ali Bin Abi Thalib~


⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛⚛


Di sebuah Mansion..


Di sebuah taman yang ada di belakang Mansion, nampak seorang wanita duduk di ayunan panjang yang terikat di sebuah pohon yang rindang di tepi sebuah Danau buatan yang kecil, ia sedang termenung seorang diri dengan tatapan matanya mengarah ke air danau tersebut, namun nampak kosong, karena ada tersirat Kesedihan di dalamnya.


Suasana yang begitu sejuk, dan begitu heningan membuat ia semakin terhanyut dalam lamunannya yang semakin dalam, hingga tanpa ia sadari seorang pria berwajah tampan telah hadir di dekatnya.


"Assalamu'alaikum" suara bass pria tersebut memecahkan keheningan suasana, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


" Wa'alaikumus salam " Spontan Wanita itu langsung menjawab salam pria tersebut.


"Mas Wira?!" sentaknya kaget


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ra?, kenapa tidak di dalam rumah saja ?" tanya pria tersebut, yang ternyata Wira. "Nanti kamu bisa masuk angin, Ra" lanjutnya lagi, sembari ia ikut duduk di ayunan itu tepat di samping Wanita itu yang ternyata Asyifa


"Tidak ada yang Ara pikirkan kok " jawab Asyifa yang nampak jelas sedang menutupi kesedihannya, " Di sini begitu nyaman mas, kalau di dalam rumah, pikiran Ara ingat pondok" lanjutnya lagi yang kini tatapannya kembali ke air tenang danau itu, Wira menghela nafasnya.


"Huft, apakah yang ku lakukan ini salah?, mengapa ia nampak tak bahagia berada di sini? dan nampaknya hatinya berada di pondok, apa yang harus aku lakukan Ra agar kamu kembali tersenyum ikhlas lagi,? memang kamu selalu memberikan senyuman padaku, tapi senyuman itu senyuman keterpaksaan Ra" _Batin Wira sembari menatap wajah sang istri yang sepertinya ia kembali hanyut dalam lamunannya.

__ADS_1


Yaa semenjak ia di vonis memiliki penyakit, Wira langsung membawanya ke Mansionnya tak begitu jauh dari kota, agar ia bisa lebih sering membawa Asyifa untuk kontrol ke rumah sakit, dan bila di pondok, akan lebih jauh, makanya Wira bersikeras membawa Asyifa untuk tinggal di Mansionnya.


suasana kembali hening hanya terdengar gemerisik dedaunan yang sedang di mainkan oleh angin, serta bunyi gemercik air yang yang sesekali terdengar, karena angin sudah mulai terasa kencang wira pun langsung mengajak Asyifa kembali masuk ke Mansion.


" Ra, kita masuk ya, anginnya sudah mulai kencang aku takut kamu masuk angin" Ajaknya dengan lembut, dan hanya di Anggukkan oleh Asyifa saja, dan Wira pun menggandeng tangan Asyifa dan berjalan menuju arah pintu masuk.


Setelah berada di dalam Asiyfa langsung melepaskan gandengan tangan Wira,


"Ara ke kamar duluan ya mas" pamitnya secara halus, dan ia langsung melangkah menuju ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Wira.


membuat Wira hanya terdiam terpaku dan hanya memperhatikan Kepergian Asyifa yang sedang menaiki anak tangga menuju kelantai dua.


"Mengapa ya Allah?, mengapa sikap istri Hamba berubah drastis?, apakah aku salah membawanya kesini?, aku membawanya kesini agar ia Bahagia, tapi sepertinya aku salah "_ Batin Wira yang tatapannya masih kelantai dua tempat Asyifa hilang di balik pintu kamarnya.


karena bingung harus berbuat apa Wira, Hanya terduduk di sebuah sofa yang berada di dekat anak tangga, yang tadi di naiki oleh Asyifa.


hingga akhirnya ia bangkit dari duduknya dan mulai menaiki anak tangga menuju ke kamar mereka sesampainya di dalam ia melihat Asyifa ternyata sudah tertidur, lalu ia pun menghampiri ranjang tempat Asyifa tidur, lalu ia duduk di sisi pinggiran Ranjang itu tepatnya di samping Asyifa, ia memandangi wajah yang nampak ada keterpaksaan untuk memejamkan matanya. ya terlihat oleh Wira kalau Asyifa sebenarnya belum tertidur,


"Kenapa sih Ra?, Kenapa kamu sepertinya menghindar dariku Ada apa Ra?" tanya Wira lembut, sembari ia mengelus pipi Asyifa lembut. namun tak di respon oleh Asyifa ia masih tetap memejamkan matanya.


"Ra tak Bisakah kita bicara baik-baik jangan seperti ini Ra, ini membuatku tersiksa " ujar Wira nampak galau. Namun masih tidak di respon oleh Asyifa, membuat Wira jadi serba salah.


"Ayolah sayang katakanlah keinginanmu jangan seperti ini ra please " mohon Wira lagi yang sekarang ia memegang wajah Asyifa dan mengarahkannya wajah itu menghadap ke dirinya. mau tak mau Asyifa pun membuka matanya. dan otomatis mata mereka saling bertemu.


" katakanlah sayang, adakah yang kamu inginkan Ra?" tanya Wira sambari ia mengelus pipi Asyifa yang mulus itu.


"Mas, Ara hanya ingin kembali ke pondok mas, bisa gak Mas menurutinya?" tanya Asyifa dengan wajah yang sangat berharap.

__ADS_1


"Tapi Ra, Bukankah kamu harus sering kontrol ke rumah sakit?, Jadi kalau dari pondok terlalu jauh Ra, " Tutur Wira memberi pengertian pada Asyifa.


"Hmm, Ya sudah kalau gitu Ara mau tidur saja ah !" bales Asiyfa sembari memiringkan tubuhnya membelakangi Wira, membuat Wira menghela nafas beratnya, karena bingung harus berbuat apa, agar Asifa mau menerima keputusannya untuk tinggal di Mansionnya.


tapi Ia juga tak tega melihat istrinya yang selalu merundung sedih dan akhirnya..


"hah!..baiklah baiklah Ra besok pagi kita akan kembali ke pondok, Apakah kamu senang sekarang ?" kata Wira sembari membalikkan tubuh Asyifa kini kembali menghadap dirinya.


"Benarkah Mas?" tanya Asyifa dengan tatapan yang berbinar.


"Iya sayang " kata Wira menyakinkan Asyifa, dan Asyifa yang mendengar jawaban dari Wira dengan spontan ia bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk Wira dengan penuh semangat, bahkan iya juga memberikan kecupan di bibir Wira dengan singkat, membuat Wira tersentak kaget.


"Terima kasih Mas" ucap Asyifa senang, melihat istrinya yang mulai kembali ke keceriaannya membuat Wira ikut senang melihatnya, dan ia pun menyambut pelukan sang istri.


"sama-sama sayang, mas, akan melakukan apapun yang penting kamu tersenyum lagi pada mas Ra" tutur Wira di dalam pelukannya Asyifa pun melepaskan pelukannya namun tangannya masih melingkar di leher Wira.


"Mas, sebenarnya Ara kangen sama mas, " ucapnya sembari ia menempelkan bibirnya pada bibir suaminya, membuat mata Wira membulat kaget, karena setahunya Asyifa tidak pernah berinisiatif terlebih dahulu, karena selama ini selalu dia yang mendahului bila mereka berciuman, namun kekagetannya sesaat, lalu ia pun langsung menanggapi bibir yang memang menjadi seperti makanan favorit baginya,


Asyifa yang melihat suaminya menanggapi kecupan bibirnya iya menjadi semakin agresif membuat Wira tambah heran, apalagi di saat tangannya mulai meraba bagian sensitifnya membuat hasratnya naik, Namun karena ia ingat kalau saat ini istrinya sedang sakit ia tak berani menanggapinya,


"Ra, jangan begini nanti aku nggak kuat menahan hasrat ku, ingat saat ini kamu sedang sakit, Ra." ujar Wira dengan suara yang sudah berat seperti sedang menahan sesuatu.


"Mas, Ara kangen" Ucapnya yang sepertinya memang ia sudah berhasrat dan bahkan ia juga telah mendorong tubuh Suaminya serta mengecupi bagian leher Wira membuat Wira benar-benar bingung dengan sikap Istrinya ini.


"ada apa dengan Asyifa? Kenapa dia jadi seperti ini? apakah ini karena ia sedang hamil? apa ini yang di maksud Dimas, kalau wanita hamil suka melakukan hal-hal di luar kebiasaannya, Akh, aku nggak bisa begini, aku harus menahannya karena aku takut ini berpengaruh dengan penyakit Asyifa" _Batin Wira yang saat ini ia sedang menahan hasratnya, agar tidak lepas kendali.


********

__ADS_1


__ADS_2