
Hari telah menjelang sore..
Mami dan papi Wira pun hendak berpamitan pulang..
"Nak hari sudah sore, mami sama pulang ya" ucap mami Wira, pada Wira yang masih duduk di samping pembaringan Asyifa.
"Nak papi juga pulang ya, tapi sebelum papi pergi bolehkah papi berikan nasehat sedikit nak" Ujar papi Wira hati-hati
"Silakan pi dengan senang hati Wira akan mendengarkannya." Bales Wira lemah.
"Alhamdulillah.. Nak ketika Allah memilih mu untuk di berinya ujian, dari sekian banyak hambanya, Allah bukan tak sayang, hanya saja Allah ingin kamu yang menjadi teristimewa di sisi Nya, banyak hamba-hamba yang terbaik di luar sana, dari segi ekonomi banyak, dari pangkat jabatan yang mereka miliki, titel tinggi,
Tetapi terbaiknya satu orang hamba bukan dari apa yang dia punya, bukan dari pangkat jabatan yang ia miliki, kaya bukanlah suatu kemuliaan, miskin bukan pula suatu kehinaan, kaya, miskin sama di mata Allah,nak..
Hanya saja yang mulia di sisi Allah yaitu siapa dia yang paling bertaqwa, sabar dengan ujian, hadapi dengan senyuman, sampai Allah datangkan kebahagiaan untuk mu..
Jadi tingkatkan ketaqwaan,mu bila kamu sedih mungkin saja kau belum merasakan kenikmatan iman, tingkatkan dengan ibadah mu walau seringkali ujian meletihkan mu, ujian bukanlah kemurkaan nak, tetapi kunci menuju kebahagiaan" Nasehat Papi Wira sangat mendalam menurut Wira dan mami nya yang ikut mendengarkan.
"Nak..Allah tau, ada perih Yang kau sembunyikan.
Ada kata Duka Yang tak bisa kau ungkapkan.
Ada kesedihan Yang tak seorangpun bisa melihatnya darimu..
Sejenak tundukan lah kepala mu nak.
Kau hanya perlu berbisiki dalam sujudmu. Karena..
"Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabb_Nya Azza Wa Jalla ialah ketika ia sedang bersujud, karena itu perbanyaklah BerDo'a" ( HR. MUSLIM)
﷽. وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ
"" Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,""
__ADS_1
(QS. Al-Baqarah ayat: 45)
﷽. فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ١٢٩
Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”
(QS. At-Taubah ayat 129)
﷽ ,, ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
" (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd ayat 28)
Percayakan sama Allah,,
Mungkin kau tidak akan pernah tahu bagaimana Allah merencanakan kedepannya,,
Tetapi yang harus kamu ketahui bahwa Allah lah sebaik-baiknya pembuat rencana,,
"In syaa Allah, Wira paham, terimakasih atas Nasehat Papi..in syaa Allah juga Wira akan menjalaninya dengan sabar dan ikhlas Pi" bales Wira mantap.
"Alhamdulillah..papi senang mendengar, kamu memang anak papi yang pintar..ya sudah kalau begitu papi pulang ya, seperti juga sudah mau Maghrib" ujar papi Wira lagi
"Iya Pi hati-hati di jalan ya Pi.." bales Wira sambil menyalami tangan kedua orang tuanya serta mengecup nya..
" Iya, kamu juga dan jaga anak mantu papi dan mami, dan kamu juga harus menjaga kesehatan agar kamu kuat oke" Lanjut papi lagi.
"Oke Pi"
"Ya sudah Assalamu'alaikum" ucap keduanya
"Wa'alaikum salam" kedua orang tua Wira pun keluar dari ruangan itu untuk pulang kerumah mereka. tinggallah Wira sendiri dan Asyifa yang masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Setelah kepergian kedua orang tuanya Wira pun melangkah ke kamar mandi berniat membersihkan dirinya serta mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Maghrib. karena tidak ada lagi siapa-siapa Wira berniat sholat di ruangan itu tidak pergi ke mesjid.
Setelah selesai ritual berwudhu ia pun kembali ke ruangan Asyifa dan mengambil sejadah, dan mulai melakukan ritual sholatnya dengan kusyu'
setelah itu ia pun mulai berdoa..
"Ya Rabb....
hamba tahu begitu banyak dosa yang telah hamba lakukan, begitu banyak perilaku hamba yang Engkau tidak sukai. hingga rasanya tak pantas hamba mendapatkan Ampunan dari mu ya Rabb..dan rasanya juga hamba tak pantas untuk meminta belas kasih mu. hiks..
tapi yang hamba tahu Engkau maha Pengampun dan Maha Pengasih. maka dengan memohon kepada berilah hamba Ampunan mu, dan berikan hamba belas kasih mu hiks.." ucap Wira di dalam Doa. dan tanpa terasa air matanya pun mengalir karena mengingat akan dosa-dosanya.
"Ya Allah.. hamba juga meminta belas kasih Mu terhadap istri ku, Ampunilah dia dan sadarkanlah ia dari tidur panjangnya sembuhkanlah ia dari sakitnya ya Rabb..hamba tahu segala penyakit datangnya dari Mu, dan akan kembali juga karena Mu, Maka angkatlah rasa sakitnya ya Rabb hamba mohon padamu sadarkanlah ia hiks.. hamba tidak tega melihat ia menderita hiks" lanjutan doa Wira yang begitu kusyu' hingga ia terisak, dan tampa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dan hanya diam mendengarkan setiap doa Wira.
Tak lama Wira pun menyelesaikan ritual doanya lalu ia bangkit dari sejadahnya dan saat ingin melipat sesajadah tersebut matanya melihat ke arah pembaringan Asyifa ia pun tersentak senang..
"Alhamdulillah.. kamu sudah sadar Ara?" ucap Wira senang sambil meletakkan sejadahnya di atas meja lalu ia pun menghampiri Asyifa, sementara Asyifa tak membalas pertanyaannya ia hanya membuang pandangannya ke arah kekirinya, sedangkan Wira berada di sebelah kanannya.
Melihat Asyifa buang wajahnya membuat Wira begitu sedih melihatnya.
"Asyifa sebegitu bencikah pada ku?.. hingga melihat ku begitu jijik?" ucap Wira dengan suara yang bergetar menahan kesedihannya. sedangkan Asiyfa hanya diam tidak membalas perkataan Wira.
"Syifa, aku lebih suka kamu memukulku, bahkan aku akan ikhlas bila kamu ingin membunuhku, tapi hanya satu pintaku, jangan membenci ku Syifa..itu sangat menyakitkan " ucap Wira yang masih terdengar bergetar suaranya.
"Maaf.. maafkan aku Syifa.. maaf atas kelakuanku yang membuat kamu membenci ku tapi apakah salah bila aku ingin menebusnya.." masih tidak di tanggapi oleh Asyifa.
"Sepertinya, aku memang tak pantas berada di sisi mu, kalau begitu aku pergi jaga diri mu" dengan langkah gontai Wira pun berjalan keluar..
**BERSAMBUNG.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. kalau bisa di bonusi vote kalian hehehe 🙏😁😊
__ADS_1
Syukron selalu setia dengan karya Author..🙏😊**