CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
KAMU YANG MENGGODA MAS YA


__ADS_3

✥ೋ๑୨ 💖MUTIARA HIKMAH 💖୧๑ೋ✥


Terkadang kita terlalu sibuk dengan urusan percintaan, sampai kamu lupa mencintai tuhanmu sendiri, yang telah menciptakanmu.


Ingatlah kalau kamu ingin dicintai manusia maka kamu harus mencintai dulu sang Penciptanya barulah ciptaannya!!


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


💖✥ೋ୨💖୧๑ೋ✥💖✥ೋ๑୨💖୧ೋ✥💖


Wira melihat mata istrinya yang terbelalak, ia bukannya takut ia malah tertawa lucu melihat istrinya yang kini wajahnya terlihat memerah.


"Hahaha, sayang kamu tahu nggak sih?, wajah kamu tuh menggemaskan kalau seperti ini." Ujar Wira sembari mencubit hidung Asyifa gemas.


"Aduh mas, sakit tahu!" keluh Asyifa sembari memukul pelan dada bidang Wira, setelah itu ia mengusap-usap hidungnya yang habis di pencet Wira.


"Maaf Sayang, habis mas gemas lihat wajah kamu." Balas Wira yang kemudian ikut mengusap pucuk hidung Asyifa.


"Udah akh, Mas kan mau rapat, sana pergi." Kata Asyifa dengan wajah yang terlihat masih kesal.


"Iya iya, tapi jangan marah lagi dong."


"Siapa juga yang marah."


"Itu wajah kamu masih terlihat kesal, bibirnya juga di cemberutin gitukan mas jadi tergoda lagi sayang." Kata Wira yang wajah mulai mendekati wajahnya Asyifa, yang kemudian ia memberikan kecupan singkat pada bibir Asyifa, membuat mata Asyifa terbelalak kagek.


"Emas!, kamukan mau rapat, sanaaa pergii." Bentak Asyifa, sembari ia mendorong tubuh suaminya agar pergi.


"Iya iya, ini juga Mas mau pergi sayang," Kata Wira yang kemudian ia menahan tubuhnya, membuat Asyifa sulit mendorong tubuh suaminya, dan kemudian Wira membalikkan tubuhnya.


"Iya Mas, akan pergi, tapi kamu harus janji setelah kamu selesai makan kamu istirahat ya di ruangan itu, " Ujar Wira sembari jari telunjuknya menujuk sebuah pintu yang berada di sudut ruangan.


"Hu'um, tapi apa Ara nggak boleh berjalan-jalan?" tanya Asyifa polos.

__ADS_1


"Tidak boleh!, kalau mau jalan-jalan tunggu Mas paham!, " Tegas Wira. " Dan ingat tidak ada bantahan, kamu juga harus ingat perut kamukan sudah besar dan ada anak-anak kita di sini, jadi kamu tidak bisa sembarang pergi tanpa mas, kamu paham." Jelas Wira sambil ia memegang perutnya Asyifa dan ia juga terlihat tegas, karena ia tahu istri kecilnya itu yang terkandang masih seperti anak kecil jadi suka sembrono, jadi ia merasa takut bila meninggalkan Asyifa hanya seorang diri.


"Iya iya, Ara paham Mas." Kata Ara dengan bibir yang terlihat cemberut.


"Bagus!, ya sudah kamu makan sekarang, setelah itu pergi istirahat ya sayang." Ujar Wira lagi yang kali ini dengan suara yang sudah lembut.


"Hu'um!."


"Ya sudah Mas rapat dulu ya Assalamu'alaikum." Pamit Wira sembari memberikan kecupan pada Dahi Asyifa.


"Wa'alaikumus salam Mas." Setelah mendapatkan jawaban dari istrinya, Wira pun melangkah pergi keluar dari ruangannya, meninggalkan Asyifa yang masih berada di sana.


"Huh!, Pyipah kalian galak banget sih dek, Myimah jadi seram lihatnya." gerutu Asyifa sambil mengelus perutnya, setelah kepergian suaminya,


"Ya sudah, sekarang kita makan yuk pasti kalian sudah lapar." Gumam Asyifa seolah ia berbicara pada anak-anaknya yang masih berada di perutnya,


dan kemudian Ia pun mulai menyantap makanan dan minuman yang tadi diantar oleh sekertaris Wira.


"Wow, ini kamar hotel apa ruang istirahat?" Gumam Asyifa, yang terlihat ia terkesima pada isi ruangan yang baru saja ia buka. lalu ia kembali berjalan memasuki kamar tersebut, sambil melihat sekelilingnya, dan kemudian ia kembali melihat jendela yang ia pikir pasti berbeda, namun baru beberapa menit ia melihat sekitarnya, rasa kantuknya mulai menyerangnya.


Karena rasa kantuknya sudah tak bisa ia tahan lagi Asyifa pun berjalan menuju ranjang bersepraikan warna putih terlihat nyaman, membuat Asyifa ingin secepatnya membaringkan tubuhnya di sana, namun sebelum ia berbaring ia membuka hijabnya terlebih dahulu karena ia takut kusut setelah ia bangun nanti.


"Humm, nyamannya, membuat mata ingin secepatnya terpejam aja deh rasanya." Gumam Asyifa, yang kemudian ia pun membaringkan tubuhnya dan kemudian ia memejamkan matanya, dan tak berapa lama ia mulai terhanyut dalam mimpinya.


_____


Sementara Wira dengan Rendi yang berada di belakangnya, baru saja keluar dari sebuah ruangan, yang sudah di pastikan itu adalah ruangan tempat mereka mengadakan rapat bulanan dan terlihat sekali wajah Wira terlihat kesal, setelah ia keluar dari ruangan tersebut.


"Ren, coba kamu selidiki si Ardi aku merasa ada yang tidak beres dengan anak itu, dan kenapa pemasukan di bulan ini sangat merosot sekali, sepertinya ia ingin bermain-main dengan ku " Ujar Wira dengan suara datarnya.


"Baik pak!" tegas Rendi.


"Ya sudah kamu boleh pergi, satu jam lagi siapkan mobil, kita akan pulang." Titah Wira lagi.

__ADS_1


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


"Hmm." Rendi langsung pergi setelah mendengar deheman Wira, sedangkan Wira langsung berjalan menuju ke ruangannya.


"Ratna, apakah tadi istriku ada keluar?" Tanya Wira pada wanita yang duduk di depan sebuah meja yang berada di depan ruangan Wira.


Mendengar suara Wira wanita yang di panggil Ratna itu langsung berdiri."Tidak ada pak, tadi setelah makan ibu langsung masuk keruangan Istirahat, mungkin saat ini Ibu sedang tidur pak." Balasnya dengan sopan.


"Oh, ya sudah kamu kembali bekerja, ingat jangan ganggu saya kalau tidak ada hal penting, dan kalau ada tamu, bilang saya tidak ada, kamu paham!" Tegas Wira.


"Paham pak!" Setelah mendapatkan jawaban dari Ratna, Wira langsung masuk keruangannya tanpa berkata apa-apa lagi pada Ratna.


Sesampainya di dalam ia langsung mengunci pintu ruangannya tersebut, dan setelah itu ia langsung berjalan menuju ke kamar tempat Asyifa beristirahat tadi sesampainya di depan pintu ia langsung membukanya dan terlihatlah Asyifa yang sedang tertidur pulas, ia pun tersenyum saat melihat istri kecilnya tertidur, seperti anak kecil, membuat ia gemas melihatnya, lalu ia berjalan menghampirinya.


"Lucu banget sih tidur kamu Ara, bikin gemas tahu." Gumam Wira yang kemudian ia pun membuka jas, setelah itu ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Asyifa, kemudian ia juga memberikan kecupan lembut di dahi Asyifa turun ke pucuk hidungnya yang mancung, setelah itu ia juga memberikan kecupan singkat pada bibirnya.


Asyifa yang merasakan ada yang mengusik tidurnya, dan apalagi ia mengenal bau tubuh orang yang mengusiknya, dengan mata yang masih terpejam ia langsung memeluk Wira dengan manjanya.


"Humm" Lenguhnya sambil mendusel-ngusel wajahnya di dada bidang Wira.


"Hmm, sayaang.. kamu yang menggoda Mas ya?, jadi jangan salahkan Mas ya, kalau mas tidak bisa menahannya lagi " Ujar Wira yang langsung meraih bibir ranum Asyifa, dengan tangan yang langsung menuju ke belakang tubuh Asyifa dan kemudian ia membuka resleting baju Asyifa.


"Humm...Mas ini kantor, nanti kalau ada yang datang gimana?." Tanya Asyifa saat tautan bibir mereka telah terlepas.


"Tidak akan ada yang datang sayang, dan tidak akan ada berani menggangu kita lagi, humm " Kata Wira dengan suara yang berubah menjadi berat, dan kemudian ia kembali meraih bibir Asyifa tanpa memberikan kesempatan Asyifa berbicara lagi.


"Huumm...ugh...Maas..hum.." Asyifa yang mulai ikut terseret ke dalam lautan hasrat yang memanas karena di ciptakan oleh Wira, akhirnya ikut terhanyut, kedalam mahligai samudra percintaan mereka.


Yang selanjutnya Author nggak tahu lagi karena Author sudah hanyut juga dalam tidur Author 😴😴😪😪😴😴


***********


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys 🙏😴😪😴 Terimakasih atas dukungannya, dan jangan lupa Follow akun NT author ya ,😉🙏

__ADS_1


__ADS_2