CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
KEBAHAGIAAN NINA DAN DIKA.


__ADS_3

โœฅเณ‹เน‘เญจ๐Ÿ’–Dear Sahabat Fillah๐Ÿ’–เญงเน‘เณ‹โœฅ


"Kesedihan yang ada di hati mu adalah kasih sayang Allah, Ia ingin kmu mendekat pada-Nya,, Ingatlah Allah maha pencemburu Ia tak ingin kmu menjauh dari-Nya,, Ia ingin kamu selalu bercerita pada-Nya tentang isi hati yang kamu pendam,, Ia tak ingin cinta-Nya kamu bagi,,


Kejarlah cinta Allah, dan serahkan semua Kepada-Nya,, karena Dia lebih mengetahui yang terbaik di antara yang paling baik, dan ingatlah rencana Allah lebih baik dari rencana mu,,


So tetaplah berjuang dan berdo'a sampai kau menemukan bahwa ternyata Allah selalu memberikanmu yang terbaik,,๐Ÿ˜‰


__sแด›แดส€ษชแด‡s แดา“ แด›สœแด‡ แด…แด€ส__


โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ


Dua Minggu telah terlewati keadaan Nina semakin pulih, begitu juga sang Baby yang semakin Normal, membuat Dika ingin mengadakan syukuran sekaligus acara penabalan nama anak perempuannya, dan kebetulan juga hari ini Nina sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Afan selaku rekan kerja Dika.


"Kamu sudah siap sayang.?" Tanya Dika saat ia baru saja memasuki ruang rawat Nina dengan membawa sebuah kursi roda.


"Alhamdulillah Nina sudah siap Da." Bales Nina yang memang ia sudah terlihat sudah rapi.


"Alhamdulillah, ya sudah sekarang kamu naiklah sayang." Titah Dika yang sudah mendekati kursi rodanya.


"Eh, tapi Nina sudah sehat Da, sudah bisa jalan sendiri." Balas Nina yang sepertinya ia enggan menaiki kursi rodanya.


"Sssth, tidak boleh membantah, sekarang naiklah, apakah kamu tidak ingin menjemput anak kita di ruang bayi?" Tanya Dika, yang terlihat sedikit memaksa agar Nina segera menaiki kursi rodanya.


"Iya mau dong Da, apalagi hari ini Nina belum melihat anak kita." Balas Nina dengan mata yang berbinar.


"Ya makanya, sekarang naiklah sayang." Titah Dika lagi, yang masih setia berada di belakang kursi roda tersebut.


"Iya iya, Nina Naik." Balas Nina pasrah, yang kemudian akhirnya ia pun menaiki kursi rodanya.


"Nah, gitu dong, kamukan baru saja pulih, jadi Uda nggak mau melihat kamu capek sayang" Ujar Dika, sambil ia memulai mendorong kursi roda yang telah di dudukk oleh Nina.


"Iya Da, Syukron." Ucap Nina sambil ia menoleh melihat wajah suaminya.


"Afwan sayang." Balas Dika yang kemudian ia mengecup puncak kepala Nina dari belakang sambil ia mendorong kursi roda menuju ruangan bayi.


Sesampainya di ruang bayi ternyata bayi mereka sudah siap, membuat Nina terkesima melihat bayinya baju biru serta hijab berwarna senada terlihat begitu cantik.


"Selamat pagi Bu, ini bayinya sudah siap" Ujar Suster perawat bayi, sembari menyerahkan bayi kepada Nina.


"Terima kasih Suster." Balas Nina pada suster tersebut sambil menyambut bayinya dan kemudian ia menaruhnya di pangkuannya

__ADS_1


"Ma syaa Allah, Cantiknya Anak Umy." Kata Nina lagi yang kemudian ia mengecup lembut pada bayi yang masih tertidur.


"Iya dong Umy, siapa dulu dong Ayahnya, Dika.. Dokter tertampan sejagat raya, dan sudah pasti dong anaknya akan cantik Umy." Sambung Dika dengan gaya meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya serta Alisnya di naik turunkan.


"Iikh, Uda!, narsis banget sih!." Balas Nina dengan wajah malesnya.


"Kan fakta sayang, kalau suami kamu ini tampankan." Kata Dika lagi dengan gaya narsisnya.


"Iya iya, suami Nina paling tampan, udah akh ayo kita pulang sekarang Da." Ajak Nina agar suaminya tidak berlama-lama bergaya narsisnya.


"Baiklah sayang, ya sudah ayo sekarang kita pulang, bersama putri ayah yang cantik." Kata Dokter Dika yang kemudian ia mulai mendorong kursi rodanya lagi menuju ke pintu keluar rumah sakit.


Sesampainya di depan pintu rumah sakit ternyata di sana sudah ada Yoga yang sedang menunggu mereka, kali ini Dika tak masalahkan keberadaan Yoga lagi, karena ia tak ingin peristiwa yang paling ia takutkan terjadi lagi.


"Terima kasih Yoga." Ucap Dika saat Yoga membukakan pintu mobilnya.


"Sama-sama pak." Balas Yoga dan mereka pun masuk kedalam mobil, setelah keluarga bosnya sudah terlihat nyaman dalam duduknya Yoga pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju ke rumah Dika.


Sesampainya di sana ternyata di rumah Dika sudah ramai dengan para undangan yang sudah diatur oleh Ardiyan, karena memang Dika pernah bercerita pada Ardiyan ingin mengadakan syukuran untuk kesembuhan Nina dan sekaligus acara penabalan nama putri kecilnya dan Ardiyan langsung membantu sahabatnya itu, makanya saat Dika datang semua sudah di persiapkan.


"Ma syaa Allah, ada apa ini Da?." Tanya Nina yang sepertinya tidak mengetahui apa-apa.


"Ini acara syukuran atas kesembuhan kamu sayang, sekaligus acara penabalan nama anak kita." Jawab Dika yang kemudian ia pun langsung turun dari mobilnya dan di ikuti oleh Nina yang sedang menggendong bayinya.


"Wa'alaikumus salam." Jawab mereka serentak.


" Ma syaa Allah, ponakan eama (bibi) cantik sekali." Ujar Anisah, yang kemudian ia langsung mengambil bayi kecil yang berada di gendongan Nina dan kemudian ia langsung menggendong putri kecil Nina.


"Alhamdulillah, terimakasih eama." Bales Nina dengan menirukan suara anak kecil.


"Afwan sayang, ya sudah yuk kita masuk, semuanya sudah berkumpul di dalam." Ajak Anisah masih menggendong sang Baby.


" Ma syaa Allah, ana sangat terimakasih banget sama anti dan bang Diyan, yang sudah menyiapkan semua ini, sekali lagi terimakasih ya ty, bang Diyan." Ucap Nina Tulus.


"Sama-sama Nina, bukan hanya kami kok yang menyiapkan semua ini, tapi mereka semua ikut andil dalam acara ini, itu karena kita semua adalah keluargakan." Balas Ardiyan sambil ia juga menunjukkan para sahabat mereka yang memang sudah berkumpul di dalam.


"Sudah belum ucapan terima kasihnya?, ini acara sudah mau di mulai." Celetuk Dimas, yang memang semua sudah berkumpul, dan ustadz Khairul selaku pemimpin doa juga sudah bersiap.


"Eh, iya iya, ini dah siap kata Dika yang kemudian ia mengambil anaknya dari Anisah dan kemudian ia membawa kehadapan Ustadz Khairul untuk di tabalkan namanya.


Setelah semua sudah duduk, Ustadz Khairul pun memulai acara doa syukur setelah itu di lanjutkan dengan acara penabalan nama Anak Dika yang di beri nama " Ardina Zahwa Aulia" setelah pembacaan doa selesai dan acara potong rambut bayi selesai, Dika kembali memakaikan hijab Putri kecilnya itu.

__ADS_1



Terlihat putri kecilnya sangat cantik, membuat siapapun gemas melihatnya, setelah itu Dika juga memberikan sambutan Ucap terimakasih pada para keluarga dan para tamu yang sudah ikut hadir menyaksikan penabalan nama anaknya, dan setelah itu di lanjutkan dengan acara makan-makan setelah selesai para tamu pun berpamitan pulang, tinggallah para Sahabat-sahabatnya yang masih berada di sana.


" Terima kasih ya guys, kalian bukan hanya sahabat bagi gue, melainkan saudara gue, yang selalu ada disaat gue susah maupun senang, entah bagaimana gue, bila seandainya kalian tidak ada gue..hiks.." Ucap Dika tulus namun terhenti karena ia teringat masa-masa sulitnya, mereka selalu ada di sampingnya, jadi ia tak mampu berkata-kata lagi karena air matanya sudah terlebih dahulu berbicara.


"Hey, ini hari bahagia Lo Dika, masa Lo malah nangis sih, dan tidak perlu ada Ucapan Terimakasih karena kita keluarga, maka sudah sepantasnya kita saling mendukung satu sama lainnya, Ok." potong Ardiyan yang kemudian ia memeluk sahabatnya itu.


"Tau nih, Lo Melo banget sih akhir-akhir ini, udah jadi ayah jugaan." Timpal Dimas.


"Sorry guys, gue juga nggak tahu kenapa gue cengeng banget ya." Balas Dika sembari ia mengusap Air matanya.


"Ya sudah jangan sedih lagi ini kan hari kebahagiaan Lo dan Nina, jadi happy dong." Sambung Wira.


"Thanks guys you all of are my family " Ujar Dika yang kemudian ia memeluk kelima sahabatnya yang saling merangkul satu sama lainnya.


Dan setelah acara terimakasih, para sahabatnya pulang satu persatu, tinggallah Nina dan Dika yang masih melihat wajah baby Zahwa yang masih tertidur.


"Alhamdulillah ya Da, akhirnya anak kita sudah punya nama, dan Nina tidak menyangka saja, bayi kita lahir di usia kandungan Nina yang baru beranjak 7 bulan dan Alhamdulillah ia baik-baik saja." Kata Nina penuh rasa syukur.


"Iya Alhamdulillah, Maaf ya ini semua adalah kesalahan Uda jadi kamu harus menghentikan proses kehamilanmu lebih cepat dan karena Uda ..." Ujar Dika seperti ada penyesalan di raut wajahnya, namun langsung di potong oleh Nina.


"Sssth, itu telah berlalu, jangan di ingat lagi Da, dan selalu ada hikmah di setiap kejadian, jadi kita harus banyak-banyak bersyukur Da." Potong Nina karena ia tahu kalau suaminya jadi selalu menyalahkan dirinya sendiri.


"Iya Sayang, terima kasih ya, karena.." Ucapan Dika terputus karena ia melanjutkannya di dalam hatinya.." Terimakasih karena kamu tidak pergi dari sisiku." Batin Dika yang kemudian ia langsung memeluk Nina.


karena ucapan Dika terputus membuat nina jadi penasaran." Karena apa Da, kok nggak di lanjutkan?" Tanyanya sembari melepaskan pelukannya Dika.


"Karena kamu sudah memberikan putri kecil yang cantik sayang, terimakasih ya, sayang.." Dalih Dika yang kemudian ia menyatukan Dahinya ke Dahi Nina.


"Sama-sama Da Nina juga." Balas Nina, yang dengan manjanya ia memeluk Suaminya dan di sambut oleh Dika, yang terlihat lihat sekali betapa bahagianya ia, karena ia bisa melewati ujian dengan sabar dan hari ini ia mendapat buah manisnya, yaitu istrinya yang kembali seperti semula, di tambah bonus dengan kehadiran buah hatinya,


"Terima kasih ya Allah, atas semua kebahagiaan yang engkau berikan kepadaku, semoga hamba bisa menjaga amanah ini hingga akhir hayat hamba. dan hamba mohon Ridhai lah ya Rabb." Batin Dika, yang masih memeluk Nina **sambil keduanya memandang putri kecilnya yang sedang tertidur di boxnya.


___๐Ÿ’–END๐Ÿ’–___


**********


Alhamdulillah, author telah menyelesaikan Versi Dika, semoga para Readers terpuaskan akhir dari cerita Dika, dan tetap dukung author ya agar menyelesaikan Versi Asyifa dan Wira selaku peran utama di Novel ini.


Ok guys, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ๐Ÿ˜‰๐Ÿ™

__ADS_1


Syukron ๐Ÿ™**


__ADS_2