CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
TERIMA KASIH ISTRIKU.


__ADS_3

◎❅❀❦♦️ MUTIARA ALFAQIRAH♦️❦❀❅◎


"Jika jenazah yang kamu tangisi bisa berbicara, Dan menceritakan sakaratul maut nya pada mu, Niscaya kamu akan melupakan mayit tersebut Dan menangisi diri kalian sendiri._


__ᴜᴍᴀʀ ʙɪɴ ᴋʜᴀᴛᴛᴀʙ__


◎❅❀❦♦️❦❀❅❅❀❦♦️❦❀❅❀❦♦️❦❀❅◎


"Ninaa.. Jangan tinggalkan aku, Ninaaa! Jangan pergii, tunggu Ninaaa!! jangan pergiii Ninaaaa!!" Teriaknya Dika dengan sekuatnya..


Sementara para sahabat Dika yang berada di luar, sedang asik mengobrol, satu sama lainnya, di tambah lagi di sana ada ustadz Khairul, membuat mereka bersemangat bertanya-tanya tentang seputar agama, namun di saat mereka sedang asyik tiba-tiba mereka mendengar teriakkan Dika membuat mereka kaget.


"Astaghfirullah, ada apa dengan Dika Abi,?" Tanya Ardiyan kaget setelah mendengar Teriakkan Dika.


"Abi juga tidak tahu, sebaiknya ayo kita masuk saja." Ajak Ustadz Khairul, yang kemudian ia langsung masuk dan di ikuti oleh para sahabat Dika.


"Astaghfirullah, sepertinya ia bermimpi." Kata Ustadz Khairul yang kemudian dengan cepat ia menghampiri Dika yang sedang tertidur dengan posisi duduknya.


"Dika!, Dika..Dika..!" panggil Ustadz sambil menggoyangkan tubuhnya Dika.


"Nak Dika bangunlah." panggilnya lagi, yang kemudian terlihat Dika tersentak dan kemudian ia langsung membuka matanya.


"Abi?!" Sentak Dika.


"Istighfar nak, kamu bermimpi buruk ya nak?" Tanya Ustadz Khairul, saat melihat Dika sudah mulai sempurna membuka matanya, namun di ujung pelupuk matanya, masih ada air mata yang tersisa.


"Astaghfirullah, iya Bi, Dika bermimpi Nina pergi Bi di dalam mimpi Nina berpamitan pada Dika dan dia juga meminta ridho pada Dika, hiks..apakah itu artinya Nina akan pergi Bi?, hiiks..hiks.." Tanya Dika yang kemudian ia kembali meneteskan air matanya karena teringat akan mimpinya.


"Sssth.. tidak boleh berkata seperti itu nak, Asal kamu tahu, Mimpi yang buruk datangnya dari setan. Karena itu, bila mendapatinya maka dianjurkan untuk meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali. Selain meludah, hendaknya kamu memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Caranya cukup sederhana, dengan membaca ta’awudz, sebagai mana yang di katakan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah ia berkata:


“Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak ia sukai, hendaknya ia meng ubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan ber lindung kepada-Nya, dari keburukannya.” (HR. Ibnu Majah)


"Nak, mimpi yang buruk tidak baik untuk kamu ceritakan kepada orang banyak. Hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam Sebuah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah menyatakan larangan menceritakan mimpi buruk kepada khalayak.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Dan jika ia melihat yang selain itu dari mimpi yang tidak ia sukai, maka itu berasal dari setan. Hendaklah ia berlindung kepada Allah dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada seorang pun. Niscaya mimpi itu tidak akan memudharatkannya"

__ADS_1


(Hadits Riwayat. Muslim )


"Jadi sekarang sebaiknya kamu jangan berpikir yang macam-macam, dan sebaiknya kamu berdoa pada Allah, agar istri kamu di berikan kesehatan ya, percayalah pada kekuatan Doa nak, dan yakinlah dan yakinlah ke pada Allah karena Allah Mampu Mengubah Kemustahilan Menjadi Sebuah Kenyataan, Salah Satunya Dengan Do'a." Jelas Ustadz Khairul panjang lebar membuat hati Dika merasa tenang dan lega.


"Baiklah Abi, terimakasih atas pencerahannya" Kata Dika yang kemudian memeluk Ustadz Khairul.


"Sama-sama, nak, " Balas Ustadz Khairul dan ia juga menyambut pelukan Dika dengan penuh kehangatan. " Ya sudah sebentar lagi waktu subuh akan datang sebaiknya kita bersiap-siap untuk salat berjamaah." Ujar Ustadz Khairul dan di setujui oleh para kelima sekawan tersebut..


Yaa karena keadaan Dika yang terlihat rentan, ke empat sahabatnya serta ustadz Khairul, tidak tega meninggalkan Dika di rumah sakit seorang diri, makanya mereka masih di sana saat waktu subuh menjelang.


"Baiklah Abi." jawab mereka.


"Ya sudah ayo kita ke mushola yang ada di rumah sakit ini saja." Ajak Ustadz Khairul, yang kemudian mereka pun keluar dari ruangan rawat Nina dan pergi menuju ke mushola rumah sakit, untuk melakukan shalat subuh berjamaah, dan mereka juga mendoakan kesembuhan Nina dengan doa yang dipimpin oleh ustaz Khairul.


Setelah selesai merekapun kembali keruang rawat Nina yang ternyata di sana sudah ada seorang dokter yang sedang memeriksa keadaan Nina,


"Bagaimana keadaan Istriku Dokter Afan," tanya Dika yang terlihat penasaran, ya sebenarnya ia bisa saja mengetahui keadaan Nina Secara ia juga seorang dokter, tapi karena ia tak ingin membuat temannya kecewa makanya ia, telah menyerahkan semuanya pada teman sesama dokternya itu.


"Alhamdulillah, keadaan Istri Anda telah melewati masa kritis Dok, saya benar-benar salut pada Istri Anda, yang keinginan untuk sembuh sangat besar." Ungkap Dokter Afan.


" Alhamdulillah," Ucap mereka secara bersamaan.


"kalau itu saya tidak bisa memprediksinya karena itu tergantung pada ibu Nina sendiri Pak." bales dokter Afan.


"Oh ya sudah nggak papa Dok, kalau begitu saya masuk ya, dan sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih, karena dokter sudah cukup berusaha memberikan yang terbaik untuk istri saya." ucap Dika dengan tulus.


"Sama-sama Dok, jangan terlalu sungkan pada saya bukankah kita adalah teman Dok?" bales dokter Afan. " Ya sudah kalau begitu saya permisi dok."lanjut dokter Afan lagi.


"Iya Dok terimakasih." Balas Dika, dan kemudian Dokter Afan pun berlalu meninggalkan ruangan Nina.


"Alhamdulillah, ya sudah karena keadaan Nina, sudah stabil, Abi pulang ya nak." Ujar Ustadz Khairul setelah kepergian sang dokter .


"Oh, Iya Abi, terimakasih untuk semuanya ya Abi, " Ucap Dika tulus.


"Iya sama-sama nak." Balas Ustadz Khairul lagi.


"Kalau begitu kami juga pulang Ya Dik, in syaa Allah nanti kami akan kesini lagi bersama bini-bini kami." Sambung Ardiyan

__ADS_1


" Iya Guys, terimakasih banyak ya untuk semuanya." Kata Dika yang terlihat jelas ia begitu bersyukur karena telah memiliki sahabat yang benar-benar peduli padanya.


"Sama-sama Bro, ya sudah kami pamit ya, Assalamu'alaikum" Pamit mereka semua.


"Wa'alaikumus salam " Jawab Dika, dan kemudian mereka berempat dan Ustadz Khairul pun meninggalkan Dika yang masih berdiri di depan pintu ruangan Nina, sembari melihat ke pergian Ustadz Khairul beserta para sahabatnya.


Setelah para sahabat tak terlihat lagi, Dika pun memasuki ruang rawat Nina, dan kemudian ia kembali duduk di kursi di samping pembaringan Nina, lalu ia kembali meraih tangan Nina.


"Sayang kenapa kamu betah sekali Memejamkan matamu, Apakah kamu tidak ingin melihat anak kita sayang, maaf Uda belum melihat anak kita, karena Uda ingin kamu yang lebih dahulu melihatnya, maka bangunlah sayang, kasihan anak kita, sendirian di sana." Ujar Dika, sembari ia mengelus pipi Nina, yang terlihat sudah tidak pucat lagi.


Nina yang sepertinya mendengar perkataan Dika, tangannya yang sedang di genggam oleh Dika tiba-tiba bergerak, membuat Dika bersemangat dan dengan antusias ia terus memanggil Nama Nina.


"Nina, kamu bergerak Alhamdulillah, bangunlah sayang, Nina, bangunlah." Panggil Dika Sambil Ia terus memanggil nama Nina. kembali lagi Nina merespon panggilan Dika, dengan kelopak matanya yang mulai bergerak-gerak, membuat Dika semakin bersemangat.


"Sayang Bangunlah, Uda ingin mendengar suara kamu, melihat mata kamu, bangunlah sayang." Panggil Dika lagi kali ini ia sembari memberikan kecupan lembut di kening Nina, dan saat ia mulai mengangkat wajahnya kembali ternyata Nina sudah membuka matanya.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga sayang" Ujar Dika penuh rasa haru dan senang, bahkan ia menciumi seluruh wajah Nina dengan penuh kasih sayang.


"Uda? " Panggil Nina dengan suara yang terdengar masih lemah.


"Iya sayang?" Balas Dika lembut.


"Kenapa perut Nina rata Uda, kemana anak kita?" Tanya Nina lemah, dengan tangan yang berada di atas perutnya.


"Anak kita sudah lahir sayang, dia seorang putri kecil, tapi sekarang dia berada di inkubator," Jelas Dika dengan hati-hati.


"Ma syaa Allah, Nina ingin melihatnya da." Pinta Nina.


"Iya sayang, nanti kita sama-sama melihat putri kecil kita ya, tapi tunggu dapat persetujuan dari dokter Afan dulu ya, sambil kamu memulihkan kondisi tubuh kamu juga oke." Ujar Dika dengan lembut.


"Baiklah Da." Balas Nina singkat.


"Ya sudah sekarang kamu istirahat lagi ya, sayang biar tubuh kamu semakin pulih." Kata Dika lagi, sambil ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Nina lagii


"Iya Da." Dan Nina pun kembali memejamkan matanya, dan tak berapa lama nafasnya kembali teratur menandakan ia telah terlelap.


Dika terus memandangi wajah istrinya, ada perasaan lega di hatinya karena istrinya telah melewati masa-masa kritisnya..

__ADS_1


"Terima kasih sayang, terimakasih karena kamu masih tetap bertahan berada di sisiku, dan terimakasih juga kamu telah melengkapi kebahagiaanku dengan memberikan putri kecil kepadaku, terimakasih istriku." Ucap Dika penuh rasa syukur dan kemudian ia kembali mengecup pipi Nina, yang sedang tertidur..


**********


__ADS_2