
π«π« MUTIARA HIKMAH π«π«
"Kesabaran adalah akhlak mulia, yang dengannya setiap orang dapat menghalau segala rintangan."
-π«Imam Asy Syafi'i Rahimahullahπ«-
π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«
Menjelang subuh, seperti biasa Asyifa pasti akan terbangun dan saat ia membuka matanya ia langsung melihat wajah tampan suaminya yang tadi malam sudah menjadikan ia sebagai seorang istri seutuhnya ada perasaan berbeda pada dirinya saat ia melihat bibir suaminya saat ia ingin menyetuhnya tiba-tiba mata Wira terbuka dan Tersenyum manis kepadanya.
"Selamat ulang tahun sayang" ucap Wira membuat Asyifa terkejut. dan membuat jantungnya berdetak kencang saat mendengar kata "sayang" hingga ia tak mampu berkata-kata
"Barakallah fiumrik sayang" ucap Wira lagi dan kemudian mengecup kening Asyifa.
"A.Aamiin Syukron kak" jawab Asiyfa gugup.
"Maaf ya baru ngucapin sekarang seharusnya tadi malam cuma karena tadi malam kita itu ting jadi lupa deh" ujar Wira dan saat mengatakan" itu" ia mengedipkan sebelah matanya, membuat Asyifa melotot padanya..
"Iiss kak Wira genit deh" kata Asyifa dengan sedikit wajah memerah karena malu.
Wira terkekeh melihat istrinya yang malu
"hahaha Aku genit hanya sama kamu saja sayang" ujarnya.
"gak usah gombal deh.. udah Syifa mau mandi nanti habis lagi waktu subuh " ujar Asyifa hendak turun dari ranjangnya..
"Aw" Pekik Asyifa saat bagian intimnya terasa sakit. Wira yang mendengar pekikkannya langsung turun dan kemudian ia pun menghampiri Asyifa..
"Kenapa sayang? kakimu masih terasa sakit ya?" tanya Wira panik.
"Tidak tapi itunya yang sakit" Jawab Asyifa malu. Wira pun tersenyum lalu ia pun langsung menggendong Asyifa tanpa aba-aba.
"Aakh...!" Asyifa tersentak kaget
"maaf Ara, aku sudah membuat kamu sakit.." ucap Wira saat ia berjalan menuju kamar mandi dengan Asiyfa yang berada dalam gendongannya ala bridal style.
"Eh, ti.tidak papa kak, lagian itu sudah menjadi kewajiban Ara." bales Asiyfa gugup dengan wajah tertunduk karena ia merasa malu dengan tubuhnya yang polos,
Sebenarnya tadi ia bermaksud melilitkan tubuhnya dengan selimut, tapi karena saat ia hendak berdiri tiba-tiba kaki dan bagian intinya terasa sakit secara bersamaan membuat ia jadi lupa untuk melilit tubuhnya hingga tiba-tiba Wira menggedongnya
Wira Tersenyum melihat istrinya nampak malu.
"kamu berendam dengan air hangat agar rasa sakitnya berkurang ya" ujar Wira sambil memasuki tubuh Asyifa kedalam bathtub.
Asiyfa hanya mengangguk.
Wira yang tahu istrinya sedang malu ia pun segera keluar dan karna tak ingin ia tertinggal waktu Subuhnya ia pun pergi mandi di kamar sebelah, setelah selesai ia pun kembali lagi ke kamar dan ternyata ia melihat istrinya sudah bersiap dengan mukena karena ia hendak melakukan kewajibannya terhadap Rabb nya.
__ADS_1
"Eh, kenapa tidak menunggu ku?, apa kakimu sudah tidak sakit lagi Ara?" tanya Wira saat melihatnya telah rapi.
"Sudah tidak sakit lagi kok kak" jawab Asyifa lembut.
"Alhamdulillah, ya sudah kalau begitu kita sholat berjamaah ya" Ajak Wira
"Na'am" mereka pun mulai melaksanakan sholat subuh berjamaah, dengan Wira yang menjadi imam, setelah selesai mereka juga melakukan doa bersama juga mengaji bersama. terpancar kebahagiaan pada keduanya. setelah selesai Asyifa pun menyalami tangan Wira serta mengecupnya dan di sambut Wira dengan mengecup dahi Asyifa.
"Terimakasih Syifa, kau telah menyempurnakan agama ku" ucap Wira lembut sembari menyatukan dahinya ke dahi Asyifa.
"Ara juga Terimakasih kak, karena telah mengajak Ara untuk beribadah bersama" balas Asyifa tulus.
"Sama-sama sayang, ya sudah bersiaplah, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat" ujar Wira lembut.
"Kemana kak?" tanya Asiyfa penasaran.
"Rahasia dong" ujar Wira sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Iiss pakai Rahasiaan segala sih" bales Asyifa dengan wajah cemberutnya.
Wira Tersenyum melihat istrinya yang cemberut lucu. " Biar suprise sayang " kata Wira sembari mengangkat Asyifa dari duduknya di sejadah dan membawanya ke ranjang mereka.
"Tunggu sebentar di sini ya" Lanjut Wira lagi lalu ia melangkah menuju lemari kayu dan mengambil sesuatu disana. lalu ia menghampiri Asyifa lagi sambil menyerahkan
paper bag pada Asyifa.
"Lihatlah, dan pakailah, aku keluar dulu ya, ada yang harus aku kerjakan "Ujar Wira dan setelah mendapatkan Anggukkan oleh Asyifa Wira pun keluar dari kamarnya,
Setelah Wira pergi Asyifa pun membuka paper bag pemberian Wira dan ternyata isinya sebuah gaun pink tua, di lengkapi dengan hijab dan cadarnya dengan warna lebih mudah dari gaunnya.
"Maa syaa Allah, indahnya" Gumam Asiyfa lalu ia pun mulai memakai gaun tersebut dan tidak lupa hijab dan cadarnya, setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya dengan jalan perlahan bermaksud untuk menunjukkan pada suaminya.
Namun yang di cari tidak terlihat batang hidungnya di dalam rumah mereka, ia pun melangkah perlahan kembali menuju keluar rumah namun ia tak menemukan juga suaminya, pagi itu nampak cerah Asyifa pun menghampiri perkebunan teh yang dekat dengan rumahnya dan memetik satu daunnya tanpa ia sadari seseorang sedang memperhatikannya.
"Maa syaa Allah, cantiknya istriku" Gumam Wira yang ternyata juga mencari istrinya dan ternyata yang di cari berada di antara tanaman teh.
"Asyifa?" panggil Wira, Asyifa pun menoleh ke sumber suara.
" Kak Wira?, cantik tidak Ara kak?" tanya Asyifa sambil menunjuk penampilannya.
"Cantik sayang,.. kau yang paling tercantik dalam hatiku" bales Wira sambil merangkul pinggang Asyifa dan merapatkannya pada dirinya. lalu ia pun mengecup lembut dahi Asyifa.
"Iiss kak Wira, nanti ada yang melihat" protes Asyifa sembari mendorong dada suaminya.
__ADS_1
"Biarkan saja, orang sudah halal pun" goda Wira sembari mengedipkan sebelah matanya. membuat mata Asyifa terbelalak.
"Iis dasar genit!" kata Asyifa membuat Wira tertawa kecil.
"Hehehe, genit sama kamu aja nggak masalahkan sayang" ujar Wira masih Menggoda istrinya.
"Tahu akh, " Asyifa pun hendak melangkah namun tiba-tiba tubuhnya seperti melayang ke udara
"Aakh" pekiknya kaget, dan tenyata ia sudah berada dalam gendongan suaminya.
"Kak Wira mau apa? turunkan !, Ara malu kak"
"Ssth, kaki kamu masih belum pulih benar, jadi tidak boleh banyak berjalan, jadi diamlah, aku akan membawamu ke suatu tempat" ujar Wira sambil ia melangkah menuju mobilnya berada.
"Tapi Syifa malu kak, Apa kata santriwati bila lihat kita kak?"
"Mereka tidak akan berkata Apa-apa Syifa, merekakan juga tahu kaki kamu sakit, dan mereka juga tahu kalau kamu sudah bersuami jadi kamu tidak perlu khawatir Syifa" kata Wira menenangkan hati istrinya, dan akhirnya Asyifa hanya diam dan pasrah mengikuti sang suami membawanya.
Dan tak lamapun mereka sampai di tempat Wira memarkirkan mobilnya, kemudian ia pun memasuki Asyifa kedalam mobil, setelah itu ia juga masuk dan duduk di belakang kemudinya. mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang dan meninggalkan Area pondok.
"Sebenarnya kita mau kemana kak?" tanya Asyifa memecahkan keheningan di dalam mobil mereka.
"Sabarlah Syifa nanti kamu juga pasti tahu kok,"
Wira memberi pengertian pada Asyifa supaya sabar, Karana ia ingin memberi kejutan untuk Asyifa dengan sempurna
.
"Tapi Syifakan jadi penasaran kak"
"Ara kalau di beritahu, itu namanya bukan suprise dong, sudah kamu duduk manis saja di situ biarkan suamimu ini konsentrasi menyetirnya" ujar Wira lembut.
"Baiklah" bales Asiyfa pasrah.
Dan tak lama mereka pun sampai di sebuah hotel bintang lima, Wira menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk hotel. Asyifa yang seumur-umur tidak pernah masuk hotel membuatnya tercengang.
"Kenapa kita kesini kak?" tanyanya saat mereka sudah turun dari mobil. Wira tak menjawab, ia hanya langsung mengangkat Asyifa dan menggedongnya ala bridal style.
"Akh, " lagi-lagi Asyifa terpekik karena Wira tak memberinya Aba-aba. Asyifa yang merasa jadi pusat perhatian ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Wira Tersenyum melihatnya, dan ia terus berjalan hingga masuk di sebuah Aula tempat Acara..bergitu pintu terbuka..
"SUPRISEES !!"
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA..
__ADS_1
entah kenapa hari ini Author kurang semangat π maaf ya kalau bab ini kurang berkesan ππ