
*ΰΌ»ΰΌ»π MUTIARA HIKMAHπΰΌΊΰΌΊ*
~> Kebahagiaan hak setiap manusia.
Meskipun ada orang yang masih menderita.
~>Kebahagiaan bisa didapat kapan saja.
Dan dimana saja dengan cara yang berbeda.
~>Kebahagiaan itu harus di ciptakan.
Meski kadang datang dengan sendirinya.
"Bahagia memang tidak bisa diukur dari hal-hal besar saja, kamu bahkan bisa berbahagia dengan berbagai hal kecil yang terjadi dalam hidupmu, itu menandakan kamu telah bersyukur dengan apa yang kamu miliki.
So..
Bahagia itu sederhana, sesederhana kamu tersenyum dan bersyukur dengan apa yang sudah kamu punya.β
____Happy Reading.___
ββ±ΰΌ»ΰ³ΰΉΰ³ΰΉΰ¨ΰΌ»πΰΌΊΰ§ΰΉΰ³ΰΉΰ³ΰΌΊβ°β
Keesokan harinya.
Wira terlihat begitu cemas, karena istri kecilnya belum juga terbangun dari tidurnya sejak ia merajuk saat meminta pulang, dan ia juga berusaha untuk membangunkannya dengan cara memberikan kecupan yang berkali-kali namun Asyifa tetap tidak meresponnya, membuat kekhawatiran semakin besar, karena ia takut Asyifa kembali koma lagi.
"Sayang, kenapa kamu belum juga bangun?, bangunlah sayang ini sudah pagi." ujar Wira sambil mengelus pipinya Asyifa dan sesekali memberikan kecupan lembut pada pipinya juga.
Asyifa masih belum merespon panggilan Wira, bahkan tubuhnya tidak bergeming sama sekali, dan itu persis seperti ia sedang koma, membuat rasa takut Wira semakin besar.
"Ra, jangan buat mas takut, Mas mohon bangunlah sayang." panggil Wira lagi sambil mengecup tangan Asyifa dan berkali-kali juga memberikan kecupan pada wajahnya, hingga akhirnya disaat ia mengecup bibirnya Asyifa pun membuka matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga sayang," kata Wira yang kemudian ia menyatukan dahinya ke dahi Asyifa, membuat Asyifa terlihat bingung.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Asyifa bingung.
"Tidak ada apa-apa sayang, terimakasih karena sudah mau membuka matamu kembali," balas Wira.
"Ikh, Kamu aneh deh Mas," kata Asyifa masih bingung melihat kelakuan suaminya.
"Biarin aneh, yang penting Mas bahagia sudah melihat mata indah kamu lagi week," goda Wira, terlihat senang, "Ya sudah sekarang kamu makan ya sayang, biar kamu cepat pulih ya," lanjutnya lagi, sambil ia mengambil sebuah mangkuk berisikan bubur yang sejak tadi sudah tersedia di sana.
"Iya mas," balas Asyifa yang kemudian ia berusaha duduk dan di bantu oleh Wira, dan kemudian Wira pun mulai menyuapin Asyifa penuh dengan kasih sayang.
Disela-sela makanya tiba-tiba Asyifa teringat lagi akan anak-anaknya, "Mas, kapan Ara bisa melihat anak-anak Ara mas?" tanya Asyifa dengan tatapan yang terlihat sendu.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan melihat anak-anak kita kok, jadi kamu harus semangat untuk sembuh Ok," jawab Wira lembut, ia tahu perasaan istrinya saat ini, "Sekarang, habiskan dulu makannya ya, nanti setelah ini mas, akan membawa kamu jalan-jalan, kamu maukan?" lanjut Wira lagi.
__ADS_1
"Iya Mas," jawab Asyifa singkat namun masih ada kesedihan yang tergambar dari wajahnya.
Melihat itu Wira malah tersenyum tipis, seperti ada yang sedang ia sembunyikan, "Ayolah semangat makannya sayang, emang kamu nggak bosen apa di dalam kamar ini hm?," tanya Wira lembut.
"Bosenlah!," balas Asyifa dengan wajah malesnya.
"Ya, makanya cepat habisin, kalau nggak segera habis, Mas akan membatalkan jalan-jalan kita loh," kata Wira, membuat Asyifa langsung menelan bubur yang tadi masih berada di mulutnya, lalu ia kembali membuka mulutnya agar Wira kembali menyuapinya,
Wira tersenyum lucu melihat tingkah Asyifa yang terlihat lucu di matanya, "Di kunyah sayang, jangan langsung ditelan dong," tegur Wira.
"Hum, tadi katanya di suruh cepat!." balas Asyifa dengan mulut yang masih penuh.
"Iya, tapi jangan langsung telan gitu dong."
"Kan nggak papa mas, orang bubur sudah halus juga pun," sanggah Asyifa yang terlihat bernafas lega karena ia melihat mangkuk buburnya telah habis, "Sudah habiskan mas, ayo kita jalan-jalan sekarang," ajaknya begitu antusias.
Wira kembali tersenyum, "Iya iya sayang, kamu nggak sabaran banget ya, ya sudah kamu pakai hijab kamu dulu ya," kata Wira yang kemudian ia pun memakaikan hijab Asyifa dan di lupa juga ia memakaikan cadarnya juga, setelah di rasa sudah siap, Wira pun menggendong tubuh Asyifa dengan ala bridal style. sedangkan Asyifa hanya pasrah, mengikuti keinginan suaminya.
Wira berjalan menuju tangga turun, yang ternyata di bawah sudah ada sebuah kursi roda, setelah mereka telah sampai di bawah, Wira pun mendudukkan Asyifa di atas kursi roda tersebut, dan setelah ia mendapatkan izin dari Asisten dokter Wira pun membawa Asyifa keluar dari Castle, Wira berjalan menuju pintu gerbang Castle.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Asyifa yang sempat berpikir mungkin mereka berjalan-jalan hanya di sekitar Castle saja, namun dugaannya salah, ternyata Wira membawanya keluar dari area Castle.
"Nanti kamu juga tahu sendiri sayang," balas Wira yang masih mendorong kursi roda istrinya, mendengar perkataan Wira Asyifa hanya diam saja, dan hingga akhirnya mereka memasuki sebuah gerbang sebuah rumah yang terlihat besar dan indah, membuat rasa penasaran Asyifa semakin besar.
"Ini rumah siapa Mas?," tanyanya dengan tatapan masih ke rumah tersebut.
"Ini rumah kita sayang," jawab Wira apa adanya.
"Iya sayang, Mas membelinya karena Mas tak mau jauh dari kamu, sekarang kita masuk ya," kata Wira dan di anggukkan oleh Asyifa, dan akhirnya Wira pun membawa masuk Asyifa dan saat Wira membuka pintu rumah tersebut.
"SURPRISE!" sorak beberapa orang dari dalam membuat Asyifa tersentak kaget dan hanya terperangah melihat orang-orang yang ia kenali berada di rumah itu.
"Selamat datang Syifa, Alhamdulillah ana senang akhirnya kita bisa berkumpul lagi, " ujar seorang wanita bercadar sambil menyerahkan sebuah bunga pada Asyifa.
"Ustadzah Nisah?" ucap Asyifa yang terlihat terharu.
"Iya sayang, ini ustadzah Nisah," balas wanita bercadar itu yang ternyata Anisah, lalu Anisah pun memeluk Asyifa.
Selagi Asyifa dan Anisah berpelukan Wira pun menghampiri seseorang, "Terimakasih Ar, terimakasih untuk semuanya, ' ucap Wira tulus sambil memeluk pria yang tak lain adalah Ardiyan.
Yaa ternyata yang berada di dalam rumah itu adalah para sahabat Wira, ya itu Ardiyan dan para teman-temannya, dan termasuk orang tuanya Wira ikut hadir berserta ketiga Anak mereka, dan ternyata yang di hubungi oleh Wira kemarin adalah Ardiyan, karena ia tahu Ardiyan memiliki jet pribadi, jadi ia meminta tolong untuk membawa anak-anaknya datang ke Amerika dan ia malah nggak menyangka Ardiyan malah membawa semua teman-temannya juga.
"Sama-sama kawan, kami semua begitu senang saat mendengar bini Lo sadar, jadi kami ingin ikut merasakan kebahagiaan Lo, dan disinilah kami sekarang, selamat ya bro atas kesembuhan bini Lo, semoga setelah ini hanya kebahagiaan yang akan menghampiri keluarga Lo," ucap Ardiyan, diiringi sebuah doa.
"Aamiin, terima kasih banyak bro," ucap Wira haru,
Begitulah satu persatu sahabat Wira dan Asiyfa memberikan ucapan selamat dan Doa, atas kesembuhan Asyifa, terlihat mereka begitu bahagia. dan apalagi Asyifa terlihat begitu bahagia saat melihat ketiga buah Hatinya.
"Maa syaa Allah, benarkah mereka anak Ara mas?" tanya Asyifa dengan mata berbinar saat dua orang datang menghampirinya dengan membawa ketiga orang anak kecil.
__ADS_1
"Iya mereka anak kita," kata Wira yang kemudian ia mengambil putri kecilnya dari tangan baby sisternya lalu ia dekatkan ke Asyifa,
"Assalamu'alaikum Mymah ana Hanifah Fakhra Faizha, putri kecilnya Mymah" ujar Wira dengan menirukan suara anak kecil, sambil meletakkan Beby Hanifa di pangkuannya Asyifa.
"Wa'alaikumus salam sayang, hiks anak Mymah," balas Asyifa dengan suara yang bergetar ia begitu terharu melihat putri kecilnya dan ia pun langsung mengecupi wajah baby Hanifa dengan penuh rasa rindu
"Assalamu'alaikum Mymah ana Haidar Fahri Fawaz, Fahri kangen sama Mymah," kata Wira lagi yang masih menirukan suara anak kecil, sambil menyerahkan baby Fahri keatas pangkuannya Asyifa juga.
"Wa'alaikumus salam sayang hiks.. Mymah juga kangen kamu sayang hiks.. muach.." kembali Asyifa mengecupi wajah baby Fahri dengan rasa haru yang tak bisa terbendung lagi, kemudian Wira mengambil Hanifa karna ia ingin menyerahkan anak sulungnya.
"Assalamu'alaikum, ana Haidir Fahmi Faiz, anak sulung Mymah, Fahmi juga sangat kangen Mymah," lagi-lagi Wira menirukan suara anak kecil sambil menyerahkan baby Fahmi pada Asyifa.
"Wa'alaikumus salam sayang, hiks.. hiks.." Asyifa tak bisa berkata-kata lagi ia langsung memeluk dan menciumi buah hatinya, rasa haru memenuhi ruang keluarga, karena mereka semua menyaksikan pertemuan ibu dan anak yang terpisah karena keadaan.
"Maafin Myimah ya sayang, hiks.. hiks.." lirih Asyifa yang masih memberikan kecupan pada Fahri dan Fahmi yang ada di pangkuannya, lalu Wira menekukan lututnya tepat dihadapan Asyifa sembari ia menggendong baby Hanifa.
"Berjanjilah pada kami Myimah, berjanjilah Mymah harus bersemangat untuk sembuh, agar kita tidak akan pernah terpisahkan lagi, maukah Mymah berjanji?," ujar Wira yang terlihat juga kalau wajahnya sudah di penuhi Air matanya, karena ia ikut terharu akan pertemuannya pada ke-tiga anaknya
"Iya Myimah janji hiks..hiks.. Mymah akan secepatnya sembuh agar secepatnya kita berkumpul lagi hiks..hiks.." mendengar perkataan Asyifa Wira langsung memeluk Asiyfa dan memberikan kecupan lembut pada dahinya.
"Alhamdulillah, terimakasih Sayang, terimakasih karena sudah hadir kembali di tengah-tengah kami, Mas sangat mencintai kamu, sangat mencintai kamu" ucap Wira penuh rasa syukur yang tak bisa di gambarkan oleh siapapun, ia juga berkali-kali memberikan kecupan sayang pada Asyifa.
"Iya mas, Ara juga mau terima kasih, karena mas sudah mencintai Ara begitu besar, cinta mas sesuci salju begitu putih, hingga Ara tak tahu harus berkata apa lagi, yang jelas Ara sangat senang memiliki Mas sebagai suami Ara dan terimakasih karena sudah mempertahankan Ara, hingga kini Ara bisa melihat ketiga anak-anak Ara, terima kasih mas," balas Asyifa yang terlihat ia pun begitu bersyukur karena memiliki suami yang begitu menyayanginya.
"Iya sayang, apapun akan mas lakukan itulah cinta mas kepada kamu, karena memiliki kamu adalah salah satu alasan besar yang terus aku syukuri, jadi apapun akan Mas lakukan demi membahagiakan kamu dan anak-anak kita, jadi mas mohon bertahanlah di sisi Mas, hingga akhir karena Mas sangat menyayangi kalian semua." ujar Wira yang kemudian ia mengecup dahi Asiyfa kembali dan kemudian ia juga mengecup ketiga Anak-anaknya dan terlihat kini ada pancaran kebahagiaan di matanya.
"In syaa Allah Mas, in syaa Allah, Ara juga menyayangi mas dan anak-anak kita, semoga kita tidak akan pernah terpisahkan lagi ya." balas Asyifa yang terlihat juga ia begitu bahagia.
"Aamiin " ucap semua yang menyaksikan kebahagiaan Asyifa dan wiraxsana, dan terlihat juga merasa nampak bahagia.
Begitulah akhirnya, kehidupan keluarga 5 sekawan yang semuanya mendapatkan kebahagiaannya tersendiri, suka dan duka mereka selalu melewatinya bersama-sama seperti saat ini kebahagiaan menghampiri kelimanya.
*βββ βββ’ββπENDπβββ’βββββ*
Alhamdulillah wa syukurillah, Akhirnya Author bisa menyelesaikan novel ini, semoga para Readers puas akan akhir cerita ini,
SYUKRON ya guys, yang sudah mengikuti novel Author, semoga kebahagiaan yang ada di Novel CINTA SESUCI SALJU juga akan menular pada para Readersku Tersayangπ₯°π, Aamiin, sekali lagi Author mengucapkan terimakasih atas doa dan dukungannya selama ini, sekali lagi terimakasih π. πSYUKRON Zajilaan ππ
Oh iya jangan lupa singgah ke Novel terbaru Author ya guys ππ₯° dan jangan sampai lupa berikan dukungan juga.ππ€
In syaa Allah, tak kalah seru dengan novel Author lainnya kok, jadi jangan lupa kepoin ya guys ππ
Kehadiran dan dukungan kalian sangat Author harapkan π Oke guys ππ
Oh iya follow IG Author yuk, untuk mengikuti kegiatan Author π follow ya guys
(rahmarahma6709) jangan lupa yaππ₯°.
__ADS_1
Sekali lagi terimakasih, ya semoga para Readers kesayanganku selalu bahagia Aamiin, ya sudah Author pamit ya ππ₯°.π
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu πππ₯°πππ.