CINTA SESUCI SALJU

CINTA SESUCI SALJU
PERASAAN TAKUT


__ADS_3

โœฅเณ‹เน‘เญจ๐Ÿ’ KALAM ULAMA ๐Ÿ’ เญงเน‘เณ‹โœฅ


DIANTARA CIRI HAMBA YANG MENCINTAI DAN DICINTAI ALLAH


Ibnu Rajab rahimahullah berkata :


ูˆู…ู† ุนู„ุงู…ุงุช ุงู„ู…ุญุจูŠู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ู…ุง ูŠุญู…ู„ ุจู‡ ุงู„ู…ุญุจุฉ ุฃูŠุถุง : ุญุจ ุงู„ุฎู„ูˆุฉ ุจู…ู†ุงุฌุงุฉ ุงู„ู„ู‡ ุชุนู„ู‰ุŒ ูˆุฎุตูˆุตุง ููŠ ุธู„ู…ุฉ ุงู„ูŠู„


"Diantara ciri para pencinta Allah dan ini akan membuat mereka dicintai juga adalah senang menyendiri dalam bermunajat dengan Allah terutama di kegelapan malam"


i9


______________


๐Ÿ“š Majmu' ar Rosail 1/155


โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโ” โƒŸ โƒŸ โƒŸโœงโœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ โ”โœง โƒŸ โƒŸ โƒŸ


Asyifa yang mendengar kisah masalalu Wira, membuat hatinya berubah-ubah yang awalnya ada rasa cemburu kini berubah menjadi iba..


Melihat suaminya menangis Asyifa tak ingin mengatakan apapun, ia memilih pergi ke kamar dan membiarkan Wira yang masih menutup wajahnya karena ia masih menangis.


Setelah kepergian Asyifa, Wira membuka tangan yang tadi sempat menutup wajahnya, dan ia juga baru tersadar kalau istri kecilnya sudah tidak ada di sisinya lagi.


"Astaghfirullah, aku lupa, di mana Asyifa?" gumam Wira yang kemudian ia langsung turun dari ranjangnya dan kemudian ia pun melangkah ke kamar mandi.


"Ara, kamu di dalam?" Tanya Wira saat ia telah mendekati kamar mandinya, namun tidak ada jawaban, membuat Wira penasaran dan ia pun langsung membuka pintu kamar mandi tersebut, dan terlihatlah istri kecilnya yang sedang berendam di bathtub.


"Sayang?, ini sudah malam, kenapa kamu mandi?" Tanya Wira yang ia langsung menghampiri Asyifa yang sedang berendam dengan mata yang terpejam, membuat Wira menjadi panik karena ia berprasangka buruk saat melihat istrinya Seperti itu.


"Sayang kamu nggak papakan?" Tanyanya lagi sambil mengelus pipinya.


"Humm, jangan ganggu mas, Ara lagi ingin berendam." Ucap Asyifa dengan mata yang masih terpejam.


"Tapi sayang nanti kamu bisa masuk angin loh, masa malam-malam berendam sih?" Tegur Wira terlihat cemas.


"Inikan air hangat mas, jadi nggak apa-apakan" bales Asiyfa yang masih memejamkan matanya.


"Baiklah, tapi lima menit lagi kamu harus sudah keluar ya, atau mas akan makan kamu lagi loh.'' Ancam Wira sembari menoel pucuk hidung Asyifa, membuat Asyifa membuka matanya.


"Iss, mas!, tadikan sudah." protes Asyifa.


"Siapa suruh kamu Menggoda mas lagi?"


"Ay, siapa juga yang menggoda mas sih!."


"Kamu yang seperti ini, sama saja Menggoda emas Sayang."


"Iiss apaan sih!, sudah deh kalau gitu Ara sudah selesai" kata Ara yang kemudian ia mengambil handuk kimononya, dan langsung memakainya, setelah itu ia pun berwudhu lagi, setelah tadi sebelum mandi ia sudah berwdhu namun setelah selesai ia berwudhu kembali.


"Ara sudah selesai mas." katanya yang kemudian ia melangkah keluar.

__ADS_1


"Ya sudah kamu keluarkanlah, mas mandi dulu, dan jangan tidur dulu ya nanti mas keringkan rambut kamu dulu Ok?" Ujar Wira mengingatkan Asyifa.


"Iya Mas " Bales Asyifa yang kemudian ia pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Wira yang hendak mandi.


Setelah ia sudah memakai baju piyama tidurnya Asyifa, duduk di tepi ranjang menunggu suaminya yang sedang membersihkan dirinya, dan tak berapa lama Wira keluar dengan memakai handuk kimononya juga lalu ia menghampiri Asyifa setelah ia mengambil hairdryer dan kemudian ia pun langsung mengeringkan rambut Istrinya.


"Sayang kamu sudah ngantuk ya?" tanya Wira sembari ia mulai menghidupkan hairdryernya.


" Mas sudah tidak sedih ?" tanya Asiyfa yang bukannya ia menjawab pertanyaan Wira ia malah Balik bertanya.


"Alhamdulilah sudah tidak sayang, terimakasih ya kamu sudah mau mendengarkan cerita mas, dan itu membuat mas sekarang lega." ujar Wira yang memang kini ia terlihat lebih tenang.


"Alhamdulillah, Ara senang dengarnya mas, jadi Mas jangan sedih lagi ya." Balas Asyifa.


"iya sayang Mas tidak akan sedih lagi Kok." ujar Wira yang masih mengeringkan rambut Asyifa yang basah.


Dan setelah rambut Asyifa sudah terlihat kering. Wira langsung mematikan Hairdryernya.


"Alhamdulillah sudah kering sayang sekarang kita tidur yuk" Ajak Wira sambil menaruh kembali hairdryer di tempatnya.


"Iya mas " Bales Asiyfa yang kemudian ia pun membaringkan tubuhnya dan di susul Wira yang membaringkan tubuhnya juga di samping Asyifa yang kemudian ia pun memeluknya.


"Tidurlah sayang, mimpi yang indah ya." Ucap Wira Sambil ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Asyifa.


"Iya mas" Bales Asiyfa yang kemudian ia memejamkan mata sambil memeluk manja pada sang suaminya, Wira yang melihat istrinya telah memejamkan matanya ia pun ikut memejamkan matanya, namun baru saja ia pejamkan matanya, terdengar suara Asyifa memanggilnya.


"Mas?"


"Mas?" Sekali lagi Asyifa memanggilnya membuat Wira mengerenyit melihat istrinya yang menurutnya sedikit Aneh.


"Ada apa sayang?, kamu kenapa?" tanya Wira lembut, mendengar suaminya bertanya Asyifa membuka matanya dan otomatis mereka saling bertatapan.


"Apa mas akan sedih juga, bila Ara meninggalkan?" Tanya Asyifa membuat hati Wira seperti di tusuk oleh belati.


"Astaghfirullah, kamu ngomong apa sih Ara?, mas nggak suka kamu ngomong itu!." Ujar Wira yang terlihat sedikit kesal.


"Jawab aja mas, Ara hanya ingin tahu aja kok." Kata Asyifa yang terlihat penasaran.


"Tentu mas Akan sedih sayang bahkan mas tidak akan bisa hidup tanpamu dan bila kamu pergi mas akan memohon agar mas juga pergi bersama kamu sayang." kata Wira yang akhirnya ia mengikuti keinginan istrinya untuk menjawab pertanyaan.


"Mas nggak boleh ngomong gitu dong, mas harus tetap hidup demi Anak-anak kita, kalau mas juga pergi lalu mereka dengan siapa mas?" Ujar Asyifa yang terlihat sangat serius.


" Ya sama kita sayang, karena kita akan pergi bersama setelah Anak-anak kita tumbuh besar dan sukses sayang" Ujar Wira yang entah kenapa setelah mendengar perkataan Asyifa hatinya ada perasaan takut.


"Tapi kalau Allah berkhendak lain gimana mas?"


"Sayang, jangan bicarakan itu lagi akh, mas benar-benar nggak suka, dan kamu sebaiknya tidur sekarang sayang ini sudah malam" Kata Wira yang tak ingin menjawab pertanyaan istri kecilnya itu.


"Mas..


ูƒูู„ู‘ู ู†ูŽูู’ุณู ุฐูŽุงุฆูู‚ูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู

__ADS_1


โ€œTiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.โ€ (QS. Ali Imran: 185) itu yang juga akan kita dapatkan, kita tidak bisa mengatakan tidak kan mas. " Ujar Asyifa membuat perasaan Wira semakin tidak menentu.


"Sayang, mas tahu itu, tapi sebenarnya ada apa kamu mengatakan hal ini Ara?, jangan membuat mas takut seperti ini sayang" Rasa takut Wira mendengar perkataan Asyifa membuat suara Wira terdengar bergetar.


"Ara tidak apa-apa mas, Ara hanya mengingatkan saja seandainya hal itu terjadi pada Ara, mas tidak boleh sedih dan mas harus menjaga anak-anak kita, dan Ara juga meridhoi mas bila ada seseorang yang mas inginkan menjadi penggan..."


"Sssth, hentikan itu Ara mas tidak suka mendengarnya,!" Tegas Wira sambil ia menutup mulutnya Asyifa dengan tangannya.


"Dengar Mas, kamu boleh pergi di saat kamu telah melihat anak-anak kita telah Bahagia, jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak, atau mengatakan yang tidak-tidak, kamu paham hm?." Kata Wira lagi namun tidak di respon oleh Asyifa, ia hanya menatap wajah suaminya dengan tatapan yang terlihat sedih.


"Sekarang tidurlah, mas tidak ingin mendengar apapun lagi" kata Wira yang kemudian ia melepaskan pelukannya dan kemudian ia mengubah posisinya dengan membelakangi Asyifa,


Melihat hal itu Asyifa terlihat sedih.


"Maas?" panggilannya manja.


"Tidurlah Ara, mas tidak ingin mendengar apapun!" Kata Wira dengan posisi yang sama membelakangi Asyifa.


Mendengar perkataan Wira, Asyifa bukannya tidur, ia pun malah memeluk Wira dari belakang sambil melantunkan beberapa ayat serta mengartikannya.


Allah azza wa jalla, berfirman:


ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุชูŽููุฑู‘ููˆู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูู„ูŽุงู‚ููŠูƒูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูุฑูŽุฏู‘ููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุนูŽุงู„ูู…ู ุงู„ู’ุบูŽูŠู’ุจู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ


โ€œKatakanlah: โ€œSesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.โ€ (QS. Jumuโ€™ah: 8).


ุฃูŽูŠู’ู†ูŽู…ูŽุง ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ูŠูุฏู’ุฑููƒููƒูู…ู ุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุชู ูˆูŽู„ูŽูˆู’


ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ูููŠ ุจูุฑููˆุฌู ู…ูุดูŽูŠู‘ูŽุฏูŽุฉู


Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.โ€


(QS. An Nisaโ€™: 78).


ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูุจูŽุดูŽุฑู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูู„ู’ุฏูŽ


Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad).โ€ (QS. Al Anbiyaโ€™: 34).


ูƒูู„ู‘ู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ููŽุงู†ู (26) ูˆูŽูŠูŽุจู’ู‚ูŽู‰ ูˆูŽุฌู’ู‡ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุฐููˆ ุงู„ู’ุฌูŽู„ุงู„ู ูˆูŽุงู„ุฅูƒู’ุฑูŽุงู…ู (27)


"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.โ€


(QS. Ar Rahman: 26-27).Lalu โ€ฆ


"Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian โ€ฆ"


Mendengar lantunan serta Artinya Wira merinding dan ia membalikkan tubuhnya dan kemudian ia memeluk istrinya dengan perasaan takut.


"Hentikan itu sayang Mas mohon, sekarang kita tidur ya, mas mengantuk banget, please jangan berkata apapun." Kata Wira yang terlihat memohon sekali, dan itu membuatnya Asyifa langsung terpejam tanpa mengeluarkan suaranya sama sekali.


**********

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya ๐Ÿ™


__ADS_2