
ೋ๑୨💜MUTIARA HIKMAH💜୧๑ೋ
"Sabar itu tidak ada batasnya, yang terbatas itu adalah kemampuan kita untuk bersabar.... Layaknya sabar adalah sebuah lautan yang sangat luas. Sementara kemampuan untuk bersabar adalah saat kita mencoba menyelami lautan itu, kita bisa saja tenggelam kapanpun.
Maka dari itu jangan pernah menguji kesabaran seseorang melebihi dari batas kemampuannya.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
◎❅❀❦❅❀❦◎❅❀❦💜❦❀❅◎❦❀❅❦❀❅◎
Seperti halnya Asyifa yang kini perut yang membesar, Nina pun mengalami hal yang sama cuma bedanya kehamilan Nina baru memasuki bulan keenam, berbeda dengan Asiyfa, yang sensitif dan manja, Nina justru kebalikan dari Asyifa, ia begitu mandiri dan kuat, hingga apapun yang ia inginkan ia akan melakukannya sendiri,
Itu dikarenakan Dika yang saat ini sedang mendapat tugas untuk membawa salah satu pasiennya keluar negeri, sudah hampir satu bulan dia berada di sana,
Hari ini Nina mengajak salah satu Santriwatinya pergi berbelanja untuk keperluannya sehari-hari, iyaa semenjak Dika pergi keluar negeri, Nina, memilih tinggal di pondok, agar ia tak merasa kesepian.
Dan di saat ia memasuki sebuah pusat perbelanjaan, ternyata seseorang memanggil namanya..
"Assalamu'alaikum?, ini ty Nina?" salam seorang wanita bercadar juga, dengan perut yang nampak besar juga.
"Wa'alaikumus salam, ty Ziha, ya ?" Bales Nina dan langsung bertanya karena ia merasa mengenali suara wanita yang menyapanya itu.
"Na'am ana Ziha, ty Nina." Jawab Nadziha.
"Ma syaa Allah, lama tak jumpa perut anti sudah terlihat besar juga ya?" ujar Nina saat melihat perut Nadziha.
" Na'am Alhamdulillah, sudah masuk 5 bulan ty, Anti sendiri bagaimana?" tanya Nadziha Kembali.
"Alhamdulillah, Tabarakallah, semoga sehat selalu anti dan sekecil ya, kalau ana, Alhamdulillah, sudah masuk 6 bulan ty." bales. Nina Sambil mengelus perutnya.
"Aamiin, semoga sehat-sehat kita semua ya ty" ucap Nadziha yang tak ketinggalan mengelus perutnya juga.
"Oh iya ngomong-ngomong, sedang apa disini?" tanya Nadziha Kembali.
"Ini Ana mau belanja kebutuhan di rumah," Jawab Nina apa adanya, "Oh iya anti mau berbelanja jugakah?" tanya Nina lagi pada Nadziha.
"Na'am, ana mau berbelanja juga ty." bales Nadziha.
" Alhamdulillah, berati tambah teman lagi, ya sudah ayo kita sama-sama saja" Ajak Nina lagi.
"Alhamdulillah, na'am ana jugai senang ada temannya, ya sudah ayo kita masuk." Ajak Nadziha sembari menggandeng tangan Nina. "Oh iya ini siapa?" tanya Nadziha saat melihat seorang wanita cadar juga.
"Oh iya, ini Nabilah, salah satu Santriwati ana, dia sengaja ana bawa untuk menemani ana" jawab Nina, .
"Oh, Ma syaa Allah, Anti enak punya teman berbelanja" Ujar Nadziha.
"Alhamdulillah, tapi kitakan sudah bersama, loh, ayu akh cus masuk" Ajak Nina lagi, namun saat ia mau masuk tiba-tiba matanya seperti Melihat seseorang yang ia kenali.
"Sebentar ty, apakah di parkiran itu Da Dika suami ana ?" tanya Nina, meminta Nadziha untuk memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah,
__ADS_1
Nadziha pun mengikuti arah jari telunjuknya Nina, "Eh, seperti iya ty, itu bang Dika" kata Nadziha juga.
"Loh, bukankah, da Dika mengatakan dia sedang di luar negeri? dan siapa wanita yang di sampingnya? " Kata Nina, yang hatinya di penuhi oleh pertanyaan, dan juga ada perasaan yang lain saat melihat wanita itu terlihat dekat dengan Dika.
"Mungkin sudah pulang kali ty, cuma belum sempat pulang kerumah, dan mungkin saja Wanita itu temannya." kata Nadziha tidak ingin Su'uzon.
"Na'am, kali, ya sudah ayo temanin ana kesana, " kata Nina yang sepertinya ia tak sabar ingin menghampiri suaminya itu.
"Baiklah, ayo ty" bales Nadziha dan mereka pun berjalan menuju ketempat perparkiran mobil tempat Nina Melihat Dika, dan di saat mereka sudah mendekati tiba-tiba Nadziha seperti melihat sesuatu di belakang Dika.
"tunggu ty sepertinya ada yang tidak beres, lihat di tangan wanita tersebut yang ada di belakang Bang Dika." ujar Nadziha sembari menahan langkah Nina.
Nina pun mengikuti arah perkataan Nadziha dan ia pun melihat tangan wanita yang disampingnya Dika, yang ternyata tangannya sedang memegang sebuah senjata api yang ia bungkus pakai sebuah kain dan kemudian ia todongkan di bagian punggung Dika.
"Astaghfirullah, kita harus gimana ini ty Ziha?" tanya Nina yang terlihat panik.
"Tenang ty, kita tidak boleh panik, Tunggu sebentar Ana telepon Mas Andi dulu ya" kata Nadziha yang kemudian ia pun mengambil benda pipihnya.
"Na'am ty, " Nina pun membiarkan Nadziha menghubungi Andi, dan tak lama panggilan pun terputus.
"Bagaimana ty?", tanya Nina
"kata mas Andi kita tunggu mereka, sebentar lagi mereka akan kesini" jelas Nadziha.
"Baiklah kalau begitu kita menunggu mereka saja." ujar Nina, yang tatapannya masih mengarah tajam ke Wanita itu, entah kenapa ia seperti ada ide.
"Apa anti yakin kita bisa melakukannya?" Tanya Nadziha yang sebenarnya ia pun sudah gatal ingin menghajar mereka.
"In syaa Allah ty, bismilah, Allah bersama kita." Ujar Nina yang sangat yakin,
"Baiklah kalau begitu, Ana setuju" kata Nadziha mantap.
"Nabilah, kamu bagaimana,?" tanya Nina pada Santriwatinya.
"Ana siap Ustadzah" Kata Nabilla juga.
"Alhamdulillah, kalau ayo kita lakukan, bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar" Ucap mereka, dan mereka pun memulai aksinya, dengan berpura-pura berjalan melewati tempat Dika dan wanita itu juga dua orang pria lainnya.
Setelah mereka sudah mendekati, Nina berbicara bahasa Arab, yang biasa ia pakai pada Dika, karena Dika sedikit-sedikit belajar bahasa Arab juga pada Nina.
"زوجي يخضع بسرعة
"zawji yakhdae bisurea"( suamiku menundukkanlah dengan cepat)" kata Nina dengan suara agak keras agar di dengar Dika, Dika pun langsung melihat ketiga wanita bercadar dia hanya mengedipkan kedua matanya sekali
سوف اساعدك
"sawf asaeidk" (aku akan membantumu )"
سأعطي علامة الحب
__ADS_1
"sa'ueti ealamat alhubi"( Aku akan berikan tanda cinta)" Kata Nina lagi dan sepertinya Dika paham.
Nina pun mulai bersiap saat mereka sudah hampir mendekati dan ia pun memberikan kode lewat jari Nina dan..
حب
"habun!" Pekik Nina, dan seketika Dika pun menunduk, dengan cepat Nina pun memberikan tendangan pada wanita yang memegang sebuah senjata, tersebut hingga Wanita itu terjatuh dan pistolnya terlempar agak jauh darinya,
"Sialan!, siapa kamu?!" tanya Wanita yang masih tersungkur di bawah.
"Ana istri yang sedang kamu ancam, kenapa ada masalah?" kata Nina santai.
"Brengsek!, kalian.." Wanita itu hendak bangkit, namun sekali lagi Nina memberikan tendangannya yang sedikit keras hingga Wanita itu kembali tersungkur.
Sedangkan Nadziha dan Nabilah menendang kedua Pria yang kebetulan mereka sedikit lengah, hingga akhirnya keduanya jatuh secara bersamaan.
Dika yang sudah mendapatkan senjata mereka.
"Jangan bergerak atau gue tembak Lo pada!" Kata Dika dengan wajah yang terlihat geram pada mereka. " Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Dika pada Nina dengan tatapan masih pada ketiga penjahat itu.
"Nina baik-baik saja Da" bales Nina yang kemudian mendekati Dika."Siapa mereka sebenarnya da?" Tanya Nina lagi.
"Nanti aku ceritakan sayang, sebaiknya kamu telpon polisi dulu" Titah Dika yang tatapannya tak mau lepas dari ketiganya.
"Baik Da" Nina pun menuruti perkataan Suaminya dan bermaksud menelpon polisi, namun saat bersamaan Andi Datang Bersama polisi juga.
"Kalian nggak papa?" Tanya Andi yang langsung menghampiri Nadziha.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja mas" Jawab Nadziha.
"Haiis, Kalian ini memang para bumil jagoan Nekat ya!, sudah di bilang tunggu aku , malah pada beraksi duluan lagi!" Kata Andi yang terlihat kesal.
"Sudah sudah sudah, yang penting mereka baik-baik saja" kata Dika yang kemudian menyerahkan pistol pada polisi.
"Ada apa sebenarnya Dik?" tanya Andi penasaran.
"Nanti gue ceritakan, sebaiknya kita selesaikan ini dulu." Balas Dika yang kemudian ia merangkul pundak istrinya.
"Maaf bapak ibu, sebaiknya kalian semua ikut dengan kami ke kantor polisi, untuk memberikan keterangan" kata salah satu polisi.
"Baik pak Mari" kata Dika yang akhirnya mereka pun mengikuti para polisi tersebut..
********
Dukung Author terus ya guys 🙏😉
Jangan lupa tinggalkan jejaknya Ok
VOTE LIKE DAN KOMENTAR SELALU AUTHOR TUNGGU JADI JANGAN LUPA YA GUYS 🙏😉 SYUKRON 🙏😊
__ADS_1