DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
100. PILIHAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


"Kenapa kau melakukan ini?"


"Kenapa? Melakukan apa?"


Hari ini, setelah aku keluar dari ruang kerja tuan Evan, Jem mengikutiku. Dia bersiul-siul senang mengekoriku. Aku sangat membencinya, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkannya mengejekku dengan suara siulannya yang sangat mengganggu telinga.


Andai saja dia bukan teman dari atasanku yang sebenarnya agak mengejutkan, kupikir dia tidak berteman dengan tuan Evan. Apa Jem parasit yang menempeli siapa saja yang menurutnya dapat ia manfaatkan?


"Fawn, apa kabarmu? Apa kau tidak mau berterima-kasih padaku? Aku sudah membantumu lolos dari kediaman Hunter, loh." Jem menghindari tanyaku dan malah menjadikan topik pembicaraan ini menjadi tentangku.


"Aku berhasil pergi dari sana karena aku memutuskan pergi dari sana. Kau--kau tidak membantu sedikit pun."


"Heeh, tapi aku yang membuat tekadmu menjadi lebih kuat, tau. Apa kau lupa bingkisan yang kuberikan padamu?"


Bingkisan? Oh, apa maksudnya foto-foto ibuku?


"Aaah, kau benar-benar menjijikkan. Apa kau pikir aku tidak tau apa yang coba kau lakukan dengan foto itu, Jem? Kau pikir aku tidak tau isi kepalamu?"


Jem mengirim foto ibuku yang sedang jatuh sakit bukan hanya untuk membuat aku marah kepada Ace. Di balik itu, dia juga mengirimkan ancaman tersirat padaku juga. Bahwa, meskipun Ace tidak melakukan apa-apa pada ibuku, dia--Jem--bisa melakukan sesuatu. Dia adalah ancaman, dan fakta bahwa ibuku tidak di bawah lindungan siapa pun, rentan, adalah alasan mengapa aku harus pergi juga.


Aku, jujur saja, sangat membenci isi kepala laknat pria ini.


"Kau sebaiknya berhenti menggangguku, Jem. Apa pun itu, aku sudah tidak ada sangkut-pautnya lagi dengan kalian dan masalah yang hendak kalian ciptakan."


"Mana mungkin aku melakukan itu, kau adalah kelemahan seorang Ace Hunter, Fawn. Aku bisa membayangkan ekspresi marahnya kalau dia melihatku bersamamu sekarang. Berdiri sangat dekat dan mampu melukaimu."


"Kepercayaan dirimu cukup tinggi." Apa dia pikir aku tidak bisa melakukan hal yang sama padanya? Memelintir leher seorang Jemaine Emery bagiku semudah membuka tutup botol soda.


"Tentu saja, aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau tidak perlu takut."


"Ace pasti memukulmu sangat keras sampai kau berhalusinasi aku akan takut kepadamu." Aku memutar mata. "Jika ada satu hal yang kurasakan menyangkut keberadaanmu, Jem, itu adalah kemuakan."


"Kau yakin? Bagaimana kalau aku mengatakan pada Evan tentang hubunganmu dan Ace?"


"Bajingan!" Aku tanpa sadar bergerak dan menyambar si keparat itu. Tanganku mencengkeram kerah kemeja putihnya yang bersih, menariknya dan menghempaskannya kepada pilar tinggi yang terbentang dua meter dari satu sama lain.


"Kau sepertinya sangat ingin mati, ya?"


"Hehehehe, kau ketakutan."


"Aku tidak takut padamu."


"Tidak, tapi kau takut pada situasi Ace. Kau tau dia akan berada di pihak yang tidak menguntungkan kalau Evan tau hubungan kalian. Evan mungkin akan memanfaatkanmu."


"Berhenti bicara omong kosong."


"Kalau kau memang mempedulikan Ace, Fawn. Kau sebaiknya pergi dari sini. Kau hanya membuat Ace rentan dalam bahaya."


"Kau tidak tau apa pun." Aku mendorong Jem sekali lagi dan berlalu darinya. Sialan, berbicara dengan pria itu benar-benar menguras emosiku. Dia--seperti nona Margot, paham apa yang harus dikatakan untuk membuatku kesal. Aku tidak akan terkejut kalau mereka menikah di masa depan!

__ADS_1


"Kau tau apa yang kukatakan adalah kebenaran." Sialan itu tidak mau berhenti bicara. Dia kembali mengekoriku. Aku penasaran, apa patah hidung akan membuatnya berhenti bersuara?


"Kecuali kau tidak mempunyai perasaan yang sama terhadapnya, tidak peduli padanya..., maka kasusnya akan berbeda. Tapi kau tidak mengatakan apa pun pada Evan juga, jadi itu menarik. Apa kau membencinya atau menyukainya? Apa kau ingin membuatnya menderita atau ingin melindunginya, tindakanmu sangat tidak jelas."


"Sudah kubilang tutup mulutmu."


"Aku penasaran, kau tau. Kau sangat linglung dalam pilihanmu."


"Jem..."


Aku berbalik dan mengacungkan telunjukku di depan bola matanya yang berbinar jenaka. Dia tersenyum senang melihat reaksiku, si keparat itu!


"Kau menyukainya," dia menarik kesimpulannya sendiri. "Jadi kau menyukainya."


"Apa kau tidak mendengar peringatanku barusan?"


"Aku bisa melihat perasaanmu dengan jelas. Kau sangat lucu. Jadi, apakah loyalitasmu yang mengikatmu di sini?"


"..." Aku akan memukul bajingan ini, aku serius.


"Loyalitas, kah? Aku pikir Ace bercanda saat dia bercerita kau mempunyai kesetiaan yang tinggi kepada keluarga Indira. Tapi sekarang aku melihatmu, aku mengerti. Apa ini artinya kau rela melihat Ace terluka bila artinya kau bisa melindungi keluarga Indira?"


"Aku tidak..."


Sialan, sialan, sialan.


"Kau harus membuat pilihan, Fawn. Waktu terus berputar." Jem menarik satu langkah mundur dari wajahku. Dia kali ini menyunggingkan senyum yang entah mengapa, terlihat tulus di mataku. Dia pasti tidak serius, kan?


"Biar kubeberkan sedikit rahasia padamu, karena kau sudah menghiburku sejauh ini. Undangan yang akan kau antar kepada Ace adalah undangan rapat untuk menentukan kelanjutan relasi kami para pemimpin, lady Mikoto akan menjadi saksinya."


Seingatku rapat itu hanya terjadi bila sesuatu yang urgen terjadi. Ketika Tuan Anggara dinobatkan sebagai penerus baru di Spades, mereka melakukan rapat dan membuat perjanjian perdamaian baru tentang untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain. Saat nona Indira menikah dengan tuan Evan juga, satu bulan sebelumnya, mereka juga melakukan pertemuan.


"Sebenarnya, kali ini kami berkumpul untuk membahas tentang Jeremy yang menjadi penerus baru di Hearts. Tapi Evan..., dia punya agenda tersendiri, tau."


"Ya?"


"Evan akan memutuskan kontrak perdamaian dengan keluarga Hunter." Yang mana itu berarti, perang antar kelompok dapat terjadi kapan saja. Aku akan terjebak dalam pertikaian dua keluarga.


"Buat pilihanmu, Fawn."


...----------------...


Membuat pilihan, kah?


Aku menatap undangan di tanganku dengan kebimbangan. Aku tidak tau apa yang dapat kulakukan sekarang. Apa yang harus kupilih. Jika bisa, aku tidak ingin memihak siapa pun. Aku hanya ingin bekerja dengan damai tanpa terlibat dalam pertikaian yang bukan bagianku sejak awal.


Oh, haruskah aku melarikan diri?


Aku kembali teringat kepada tawaran Joseph tempo hari. Meskipun aku tidak punya mimpi untuk masa depanku, aku juga tidak mau mati sia-sia, tau. Maksudku, kenapa sekarang aku jadi mempertanyakan pilihanku?


Kupikir aku sudah siap mati waktu mengabdikan diriku di pekerjaan ini.


Sialan, apa yang berubah dariku sekarang? Kemana perginya keteguhanku yang dulu? Jiwa pejuangku? Loyalitasku?

__ADS_1


"Haaaah," aku menghela napas. Aku harus berhenti memikirkan situasiku sendiri. Ada hal di depan mataku yang lebih penting. Ya, yaitu undangan ini. Aku perlu mengantar undangan ini ke kediaman utama keluarga Hunter.


Tempat terkutuk yang sempat menjadi mimpi buruk di hidupku.


"Kita sudah sampai." Axel--pria yang merupakan bawahan Aidan--mengantarku ke depan gerbang keluarga Hunter. Gerbang yang terakhir kali aku melewatinya , aku keluar dengan air mata. Jarum tak kasat mata menikam jantungku ketika aku mengingat tempat itu.


"Apa kita hanya bisa sampai di sini?" Maksudku, apa dia berharap aku jalan kaki dari sini?


"Untuk berjaga-jaga, ada baiknya kau masuk sendiri."


"Apa kau takut mati bersamaku?"


Aku tidak percaya ini. Hei, apa dia tidak tau kalau setelah pagar ini, masih ada ratusan meter jalan yang perlu kutempuh sebelum mencapai teras depan rumah Ace?


"Semangat," Axel mengepalkan tangannya sebagai bentuk support, tapi aku menatapnya dengan kebencian.


"Aku harap banmu bocor di jalan." Aku serius.


"Apa kau anak-anak?" Axel malah tertawa. Si keparat ini.


Aku mengacungkan jari tengah padanya sebelum turun dari mobil. Aku membanting pintu itu dengan keras sebelum melenggang menuju pos tempat para bodyguard keluarga Hunter sedang berjaga.


"Selamat sore," sapaku, mencoba menahan kekesalan dan bertingkah profesional.


"Sore, ada yang dapatku bantu?" Seorang bodyguard dengan baju kaos hitam dan celana hitam menapak maju, membelah dua anak buahnya yang ikut berdiri menyapa kedatanganku. Dari penampilannya, dia adalah orang yang memiliki posisi lebih tinggi di pos ini.


"Aku adalah bodyguard dari keluarga Caspian." Nama itu membuat raut ketiganya mengerut tak senang. Seolah aku adalah bau tidak sedap yang melewati hidung mereka.


"Aku datang membawa undangan untuk tuan Arcelio. Penting."


"Hn, tunggu sebentar." Si pria berkaos hitam mundur sebentar, mengambil radionya dan menghubungi orang yang berjaga di atas sana.


Oh, apa aku pernah mengatakan kalau kediaman keluarga Hunter berada di atas bukit? Ya, mereka mempunyai rumah di atas bukit dengan pemandangan kota yang indah terbentang ratusan kilo meter dari balkonnya. Salah satu alasan aku senang berada di balkon kamar Ace dulu adalah karena aku senang melihat cahaya kota di kejauhan. Rasanya seperti melihat bintang bertaburan di permadani bumi.


Tak berselang lama, pria yang tadi kembali. Dia menghadapku dengan alis terangkat sebelah. Aku penasaran. Apa orang di atas sana menolakku untuk masuk?


"Bagaimana?" tanyaku. Sedikitnya, aku berharap aku tidak dibolehkan masuk. Itu lebih baik daripada bertemu dengan Ace. Aku masih tidak tau apa aku siap bertemu dengannya lagi, terutama di tempat ini. Aku takut aku akan kalah padanya.


"Seseorang akan datang menjemputmu."


"Ya?"


Sial, sepertinya tidak akan ada solusi untuk melarikan diri dari tempat ini.


Aku menghela napas lagi. Mataku mendongak kepada CCTV yang berada di sudut pos itu. Aku percaya seseorang dari sana sudah melihatku. Mengenaliku. Felix mungkin? Apa kabar si tua bangka itu?


Tiiinnnnn.


Jeritan klakson menyapa keheninganku. Tidak butuh waktu lama sepertinya, bila kau mengendarai mobil dengan brand terkenal menempel di platnya. Seorang bodyguard turun dari mobil berjendela serba hitam itu. Seorang bodyguard yang membuat senyumku merekah tak bisa kutahan.


"Haru..." Aku merasa kebahagiaan menyeruak di dadaku saat melihat wajah pria itu.


Sialan, aku benar-benar merindukan tempat ini, bukan?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2