DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
113. MAAF


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


"Maafkan aku." jawaban itu masih segar di kepalaku, jawaban yang kuberikan kepada Ace saat aku menolak niat baiknya.


Pergi ke negara lain bersama ibuku sampai situasinya menjadi lebih baik adalah isi tawaran Ace sore itu. Ace menginginkanku melarikan diri sebelum pertikaian terjadi. Baginya, jika aku menetap sebagai bodyguard keluarga nona Indira, aku dapat terkena imbas dari pertikaian mereka.


Tentu saja, bila aku adalah seorang gadis yang tidak mampu melindungi diriku sendiri, tidak mempunyai hutang budi kepada keluarga Rashid, aku bisa saja menerima dua tiket pesawat itu dengan mata berbinar haru. Sayangnya, aku tidak bisa. Tidak setelah selama hidupku, aku sudah bertekad untuk melindungi bos Anggara. Tidak, aku tidak bisa mementingkan diriku sendiri setelah selama ini hidup dari belas kasih keluarga Rashid.


Aku perlu membalas budi pada kebaikan mereka. Aku harus melindungi mereka dari apa pun itu, karena itu adalah tujuan utama hidupku.


Jadi, sore itu, alih-alih mengucapkan terima kasih atas dua tiket pesawat gratis yang Ace sodorkan di atas meja, aku memberikan penolakan dengan tegas dan lugas. Bahwa, aku, Fawnia Alder tidak akan melarikan diri dari tugasku.


Aku pikir Ace akan marah dan kecewa pada keputusanku saat itu. Tapi, ketika aku menatap ekspresi di wajahnya, dia bersikap seolah-olah dia sudah menduga responku saat itu juga. Dia tidak kecewa, tidak marah, dan tidak pula ia berusaha meyakinkanku.


"Aku menghargai setiap keputusanmu, Fawnia." Ace berkata seperti itu sambil menatap mataku. "Apa pun yang kau putuskan sekarang dan di masa depan, aku harap kau tidak akan menemukan penyesalan."


"Aku mungkin akan menyesal, sih." Aku menanggapinya dengan tawa samar. Jika sewaktu-waktu aku terkena sial di masa depan, saat pertikaian terjadi dan aku mungkin akan berada di ambang hidup dan mati, aku mungkin akan mengingat penolakanku hari ini. Mengingat bahwa aku bisa saja hidup lebih bahagia bila aku mengutamakan keegoisanku daripada masalaluku.


"Fawnia, hubungan baikku dan Evan sudah sepenuhnya terputus. Kami tidak akan menutup-tutupi pertikaian lagi. Aku bisa saja mengirim orangku untuk membunuhnya atau sebaliknya. Keluarga Emery memberikan support mereka padaku dan keluarga Rashid seperti yang kau tau akan menjadi support utama keluarga Caspian. Kami akan saling menghancurkan."


Suara Ace yang memberi penjelasan itu padaku terdengar sangat lembut dan tenang, seolah-olah dia sedang tidak membicarakan tentang membantai seluruh keluarga Caspian. Aku menyimak setiap untaian kata yang keluar dari bibirnya dengan kepala mengangguk lemah.


"Bila..., sedikit saja, kau merasa kau tidak sanggup, kau bisa datang padaku. Aku akan melindungimu, Fawnia. Aku akan selalu melindungimu. Kau tau kau sangat berarti bagiku, bukan?"


Aku sangat tau, karena itu, menolakmu membuatku sedikit kecewa pada diriku sendiri.


Aku ingin mencintai Ace sebanyak ia mencintaiku, tapi entah mengapa, untuk memberikan segalanya kepada pria itu terasa agak sulit bagiku. Aku menyukai Ace, tentunya, sangat. Tapi, memikirkan apakah aku lebih ingin bersama dengan Ace selamanya atau mati melindungi keluarga Rashid, aku masih belum bisa menempatkan Ace di posisi pertama.


Kami..., hubungan kami masih baru. Kedekatan kami pun begitu. Aku belum bisa menuangkan seluruh perasaanku padanya sebanyak aku menuangkan seluruh pengabdianku pada keluarga bos Anggara.


Aku hanya bisa berdoa dia dan aku dapat keluar dari situasi ini dalam keadaan selamat. Aku harap akan ada hari loyalitasku tidak menghalangi perasaanku kepada Ace.


"Jaga dirimu baik-baik, Fawnia." Ace mengucapkan kata-kata itu dengan tangannya yang menggenggam tanganku di atas meja.


Mengingat situasinya sudah menjadi lebih buruk dari yang sudah-sudah, peluang untukku dan Ace bertemu akan sangat kecil. Kami akan sibuk pada urusan kami sendiri. Aku dengan tugasku, dan Ace dengan misinya.


"Jaga dirimu juga," aku membalas ucapan Ace dengan cengiran paksa. Aku harap ini bukan terakhir kalinya aku bertemu dia. "Aku akan merindukanmu."

__ADS_1


Sangat, aku akan merindukan Ace sampai aku bisa menggenggam tangan itu lagi. Melihat wajahnya, iris kelamnya.


Berbincang-bincang dengan Ace hari itu tidak berlangsung lama. Mengingat dia sedang dikejar waktu juga, dan aku..., aku juga di posisi yang sama, kami akhirnya berpisah ketika waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Aku langsung menuju kediaman utama Caspian sementara Ace--entahlah.


Ketika aku kembali ke mansion utama keluarga Caspian, aku menemukan sejumlah bodyguard baru berdatangan dan mengawal pintu. Aku bahkan dihentikan sebelum masuk. Mereka menanyai identitasku dengan tegas, seolah-olah aku lah yang orang baru di sana. Padahal mereka semua--wajah-wajah asing itu--baru muncul hari ini.


"Dia bodyguard pribadi nona Indira." Joseph menyelamatkanku tepat waktu. Aku menatap para arogan berjas hitam itu dengan mata memicing tajam.


"Siapa mereka?" Aku bertanya selagi melenggang di belakang Joseph.


"Bodyguard khusus yang sudah disiapkan tuan Max untuk tuan Evan. Mereka datang berlusin-lusin hari ini."


"Aku bisa melihatnya," Rumah ini menjadi seperti base tentara daripada rumah biasa.


"Bagaimana kabar ibumu, Fawn?"


"Statis." Tidak ada yang berubah dari situasi ibuku. Ia tidak dalam kondisi yang dapat dikatakan stabil. Ibuku--ia masih dalam kondisi yang mencemaskan dan tidak ada perkembangan sama sekali.


Aku sudah berkonsultasi pada dokter dan mencari solusi. Tapi, kata mereka satu-satunya solusi adalah menunggu dan berdoa. Itu adalah tanggapan yang mengecewakan jujur saja, untuk apa aku membawa ibuku ke rumah sakit kalau mereka menyuruhku berdoa. Pastur di gereja bekerja dengan cara yang sama dengan mereka.


"Beliau akan kembali sehat, tenang saja." Joseph menyemangatiku kemudian.


Aku mengangguk pada ucapannya.


Aku mungkin akan memperkenalkannya pada Ace nanti.


Hmmm, apa ibu akan menyukainya? Apa Ibu akan percaya kalau puterinya yang bertampang biasa-biasa saja ini--berhasil menggaet seorang pria yang sangat berkuasa, tampan dan rupawan?


"Fawn?" Joseph menarikku kembali dari lamunan.


"Ya?"


"Kau melamun. Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"


Aku menggeleng. "Bukan sesuatu yang penting," tukasku.


"Anyway, Joseph. Menurutmu..., apa yang harus kita lakukan di sini? Menyangkut nona Indira?" Aku mengganti topik dan bersandar dengan pundakku di pintu. Joseph turut berhenti melangkah, dia melirik ke kiri dan kanan sebelum menyahut.


"Tuan Anggara datang hari ini."

__ADS_1


"Serius?"


"Tapi aku rasa mereka sedang tidak mendiskusikan masalah bos Indi."


Itu aneh. "Apa ada yang lebih penting dari membahas situasi nona Indi?"


"Aku tidak tau apa itu, tapi sepertinya..." Joseph berbisik rendah di telingaku. "Tuan Anggara melakukan sesuatu yang memicu amarah tuan Evan."


"Tuan Evan selalu marah-marah." Setidaknya, di ingatanku pria itu selalu menunjukkan ekspresi tidak puas terhadap bos Anggara dan selalu memberikan ekspresi misterius kepada nona Indira. Seolah-olah ada batu besar menindih kepalanya dan itu membuat ekspresinya menjadi..., keras?


"Ini lebih serius," ujar Joseph. "Tuan Evan bahkan memukul tuan Angga tadi."


"Hah?" Berani-beraninya! "Lalu, apa yang kau lakukan?"


"Apa yang bisa kulakukan, sialan?" Joseph mencebik atas tudinganku. "Aku bisa mati sebelum sempat membantu tuan Angga berdiri."


"Kenapa situasi genting terjadi ketika aku tidak ada di rumah?" Aku jadi kesal.


"Kau lebih baik tidak berada di rumah. Suasana di sini menjadi sangat mencekam saat tuan Max membawa satu kompi bodyguard-bodyguard di luar."


"Aku jadi penasaran apa masalah tuan Evan dan bos Angga." Aku tidak peduli pada bodyguard yang berdiri di luar rumah ini, karena perhatianku tertuju pada fakta kalau bos Anggara menerima pukulan dari tuan Evan. Si keparat sialan keriting itu!


Tidak cukup menyakiti nona Indira, dia berani menyentuh bos Anggara juga. Apa dia tidak punya rasa hormat sedikit saja pada keluarga Rashid?


"Sepertinya, kita akan tau lebih jelas mengenai masalah itu nanti. Kurasa..." Joseph mengangkat bahu. "Untuk sekarang, kau sebaiknya bersiap-siap. Akan ada pertemuan penting besok pagi."


"Apa ini perintah tuan Evan lagi?"


"Tidak, ini dari tuan Max. Dia ingin mengatur ulang formasi setiap bodyguard di rumah ini."


"Ohooh? Rumah ini sudah menjadi benteng pertahanan."


"Jangan berisik." Joseph terkekeh samar. "Tuan Angga menitip pesan padaku tadi sebelum dia pulang."


"Apa itu?"


"Dia meminta kita untuk mematuhi apa pun yang tuan Evan perintahkan. Hanya sampai saat bos Indi berubah pikiran dan meminta pertolongan, barulah kita bebas melakukan apa yang sudah diperintahkan." Dalam kata lain, kami akan membawa lari nona Indira pergi dari rumah ini bila waktunya sudah tepat.


"Baiklah, kalau memang seperti itu." Aku menghela napas. Aku tidak suka mengikuti kata-kata tuan Evan, tapi bila ini adalah perintah bos Anggara, aku akan menurutinya.

__ADS_1


Anggap saja aku sedang membuktikan loyalitasku padanya. Aku akan bertahan.


...----------------...


__ADS_2