
...FAWN pov...
...----------------...
"Apa ada cara untuk membuat seseorang menyukaimu meskipun tampangmu pas-pasan?" Aku mengangkat topik itu tepat setelah nona Margot meninggalkan aku dan Vera sendirian di kamar Ace.
Hari ini, tidak seperti hari-hari kemarin ketika aku dilanda kesedihan dan keputusasaan yang berkepanjangan, aku sudah membulatkan tekad untuk merayu seorang Arcelio Hunter agar jatuh cinta padaku. Iya, ide itu adalah ide tergila yang pernah merasuki otakku. Aku--seorang bodyguard, seorang yang berada di kasta terendah di kelas sosial para konglomerat ini, menargetkan Ace--pria yang menjadi idaman para wanita--oh bahkan pria.
Pemikiran bahwa aku sedang berusaha membuat Ace Hunter menyukaiku saja sudah membuatku merinding jijik pada diriku sendiri. Tapi, seperti kata bijak yang kerap kubaca di internet..., bila impianmu sangat gila dan sangat menakutkan, maka kejar dan lakukan. Yah, aku tidak ingat seberapa tepatnya quotes itu, tapi aku akan melakukan apa yang otak tumpulku pikirkan sekarang.
Untuk memulai operasi itu, aku perlu menggali informasi dari Vera yang kata nona Margot merupakan 'Gadis yang handal dalam menggaet pria'. Aku tidak meragukan ucapan nona Margot sama sekali, Vera memang mempunyai wajah yang menawan. Kepribadiannya juga sangat baik.
"Kenapa menanyakan itu tiba-tiba?" Vera melirik ke arahku dengan kening terangkat sebelah.
"Aku..., aku hanya penasaran. Aku bosan, jadi ada banyak hal tidak penting berseliweran di pikiranku."
"Hmmm," Vera menatapku aneh. Aku pikir dia mencurigai sesuatu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa menyangkut keanehan yang kuciptakan. "Untuk membuat seseorang menyukaimu, itu tergantung..., pria seperti apa yang ingin kau dekati?"
"Seseorang yang..., mustahil untuk didapati?"
"Apa dia biksu?"
"Yaaah, maksudku--seseorang yang luar biasa, sulit digapai dan sangat kaya..."
"Ugh, itu target yang sulit, level S. Kau perlu tidur dan belum tentu mendapatkan pria seperti itu di dalam mimpimu." Vera tertawa.
"Aaah, begitukah?" Apa ideku terlalu...ekstrim?
"Tapi sulit tidak berarti mustahil." Vera melanjutkan ucapannya seperti meniup debu yang sempat melingkupi pikiranku. "Kalau itu kau..., aku percaya kau bisa mendapatkan siapa saja di dunia ini. Bahkan biksu."
"Eeeei, jangan mengejekku. Kau tau seberapa buruk penampilanku, kan?" Bukan berarti aku meremehkan diriku sendiri, aku hanya sadar diri. Kalau kau melihat diriku yang sekarang, dengan jejak luka di kaki dan tangan, wajah pucat yang membosankan, kau akan tau seberapa tidak masuk akalnya tujuanku untuk membuat Ace mencintaiku.
"Kalau kau mau membuat pria kaya raya, dingin dan menyeramkan menyukaimu..., hanya ada satu trik..." Vera berpindah tempat duduk dari seberang sofa ke sampingku. Suaranya berujar rendah dan penuh rahasia. "Kau hanya perlu bertingkah manis."
"Hah?" Bertingkah manis seperti apa?
"Kau tau..., pria kejam dan tegas seperti bos Ace itu sangat sulit untuk dikendalikan. Orang-orang seperti bos Ace, kau perlu menunjukkan kelembutan, kasih sayang dan paling penting--ketulusan. Mereka membutuhkan hal tersebut karena kau tau, dunia yang mereka hadapi sangat keras sampai mereka perlu membangun perisai yang membuat mereka terlihat menakutkan, begitu?"
"Tunggu, kenapa kau mengungkit Ace?" Aku 100 persen yakin aku sudah menutupi niat dan tujuanku dengan baik.
"Tsk..." Vera menabrak lenganku dengan lengannya. Ekspresi arogan bercampur kejenakaan mekar di parasnya. Membuat dia terlihat sangat menjengkelkan. "Apa kau pikir aku idiot?"
"Veraaa?"
__ADS_1
"Tenang saja, aku mendukung apa pun yang hendak kau lakukan, Fawn." suara Vera berubah menjadi kelembutan, matanya yang berbinar kekanakan--menatapku dengan keprihatinan. "Jika aku berada di posisimu, aku pasti sudah membunuh diriku sendiri."
"Aku ingin melakukannya, tapi kau tau..." Aku menunjuk gelang di kakiku. Gelang yang membuatku seperti dicekik oleh tangan tak kasat mata setiap kali aku melihatnya.
"Kau beruntung masih mempunyai orang yang berharga untukmu, dan masih memikirkan mereka." Vera menepuk pundakku lembut, "Kau harus selamat karena kau sudah bertahan sejauh ini."
"Vera, apa menurutmu aku bisa..."
"Kau pasti bisa." sahutan Vera seperti menepis segala keraguan yang hendak kuucapkan. "Jujur saja, bos Ace bukanlah pria yang kejam dan menakutkan seperti yang kau kenali sekarang. Kalian mungkin bisa menjadi teman baik, andai saja kalian bertemu dalam situasi yang baik. Sayangnya, pertemuan kalian dimulai dengan sangat buruk. Di matanya, kau adalah musuh, kau pun pasti memandangnya dengan cara yang sama..."
"Apa yang akan terjadi kepadanya bila aku berhasil, Vera?"
"Jika kau hendak melakukan apa yang ingin kau lakukan, ada baiknya kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya, bukan?"
Itu..., aku tidak tau. Memikirkan diriku menyakiti orang lain membuatku ketakutan dan sedih. Aku bisa saja membunuh seseorang, tapi kematian adalah sesuatu yang berlangsung cepat seperti kilat. Luka yang ditorehkan di hati tidak. Kau akan hidup dengan rasa sakit itu, sangat lama hingga itu menjadi bagian dari hidupmu.
"Hanya...," Vera kembali bersuara, punggungnya ia sandarkan di sofa. "Pastikan saja, misi yang hendak kau lakukan tidak akan berbalik menjadi bumerang untukmu."
"Maksudnya?"
"Kau tau maksudku dengan sangat baik, jangan menyangkalnya."
Aku tidak menyangkalnya. Aku hanya tidak berpikir hal itu akan terjadi padaku.
...----------------...
Setelah nona Margot membawa Vera pergi, aku tinggal di kamar Ace sendirian tiga hingga lima jam--mungkin? Felix sesekali mengecekku dan membawa cemilan dan buah-buahan. Karena kurangnya pekerjaan dan aktivitas yang dapat kulakukan di kamar itu, aku pun berlatih fisik dengan melakukan sit up dan push up. Hanya ketika langit di luar menjingga--aku berhenti dan pergi mandi.
Ketika aku keluar dari kamar mandi, Ace sudah berada di kamar. Berpenampilan rapi sehabis pulang kerja. Kemeja satin berwarna hitam itu membungkus tubuhnya dengan sempurna. Aku sulit untuk memalingkan muka ketika dia berdiri di dekat lemari pakaiannya, meluruhkan satu-persatu atasan yang melingkupi tubuhnya sampai hanya kulit polos itu yang tersisa.
"Kau sudah selesai," Ace menutup pintu lemari. Pakaian kotornya yang tercecer di lantai ia pungut dengan kaki sebelum dilemparnya ke keranjang cucian.
"Ya.." Aku menjawab dengan kegugupan tertahan. Aku merasa sangat tidak nyaman dengan situasiku sekarang. Bagaimanapun, ide gila yang kubuat tentang menggoda Ace--membuatku menjadi sangat sensitif hanya dengan keberadaan pria itu. Rasanya--daripada menggoda, aku akan mati terbakar lebih awal sebelum melakukan apa-apa.
"Apa kau sudah makan?" Ace melenggang ke arahku dengan tubuhnya yang tanpa atasan. Aku sulit menaruh perhatian--antara menatap mata atau dada--sial! Aku tidak bermaksud menatap dadanya, tapi..., itu hanya menarik perhatian. Kau tau, dia punya otot dan tubuh yang bagus. Itu wajar untuk menatap hasil kerja kerasnya, mengapresiasi..
"Fawn?"
"Huh, ya?"
"Apa yang kau pikirkan?"
Dada--"Tidak ada...,"
__ADS_1
"Kau yakin?" Ace menyentuh keningku dengan tangannya yang hangat. "Kau tidak sakit, tapi wajahmu sangat merah."
"Itu...,"
"Apa kau malu melihatku?"
"Huh?" Tidak! Tidak! Kenapa malah seperti Ace yang menggodaku? Ini kebalikan! Aku tidak merencanakan ini! Hei!!!
"Kau menggemaskan, apa kau suka apa yang kau pandang?"
"Aku tidak memandangi apa pun." Aku menyangkalnya mentah-mentah. "Hanya karena kau punya tubuh bagus..., bukan berarti aku menyukai apa yang kulihat! Aku biasa melihat tubuh pria yang lebih baik darimu di gym!"
"Jadi kau memang melihatku," ucapan Ace seperti racun. Aku kehilangan kendali oleh tubuhku saat dia bicara dengan suara rendahnya yang menggoda. Seperti beku, aku berdiri di hadapannya dengan kaku.
"Kau harum..."
"Tentu saja, bodoh. Aku habis mandi." Aku tidak tau apakah aku bisa menggoda Ace ketika mulutku menyuarakan sesuatu yang bertolak belakang dengan niat awalku. Siapa yang akan tergoda dengan gadis yang memakinya? Ace pasti menganggapku wanita kasar yang tidak tau tata krama. Wanita yang sangat jauh berbeda dari tipenya...Ahahahaha, situasi ini membuatku gila.
Tanpa menanggapi hinaanku dengan kata-kata, Ace menyentuh wajahku dengan ujung jemarinya. Mengusap pipiku, rahangku sebelum menarik daguku naik mendongak ke wajahnya. Aku bisa membayangkan sedikit apa yang hendak ia lakukan. Di kepalaku, saat mata kami bertemu aku tau apa yang mata itu dambakan. Aku tau karena aku merasakan apa yang dia rasakan. Itu menakutkan, terlalu hitam seperti aku ditelan oleh tatapannya yang tajam.
Aku ingin menolaknya, mengetahui aku akan menyesali ini nanti, mengutuk diriku sendiri dengan mengatakan ini kesalahan yang kucari sendiri, aku tau aku akan menyesali ini--tapi--ini demi menggodanya, aku harus membuat Ace menyukaiku. Benar! Apa yang kulakukan sekarang adalah demi menipunya, memperdaya Ace untuk jatuh cinta padaku.
Aku masih waras, aku melakukan apa yang kulakukan sekarang bukan karena aku menginginkan Ace..., aku melakukan ini untuk membuat dia jatuh cinta padaku. Iya, benar sekali.
"Apa kau mau aku berhenti?" suara Ace menyapa wajahku dengan hangat napasnya. Aku memberanikan diri dan membalas tatapannya...
"Apa kau mau berhenti?"
"Jangan menggodaku, Fawnia..."
"Aku tidak..."
Cupp.
Satu kecupan mendarat di bibirku seketika. Satu kecupan ringan yang membuat jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Mataku melebar terpana.
"Aku punya pekerjaan setelah ini," Ace terkekeh di depan wajahku. "Aku harap satu ciuman cukup untukmu."
"Ha-ah, apa yang kau..." Apa dia pikir aku mengharapkan satu kecupan darinya?
"Ssshuusshhhhh! Jangan membuatku berubah pikiran dan melakukan sesuatu yang lebih padamu," Ace kembali melayangkan kecupan di rahangku. Panas jejak bibirnya seperti api yang membakarku habis. "Aku akan bermain denganmu di lain waktu."
Situasi ini..., siapa menggoda siapa sebenarnya?
__ADS_1
...----------------...