
...NORMAL pov...
...----------------...
Fawn terbangun oleh perasaan ngilu merayap di tengkuknya. Ia membuka mata dengan erangan lemah lepas dari bibirnya. Cahaya terang dari luar membuatnya susah payah membuka mata dan seketika, tepat saat pikiran dan kesadarannya kembali 100 persen, ingatan tentang melihat wajah Indira membuatnya bangun dalam keterkejutan. Tubuhnya melompat bangun dalam siaga, mata melebar waspada.
"Heh, Fawn..., kau sudah bangun." Haru berdiri di dekat kaki ranjang, berdiri menatapnya dengan wajah prihatin.
"Aku..., aku kembali ke sini?" Fawn merasakan kering di bibirnya dan pahit di hatinya saat lagi-lagi, ia kembali ke tempat ini? Di sangkar ini? Ketika ia memiliki peluang untuk bebas dari sini? Dia kembali lagi ke sini?
Apa yang terjadi setelah dia berteriak, Fawn tidak ingat sama sekali.
"Bos Ace membawamu kemari," jelas Haru. Suaranya rendah dan gelisah. "Sepertinya tindakanmu kali ini membuat bos Ace sangat marah. Aku harap, demi kebaikanmu kau tidak membuat ulah lagi, Fawn."
"Tidak membuat ulah? Aku?" Fawn mencerna ucapan Haru seperti menelan batu. Apa pria itu sadar apa yang baru saja dia ucapkan?
"Haru..., aku..., aku adalah tawanan di rumah ini. Bagaimana bisa kau berpikir aku akan mematuhi kegilaan yang bos keparatmu itu lakukan!!! ACE BAJINGAN, KEMARI KAU IBLIS! KAU SEHARUSNYA MEMBUNUHKU, BAJINGAN!"
Bukannya mematuhi Haru, Fawn mulai berteriak dengan emosi yang meledak-ledak. Segala kesabaran yang ia tahan dan kepahitan yang terpaksa ia telan, Fawn sudah mencapai batasnya. Tidak lagi, ia tidak mau di sini. Ia benci tempat ini. Tidak ada kata yang tempat untuk mendeskripsikan tempat ini selain neraka! Fawn hanya ingin bebas, demi Tuhan!
"Fawn..., kumohon, hentikan." Haru menghela napas lelah. Ia tidak bisa membiarkan teriakan Fawn sampai ke telinga Ace, Fawn bisa menjadi korban amukan bosnya.
Gadis ini, apa dia tidak mampu berpikir panjang?
"Fawn, please..." Haru berusaha menenangkan Fawn, menyentuh pundak gadis itu yang masih berteriak dan melempar barang-barang di dalam ruangan itu ke lantai. Namun, tepat ketika tangannya hendak mencapai pundak Fawn, Fawn berbalik dan menangkap lengan Haru yang terulur.
Lalu, dalam satu putaran...
Brak!!!
Haru dibanting ke lantai.
"aaArrrhhh...," erangan Haru lepas dengan kengerian.
Tapi itu tidak membuat Fawn bersimpati. Dia hanya menatap Haru sekilas dengan mata marah.
"Aku tidak bisa diam di sini, ini sudah batasnya..., aku akan melangkah keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup atau pun mati!"
Fawn melangkah menuju pintu dengan laju. Ia digerak oleh emosi yang meluap-luap. Pemikiran bahwa ia kembali di tempat ini ketika ia memiliki kesempatan untuk bebas membuat amarahnya memuncak. Ia kecewa pada takdirnya, marah pada situasi yang tidak mendukungnya sama sekali. Mengapa ia harus kembali ke tempat ini, keparat?!!
"Fawnn..." Haru lekas berdiri dan berusaha menghentikan Fawn yang melaju menuju pintu, namun, di tengah usahanya..., langkah Haru terhenti saat pintu yang digapai Fawn terbuka. Seseorang masuk dari sana membuat langkah Fawn membeku seketika.
__ADS_1
Sebuah pistol teracung di dahi Fawn...
"Seseorang bangun dengan penuh semangat," kata orang itu.
Itu Ace. Dalam jubah tidur satin berwarna emas, ia menapak dua langkah mendekati Fawn yang membeku. Senyum iblisnya terukir jenaka ketika matanya bertemu dengan mata Fawn yang bulat waspada.
"Apa kau mau keluar?" tanya Ace dengan suara lembut dan mematikan, nada rendah itu seperti terompet kematian. Fawn bergetar ketika ujung pistol Ace menyapa dagunya, mengangkat wajahnya agar menatap muka arogan Ace yang menawan. Sepasang bola mata Ace yang kelam menatap Fawn dengan keteduhan, seperti keramahan yang berbalut dengan keintiman.
"Bebaskan aku dari sini, Ace. Aku tidak mau di sini." Fawn membuka suara, bibir bergetar dengan air mata berkumpul di pelupuk matanya.
"Kau boleh pergi," kata Ace santai. "Silakan pergi, aku tidak akan melarangmu." Ace menyanggupi permintaan Fawn, bahkan memberi gestur mempersilakan. Sikapnya yang santai dan ringan sangat membingungkan.
"Apa lagi yang kau tunggu, kau boleh pergi." tambah Ace lagi.
Fawn--dengan sedikit harapan dan kebimbangan, menatap iris hitam Ace. Apa yang terjadi pada pria itu? Apa dia serius sekarang?
Dengan ketakutan bercampur dengan kegugupan, Fawn menarik langkahnya menuju pintu dengan perlahan. Saat itu pula, tidak sedetik pun kontak matanya terhadap Ace terputus. Ia menatap wajah pria dingin itu dengan penuh kewaspadaan sampai akhirnya ia menapakkan sebelah kakinya di luar pintu, Ace tidak menunjukkan reaksi apa pun selain keramahannya yang ambigu.
Fawn menarik satu langkah lagi, dan tepat ketika ia benar-benar berada di luar, Ace melenggang menuju pintu menyusul langkah Fawn dengan seringai tipis yang mengerikan.
"Carcel, tembak Joseph." Hanya dalam satu perintah itu, Carcel yang berdiri di dekat pintu, menyaksikan Fawn dan Ace dalam diam, akhirnya bergerak menyentuh radionya.
"APA--APA---" Fawn berhenti melangkah dan terbelalak. "Apa yang kau..."
"Baik, Bos."
"ACE!! BAJINGAN, APA YANG KAU LAKUKAN!!!???" Dengan ketegangan dan kepanikan, Fawn berlari menghampiri Ace. Mengguncang pria bajingan itu dengan amukan. "Apa yang kau lakukan!!! Aku mohon! Sialan, jangan sakiti Joseph, keparat!!!"
"Aku sudah bilang, bukan?" Senyuman di wajah Ace tidak luntur sama sekali ketika Fawn mendatanginya dengan kemarahan.
Wajah merah Fawn yang bercampur oleh keringat dan air mata itu membuat Ace merasakan debaran luar biasa di jantungnya. Ia mendamba pemandangan Fawn yang runtuh di hadapannya dengan jantung menggebu-gebu bahagia.
"Tiga orang akan menanggung risiko atas kebebasanmu. Apa kau lupa apa yang kukatakan tentang perjanjian itu?"
"Apa yang kau lakukan pada Joseph, keparat..., jangan lukai dia, aku...lukai aku saja. Sialan. Ace, kumohon!!! AAARRGGHH!!!" Fawn jatuh ke lantai, matanya bergerak liar dalam kepanikan. Tangannya dengan bergetar menjambak surai hitamnya yang berantakan. Menciptakan rasa sakit mengerikan di kulit kepalanya.
"Tidak..., tidak..., tidak..." Fawn menggigil.
Bayangan bahwa sekarang Joseph kehilangan nyawa karena tindakan gegabahnya.
Tidak, tidak, tidak. Semua ini tidak boleh terjadi. Fawn tidak akan bisa mengampuni dirinya sendiri bila Joseph benar-benar mati karenanya.
__ADS_1
Memperhatikan perubahan sikap Fawn yang sangat menyedihkan, Ace tidak merasakan simpati apa pun. Ia berjongkok di depan gadis itu dan menatapnya sambil memiringkan kepala. "Apa kau sebegitu sayangnya pada pria buruk rupa itu?"
"..."
"Kau seharusnya mencemaskan dirimu sendiri, bukan orang lain." lanjut Ace lagi.
Ace kembali tersenyum ketika mata merah Fawn menyalak marah menatapnya. Air mata yang luruh di pipi gadis itu indah.
"Kau iblis," ucap Fawn lirih.
"Kau baru tau?" Ace menggapai dagu Fawn, mencengkramnya kencang dan menyakitkan. "Aku adalah iblis yang akan mengurungmu di sini, Fawn. Kau adalah peliharaanku, ingat itu. Aku tidak akan membiarkanmu bebas..., kau yang memilih tempat ini, bahkan bila kau mati, kau akan mati di sini."
"Kalau begitu bunuh saja aku, bajingan." Fawn memegang pergelangan tangan Ace, menahan agar cengkraman pria itu tidak meretakkan rahangnya. Demi Tuhan, cengkraman Ace meninggalkan rasa sakit di kulitnya, ia berpikir akan mati dalam genggaman pria itu.
"Hehehehehe, aku tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu." Ace merangkak maju lebih dekat kepada Fawn yang masih terduduk di lantai. Tatapannya jatuh kepada sepasang bola mata Fawn yang berkilat-kilat penuh kebencian dan kutukan tersirat.
"Kau terlalu indah untuk disingkirkan,"
"Huh..., apa kau sangat menyukaiku?" Fawn membuat lelucon di dalam kesakitannya. Ia tau, perasaan semacam cinta dan suka tidak akan pernah ada di hati Ace. Pria itu sesuram langit malam, ia tidak akan merasakan cinta dengan segala kegilaannya. Dia psikopat berdarah dingin.
Seperti mendapat serangan kejutan, kegilaan di mata Ace berubah menjadi ketertegunan. Kata-kata semacam suka membuat segala kesadisannya bertransformasi menjadi kejengkelan. Air muka jenaka di paras Ace berubah kelam.
"Kau tau, memicu amarahku semacam itu tidak akan membawa hal baik padamu." Ace menarik lengan Fawn dan memaksa gadis itu berdiri. Fawn mengikuti paksaan Ace tapi beberapa detik kemudian, tepat ketika Fawn menapak dengan kedua kakinya, Ace terdorong jatuh ke lantai.
Satu tinjuan kuat bersarang di pelipis Ace, Fawn si pelaku menatap pria itu dengan kemurkaan yang berpadu-padan dengan kesedihan.
"Bos Ace," Haru dan Carcel segera mendekat. Menyelamatkan tuan mereka yang sekarang menatap Fawn dengan kebencian yang sama. Tanpa menanggapi kedua bodyguard-nya, Ace berdiri. Ia menghampiri Fawn dan siap melayangkan pukulan balasan andai saja...
Andai saja Fawn tidak tersentak mundur dengan mata terpejam.
Tangan Ace berhenti di udara..., kemarahan yang meluap-luap di dadanya seakan-akan terjeda. Eskpresi Fawn saat itu menciptakan kejanggalan di tubuhnya--sesuatu semacam debaran asing yang menyakitkan. Jantungnya ngilu dalam putaran detik itu.
Tinju Ace yang sudah tinggi di udara, beberapa centi di dekat muka Fawn..., terhenti dan jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Segala euforia yang datang dari penyiksaan mental Fawn memudar dari pikiran Ace saat itu juga.
...Apa kau sangat menyukaiku?...
Pertanyaan Fawn seperti sebuah percikan api yang jatuh di lautan bensin. Pikiran Ace dipenuhi oleh tanya itu sekali lagi. Seperti hinaan yang meremehkan.
Suka?
Ace---menyukai Fawn?
__ADS_1
...----------------...