DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
67. LAMARAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Larson mati--adalah berita yang diam-diam kutangkap dari pembicaraan Ace dan Carcel di pintu. Aku tidak tau siapa gerangan orang yang bernama Larson, tapi ini bukan pertama kalinya aku mendengar nama orang itu. Aku sudah mendengar tentangnya melalui perbincangan nona Margot dan David di telepon. Bahwa, alasan David menghilang adalah demi menguntit sosok bernama Larson itu.


Aku pikir sosok itu mungkin adalah orang penting, tapi melihat raut wajah Ace yang tidak terganggu sama sekali membuatku kembali meragu. Mungkin tidak sepenting itu.


Sementara Ace keluar dan melanjutkan urusannya dengan Carcel, aku duduk diam di bibir tempat tidur. Aku kembali mengeringkan rambutku dengan kepala yang berkecamuk bingung. Aku tidak tau apa yang kubingungkan, jujur saja. Toh, masalah ini bukan urusanku sama sekali. Tapi, entah mengapa sebuah sensasi tidak nyaman merayap di jantungku. Membuatku kepikiran pada Ace. Aku harap situasi itu tidak mempengaruhinya.


...----------------...


Sekitar dua jam berlalu ketika Ace meninggalkanku. Aku yang memang tidak bisa kemana-mana, berputar-putar di kamar Ace sementara Butter mengekoriku. Butter ingin dimanja, tapi pikiran dan suasana hatiku sedang tidak dalam mode ingin bermanjaan dengannya. Aku gundah dan gelisah, tanpa kejelasan.


Saat aku melirik jam yang sudah nyaris jam setengah 12 malam, aku pikir sudah waktunya aku untuk tidur. Aku tidak bisa menunggu Ace lagi. Juga, kenapa aku harus menunggunya?


Aku meringis geli pada pemikiranku sendiri. Secepat kilat aku berlari menuju kamar mandi dan mencuci mukaku. Aku menggosok gigi sambil sesekali ingin membentur kepalaku ke cermin. Diriku yang memikirkan Ace adalah sebuah keanehan yang menjijikkan. Aku tidak tau apa yang salah padaku. Aku pasti sudah gila!


"Bersihkan otakmu, Fawnia. Lalu tidur. Oke!" Aku bicara pada diri sendiri. Tangan menepuk-tepuk pipi. Setelah kata-kata itu teresap di kepalaku, aku pun memutuskan keluar dari kamar mandi.


"Aku terkejut kau belum tidur jam segini." Ace menyapaku sambil memasang jubah tidur satin berwarna merah itu di badannya yang polos. Aku memicing tidak suka pada keberadaannya dan memutar mata. Apa tidur memakai piyama satin sangat nyaman? Tidakkah itu licin dan pengap?


"Apa ada aturan kapan aku harus tidur?" Aku menimpalinya ketus dan lompat ke tempat tidur.


"Tidak ada, hanya saja..., kau biasanya tidur lebih awal."


Yah, itu memang benar.


"Aku bosan tidur terus, jadi aku memilih tidur lebih lama malam ini. Apa masalah?"


Ace mengendikkan kepalanya, "Tidak juga."


"Jadi..." Aku menarik selimut sampai pinggangku. Sialan, kenapa jubah satin itu sangat menawan.


Aku puas mengecek lemari pria itu, tapi tidak pernah sedikit pun aku menganggap jubah itu menarik. Tapi kenapa ketika Ace yang memakainya jubah itu menjadi sangat luar biasa? Apakah ada sihir yang tidak kuketahui atau otot-otot kekar itu hanya terlihat indah di dalam warna merah?


Fawn! Bangun! Sadarlah!


"Apa yang terjadi?" Aku--demi berhenti memikirkan dada Ace Hunter yang terekspos melalui celah jubahnya yang hanya merekat longgar di tubuhnya--mengganti topik. Aku tidak tertarik dengan otot pria itu.


"Bukan hal yang penting," kata Ace. Apa dia berniat merahasiakan segalanya dariku?

__ADS_1


"Aku dengar seseorang bernama Larson mati."


"Kau punya pendengaran yang bagus," Ace bersandar di pintu lemarinya yang tertutup. Tangan tersilang elegan di depan dada. Matanya menyorotku teduh--seperti hutan di musim gugur yang memberikan ketenangan.


"Apa itu ada kaitannya dengan bos Angga?"


"Apa itu yang kau cemaskan? Anggara?"


"Ti-tidak juga. Aku hanya..., hanya...," mencemaskanmu, tidak. Jangan mengatakan sesuatu yang tolol!


"Tenang saja, ini tidak ada kaitannya dengan Angga. Tidak secara langsung." Ace berujar sinis. "Kau sangat loyal, bukan? Aku iri."


"Yaah, bagaimana lagi. Aku karyawannya." Aku mau tidak mau berkata seperti itu. Tidak akan lucu kalau Ace tau orang yang sudah membuatku cemas adalah dirinya. Dia bisa-bisa tertawa sampai mati. Nona Margot akan membunuhku kemudian karena sudah membunuh adiknya.


"Apa orang itu sangat penting? Kau langsung pergi saat mendapat informasi tentangnya?"


"Paman Jack datang, aku tidak mungkin tidak pergi. Meskipun itu hanya mendiskusikan bangkai tikus, aku harus tetap datang untuk menghormati pamanku."


"Kau dan pamanmu sangat dekat," aku sedikit takjub.


"Hubungan saling menghormati berbeda dengan hubungan dekat yang kau pikirkan." Ace menghampiri tempat tidur. Dia mengisi posisinya di sampingku dan bersandar di kepala ranjang. Satin merah itu kembali menarik perhatianku lagi. Sial, itu sangat halus di kulitnya. Sangat bagus.


"Apa kau baik-baik saja?"


Aku mengangkat bahu. "Itu pertanyaan yang wajar, bukan?"


"Well...," Ace menggantung ucapannya sebentar karena dia tersenyum. Mungkin dia menertawaiku. Aku tidak tau apa yang salah sih!


"Aku baik, Fawnia. Kau tidak perlu mencemaskanku."


"Aku tidak mencemaskanmu." Kenapa dia besar kepala?


"Fine, then."


Aku terdiam sebentar. Meskipun setengah badanku sudah tertutup selimut, aku belum ada niat untuk tidur. Mataku sesegar mentimun, kupikir aku bisa melakukan senam akrobatik dengan energi yang kupunya sekarang.


"Masih ada yang mau kau tanyakan?" Ace membacaku seperti membaca buku yang terbuka. Sepasang netra kelamnya menyorotku penuh perhatian. Aku juga bisa merasakan jemari hangatnya menyapa tengkukku. Atau lebih tepatnya, rambut yang berada di tengkukku? Dia mengusap helaian rambutku yang kubiarkan kering tanpa kusisir.


"Apa kau akan marah kalau aku bertanya?" Aku menengok ke arah Ace sambil meneguk ludah. Tidak, aku tidak meneguk ludah karena tergiur oleh abs-nya. Aku meneguk ludah karena gugup.


"Aku akan mendengarkanmu. Selama kau tidak memintaku membebaskanmu, kupikir aku bisa mendengar pertanyaan apa pun."

__ADS_1


"Omongan macam apa itu," aku tidak percaya sama sekali. "Aku hanya penasaran, apa kematian si Larson ini--mempunyai sangkut-paut terhadap kematian orang tuamu?"


Sial, bibirku sampai bergetar saking gugupnya.


"Jadi itu yang mau kau tau," Ace lagi-lagi mengulum senyum. "Jawabannya tidak."


"Oh?" Jadi bukan.


"Tidak secara langsung. Kematian orang tuaku terjadi berkat seseorang yang pandai menarik tali di balik tirai, Fawn. Aku percaya, Larson hanya satu dari sekian banyak pion yang orang itu gunakan."


"Kau pasti sangat stress."


Aku bisa saja berkelahi dengan banyak orang, membantai dan menghapus nyawa siapa saja tanpa perasaan sungkan. Tapi bila itu berurusan dengan pertikaian strategi dan manipulasi, aku mungkin akan mati lebih awal. Seperti yang Ace katakan, aku tolol. Aku tidak akan bisa hidup dengan memeras otakku. Menumbuhkan otot lebih gampang daripada menumbuhkan IQ.


"Benar. Sekarang..., apa kau mau memijat kepalaku?"


"Aku lebih senang meremukkannya." Aku memutar mata.


"Kau sangat jahat." Ace bicara tanpa bercermin sama sekali. Si keparat itu.


"Ngomong-ngomong..." Aku bicara lagi. Mulutku seperti mobil dengan rem yang tidak terkendali. Aku pasti sangat mencari mati.


"Apa yang akan kau lakukan sesudah balas dendam?"


"Apa, ya...? Mencari istri?!"


"HUH, SERIUS?" Aku terperanjat kaget.


"Kenapa? Apa kau mau mencalonkan dirimu?"


"..."


A-apa Ace baru saja melamarku?


"Kalau kau setuju, kita bisa menikah malam ini kalau kau mau."


"Sangat lucu. Aku mau mati tertawa." Aku menahan ekspresiku agar tidak tetap datar. Mustahil Ace melamarku. Dasar tolol. Apa yang kupikirkan?


"Padahal aku serius..." Ace menoyor kepalaku, mendorong pelipisku dengan telunjuknya sebelum memutar mata. "Aku kecewa."


Tidak, 100 persen! Dia pasti tidak serius!

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2