DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
47. PESTA


__ADS_3

...ANGGARA pov...


...----------------...


"Selamat sudah memilikiku sebagai partner-mu malam ini, Anggara." Margareth Hunter berbicara dengan nada halus yang membuat tubuhku merinding. Baru beberapa menit aku bertemu dengan wanita ini, dan dia sudah membuatku sangat tidak nyaman. Matanya yang tajam penuh misteri sangat bertolak belakang dengan sikap dan penampilannya yang eksentrik.


Ingatkan kembali mengapa aku perlu pergi ke pesta lady Mikoto dengan wanita ini?


Ya, benar. Semua ini terima kasih kepada Evan dan perintahnya dalam bayang-bayang. Jika bukan karena Evan, aku lebih memilih menggandeng batang pohon daripada menggandeng wanita sinting ini ke acara yang demi Tuhan--disorot oleh banyak media.


Rumor miring mampu menyebar karena kejanggalan ini. Aku dan Hunter..., tcih! Aku lebih baik mati daripada menaruh hati pada mereka.


Semua ini sudah seperti kutukan!


"Aww, kau membawa bodyguard-mu hari ini..." ucapan Margareth seperti ejekan. Dia terlalu biasa melihatku berjalan sendirian sampai dia menganggap keberadaan Julian dan bodyguard lain di sekitarku sebagai sesuatu yang langka.


"Aku adalah pemimpin di Spades, kalau-kalau kau lupa." Aku menyahuti Margareth dengan senyum dipaksakan. Mataku lalu bergerilya kemana saja, mencoba menekan amarah dan kekesalanku pada situasi tidak masuk akal ini agar aku tidak meledak di depan Margareth.


Di detik-detik yang berlalu dengan kekesalanku yang terpendam, mataku tanpa sengaja menatap sosok Vera--kalau aku tidak salah ingat, namanya Vera. Dia sedang berdiri di dekat pintu mobil sedan berwarna hitam yang terparkir siaga di belakang mobilku. Rambut diikat tinggi, jas hitam melingkupi kemeja putihnya yang tidak terkancing rapi.


Aku ingat Margareth pernah mengatakan kalau wanita itu--Vera--menyukaiku. Tapi, melihat rautnya yang sekarang--sangat serius dan tak berperasaan, aku meragukan apa yang pernah diucapkan Margareth. Vera tidak mungkin menyukaiku ketika dia bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali ke arahku. Mata gadis itu  fokus tertuju pada Margareth.


Sebuah kebohongan sudah mereka lakukan waktu itu untuk menutupi sesuatu. Sebuah kebohongan yang perlu kucaritahu.


"Aku lihat kau juga membawa rombonganmu sendiri," aku berujar kepada Margareth menyangkut lima bodyguard termasuk Vera yang berada di mobil belakang kami.


"Oh, ini semua karena Ace sangat overprotektif padaku. Hahahaha. Dia tidak akan membiarkan aku pergi tanpa pengawal, mengingat aku sangat rapuh."


"Huh, ya?" Aku mau tertawa. Rapuh nenek moyangku!


"Ini bagus, lebih banyak perlindungan lebih baik." Aku memaksakan senyuman dan pipiku mulai terasa kram karena kepalsuan ini. "Ayo."


Sementara aku membukakan pintu untuk Margareth, aku melihat kawanan di belakangnya segera masuk ke mobil mereka juga. Dipimpin oleh Vera, para bodyguard itu menuruti perintahnya sampai hanya dia yang tinggal di luar. Sebelum aku menutupi pintu untuk Margareth, aku melempar pandanganku ke arah wanita itu terang-terangan dan dia balik menatapku sambil membungkuk sopan.


Dia mengingatkanku pada Fawn, jujur saja. hanya..., Fawn memiliki kesetiaan terpatri di matanya, gadis itu tidak.


...----------------...

__ADS_1


Selama perjalanan menuju pesta, aku yang duduk berdampingan dengan Margareth terjebak dalam keheningan yang sangat mencekik. Aku tidak tau harus mengatakan apa kepada wanita itu--tidak ketika berpikir menghirup udara yang sama dengannya saja sudah membuatku muak, apalagi bicara? Aku membenci keluarga Hunter atas kesempurnaan mereka, dan keberadaan Margareth Hunter yang selalu tampak superior membuatku semakin membenci latar belakangnya. Gadis itu berjalan seolah-olah dia pemilik dunia.


Aku penasaran apa yang si sulung Hunter itu pikirkan? Apa dia merasakan ketidaknyamanan yang sama denganku? Apa dia mengejekku di benaknya?


Aku harus mengatakan sesuatu, sesuatu yang mampu membuatku mengalirkan informasi apa pun ke Evan. Aku perlu membuat Margareth mengatakan satu atau dua hal kepadaku..., aku perlu memanfaatkan kesempatan ini jadi...


"Margareth...," ucapku dengan suara yang kukeluarkan paksa dari kerongkongan. "Aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku hari itu--di Leviathan."


"Oh..." Margareth menanggapi ucapanku dengan suara bimbang. "Kau tidak perlu memikirkannya."


"Bagaimanapun, aku perlu berterimakasih dengan serius."


Maragareth tertawa ringan, seakan-akan tersipu. "Okeey, sama-sama. Saling tolong-menolong adalah kewajaran. Itu bukan sesuatu yang besar."


Ya, aku sangat yakin tolong-menolong memang kewajaran di matamu, Margareth Hunter. Mengingat seberapa banyak kau menghinaku malam itu. Sialan, apa dia pikir aku tidak tau kalau dia menyumpah-serapahiku?


"Kau sangat menggemaskan, terkadang aku tidak percaya kalau kita seumuran."


"Huuh, apa kau mengejekku?"


"Tidak, tidak." Margareth menepuk lenganku pelan, dan sentuhan ringan itu membuatku mengembangkan senyuman palsu.


Ya, benar sekali. Aku mungkin bisa mencoba metode itu.


"Aaah, kita sampai." Margareth menatap keluar jendela. Senyum tipis bermain di wajahnya. "Terima kasih sudah mengundangku menjadi partner-mu malam ini, Anggara. Aku harap kau mampu bertahan di sampingku."


"Apa maksudnya?"


"Kau tau..., aku sangat populer. Orang-orang mungkin akan merebutku darimu." Pintu mobil kemudian di buka. Margareth mengedipkan sebelah matanya jenaka padaku sebelum turun. Aku menyusulnya kemudian dan memberikan lenganku untuk gandengannya.


Di bawah hujan cahaya kamera, aku yang sudah terbiasa menghadapi hujan perhatian itu menapak bersama Margareth di sisiku. Di belakang kami berdua, Julian bodyguard-ku dan Vera bodyguard Margareth--mengiringi kami dan melindungi kami dari fotografer yang mengambil ruang berlebihan.


"Seseorang akan menjadi headline besok." Margareth berbisik di sampingku, suaranya yang samar dan hembusan hangat napasnya menyapu kulitku. Itu tidak nyaman--tapi aku tidak keberatan. Mataku menyorotnya sekilas sebelum masuk ke dalam aula dengan tamu yang menghujani kami dengan pandangan terpana.


Iya, lihat ini. Aku--Anggara Rashid memasuki ballroom bersama seorang Margareth Hunter di sisiku. Lihat ini, Evan Caspian--aku sudah memenuhi keinginanmu!


...----------------...

__ADS_1


"Seseorang bisa cemburu kalau melihat aku jalan bersamamu hari ini." Setelah melenggang kesana-kemari, menyapa wajah-wajah familiar yang menyapa kami, Margareth berujar kepadaku setelah menenggak segelas wine yang terbingkai dalam genggamannya.


"Siapa?" Aku merespon dengan pura-pura tolol. Maksud Margareth kemungkinan adalah kekasihku, yang mana sebenarnya tidak ada. Aku terlalu sibuk untuk sempat memikirkan masalah asmara.


"Kau tau maksudku..., Vera...,"


"Hah?"


"Bercanda. Dia sudah move on." Margareth terkekeh. "Maksudku semua wanita muda yang hadir malam ini, Anggara. Kau adalah calon menantu idaman, suami masa depan, dan yah kau tau..., hal-hal semacam itu."


"Aku tidak peduli pada mereka." kataku dan itu adalah satu-satunya hal jujur yang kukatakan malam ini.


"Jangan terlalu kejam, pria yang kerap menyakiti wanita akan disakiti lebih parah oleh Tuhan."


"Kau sangat relijius." aku mengejek.


"Ya, aku juga percaya karma." Suara Margareth agak berubah atau aku salah dengar?


"Apa yang kau katakan?" aku bertanya dan kali ini menatapnya tepat di muka.


"Tidak ada," sahutnya sambil menyeringai tipis.


"Mm...., okey. Aku tidak melihat Ace malam ini, apa dia tidak datang?" Ini adalah sesuatu yang membuatku agak bingung. Kemana perginya bintang utama malam ini? Aku pikir dia adalah orang yang sangat berkontribusi besar di penggalangan dana yang diadakan lady Mikoto.


"Ace sepertinya tidak akan datang," ucap Margareth. Tangan mengayunkan sisa wine di gelasnya ke kiri dan kanan.


"Apa dia sibuk?"


"Kurasa...," jawaban itu ambigu, tapi aku tidak mengejar jawabanku sama sekali.


"Aku akan menyapa temanku sebentar, Angga. Kalau kau mau bergabung--"


"Tidak, tidak perlu. Aku juga akan menyapa temanku sebentar...,"


"Well," Margareth melepaskan gandengannya dari lenganku. "Mari bertemu ketika pesta kembang apinya di mulai."


"Baiklah."

__ADS_1


Selang beberapa detik setelah aku mengucapkan perpisahan pada Margareth, secepat itu pun aku melihat Evan memanggilku di kejauhan.


...----------------...


__ADS_2