
...NORMAL pov...
...----------------...
Hari itu hari Sabtu, hari ketika Lilian Alder dimakamkan. Kendati pemakaman itu dilaksanakan menjelang siang, karena sekarang sudah pertengahan musim gugur, angin yang bertiup menjadi cukup kencang. Langit menjadi mendung, seperti ikut terpuruk. Dedaunan yang menjingga rontok di tanah, jatuh layu dan mengikuti arah angin yang berlalu.
Hari itu juga, setelah memberikan penghormatan terakhir kepada makam Lilian, Fawn pun berlalu bersama Ace.
Mungkin karena Fawn sudah menangis seharian kemarin, hari ini Fawn mengontrol ekspresinya dengan baik. Ia tidak menangis sedih lagi, ia hanya menatap kepergian Lilian dengan kerelaan. Selama pemakaman itu berlangsung juga, Ace tidak melepaskan genggaman tangannya dari Fawn. Ia memberikan dukungan kepada gadis itu tanpa kata, menguatkannya tanpa suara. Bahwa, bahkan bila Lilian tidak ada, Ace akan selalu ada di sana.
Dia akan selalu berada di samping Fawn.
"Selamat datang kembali, bos Ace." di rumah, setelah Ace kembali dari pemakaman bersama Fawn--Felix menyambut mereka dengan sopan. Ia menatap Ace sebentar sebelum beralih kepada Fawn yang masih berekspresi muram.
"Aku turut berduka atas kehilanganmu, nona Fawn."
Fawn cukup asing terhadap sematan nona di namanya, mungkin karena ia sudah lama tidak berinteraksi dengan orang-orang di rumah ini. Fawn memberikan anggukan kecil kepada Felix sebagai tanggapan.
"Aku sudah menyiapkan makan siang, Bos."
"Baiklah, kami akan ke sana sebentar lagi."
Setelah menerima respon dari Ace, Felix pun berlalu pergi. Ia kembali ke dapur sementara Ace membujuk Fawn untuk makan siang bersamanya. Awalnya, Fawn menolak ide tersebut. Selain karena ia masih tidak nafsu makan, Fawn juga tidak ingin melakukan apa-apa sekarang. Fawn hanya ingin tidur andai saja Ace tidak memberikannya tatapan memohon itu. Fawn mau tidak mau menurut.
"Baiklah," kata Fawn akhirnya. Ia mengikuti Ace dan menyantap makan siang bersama pria itu di dapur.
"Di mana nona Margot?" adalah pertanyaan yang keluar dari mulut Fawn ketika ia memulai menyantap makanan di piringnya. Hari ini, di tengah pemakaman--Margot mundur dan menghilang. Fawn mengira wanita itu sudah kembali, tapi melihat keabsenan David dan Vera di mansion, itu berarti Margot belum pulang sama sekali.
"Dia mungkin menenangkan dirinya di suatu tempat," kata Ace. Sambil menyantap makanannya, Ace sesekali memberikan irisan dagingnya ke piring Fawn. Ace merasa, Fawn lebih membutuhkan makanan tersebut sekarang. Mengingat dia sangat kurus dan lesu.
"Menenangkan diri? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Fawn sedikit cemas.
"Ini pertama kalinya Margot ke pemakaman setelah meninggalnya orang tua kami. Kupikir datang ke sana membawa memori tidak menyenangkan di otaknya, jadi yah..., lupakan saja."
__ADS_1
"Aku tidak tau sama sekali," gumam Fawn. Ia merasa sedikit bersalah. Jujur saja, saat melaksanakan pemakaman ibunya, Fawn tidak mengira akan banyak orang yang datang. Ia bahkan melihat Jem di sana. Lalu Margot, wanita yang ia kenali sebagai sosok yang sangat egois tersebut turut hadir. Padahal Lilian bukanlah sosok yang mereka kenali.
"Sudah wajar bila kau tidak tau. Margot juga bukan tipe wanita yang akan menceritakan kelemahannya pada orang lain."
Fawn menghela napas berat. "Tapi..., tetap saja. Aku merasa aku sudah memaksakan dirinya untuk datang ke sana."
"Margot datang karena dia tau momen ini sangat penting untukmu. Dia menghormatimu dan peduli padamu. Dia tidak melakukannya karena terpaksa. Lagian, apa kau pikir ada orang di dunia ini yang mampu memaksa Margot untuk melakukan sesuatu?"
Yah, itu memang ada benarnya.
"Aku juga melihat Jem di sana," ungkit Fawn sekali lagi.
"Well, jika itu menyangkut Jem, kau tidak perlu mempertanyakan apa pun. Itu mungkin hanya kebiasaannya untuk selalu berusaha tampil baik di depan orang lain. Kau dan aku sekarang adalah orang yang menguasai Hearts, sudah sewajarnya dia menunjukkan kepedulian pada atasannya."
Saat itu, kata-kata Ace membuat Fawn mengerutkan keningnya bingung. Sesuatu tentang kau dan aku, seakan dirinya terlibat dalam kepemimpinan Ace membuat Fawn merasa heran. Meskipun ia mencintai Ace, Fawn tidak merasa kalau apa yang Ace miliki adalah miliknya juga. Namanya tidak perlu disandingkan di sana. Jem juga tidak perlu menaruh kepedulian besar padanya.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Fawn ingin mengutarakan isi kepalanya, tapi menahan diri saat ia menatap wajah Ace yang berbinar ceria. Lupakan masalah Jem, Fawn tidak tertarik membahas apa pun sekarang. Bisa menyantap makan siang dengan Ace di sampingnya sudah lebih seperti berkah untuk Fawn.
"Aku juga merasakan yang sama. Oleh karena itu, makanlah yang banyak dan cerialah. Aku akan sangat senang bisa melihatmu kembali tersenyum seperti sedia kala."
"Aku pikir aku hanya akan bisa kembali tersenyum bila semua masalah yang berkaitan dengan Evan terselesaikan..." Fawn bergumam lirih kepada dirinya sendiri.
Ia tidak bisa menemukan ketenangan bila ia menyadari kalau seseorang di luar sana masih bernapas dan menjadi ancaman untuk Ace-nya. Ia tidak bisa membiarkan Evan Caspian dan Anggara Rashid bebas setelah nyaris mencelakai Ace. Fawn ingin melakukan sesuatu..., sesautu yang mampu menebus dosanya.
Sesuatu yang hanya ia mampu lakukan.
Fawn tersenyum tipis saat satu irisan daging kembali Ace sodorkan ke bibirnya. Ia membuka mulut dan menyantap suapan Ace dengan suka-cita.
"Malam ini..." kata Fawn setelah berhasil menelan makanan di mulutnya.
"Ya?" Ace mendongak dengan sepasang iris kelamnya yang berbinar tenang. Ia menatap Fawn--menunggu lanjutan ucapan gadis itu yang terjeda di tengah jalan.
__ADS_1
Fawn ingin mengatakan apa yang hendak ia lakukan. Bahwa, ia ingin memusnahkan Anggara malam itu juga. Tapi, memperhatikan Ace yang masih menunggu ucapannya dengan seulas senyum yang menenangkan, Fawn meragu untuk mengakui niatnya. Fawn merasa saat itu juga, Ace akan menolak apa yang ia inginkan. Meskipun sebelumnya Ace mengatakan ia tidak keberatan pada keputusan Fawn, Fawn merasa Ace mampu mengubah pikirannya dan mencegah ia melakukan apa yang harus ia lakukan.
Fawn tidak mau itu. Ia tidak mau Ace mencemaskannya dan membatalkan segala tekadnya untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.
"Fawnia?"
Fawn berakhir menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa."
Ace menatap Fawn lama, mempertimbangkan apa yang sedang Fawn pikirkan. Haruskah ia menyudutkan gadis itu bicara, atau haruskah ia membiarkannya untuk sementara? Ace memikirkan keputusannya untuk beberapa waktu, tapi memutuskan untuk bungkam hingga akhirnya makan siang itu berakhir.
Hanya ketika malam datang, ketika angin berembus cukup kencang dari jendela balkon yang terbuka, Ace menyadari apa maksud keheningan Fawn tadi siang. Gadis itu menghilang.
"Carcel," panggil Ace kepada bodyguard-nya yang menunggu di luar.
"Ya, Bos."
"Apa Rio masih mengikuti Fawn."
"Masih, Bos."
"Katakan padanya, jangan menginterupsi apa pun yang Fawn lakukan." Carcel duduk di tempat tidur dan menyilangkan kakinya. "Biarkan dia bersenang-senang dan melampiaskan kesedihannya sekarang."
"Tapi, Bos. Bagaimana bila ia menghadapi bahaya di dalam prosesnya?"
"Fawn tidak mempunyai kelemahan sekarang, selain aku mungkin..., tapi dia tidak perlu mencemaskanku. Dalam arti lain, dia tidak terkalahkan sekarang." Ace menuturkan kata-kata itu tanpa kecemasan sama sekali. Mengesampingkan fakta kalau ia memang mempunyai penilaian tinggi terhadap Fawn, Ace juga merasa membalas dendam adalah hal yang sangat Fawn butuhkan sekarang.
Fawn butuh melepaskan dendam yang melekat di dadanya, tidak peduli apa pun alasan yang ia gunakan untuk merasionalkan keputusannya. karena..., bila Fawn tidak melakukannya, ia akan membusuk seperti Margareth.
"Apa baik-baik saja membiarkan Fawn menyingkirkan keluarga Rashid, Bos?"
"Ini bagus. Dengan musnahnya Anggara, Fawn tidak akan mempunyai ikatan apa-apa dengan siapa pun di dunia."
...Dia hanya akan menjadi milikku, hanya mengetahuiku dan hanya akan berantung kepadaku....
__ADS_1
...----------------...