DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
39. BELENGGU HARAPAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Aku berdiri di dalam ruangan yang sangat baru dan asing bagiku. Cat dinding yang berwarna ungu redup dan lampu kamar yang berkedip-kedip dengan berwarna merah muda neon membuat kepalaku pusing. Jika saja ruangan ini tidak memiliki tempat tidur besar berseprei hitam di ujung ruang, aku mungkin akan mengira ruangan ini adalah lantai disko.


Sialan, kenapa kamar nona Margot sangat suram?


"Selamat bergabung dengan kami, Fawn." Vera muncul di sampingku dan menggantungkan sebuah selimut tebal di pundakku. "Bos Margot biasa berada di ruangan dalam suhu rendah, aku harap kau terbiasa dengan atmosfir suram ini."


Apa dia begitu terobsesi pada kematian sampai dia memperlakukan kamarnya seperti peti mati? Aku ingin melarikan diri dari kesuraman ini.


Seseorang..., Vera, tolong bawa aku pergi!


"Kalau kau mau, kau bisa memakai minyak aromaterapiku, ini bagus untuk mencegah masuk angin." Vera menyerahkan sebuah minyak angin kepadaku. Sekarang aku tidak heran lagi mengenai alasan mengapa tubuh Vera selalu beraroma seperti dedaunan herbal.


"Tidak perlu, terima kasih." Aku melangkah di atas karpet bulu tebal yang kelembutannya menggelitik kakiku. "Apa kamar nona Margot selalu seperti ini?"


"Huh, yaa. Ini tidak seberapa. Kalau kau melihat apartemennya, kau mungkin akan tersedak ketakutan." Vera dan aku melenggang menuju tempat tidur di dekat jendela kaca. Aku duduk di atasnya sementara Vera bersandar di pintu kaca tersebut. Vera terlihat maskulin dalam kemeja putih dan celana hitam, penampilannya saat itu mengingatkanku pada penampilanku dulu. Aku agak iri.


"Apa bosmu itu sudah kehilangan kewarasannya atau dia hanya berkepribadian ganda?" tanyaku, karena jujur saja, terkadang aku melihat nona Margot sebagai wanita yang elegan dan menakutkan. Dia tidak terlihat seperti wanita sinting yang mendekor kamarnya seperti rumah hantu.


"Hahahaa, benarkan...? Aku juga kadang bertanya-tanya hal yang sama." Vera tertawa ringan.


"Dia menjadi sangat asing di mata kami, dan itu menyedihkan sebenarnya. Bos Margot sebelumnya adalah perempuan yang anggun dan baik hati, tapi setelah kematian orang tuanya, dia menjadi seperti yang kau lihat sekarang. Tidak ada jalan kembali, kurasa."


"Kematian orang tua mereka, apa kau sudah bekerja di sini sejak saat itu, Ver?"


Vera mengangguk. "Aku termasuk pengawal lama di sini, bersama Carcel dan David. Fabian masuk setahun setelahku dan yah..., aku bisa dibilang menyaksikan semuanya."


"Ah, lalu..., menurutmu..., apa itu benar-benar pembunuhan?" Entah mengapa, aku jadi penasaran pada kasus itu.


"Aku tidak punya pendapat spesifik dalam hal itu karena hanya sedikit pengawal yang mengetahui informasi menyangkut penyelidikan kecelakaan tersebut. Aku--kami dan pengawal lain tidak dibiarkan terlibat demi mencegah informasi bocor. Tapi..., kalau dipikir-pikir, bila bos Margot sampai kehilangan kewarasannya karena kasus ini, tidakkah kau akan merasa memang ada sesuatu yang terjadi?"


"Yah, itu mungkin benar..." Seperti yang Ace katakan, dia tidak mungkin terjebak di tempat ini kalau bukan karena alasan yang jelas. Kematian orang tua mereka, bila itu benar-benar pembunuhan dan keluarga Rashid dan Caspian yang menjadi tersangka, siapa di antara mereka yang mampu melakukan tindakan keji itu?


"Lupakan masalah bos Margot, apa kau mau memakan sesuatu?" Vera membuka pintu balkon tempatnya bersandar. Cahaya matahari siang yang diblokade oleh stiker kaca berwarna hitam akhirnya masuk ketika pintu itu terbuka. Aku akhirnya mampu melihat wajah Vera dengan warna normal selain merah muda.


"Oksigen.." kata Vera menghiburku. "Bos Margot jarang berada di kamar. Kalau kau tidak nyaman dengan suhu ruangan dan pencahayaannya, kau bisa membuka jendela."

__ADS_1


"Baiklah."


"Jadi..., makanan?"


"Oh, aku akan memakan apa saja." Aku sedang tidak dalam mode pilih-pilih makanan karena aku sedang memikirkan tindakan Ace tadi pagi.


Pria itu nyaris membunuhku, tapi berkat nona Margot, aku masih hidup sampai sekarang. Aku tidak tau apakah aku harus sedih atau gembira karena masih bernapas? Apakah aku harus berterima kasih atau marah, aku tidak tau. Yang kutau, aku hanya merasa hampa. Aku mengingat kembali wajah kecewa Ace saat dia mendengar ucapan nona Margot. Dia terlihat sedih.


Apa yang pria itu lakukan sekarang? Apa dia akan lebih baik dengan aku yang tidak berada di sekitarnya lagi?


Apa misiku dalam membuatnya bosan sudah benar-benar berhasil? Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Membuat nona Margot bosan padaku dan membunuhku?


Itu bagus tapi aku tidak tau bagaimana cara membosankan nona Margot. Dia juga bukan tipe wanita yang peduli pada keberadaanku sejauh ini. Yah, dia mungkin berotasi di sekitarku dengan kegilaannya. Memulai karoke, menonton drama bahkan bermain monopoli dengannya, tapi..., segala kegilaan itu dia lakukan untuk dirinya sendiri. Nona Margot, dia tidak benar-benar peduli pada keberadaanku. Aku tau karena aku tidak tolol!


Daripada membuatku tidak nyaman, kurasa nona Margot hanya berusaha menunjukkan padaku kalau dia tidak berbahaya. Dia menunjukkan dia gila tapi sepasang mata hitam yang mirip dengan mata Ace itu jelas sekali menunjukkan sisinya yang manipulatif. Dia penipu ulung.


"Uh, ini melelahkan..." Jemu pada beban pikiran yang mulai menumpuk, aku pun berbaring di tempat tidur. Aroma tajam parfume yang seperti tumpah di tempat tidur itu membuatku meringis ngeri. Aku bersin beberapa kali sebelum akhirnya terlelap tidur kembali.


Tempat ini memang tempat terkutuk!


...----------------...


Suara nona Margot samar-samar memenuhi ruangan. Aku yang tertidur dalam dekapan selimut tebal, membuka mata dan melihat wanita itu mondar-mandir di tengah kamarnya. Meluruhkan satu persatu pakaian yang dia kenakan dan menjatuhkannya sembarangan.


Aku membuang muka tidak nyaman.


"Aku yang memutuskan apakah informasi itu bermanfaat atau tidak, Dave. Pokoknya berikan aku informasi detail menyangkut si keparat itu, ini sudah 2 minggu. Kalau kau tidak mau menyusul Fabian ke pemakaman, pastikan misimu berjalan dengan benar, sialan!"


Nona Margot hendak melempar ponselnya ke tempat tidur ketika dia menyadari keberadaanku. Ponsel yang berada di ujung tangannya jatuh ke lantai. "Kau di sini?"


"Ya?" Apa dia lupa kalau dia yang memintaku untuk tinggal bersamanya?


"Ah, benar juga. Aku lupa." Nona Margot menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa. "Bagaimana kamarku? Apa kau suka?"


"Huh, yaa..., ini sangat unik." dan mengerikan.


"Aku berpikir lebih baik di dalam ruangan gelap, jadi aku mendekornya seperti ini. Kau tidak perlu berbasa-basi dan menghiburku dengan kebohongan. Vera sudah mengatakan berapa kali padaku untuk aku mengganti cat kamarku, tapi aku tidak peduli pada perempuan cerewet itu."


"Yaaah, ini memang terasa sangat tidak nyaman dan menyakitkan mata..., tapi ini adalah kamarmu. Kau berhak melakukan apa yang ingin kau lakukan di sini. Aku..., sebagai orang asing di sini, tidak berhak memberikan penilaian apa yang baik dan tidak untukmu."

__ADS_1


Yah, lagipula setiap orang punya preferensinya masing-masing. Kamarku di asrama dulu pun sangat berantakan dan kotor tapi aku nyaman di dalamnya, aku tidak berhak menyuruhnya mendekorasi kamarnya menjadi sebersih kamar Ace yang tanpa perabotan apa pun.


"Kalau kau terus berbicara sehalus itu, bagaimana bisa kau berharap Ace bosan padamu?" Margot selesai mengganti pakaiannya dengan piyama satin hitam yang mengkilat di bawah cahaya neon merah muda itu. Dia kemudian menuju meja rias dan menyisir rambut hitam tebalnya.


"Benar-benar, aku banyak pikiran dan Ace dengan perubahan suasana hatinya sangat tidak membantu sama sekali."


"Kau seharusnya tidak menghentikan Ace tadi pagi," kataku.


"Dan membiarkanmu mati? Apa kau yakin sangat siap untuk mati?"


"Kurasa..., aku cukup siap."


"Apa kau tidak ingin membalas dendam pada Ace? Memenggalnya dan membuat dia terbakar di neraka?"


Mendengar pertanyaan Margot, tentu saja ada waktu ketika aku memikirkan kematian Ace. Ketika sendirian dan bosan di kamar Ace, aku kadang mengkhayalkan kematian Ace. Berpikir seperti apa dia wajib tersiksa sebelum mati semacam itu. Tapi seiring berjalannya waktu..., dendamku luntur menjadi keputus-asaan. Sekarang, aku hanya ingin lepas dari sini. Hidup atau mati.


"Aku..., aku tidak tau." Aku menjawab lesu. Mungkin karena aku baru bangun tidur.


"Heeeh, kau sangat mirip dengan Ace. Pantas dia menyukaimu."


"Apa maksudnya?"


"Kalian tidak punya ambisi sama sekali." jawaban Margot membuatku terdiam. "Apa kau tau..., ketika orangtua kami mati, Ace tidak meneteskan air mata sama sekali. Dia tidak sedih dan tidak berduka, kupikir dia baik-baik saja pada fakta itu. Dia tidak merasakan dendam pada kematian orang tuaku."


"..."


"Aku bahkan harus berlutut di kakinya agar dia membantuku. Menaruh nyawaku di atas meja bila itu berarti baginya. Aku melakukan apa pun semata-mata agar dia mampu melakukan apa yang dia lakukan sekarang."


"Apa kau tidak mengasihaninya?"


Menjadi hebat dan luar biasa bukanlah salah Ace sama sekali, tapi karena kelebihan itu dia dimanfaatkan oleh saudaranya sendiri. Memikirkan kalau pria itu harus terkurung di tempat ini semata-mata demi memenuhi ambisi saudaranya, aku sedikit iba. Dia mungkin mempunyai kehidupan yang ia idam-idamkan juga.


"Jika aku mengasihani Ace, maka aku akan kalah." Margot menatapku di pantulan cermin. Sepasang matanya dingin tanpa ekspresi. 


"Aku harus menemukan siapa pun itu yang membunuh orang tuaku, Fawn. Aku hidup sampai sekarang hanya untuk itu."


Bahkan bila itu berarti melucuti kebebasan adiknya, Margareth Hunter tidak akan merasa berdosa.


Keluarga ini sangat gila.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2