DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
105. SEBUAH KEBETULAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Kau sebaiknya berhenti bekerja, Fawn."


Vita Morgan, seorang wanita yang baru selesai menuangkan teh ke cangkir kaca itu duduk berseberangan dengan Fawn.


Vita melayangkan opininya tepat setelah Fawn memberikan sedikit cerita tentang Ace yang mengurungnya dan memanfaatkan nyawa Vita sebagai kelemahan Fawn. Tentu saja, Fawn tidak menceritakan semua bagian. Ia masih menutup identitas Ace dengan menyebutnya sebagai 'Seorang pria'.


Fawn hanya meminta maaf kepada Vita, karena sudah melibatkan wanita itu ke dalam bahaya.


"Tidak ada kemanusiaan di tempatmu bekerja." lanjut Vita lagi. "Aku bukan mengatakan ini karena nyawaku sempat menjadi pertaruhannya, aku mengatakan ini sebagai manusia waras. Aku memberikanmu pendapat objektif dan rasional."


Fawn hanya bisa menatap pantulan cahaya lampu cafe di dalam cangkirnya. Fawn tidak bisa berkomentar, tidak ketika Vita berkoar-koar panjang lebar.


"Ada banyak pekerjaan yang dapat kau lakukan di luar sana. Kau tidak perlu mengorbankan kehidupanmu hanya untuk balas budi. Dengar..., bukannya aku menyuruhmu menutup mata pada kebaikan keluarga Rashid, damn, aku tidak akan mengatakan itu. Tapi, Fawn..., ini sudah kejauhan." Vita menaruh tangannya di atas meja, mata menatap Fawn dengan keseriusan.


"Kalau kau ingin membalas budi, lakukan dengan aman. Akan lebih baik bila kau bekerja sebagai pelayan yang mencuci ****** ******** daripada menjadi ini..., kau adalah perisai hidup, Fawn. Apa kau sadar itu?"


"..."


"Dan setelah semua yang terjadi, kau masih mengantar dirimu ke sana? Menjadi loyal dan menjadi bodoh adalah dua hal yang berbeda. Jika aku di posisimu, aku akan mengundurkan diri sedetik setelah mereka menyuruhku memakai gaun pengantin itu. Lihat mentalmu sekarang? Apa ada yang peduli padamu ketika kau menghilang 3 bulan itu? Kau melarikan diri dari tempat mengerikan itu sendirian, Fawn. Bosmu kaget saat tau kau masih hidup. Mereka bukan manusia!"


Jujur saja, apa yang diucapkan Vita adalah kebenaran. Fawn mengakui, ia sempat menyumpah-serapahi Anggara ketika lima hari di kediaman Hunter dan ia belum mendapat pertolongan apa pun. Fawn pernah menyesal. Dia menangis dan menyesal saat memikirkan kembali misi yang dia jalankan.


Fawn bukan gadis tangguh. Dia hanya gadis yang pandai berkelahi, dia menangis ketika siksaan di rumah Ace tidak mereda, ia putus asa, ia menderita. Fawn merasakan berat luar biasa ketika ia harus menyiksa manusia lain, melukai manusia lain, demi pekerjaannya.


Semua itu bar-bar dan tidak bermoral.


Fawn jujur saja tau kalau jalan terbaik untuk menemukan kedamaian adalah pergi dari neraka pekerjaannya dan menepi ke sisi lain benua. Dia bisa menjadi nelayan, menemukan ketenangan di laut dan gelombang. Dia bisa belajar pengalaman hidup baru dan beristirahat alih-alih bangun pagi dan memakai jas hitam yang membuatnya terlihat sama dengan ratusan pengawal lain.


Fawn bisa memilih jalan pintas yang aman tapi..., lagi, semuanya tidak mudah.


"Aku tidak bisa, Vita." Fawn tidak bisa membuang muka dari pria yang sudah menyelamatkan hidupnya. Menyelamatkan ibunya dan dia dari keterpurukan bernama penyakit dan kemiskinan.


"Seperti yang aku katakan, keluarga Rashid..., mereka adalah tali yang menyelamatkanku dari neraka kehidupanku yang sebelumnya. Aku..., tidak, bahkan nyawaku tidak cukup untuk membalas kebaikan mereka."


"Kau terlalu terikat kepada mereka, Fawn. Ini sudah seperti kutukan." Vita bersandar di bangku aluminium yang dia duduki. Kepalanya menggeleng-geleng jengah atas jawaban Fawn yang tidak akan pernah ia pahami.


Seorang pelayan datang dan menyerahkan sepiring apple pie yang masih hangat ke hadapan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Fawn sebelum kembali menatap Vita.


"Aku tau kau mencemaskanku, dan aku berterima kasih atas kepedulianmu, sangat-sangat berterima-kasih, Vita. Tapi...,"


"Tidak perlu mengatakannya, aku sudah tau kau tidak akan mendengarkanku."


Fawn menghela napas. "Aku perlu melakukan ini. Mereka adalah pahlawan di mataku. Mereka juga orang-orang baik. Kau akan paham ketika kau tau sebaik apa tuan Anggara aslinya. Nona Indira juga..."


"Mereka hanya tidak punya alasan untuk menjadi buruk kepadamu, Fawn. Kau..., kau bilang kau sempat ditangkap orang jahat, bukan? Orang jahat yang kau temui itu adalah tuan Anggara-mu bila dia bersama musuhnya." Dalam arti kata lain, mereka sama saja.


"Kau harus memikirkan keselamatanmu, aku serius. Kau sudah pernah tertangkap, kau tau bagaimana buruknya orang-orang itu. Kau, Fawn, paling tau kalau tidak ada masa depan di pekerjaanmu yang sekarang. Jangan pernah membiarkan dirimu mati...,"


"..."


"Ketika kau mati, mereka akan mendapat pengganti dalam sekali jentikan jari, tapi Ibumu..., dia tidak akan mendapatkanmu kembali. Dia akan menua seorang diri dengan uang tunjangan yang dapat habis dalam hitungan bulan."


"..."


"Fawn, apa kau mendengarkanku?"


"Aku mendengarkanmu, Vita. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk bertahan."


...----------------...


Fawn pikir, malam itu dia akan kembali ke kamar, mandi dan langsung beristirahat. Ia tidak berpikir kalau jalan pintas yang ia pilih membuatnya bertemu dengan seorang pria yang cukup mengejutkannya--berada di sana.


"Selamat malam, tuan." Fawn membungkuk dalam-dalam saat melihat sosok tinggi Maximillian sedang bersantai di ruang peristirahatan yang--sebenarnya--jarang dipakai. Pria itu duduk di sofa tunggal yang berbentuk seperti bangku kebesaran seorang kaisar atau raja. Menghadap kepada jendela teras yang terbuka, menatap kepada rembulan yang menggantung rendah di langit.


"Siapa kau?" Max bertanya, cukup heran kepada penampilan Fawn yang cukup casual.


"Aku adalah bodyguard nona Indira." Fawn mengaku, kepala masih membungkuk dalam.


"Oh, benar..., sudah tiga hari aku di sini, dan aku belum bertemu dengan menantuku sama sekali."


Nona Indira dikurung di kamar tuan Evan, adalah kata yang ingin Fawn ungkapkan. Tapi dia menahan lidahnya dari dipotong dan hanya diam di sana seperti orang bisu.


"Apa kau tidak bekerja hari ini? Kau memakai pakaian yang cukup..., berbeda?"


"Sebenarnya hari ini adalah hari liburku," jawaban Fawn membuat Max mengangguk-angguk kecil.


"Libur, kah?" kata-kata itu keluar dari bibir Max seperti ketabuan. Ia merasa janggal di lidahnya, dan itu mau membuatnya tertawa. "Jadi, apa kau berlibur hari ini?"

__ADS_1


"Be-begitulah." Fawn tidak tau apa yang salah. Kenapa Max tersenyum mendengar perkataannya.


"Benar juga, aku baru sadar kalian adalah manusia." Ucapan Max berikutnya membuat Fawn terdiam.


Fawn agak tersinggung oleh ucapan Max. Tapi karena perbedaan status yang sangat menjulang, ketidaksenangan yang jantungnya rasakan hanya mampu ia simpan dan tanam dalam-dalam di dadanya. Fawn tidak mau mati di sana karena sudah menunjukkan kompas moral kepada seorang Caspian.


"Maaf sudah mengganggu istirahatmu, tuan Max. Aku akan kembali ke kamarku."


"Secepat itu?"


"Ya?"


"Kau masih punya beberapa jam lagi sebelum jatah liburmu berakhir. Apa kau yakin ingin menghabiskannya di kamar?"


Max menyilangkan kakinya dengan elegan, sebuah rokok yang menyala terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. "Siapa namamu tadi?"


"Fawnia Alder, tuan Max."


"Fawnia, seperti rusa?" Max meninggikan sebelah alisnya. Wajah pria itu benar-benar mirip dengan Evan, Fawn merasakan kekesalan yang sama yang dia rasakan saat melihat Evan, ketika ia melihat wajah Max.


"Begitulah." sahut Fawn lagi. Seperti robot.


"Apa kau tau cara bermain catur, Fawn?"


"Sedikit." Fawn ingat belajar tentang permainan papan itu di rumah Ace.


Ketika Haru memberikannya beragam mainan yang dapat membuang kebosanannya, catur adalah salah satu dari sekian banyak mainan yang Haru berikan. Fawn ingat kalah berkali-kali saat melawan Margot.


"Temani aku bermain, kalau begitu."


"E-eh? Tapi aku tidak hebat sama sekali, tuan Max." Fawn agak panik. Tidak, dia tidak panik karena harus melawan Max dalam permainan catur, Fawn agak panik karena harus bersama dengan Max lebih lama lagi.


Pria itu adalah ayah dari atasannya, ya ampun. Dia adalah orang yang mendidik Evan Caspian menjadi Evan yang sekarang. Fawn tidak merasa terlibat dengan pria itu adalah pilihan yang tepat.


Dia berbahaya.


"Jangan sungkan, Fawn. Ini hanya sebuah permainan untuk melepas kebosanan."


Fawn menggigit bibir bawahnya, menahan kegelisahan dengan seulas senyum dan anggukan. "Baiklah, tuan Max."


Semoga saja dia tidak mati ketika Max bosan melawannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2