
...ACE pov...
.......
.......
.......
Paman Jack berdiri ketika aku muncul di depan kamar apartemen Margot. Dia mendekapku dan mengusap punggungku. Belasan bodyguard berdiri di dalam ruangan, menatapku dengan kegugupan.
"Syukurlah kau sudah datang." kata paman Jack. "Margot menunggumu."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Dia tidak terluka, tapi masih syok."
Mendengar ucapan paman Jack, aku mengusap wajahku keras. Aku tau, berada di posisi paling tinggi mengeksposku kepada bahaya yang mengintai di mana-mana. Tidak hanya aku, orang-orang yang berharga bagiku juga akan menanggung risiko yang sama.
Aku tau risiko dari pekerjaanku, tapi setiap kali aku mendengar Margot terancam, aku ingin melepaskan semua yang berada dalam genggamanku sekarang. Aku tidak menginginkan dia dalam bahaya, demi Tuhan!
Andai saja aku bisa bebas dari rantai yang membelengguku sekarang.
"Margot?" Aku memasuki kamar Margot dan menemukan dia duduk di atas tempat tidur. Surai panjangnya yang biasa jatuh indah di pundak, tergulung acak-acakan. Sepasang manik hitamnya hampa. Ia terbenam dalam pikirannya sendiri sampai aku memutuskan menarik dia kembali ke realita.
"Margot?" panggilku sekali lagi, kali ini sambil menyentuh lengannya lembut. "Apa kau baik-baik saja?"
Margot mengerjap beberapa kali, merilekskan otot wajahnya sebelum menatapku di muka. "Kau datang."
Margot tersenyum dan mendekapku.
"Aku lega kau baik-baik saja." Aku balas memeluk Margot erat. Menenggelamkan ia di dadaku sementara aku menghujani rambutnya dengan kecupan ringan. "Maafkan aku, semua ini karenaku."
Jika bukan karena aku, situasi ini tidak mungkin terjadi. Aku gagal melindunginya.
"Jangan menyalahkan dirimu, situasi ini terjadi karena ada biadab yang ingin menghancurkan kita." Margot melepaskan dekapannya dan mengambil jarak.
Ia menatapku dengan ketenangan. Sepasang matanya yang tegas dan tajam mengingatkanku kalau di sini, di antara kami, dia adalah sosok yang lebih tua dariku. Dia bukan seorang adik dan bukan gadis lemah yang mengharapkan simpati.
Aku lemah di hadapan Margot. Jantungku sakit ketika aku melihatnya menjadi sangat kuat. Dia seharusnya berbahagia, dia seharusnya tertawa. Dia yang sekarang menatapku dengan ketajaman dan kengerian bukanlah Margot yang kuinginkan.
"Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak tadi," Margot tidak membiarkanku mengasihinya, dia menjangkau sebuah kertas dari laci dan melemparnya ke arahku. "Aku menemukan ini di kabin berburu ayah."
Sebelum membicarakan apa yang kau temukan di kabin berburu ayah, kau seharusnya menjelaskan kenapa kau pergi ke kabin ayah, bukan? Margot, Margot. Mengapa kau melakukan penyelidikan sendirian?
__ADS_1
"Apa ini?" Aku menelan kekesalanku dan membuka amplop cokelat yang dia berikan.
Setumpuk fotoku dan foto Margot di masa lalu mengisi amplop itu. Dari sudut pengambilan gambar, foto-foto itu diambil dari jarak yang jauh dan tanpa sepengetahuan kami sama sekali. Aku masih 20 tahun di foto itu dan Margot baru menyelesaikan kuliahnya.
"Aku pikir seseorang mengirimkan ini pada ayah."
"Huh?"
Margot meletakkan tangannya di tanganku, wajah penuh kesungguhan. "Aku pikir mereka mengancam ayah menggunakan keselematan kita."
"Tunggu," hentiku.
Aku tidak ingin gegabah dalam membuat asumsi. Setidaknya, butuh penjelasan akurat mengapa foto-foto ini ada di sana dan mengapa kami baru menemukannya sekarang? Bukankah seminggu setelah orang tua kami meninggal paman Jack sudah memerintahkan setiap orang untuk melakukan penyelidikan.
"Di mana tepatnya kau menemukan foto-foto ini Margot?"
"Kau ingat tempat ayah biasa menyembunyikan minumannya?" Margot mengungkit sebuah peti cokelat yang terletak di bawah kabinet kerjanya. Peti itu berisi minuman mahal koleksi ayah, aku ingat pernah berburu sendiri di sana setelah kematian ayah dan tidak menemukan apa-apa selain alkohol di dalam peti itu.
"Ada sebuah celah..." jelas Margot kembali. "Di bawahnya, aku menemukan sebuah ruang rahasia berisikan foto-foto ini juga..."
"Juga?"
"Foto ini berada dalam sebuah amplop dengan lambang Spades."
"Spades?" Pikiranku seketika lari kepada keluarga Indira dan Anggara.
Aku tidak tau harus senang atau bimbang dengan keberadaan foto itu. Jujur saja, aku masih belum bisa merasakan lega. Aku tidak tau mengapa keluarga Spades mengirimi foto pengintaiannya tentang kami? Mengapa mereka mencantumkan simbol keluarga mereka dengan tololnya? Apakah ini peringatan seperti yang Margot ucapkan, atau jebakan? Terlalu banyak hal yang muncul di pikiranku.
"Aku akan memikirkan ini nanti. Terima kasih." Aku menutup kembali amplop di tanganku. "Sekarang, bisa jelaskan kenapa kau mengunjungi kabin ayah?"
"Aku sedang merindukan ayah jadi aku mampir ke sana."
Aku menatap Margot dan mengusap keningku keras. Aku merasa pundakku semakin berat. Margot dan kesedihannya yang tak berujung membuatku semakin frustasi. Aku tidak tau cara menyembuhkan hatinya yang terluka selain dengan melubangi kepala pelaku yang sudah melenyapkan orang tuaku. Aku ingin dia kembali berbahagia!
Aku menelan frustasiku lagi, menghela napas dan memaksakan diri tampil kuat di depan Margot.
"Lalu, apa yang terjadi di bawah?" Maksudku adalah penyerangan yang terjadi pada Margot barusan. Aku mendengar kalau mobilnya diledakkan. Untungnya, Margot belum mencapai mobil itu sama sekali. Hanya seorang pengawal yang terluka karena dia mencapai mobil itu duluan.
"Paman Jack sedang menyelediki situasinya." Margot menghela napas panjang. "Situasi menjadi lebih rumit sekarang. Semenjak Spades dan Clubs menjalin kerja sama, orang-orang yang sempat takut pada kita kembali menampakkan taring mereka. Hanya Tuhan yang tau siapa dari sekumpulan bajingan itu yang berusaha melenyapkanku."
"Ini tidak bisa dibiarkan lagi, Mar. Aku sudah memutuskan, mulai besok kau harus kembali tinggal bersamaku." Ucapanku membuat Margot seketika melebarkan mata. Kendati aku lebih muda darinya, aku tau kalau hati Margot lebih rapuh.
Semenjak kematian orang tua kami, Margot tidak mau tinggal di rumah karena itu memperburuk kesehatan mentalnya. Psikolog yang bekerja untuk keluarga kami menyarankan Margot untuk menenangkan dirinya di tempat yang jauh. Di sini, di apartemen ini.
__ADS_1
Awalnya aku menoleransi situasi itu karena kupikir semuanya demi Margot, tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak bisa membiarkan dia sendirian. Terlebih ketika ada banyak musuh yang berusaha menyingkirkan kami.
"Ace, kau tau aku tidak bisa..." Margot hendak memprotesku. Suaranya penuh keberatan.
"Aku tidak menerima penolakan, Mar. Aku akan meminta Felix menyiapkan segala kepindahanmu." Aku berdiri dan merapikan jasku. "Aku tunggu kau di rumah besok pagi."
Setelah mengatakan hal tersebut, aku pun keluar dan membawa Carcel menuju lokasi pengeboman mobil Margot. Aku perlu mengecek situasinya sendiri.
...---...
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat ketika aku kembali ke rumah. Keramaian ada di mana-mana akibat persiapan kembalinya Margot. Aku yang tidak tidur semalaman semakin pusing mendengar kebisingan mereka. Tanpa perlu melakukan pengecekan apa pun, aku melirik Carcel yang masih tampil tegas kendati dia juga tidak tidur sama sekali.
"Kau bisa beristirahat hari ini," kataku, memberikan Carcel libur hari adalah pilihan yang tepat mengingat dia adalah kepala bodyguard yang menjagaku. Aku tidak mau dia dari semua orang--kehilangan tenaga dan fokusnya.
"Baiklah, Bos." Carcel mengangguk dan berhenti mengekoriku.
Aku lalu lanjut melangkah dan menemukan Ozan menenteng beberapa baju yang dari warnanya--merupakan pakaian Margot.
"Selamat datang, Bos." Ozan menyengir sopan.
Aku mengangguk dan melirik ke arah ruang tengah yang hanya ramai oleh orang-orang berlalu-lalang. "Di mana Margot?"
"Nona Margot sudah datang dan pergi lagi untuk shopping."
"Oh." Aku bertanya-tanya perihal macam apa yang perlu dibeli Margot, mengingat segala pakaian dan aksesoris yang ia kenakan tidak memiliki warna selain hitam.
"Lalu, siapa yang menjaga rusaku?" Aku kembali bertanya setelah aku menangkap sosok Felix yang sibuk mengganti tirai pintu.
"Rusa? Oh.., ya. Ahahahaha. Aku menugaskan Haru untuk menemani nona Fawn."
Haru? Aku berusaha mengingat wajah laki-laki bernama Haru itu. Haru, Haru? Dari nama itu, aku memanggil ingatan tentang laki-laki polos yang mendaftar sebagai pekerja di sini lantaran dia tidak punya cukup uang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia sedikit mirip dengan Fawn yang lugu. Hanya saja, jika menyangkut pekerjaan, Haru lebih pandai dalam memisahkan emosi dan profesionalitasnya. Dia loyal, tapi tidak emosional. Sangat berbeda dengan Fawn yang emosinya seperti kembang api.
Setelah bertukar kata dengan Ozan, aku kembali melenggang menuju kamarku yang omong-omong, pintunya sedikit terbuka. Aku masuk ke dalamnya dan mendengarkan suara tawa ringan Fawn di dalam sana. Gadis itu tertawa? Hebat, hal macam apa yang menghiburnya sampai-sampai dia yang biasa merengut itu tertawa?
"Ehehehehehe. Terima kasih. Aku sangat suka."
Aku seketika menyela konversasi yang terjadi di antaranya dan Haru. "Apa itu yang kau sukai?"
Ekspresi cerah yang terlukis di paras Fawn memudar gelap seketika. Wajah ketusnya yang biasa kulihat kembali mengambil alih. Aku tidak tau apa yang Fawn dan Haru bicarakan, tapi melihatnya bersenang-senang tanpaku membuatku sedikit kesal. Gadis ini, apa dia lupa siapa pemiliknya? Baru kutinggal sehari dan dia sudah menggoda bodyguard-ku. Haru pula dari semua orang? Apa dia menyukai anak yang lebih muda darinya?
"Kau adalah punyaku, Fawn. Aku harap kau mengingat itu!" Aku memberikannya peringatan tajam sebelum pergi ke kamar mandi. Aku yang sudah lelah semakin kesal melihat interaksinya dan Haru. Bagaimana bisa dia mengekspos tubuhnya ke sembarang pria?
Benar-benar memuakkan.
__ADS_1
Aku akan memastikan dia mendapatkan hukumannya nanti!
...---...