DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
24. HARI BERDUKA


__ADS_3

...FAWN pov...


...----...


Margot muncul di kamar Ace dengan membawa sekotak pizza. Mengenakan kacamata hitam di malam hari, aku pikir wanita ini sudah diambang kegilaan. Sedikit dorongan, ia akan kehilangan kewarasan sepenuhnya.


"Selamat malam nona Margot," aku menyapa dia yang menaruh sekotak pizza di meja. Dua bodyguard nona Margot--David dan Vera mengekorinya dengan raut murung. Aku pikir mereka masih berduka setelah kehilangan kerabat kerja. Aku mendekati Vera dan memberikan dia pelukan ringan.


"Aku turut berduka cita," kataku sebelum beralih ke David dan memberikannya pelukan ringan yang sama.


"Terima kasih, Fawn." David menjawabku dengan suara sendu.


"Oh, mana pelukanku?" nona Margot berbalik dan melihatku dengan raut tidak tau malu. Apa dia berharap aku berlari ke arahnya dan memberikan pelukan juga?


"Haha, maafkan aku." Aku memaksakan senyum dan mendekati nona Margot yang menyambutku dengan tangan terbuka lebar. Aku masuk dalam dekapannya dan merasakan ketidaknyamanan luar biasa. Wanita ini seperti toko parfume. Aroma tajam yang menguar dari pakaian suramnya membuat hidungku gatal luar biasa.


Aku lepas dari pelukan nona Margot dan bersin-bersin seketika.


"Hidup sangat berat sekarang," keluhan nona Margot kuabaikan karena aku segera mencari tisu untuk menyumbat lendir di hidungku. Sialan, parfume macam apa yang dia pakai?


"Aku pikir bertemu denganmu akan membuat mood-ku sedikit baik, tapi apa yang terjadi di sini?" nona Margot menyorot meja Ace yang masih berantakan. Oh, bicara soal Ace--dia pergi entah kemana ketika aku tidak sengaja ketiduran menemaninya. Aku bangun-bangun dalam keadaan tubuh di bungkus selimut dan aku berada di atas tempat tidur.


"Apa Ace yang melakukan ini?"


"Begitulah," sahutku. Aku menyahut sambil memperhatikan nona Margot yang sekarang melepaskan kacamata hitamnya. Seketika, aku langsung paham apa guna kacamata hitam itu saat melihat mata sembab nona Margot.


"Ace tidak punya keterikatan kuat pada apa pun, bahkan dengan nyawa bodyguard-nya sendiri. Melihat dia mengamuk seperti ini, dia pasti sudah berkelahi lagi dengan paman Jack." Margot bicara dengan helaan napas berat. "Bahkan di hari seperti ini mereka masih berkelahi."


Aku tidak tau siapa paman Jack yang nona Margot maksudkan, jadi aku hanya menyimak dalam diam. Kami akhirnya duduk di sofa, aku duduk di tengah dan diapit oleh David dan nona Margot, sementara Vera duduk di sofa tunggal yang dekat dengan nona Margot.


"Ah, ah, lupakan saja." nona Margot mengibaskan tangan. "Lebih baik kita makan."


Vera mengambil inisiasi dan membuka kotak pizza yang sempat terabaikan. Harum aroma keju yang segar, berpadu-padan dengan aroma asam, manis dan pedas yang tak terdefinisikan, mengundang perutku berdendang. Aku seketika kelaparan, aku mengira bisa menghabiskan satu kotak pizza itu sendirian.


"Cara memperbaiki suasana hati yang muram adalah dengan menyantap makanan lezat." nona Margot mengambil irisan pertama diikuti aku, David dan Vera. Kami menyantap pizza itu dalam ketenangan sampai aku mendengar David berbicara dan memancing tangis nona Margot pecah di sana.


"Pizza adalah makanan favorite Fabian," ujar David penuh nostalgia. "Dia biasa membelikan kami pizza ketika kami sama-sama berjaga malam."


"AAAARRGHHH!!!!" Nona Margot meraung dengan suara yang seperti memanggil makhluk dari dunia lain. "David keparat, sudah berapa kali kuingatkan untuk tidak mengungkit masalah ini lagi. Apa kau sengaja menabur merica di lukaku!"


"Garam, nona Margot." Aku meralat kesedihannya.


"Apa bedanya, tolol. Kau pikir merica tidak menyakitkan?"

__ADS_1


"Ma-maafkan aku." Sialan, ingatkan aku kenapa aku masih waras setelah segala kegilaan ini? Suatu hari nanti, aku akan memberikan diriku medali emas bila aku masih bisa hidup dan masih waras setelah lepas dari rumah sakit jiwa ini.


"Fawn, apa kau tau Fabian..., Fawn??? Kau pasti tidak pernah tau karena dia meninggal satu minggu yang lalu. Kau bahkan tidak pernah melihatnya...HWAAAAA!!!" nona Margot tidak berhenti meraung, wajahnya yang basah oleh air mata membuatku kehilangan nafsu pada pizza di tanganku.


"Vera, katakan padanya tentang Fabian! Fawn perlu tau tentang betapa mulianya prajuritku!"


Vera--seperti anjing yang setia, mulai melolong tidak jelas di sofa. Isakan berpadu dengan kata-kata yang kacau balau.


"Fabian--hiks--seperti saudara sendiri kami--dia--hiks--Fabian sangat penyayang---dia sering mencuri cemilanku tapi dia--hikss---Fabian--dia bahkan mengadopsi seorang anak--AAAAHHHH!!!"


"BENARKAN!!!" nona Margot sepertinya memahami dengan baik ucapan Vera yang seperti sandi rumput, dia berdiri dan menunjuk-tunjuk Vera dengan penuh dukungan yang membara. "Fabian mengadopsi seorang anak, dia adalah malaikat! Dia seharusnya tidak mati!!! Siapa yang akan menghidupi anaknya!!!"


Aku menggaruk kepala. Kendati aku memahami kesedihan mereka dan turut berempati, aku tidak bisa tidak menahan kegelian atas tangis dan raungan mereka yang bersahutan. Aku pikir aku terlalu biasa melihat nona Indira yang anggun dan berperilaku seperti tuan puteri, aku tidak biasa melihat kebun binatang ini.


Aku menoleh ke arah David yang duduk di sisi kiriku, dia menangis tanpa suara. Tidak tau harus berbuat apa di antara lautan emosi ini, aku mengabaikan nona Margot yang masih berteriak-teriak menyampaikan aspirasi dan kekecewaannya. Aku memilih mengusap punggung David. Dia sepertinya orang yang sangat terpuruk. Mengingat posisi David sebagai pemimpin, aku mungkin akan menangis sepertinya bila kehilangan Joseph.


"Luapkan semuanya David, menangislah dengan keras dan keluarkan semua perasaan yang kau pendam." Aku bergumam lemah, "Bersedihlah, menangislah, dan kemudian..., bangkitlah. Segala kesedihan akan menemukan kebahagiaan. Kepergian Fabian mungkin akan melukaimu sekarang, tapi ingatlah dia dengan keadaan yang sangat berbahagia. Hanya dengan begitu, dia bisa tinggal di kenanganmu selamanya sebagai sosok yang paling berharga, jangan ingat kepergiannya sebagai luka."


Aku terus berbicara sampai aku tidak tau apakah aku bicara masuk akal atau hanya meracau. Tanganku terus menepuk punggung David sampai akhirnya sebuah tangan menangkap pergelangan tanganku. Menahan pergerakanku dan membuatku terkejut.


Sebuah tangan dengan jam hitam melingkar di pergelangan tangannya menarik perhatianku seketika. Tangan itu sangat familiar. Tangan yang sama yang sering menggenggam tanganku.


"Ace?" Aku berbalik dan melihat dia duduk di bahu sofa. Nona Margot yang duduk di sisi kananku sudah berpindah ke sofa tunggal tempat Vera duduk.


"Kau sepertinya spesialis untuk orang-orang yang sedang bersedih." ekspresi Ace jengkel.


"Apa ada yang salah, ya..." Ace melirik Margot sebelum menatapku dengan seringai tipis. "Tidak ada, jelas tidak ada."


Apa lagi sih masalah laki-laki sinting ini?


"Margot, keributan apa yang kau ciptakan di kamarku? Apa kau berencana membuat kamarku beraroma seperti kaos kaki bekas?" Ace mengalihkan cecarannya ke nona Margot.


"Ini pizza, Ace. Bukan kaos kaki. Jangan lampiaskan kecemburuanmu ke aku." Margot menyilangkan kaki, seolah-olah kesedihannya tadi tidak ada. Vera dan David yang tadinya dalam mode santai seketika berdiri dan bertindak layaknya bodyguard.


"Cemburu? Siapa?" Ace mengerutkan dahi.


Benar, siapa yang cemburu? Aku tidak mengerti.


"Lupakan saja," sahut nona Margot, suaranya bernada menyindir. "Anyway, kau dari mana?"


"Aku pergi membeli ini," Ace meletakkan sebuah kotak cantik dengan aroma manis yang menyegarkan ke pangkuanku. Tindakannya yang tiba-tiba membuatku agak terpana. Aku melihat isi kotak yang transparan itu dan menemukan lima buah macaron berbaris di dalamnya dengan warna-warna jelita.


"Ini untukku?" Aku terbelalak dengan kemeriahan. Hatiku seperti dihujani kembang api. Hell, aku sudah lama tidak mencicipi macaron.

__ADS_1


"Suka?" Ace meninggikan alisnya sambil menatapku.


Sebagai tanggapan dan apresiasi atas pemberiannya, aku tersenyum lebar dan mengangguk riang. Ini adalah hadiah terbaik. Aku sangat merindukan makanan manis untuk mewarnai hari-hariku yang pahit. Hahahahaha, ini sudah seperti tahun baru. Apa aku akan dibebaskan besok pagi? Kejutan dan kejutan terus datang silih berganti. Aku jadi berharap mendapatkan keberuntungan yang banyak.


"Makanlah," kata Ace lalu melabuhkan usapan lembut di rambutku. Aku tidak menggubris tindakannya dan beralih ke arah Vera dan David.


"Kalian mau?"


"E-eh?" Vera tergagap.


"Aku memberikannya hanya untukmu!" sambar Ace. Usapan lembut Ace di kepalaku berubah menjadi sentilan di dahi.


"Uh--tapi, aku tidak sendiri di sini. Makanan akan terasa lebih nikmat kalau dibagi dengan teman, apa kau pernah mendengar kata-kata itu?"


"Tidak karena itu omong kosong." tukas Ace.


"Heh, itu karena kau tidak punya teman." Aku hendak menyodorkan macaron itu kembali pada David dan Vera, tapi terhenti lagi saat Ace menarik leherku ke dalam dadanya, menekanku dan menyembunyikanku di sana dengan tekanan yang luar biasa. Sialan, apa dia sebegitu pelitnya?


Ini hanya macaron, demi Tuhan!


"Melihatmu membuatku ilfeel setengah mati," suara nona Margot sampai ke telingaku. "Vera, David, ayo pergi. Aku mencemaskan keselamatan Fawn kalau kita terus di sini."


"Ba-baiklah, Bos." sahut David.


"David, Vera..., maafkan aku..." Aku memaksakan suaraku keluar kendati wajahku terbenam di dada Ace yang beraromakan seperti tembakau. Sialan, padahal aku sudah menawarkan mereka makanan.


"Tidak apa-apa, Fawn. Hehe. Kami permisi."


"Jangan tinggalkan kaos kakimu," ucap Ace--kupikir mengacu kepada pizza yang dibawa nona Margot tadi.


"Ugh!!!" Aku menggeliat kuat di dalam pelukan Ace. Berusaha lepas walau sebenarnya tangan yang mendekapku sekokoh jeruji penjara.


"Bisa kau lepaskan aku sekarang?" Aku merengek kesal. "Nona Margot sudah keluar, bukan? Kau tidak perlu takut orang-orang akan memakan macaron-mu."


Setelah beberapa detik berlalu dalam upaya pemberontakanku, barulah Ace melonggarkan dekapannya. Aku mendongak menatap wajahnya dengan penuh kejengkelan terpendam di dada. Aku ingin memakinya saat itu juga tapi menelan kata-kataku setelah mata kami bertemu. Pria keparat itu tersenyum nakal, memamerkan pesonanya yang membuat jantungku terpaku.


"Jangan menggodaku dengan wajah menggemaskan itu," ucapan Ace sampai ke telingaku. "Aku jadi ingin memakanmu."


"Ka-kanibal!" Aku yang memahami maksud ucapan Ace seketika menarik diriku bangkit dari dadanya. Dengan segera, aku bergeser dan duduk di sudut sofa. Aku memangku macaron-ku dengan kegugupan luar biasa.


"Makanlah," perintah Ace lagi dan kali ini, kendati macaron yang dia bawa adalah makanan yang kurindukan, aku tidak merasakan nikmat apa pun selain panik dan kegugupan. 


Mata pria itu--sungguh berbahaya.

__ADS_1


...----...


...-----...


__ADS_2