
...FAWN pov...
...----------------...
Ketika aku berusia 15 tahun, ketika aku masih muda dan masih menempuh pendidikan dan pelatihan sebagai bodyguard di kediaman Rashid, aku kerap kali bermain-main dan menyelinap ke kamar kosong yang disediakan untuk tamu penting.
Kamar tamu di kediaman Rashid sangat megah dan indah. Aku yang kerap bermain di dalamnya terkadang berandai-andai bagaimana rasanya tidur di atas ranjangnya yang mewah. Bagaimana rasanya bila kemewahan itu menjadi milikku?
Tentu saja, walau aku sering menyelinap, aku tidak pernah menyentuh apa pun. Aku hanya duduk bersandar di pintu sambil menikmati makan siangku.
Jadi, ketika hari ini datang..., hari ketika aku menjadi tawanan spesial di kediaman Evan Caspian. Berbaring di tempat tidurnya yang selembut sutera..., aku..., aku sudah menemukan jawaban atas keingin-tahuanku hari itu.
Aku..., aku tidak menikmati segala kemewahan ini.
Aku tidak menyukai segala hal yang kuterima sekarang. Bahkan bila mereka mengirimkan sebatang emas dalam piring berlian, aku tidak akan terkesan. Aku hanya inging keluar dari ruangan ini, aku ingin melarikan diri bersama ibuku. Pergi ke suatu tempat yang lebih baik dan lebih aman...
Oh, aku bertanya-tanya apa tempat seperti itu ada di muka bumi ini? Setelah segala yang sudah terjadi, aku tidak yakin Evan akan membiarkanku pergi begitu saja. Dia adalah pria gila. Dia...
"Apa yang akan dia lakukan padaku?" Aku menyuarakan isi kepalaku tanpa kusadari sama sekali. Mataku kembali bergulir menatap jam dinding, jam yang menunjukkan pukul 9 pagi. Dengan hari ini, maka sudah terhitung tiga hari aku di sini. Di kamar yang melingkupiku dalam kemewahan yang mengerikan.
Aku penasaran pada pergerakan Evan, tapi..., di sisi lain, aku lebih penasaran pada Ace. Apa yang dia lakukan sekarang? Apa dia tau situasiku? Ah, dia pasti tau, kan? Mana mungkin dia tidak tau.
Ace sudah berusaha keras menjauhkan dirinya dariku selama ini, berusaha menutupi relasi kami karena ia tidak ingin aku terluka. Namun, di sinilah aku sekarang.
Sungguh mengecewakan. Ketika aku mengatakan aku tidak butuh perlindungan dari siapa pun, ketika aku mengatakan aku akan loyal kepada bos Anggara..., aku malah menjadi tahanan.
Jujur saja, melarikan diri dari sini bukan hal yang sulit. Aku percaya, jika aku mengerahkan tenagaku, aku mampu menerobos keamanan di luar. Karena bagaimanapun, orang-orang yang berjaga di luar adalah orang yang pernah menjadi partner sparingku. Aku tau beberapa titik kelemahan mereka dan cara bertarung mereka dengan baik. Sayangnya, walau aku mampu, aku tidak bisa bertindak semauku.
Aku harus memikirkan ancaman Evan Caspian!
Bajingan keriting itu, dia menggunakan metode Ace untuk memenjarakanku. Bajingan tidak kreatif! Kalau kau mau mengalahkan Ace, seharusnya gunakan idemu sendiri, keparat! Kau tidak berguna!
Aaaaaggghh!
Kepalaku mau meledak!
Aku benci terkurung di sini.
"Apa aku terkutuk?" Aku bertanya-tanya kembali. Karena, ini bukan pertama kalinya aku menjadi tahanan. Ini adalah yang kedua kalinya, kedua! Meskipun kali ini aku tidak mengalami penyiksaan seperti yang kualami di kediaman Hunter, tetap saja..., siksaan mental yang muncul dari kecemasanku pada situasi ibuku yang memburuk belakangan bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh.
Click.
__ADS_1
Pintu tiba-tiba didorong terbuka dari luar.
Aku yang duduk sambil menggigit kuku di belakang pintu seketika berdiri. Aku mengambil langkah mundur dan menatap sosok yang bergabung masuk.
Sial, sial, sial. Itu Evan Caspian dan rambut keritingnya yang seperti ekor naga!
"Oh, apa aku mengejutkanmu?" Evan menatap ke arahku dengan sedikit terkejut. Dia mungkin tidak mengharapkan aku bersandar di pintu itu ketika dia membukanya.
"Apa maumu?" Aku tidak mau berbasa-basi.
"Jangan terlalu kasar, aku datang kemari untuk mengecek kabarmu."
Siapa yang kasar?
"Jika aku bilang aku sangat tidak baik dan mau mati di sini, apa kau akan membebaskanku?"
"Jangan mengatakan kematian dengan gampang. Kau tidak tau bagaimana mengerikannya bila kematian menyapamu atau bahkan menyapa orang-orang yang penting bagimu."
Apa itu ancaman? Itu sudah pasti ancaman!
"Jadi, apa kau baik-baik saja? Aku sudah memukulmu cukup keras waktu itu, jadi aku agak merasa bersalah."
Evan Caspian merasa bersalah? Itu mitos legendaris. Aku mau mati tertawa mendengarnya. Tidak, itu tidak lucu dan aku tidak tertawa sama sekali. Ada apa dengan omong kosong yang pria ini ucapkan tiba-tiba? Bertingkah baik tidak akan bisa menipuku, ya! Aku sudah tau kebusukanmu!
"Ahaha, itu tanggapan yang menarik. Setidaknya, kau tidak mati."
Ya, itu yang kau harapkan, bukan? Sialan!
"Bagaimana kalau kita duduk sebentar," Evan melanjutkan ucapannya sambil melenggang melewatiku. Ia duduk di sebuah bangku yang berada di dekat jendela. Kakinya tersilang elegan, gambaran sempurna seorang pangeran. Dia indah, tapi Ace lebih menarik. Hahaha, aku mau muntah melihat wajah pria ini!
"Aku ingin berbicara sesuatu yang penting padamu," ujar Evan kembali. "Oh, apa kau mau bicara sambil minum teh?"
"Tidak." tolakku mentah-mentah.
"Jadi," Evan menyelip sesuatu dari saku jasnya, sesuatu yang tidak kuketahui apa sampai dia meletakkannya di atas meja. "Aku menemukan ini dari seseorang..."
Sebuah foto tergeletak di atas meja. Fotoku yang bertemu dengan Carcel di rumah sakit. Fotoku yang keluar dari sebuah kamar di Leviathan bersama Ace.
Sialan, kepalaku seperti dipukul oleh palu tak kasat mata. Ada apa dengan informasi yang tiba-tiba bocor ini? Darimana Evan menerimanya?
"Kau dan Ace..., meskipun Vera mengatakan hubungan kalian adalah hubungan sepihak, terlihat tidak sepihak sama sekali di foto ini."
__ADS_1
"Kami..., kami berdamai."
"Haa? Ahahahahahahahahaa..." Evan tertawa. Ini pertama kalinya aku melihat pria itu tertawa. Di ingatanku, Evan Caspian adalah bajingan berekspresi masam. Siapa yang menyangka dia bisa tertawa!
"Itu omong kosong yang bagus, Fawn. Kau punya selera humor yang menarik. Ahahahaha, tidak mengherankan mengapa orang-orang di sekitarku sangat overprotektif padamu, Indira..., Anggara..., mereka semua memintaku tidak melukaimu."
"...."
"Tapi seperti yang kau tau, jika kau terus melempar omong kosong ke wajahku, aku tidak akan keberatan memukulmu." Oh, tawanya memudar dan tergantikan oleh seringai suram.
Aku ingin melihatmu mencoba memukulku, bajingan!
"Jadi Fawn...," Evan mengetukkan telunjuknya di atas meja, di atas berlembar-lembar foto yang ia urai di depanku. "Sepertinya kau dan Ace mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar hubungan sepihak, bukan?"
"Siapa yang memberikanmu informasi ini?" Seseorang pasti sudah mengintai kami. Apa ada mata-mata lain di kediaman Ace?
"Ini hanya pekerjaan seorang reporter yang penasaran. Kau tidak perlu tau."
Reporter?
"Jadi, mari kembali pada topik utama..." Evan menyeringai di seberang meja. "Sedekat apa hubunganmu dan Ace yang sesungguhnya?"
"..."
"Aku percaya menipuku tidak akan menguntungkan untukmu sekarang, Fawnia Alder. Tidak untuk ibumu juga."
Bajingan, keparat, bajingan!!!
"Kami cukup dekat." Maafkan aku Ace.
Evan menatapku penuh penilaian, seperti mencari kebenaran dan sesuatu yang lain. Entahlah, aku hanya benci ditatap oleh mata licik itu.
"Aku dengar kau sangat loyal pada Anggara. Karena jasanya terhadap keluargamu, kau memutuskan rela mengorbankan nyawamu untuknya, apa aku benar?"
"Begitulah."
Kenapa topiknya tiba-tiba berpindah?
"Jadi, jika aku memintamu membuktikan loyalitasmu sekali lagi, apa kau akan memberikannya?"
"Huh?"
__ADS_1
Evan mencondongkan tubuhnya ke arahku, suara rendah dan menyiratkan perintah. "Aku mau kau menemui Ace untukku."
...----------------...