DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
96. HENING


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Jika Mesa tidak berada di sampingnya, tidak berbicara panjang lebar dengan omong kosong yang membuatnya ingin mematahkan leher wanita itu, Ace saat itu tidak akan bergabung ke lantai dansa. Ace benci musik DJ yang ramainya membuat pusing kepala, Ace benci kerumunan dan Ace paling benci ketika Indira--gadis yang kesadarannya sudah meninggalkan kepala--menari berputar-putar di dekatnya. Membawanya menari dengan paksa.


Ace melirik ke arah Fawn. Kebiasaan baru Ace sekarang adalah mencari wajah itu di mana pun ia berada, baik Fawn ada di sana atau tidak. Saat Ace menemukan Fawn, gadis itu sedang berbicara dengan Joseph. Merangkul pria itu dengan keramahan yang membuat Ace memicingkan mata tidak senang.


"Ace..., te-ri-ma-ka-sih sudah datang ke pestaku..., hiek..." Indira yang bersandar di dadanya cegukan. Ace kembali menatap wanita mabuk itu dengan helaan napas bosan.


Ace ingin melarikan diri dari sana. Pergi ke tempat yang lebih tenang dan lebih nyaman. Sementara pikiran Ace mencari tempat pelarian untuk menghindari Indira dan Mesa yang terus memburunya sepanjang pesta, sebuah tarikan di kerahnya yang tiba-tiba membuat Ace terpana.


Saat itu juga..., tanpa menyadari apa yang terjadi padanya, Ace melebarkan mata seketika.


"..."


"..."


Indira menciumnya dan demi Tuhan, satu-satunya alasan Ace belum melubangi kepala gadis itu adalah kedatangan Evan Caspian yang langsung mendorongnya ketepian.


"Menjauh dari istriku, biadab!" Suara Evan Caspian berbaur dengan musik sampai akhirnya seisi ruangan berubah hening. Mata sepenjuru tamu di pesta itu terarah kepada Evan Caspian yang baru saja merampas Indira dari Ace dan mendorong si bungsu Hunter itu dengan pukulan kuat di rahang.


Indira yang tidak begitu sadar pada kejadian itu merasakan sebuah rangkulan mendarat di pundaknya. Ia melihat ke sekitar dan menemukan kalau orang yang merangkulnya adalah Fawn.


"Nona Indira, apa kau baik-baik saja?" Fawn bertanya dengan suara bergetar menahan marah. Ia mencoba profesional pada pekerjaannya,tapi memikirkan tentang situasi yang baru saja ia saksikan, darah Fawn mendidih kepanasan.


"Oh, Fawn?" Indira tersenyum lega. Tidak menyadari sama sekali kalau barusan Evan Caspian baru saja menyentak lengannya kasar dan mendorong ia menjauh dari Ace. Andai saja Fawn tidak menyambutnya, Indira mungkin terbaring di lantai sekarang--patah tulang.


"Bawa Indira pulang!" Evan memberi instruksi dengan suara dingin menikam. Sepasang mata hijau keabuannya melirik Fawn seperti pisau. Tanpa mampu memberi penolakan, Fawn pun mengangguk hormat kepada Evan. Menuruti kemauan pria itu sambil merangkul Indira yang masih pada dunianya sendiri.


"Tunggu, di sana..." suara Ace keluar setelah sejak tadi diam. Sepasang manik kelamnya menghujam ke arah Fawn yang kendati berusaha menyembunyikan amarahnya dengan raut datar, masih dapat Ace baca dengan gampang. Fawn marah, sangat-sangat marah. Kesalah-pahaman yang ia ciptakan telah membuat jembatan yang ia bangun ke hati itu, terbakar runtuh.


"Apa lagi maumu, bajingan?!" Evan Caspian yang menyahut. Ia berpikir kalau Ace berniat menghentikan Indira. "Urusanmu ada padaku!"


"Evan," suara Ace menyiratkan peringatan. "Apa kau tau apa yang terjadi pada seseorang yang berani menyentuhku?"


Tanpa menyebutkan nama, baik itu Evan ataupun tamu-tamu yang membeku di ruangan itu, semua orang tau siapa yang Ace maksudkan. Tentu saja, seseorang itu adalah Jemaine Emery. Seorang pria yang menguji ajalnya dengan bermain-main dengan Ace Hunter.


"Kusarankan kau mundur dari hadapanku sekarang, Evan."


"Aku bukan orang yang mampu kau perintah, Ace." Evan kokoh pada pendiriannya. Seakan-akan ancaman Ace hanya angin lalu yang menggelitik kulitnya sesaat.

__ADS_1


"Fawn!" Tegur Evan sekali lagi, "Bawa istriku pulang sekarang."


Mendengar peringatan yang sama untuk kedua kalinya, Fawn pun memutuskan untuk membawa Indira pulang. Lupakan apa yang terjadi di belakang sana, lupakan Ace Hunter yang masih menatapnya dengan sepasang manik kelam yang penuh penyesalan, lupakan! Fawn tidak peduli lagi. Sejak awal, prioritas utamanya memang hanyalah pekerjaan ini. Kepada Indira.


Arcelio Hunter hanya sebuah kebetulan yang ia temui dalam pekerjaannya, seseorang yang lambat laun akan berlalu dari kehidupannya juga.


"Sadarlah, Fawn. Ingat dirimu siapa dan dia siapa!" Fawn berbicara pada dirinya sendiri sampai kemudian Joseph datang dan membantunya merangkul Indira menuju pintu keluar Leviathan.


...----------------...


Sekaleng kopi mendarat di hadapan Fawn, datang dari Joseph yang baru kembali dari mini market.


"Bagaimana situasinya?" tanya Joseph. Maksudnya adalah tentang situasi Indira setelah Evan kembali dari pesta.


"Tidak ada yang terjadi, nona Indira tidur."


Joseph menghela napas lelah. Ia mendudukkan dirinya berseberangan dari Fawn, di bingkai jendela yang luasnya muat untuk diduduki tiga orang. Joseph menatap ke arah pepohonan rimbun yang merupakan pemandangan umum di kediaman Caspian, mengingat rumah ini di lingkupi oleh hutan.


"Aku tidak menyangka nona Indira akan bertindak sejauh itu," kata Joseph kembali. "Tuan Ace sangat terkejut."


Tentunya, setelah meninggalkan pesta, Fawn mengetahui kalau orang yang menginisiasi ciuman itu adalah Indira. Ace adalah korban dari tindakan ajaib bosnya tersebut.


Terakhir kali Fawn memikirkan masa depannya adalah saat ia mendekam di kamar Ace, hidup seperti burung tanpa sayap. Saat itu Fawn memikirkan masa depannya adalah kematian. Mengingat ia adalah tawanan Ace, tidak ada jalan keluar dari pria itu selain kematian, kan?


Sekarang, ketika Fawn memikirkannya kembali, situasinya sekarang sangat jauh berbeda. Ia memiliki peluang untuk pergi kemana saja. Menghilang. Ia bisa membangun kehidupan baru dan meninggalkan segala situasi yang terjadi saat ini. Melarikan diri.


Fawn bisa melakukan itu, tapi ia tidak tau apakah ia bisa melepaskan cengkraman kuat Ace di jantungnya sekarang. Hatinya tidak tenang. Ia tau apa yang ia rasakan kepada pria itu, ia tidak tolol untuk terus berputar-putar dalam kabut perasaannya sendiri. Fawn tau jelas kalau hatinya yang menjerit sakit saat ini adalah bukti dari keinginannya untuk bersama pria itu. Fawn mencintai Ace, dan yang lebih buruk adalah, Fawn merasa ia telah jatuh seremuk-remuknya.


Sangat jatuh ke tahap ia takut pada perasaannya sekarang.


Bagaimana jika Ace meninggalkannya? Bagaimana bila suatu hari nanti Ace berpaling darinya dan seperti hari ini, Ace akan mencium wanita lain dan melupakannya?


Ketakutan seperti ini adalah yang terburuk. Fawn tidak tau cara mengenyahkan beban pikirannya, tidak tahu cara menghilangkan suara yang menggema di benaknya.


"Fawn?" Joseph kembali menyapanya.


"Ya?"


"Apa kau baik-baik saja? Kau menjadi sangat pendiam ketika kita kembali."


"Aku hanya memikirkan pertanyaanmu tadi pagi." ujar Fawn, ia membuka kaleng kopi yang Joseph berikan dan meminum seteguk cairan pahit itu. "Tentang situasi yang terjadi sekarang ini..."

__ADS_1


"Oh," Joseph mengangguk paham. "Bagaimana menurutmu? Apa kau mau melarikan diri bersamaku?"


"Apa menurutmu melarikan diri adalah situasi yang tepat? Kau tau kita mempunyai kontrak, bukan?"


"Masa bodoh dengan kontrak, Fawn. Ketika Ace Hunter datang ke depan gerbang rumah ini bersama para bodyguard-nya, kontrak itu tidak berarti apa-apa lagi. Kita sudah kalah." Joseph terkekeh. "Bukan berarti aku meremehkan kemampuan bodyguard keluarga Caspian dan Rashid, tetapi..., kau tau sendiri, kan? Ini adalah Ace Hunter."


"Aku paham, aku paham." Fawn tersenyum masam. "Tapi tetap saja, aku ingin melindungi nona Indira dari segala bahaya. Menurutku, dia tidak terlibat sama sekali dalam keadaan ini."


"Begitu pun kau dan aku."


"Yah, itu benar."


"Jika suatu hari nanti kau melihatku melarikan diri, Fawn..., aku harap kau tidak menilaiku sebagai pengecut, ya?"


"Heh?"


"Aku..., tidak peduli betapa aku setia kepada nona Indira, aku masih menempatkan diriku di posisi pertama. Aku punya mimpi yang ingin kukejar."


"Mimpi, kah? Itu kedengaran keren." Fawn menatap Joseph dengan binar mata teduh yang menenangkan. Fawn mendamba Joseph, jujur saja. Pria yang memiliki mimpi adalah pria yang luar biasa. Fawn tidak mempunyai hal itu karena semenjak ia menyelesaikan pelatihannya sebagai bodyguard, hidup Fawn hanya terfokus untuk mengabdikan diri kepada Indira. Menjadi perisai yang mampu melindungi gadis itu dari segala bahaya.


Mimpi adalah kemewahan baginya. Sesuatu yang tidak mampu ia temukan di hidupnya.


"Bukan berarti aku ingin mengguruimu, Fawn. Kau tau kau adalah seniorku, kan?" Joseph membalas tatapan Fawn dengan keseriusan. "Aku tau keluarga Rashid sangat berjasa di hidupmu, kau selalu mengabdikan loyalitasmu kepada mereka dan ya, itu bukan kesalahan. Tetapi, aku harap kau dapat hidup untuk dirimu sendiri juga."


"..."


"Kau tidak bisa hidup seperti ini selamanya."


Fawn mencerna ucapan Joseph dengan seulas senyum tipis terpatri di wajahnya. Dengan cahaya rembulan yang menyinari mereka, di pukul dua dini hari yang dingin, Fawn merasakan kehangatan. Ketentraman.


"Aku harap aku bisa bebas dari pengabdian ini juga, Joe." Fawn tersenyum samar ketika kembali, ia mengingat Ace yang mengecam loyalitasnya kepada keluarga Rashid dengan suara menghina. Mengingat bagaimana pria itu menertawainya, menghinanya sebagai sosok naif dan menyedihkan.


Memikirkan kata-kata yang dulu terdengar sangat menyakitkan di telinganya, entah mengapa, sekarang Fawn hanya tertawa. Ia merasa..., kalau barangkali..., Ace ada benarnya.


Ace, oh, Ace.


Apa yang terjadi padanya setelah Fawn meninggalkan pesta? Fawn bertanya-tanya dengan kerinduan kembali merayap di kulitnya, menyakitinya dengan kehampaan yang menyedihkan.


Fawn bimbang pada kehidupannya sekarang.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2