
...FAWN pov...
...----------------...
Sejauh pengamatanku, pesta ini berjalan dengan mulus. Aku tidak merasakan akan ada gangguan dari pihak luar, tidak kepada pesta ini, tidak juga kepada nona Indira yang sekarang berdansa dengan Ace Hunter di lantai dansa.
Sungguh serasi, aku penasaran apa perasaan Evan Caspian melihat penampilan ini. Apa dia baik-baik saja dengan istrinya yang berdansa dengan pria lain?
Yah, bukan berarti itu urusanku sih. Toh, tidak ada aturan tentang siapa harus berdansa dengan siapa. Aku hanya merasa...agak tidak menyukai apa yang kulihat, mungkin?
Aku pikir nona Indira lebih baik bersama tuan Evan.
Ace juga..., apa dia senang bisa berdansa dengan nona Indira?
"Kau merengut."
"Aku tidak." Eh, tunggu..., siapa yang bicara denganku?
Masih dalam keadaan terkejut, aku berbalik. Mataku bertemu langsung dengan sepasang mata hitam nona Margot yang berkilau jenaka. Dia menatapku sebentar, berdiri di sampingku dengan tangan menggenggam segelas wine. Aku menegapkan posisi berdiriku dan mengambil satu langkah menjauhi nona Margot. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi aku ingin memberikannya ruang untuk merasa nyaman.
""Bagaimana kabarmu, Fawn?"
"Aku baik, nona Margot."
"Oooh, Ace sangat tampan hari ini, bukan? Apa kau tau berapa banyak perempuan yang berusaha mendekatinya?"
"Nona Margot, kenapa kita membicarakan ini?"
Apa dia pikir aku tidak menyadari betapa banyak perempuan berusaha menebar pesona mereka kepada Ace? Apa dia pikir aku tidak menyadari kalau Ace sangat tampan dalam balutan jas hitam beludru dan dasi satin merah itu? Dia sudah seperti vampire tampan yang kerap menjadi pemeran utama di novel dewasa. Dia sangat luar biasa, ya Tuhan. Aku belum buta!
"Apa pendapatmu tentang Ace dan Indira?" Nona Margot mengabaikan pertanyaanku dan terus berbicara.
"Mereka serasi."
"Benar, kan? Kalau bukan karena Evan, mereka sudah pasti menjadi pasangan yang menawan. Kurasa, Ace lebih pandai dalam mencintai wanita daripada si keriting Caspian itu."
Oh, mungkin itu benar. Tapi memikirkan kalau Ace mencintai wanita lain--entah bagaimana--aku agak tidak menyukai pemikiran itu. Apa Ace segampang itu jatuh cinta? Apa dia akan jatuh cinta kepada siapa saja wanita yang berada di dekatnya? Kalau begitu, apa artiku tidak ada sama sekali di hidupnya?
"Aku pikir, jika Ace berhasil meruntuhkan keluarga Caspian, tidak akan menutup kemungkinan kalau Ace dan Indira akan bersama. Itu wajar sekali, bukan? Bagaimana pendapatmu?"
"Aku tidak punya tanggapan sama sekali menyangkut itu." Malas menanggapi nona Margot lagi, aku meninggalkan posisiku--menghubungi Joseph dari radio dan segera mundur.
"Aku perlu ke toilet," kataku kepada Joseph. Dengan langkah lebar, aku meninggalkan aula yang dipenuhi oleh suara musik klasik yang mengiringi Ace dan nona Indira berdansa.
'Iya, sialan, kalian sangat serasi! Menarilah sampai kaki kalian berdua mati rasa, aku tidak peduli. Aku tidak peduli sama sekali. Mau kau menikah dengan nona Indira setelah ini pun, malam ini pun, itu bukan urusanku sama sekali! Iya, lakukan saja! Hahahaha. Bodo amat!'
"Fawn, kau mau ke mana?" Di tengah perjalananku menuju kamar mandi, Aidan menyela langkahku. Aku menatap gerah pria bersurai panjang itu.
"Aku mau ke toilet, kenapa?"
"Tidak..., hanya saja kau terlihat sangat..."
"Sangat apa?"
Aidan menggaruk pipinya, "Apa kau baik-baik saja? Apa nona Margareth mengatakan sesuatu? Aku melihat kalian berbicara dan kau menjadi sangat marah."
Apa? Aku...? Sangat marah?
"Jangan bercanda. Aku tidak marah." Menunjukkan emosi saat berada di tempat kerja adalah tindakan yang sangat tidak profesional. Aku selalu menegur Joseph kalau dia menunjukkan emosinya. Bagaimana mungkin, aku, aku yang sudah paham aturan itu menunjukkan emosiku?
Aidan pasti bercanda.
"Aku hanya sedikit tegang karena ini pertama kali aku kembali ke lapangan. Jangan mencemaskan apa pun." Aku mengibaskan tanganku di depan wajah Aidan dan memaksakan senyuman. "Lanjutkan pekerjaanmu, aku akan kembali tiga menit lagi."
"Hmmm, ngomong-ngomong..."
Apa lagi keparat?
Aidan menghentikan langkahku dengan tangannya yang berlabuh di pundakku. Jika dia bukan orang tuan Evan, aku mungkin akan membantingnya sekarang. seenaknya menyentuhku. Apa dia mau mati?
__ADS_1
"Apa yang nona Margareth bisikkan kepadamu?"
"..." Si bajingan ini, apa ini adalah pekerjaan sampingannya untuk memata-matai lingkungan nona Indira? Dia sampai memata-mataiku juga?
"Ugh, aku bisa pipis di celana kalau kau terus mengajakku berbicara."
"Fawn," Aidan bersikukuh menginginkan jawaban.
"Aku harap kau tidak akan melaporkan ini kepada tuan Evan," baiklah, saatnya berlakon.
Dengan berpura-pura misterius dan sangat rahasia--aku mendekati Aidan dan merangkul pundak pria itu. Karena dia cukup tinggi, aku perlu menariknya dulu agar membungkuk ke dekat wajahku. "Nona Margareth bilang..., Ace lebih tampan daripada tuan Evan, dia cukup kecewa karena kedekatan di antara nona Indira dan Ace hanya berakhir sebagai pertemanan."
"Hah?"
Sebenarnya tidak seperti itu. Omongan nona Margot lebih buruk lagi. Aku hanya melaporkan hal ini seminimal mungkin dan dengan sedikit penyimpangan. Aku memberikan sedikit bumbu agar tuan Evan cemburu mendengar laporan ini nanti.
"Nona Margareth bilang nona Indira terlihat sangat bahagia bersama Ace. Kurasa memang seperti itu."
"Fawn," Aidan menatapku dengan kening bertaut. Apa dia percaya, pasti percaya, kan?
"Aku tidak berbohong." kataku, jari membentuk lambang peace.
"Apa kau sadar dari tadi kau menyebut tuan Ace dengan sebutan namanya saja?"
"..." Keparat? Apa benar?
"Kau tau itu tidak sopan, bukan?"
"Aaaaah, aaaaaah..." Aku mengibaskan tangan dalam kepanikan. Apa yang harus kukatakan. "A-aku..., itu kebiasaan lamaku saat berada di kediaman Rashid. Maafkan aku, maksudku..., bos Angga selalu mengatakan Ace ini Ace itu--jadi aku terpengaruh juga. Aku akan memperbaiki cara bicaraku nanti. Hehehe. Kalau begitu..."
Saatnya melarikan diri. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak tahan harus terus berbohong di depan wajah pria yang kendati cukup tampan, sangat menjengkelkan. Jika aku terus bicara dengan Aidan, aku percaya dalam 30 menit, pria itu akan berhasil mengulik rahasia yang kusimpan selama ini. Matanya seperti bor yang melubangi otakku. Menakutkan.
"Sampai jumpa," aku pamit kepada Aidan dan berlari keluar meninggalkan aula. Aku keluar dari pintu samping dan menuju kepada lorong yang sunyinya sangat jauh berbeda dari keramaian aula. Aku mengatur napasku di sana.
Sepuluh detik, dua puluh detik, tiga puluh detik...
Hatiku terasa kosong seketika. Dalam waktu yang terus berlalu, aku bertanya-tanya..., apa hanya aku yang masih terjebak di tempat itu. Terjebak pada hari ketika aku meninggalkan Ace. Masih memikirkannya, mencemaskan situasinya.
Dia pasti baik-baik saja, kan?
Sialan, pemikiran ini menyiksaku. Aku tidak tau apa yang salah pada diriku sendiri. Segala pemikiran yang mengisi benakku, menghantuiku terasa sangat mengerikan. Seakan-akan aku belum keluar dari sangkar itu.
Aku merindukan kebebasan, tapi aku lebih merindukannya sekarang.
Aku tidak ingin dia menderita, tapi melihatnya dalam keadaan baik-baik saja di sana, tersenyum tipis atas setiap bisikan nona Indira, aku tidak menyukainya. Aku membencinya. Membencinya.
"Sialan!" Aku mengutuk pemikiranku sendiri. Aku seharusnya bekerja secara profesional.
Aku sebaiknya mencari udara segar.
Dengan tujuan itu, aku akhirnya melenggang menuju balkon di ujung koridor. Bayangan tirai putih yang menggantung di pintu jatuh di lantai marmer yang hitam. Aku berjalan di atas bayangan itu dan hendak menyibak tirai itu lebar, andai saja..., andai saja..., ah! Mataku!
Tepat di balkon yang sunyi, aku sepertinya menemukan..., tidak, aku benar-benar menemukan tuan Anggara di sana. Dia di sana, bercumbu dengan...., aaaahhhh, mataku ternoda. A-apa-apaan barusan? Apa ini alasan kenapa dia tidak ada di pesta? Apa-apaan ini? Mataku..., tunggu, perempuan itu familiar. Dia, jangan bilang itu...
Gelap!
Eh?
Seseorang menutup mataku dari belakang, menarikku mundur dengan kekuatan yang demi Tuhan, tidak mampu kulawan. Sial, apa aku akan diculik lagi sekarang? Tidak akan kubiarkan. Aku akan berteriak sekarang, hah, tuan Anggara akan menyelamatkanku...
Aa--mmpph!
"Aku percaya kau tidak akan mau melakukan itu." Orang itu berbisik di telingaku, tangan yang menutup mataku sekarang membekap mulutku. Aku membeku. Suara itu..., suara Ace.
"Shuuushh..., kemari." Masih menarikku menjauh dari balkon itu, Ace membawaku pergi menuju sisi lain koridor yang berada di arah utara. Kami memasuki sebuah ruangan yang berdampingan dengan ballroom hotel itu. Berbagai kursi tak terpakai, lemari, dan beragam barang-barang tidak penting berada di sana. Sepertinya segala benda yang tadinya mengisi ballroom dipindahkan ke tempat ini untuk sementara.
Oh, benar. Lupakan tentang barang-barang tidak penting dan ruangan redup ini...
Aku berputar dan seketika mendorong dada pria yang sejak tadi menarikku rapat di dekapannya. Mataku menatap nyalang penuh kewaspadaan.
__ADS_1
"Ace..." tegurku garang. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau sendiri?"
"Aku..., aku mencari udara segar."
"Tidak ada yang segar di balkon itu, Fawnia. Apa kau menjadi gadis mesum sekarang?"
"Jangan menudingku macam-macam." Aku mengacungkan telunjukku penuh peringatan. Sial, menyadari kalau saat ini aku hanya bersama Ace membuatku merinding.
"Fawnia..." Ace sepertinya menyadari ketidak-nyamananku. Binar jenaka di matanya berubah menjadi lebih tenang.
"Maafkan aku sudah membawamu kemari, aku hanya tidak bisa menahan diriku..., aku merindukanmu."
"Aku sedang bekerja, Ace." Aku berusaha menenangkan jantungku yang sekarang menggebu-gebu.
"Aku mengerti. Aku pasti sudah mengganggumu."
"Jangan berlebihan. Lagipula kau kelihatannya baik-baik saja, kan?" aku memaksakan senyum hambar. "Kau terlihat sangat cocok dengan nona Indira, jujur saja."
Sial, kenapa aku terdengar menjijikkan?
"Fawnia..."
"Uh...po-pokoknya..., jangan mendekatiku, oke? Aku tidak--"
"Fawnia, apa kau baik-baik saja?"
"..."
"Apa kau baik-baik saja tanpaku?"
Sialan, Ace. Kenapa kau menanyakan itu? Apa kau tau betapa besar aku mencemaskanmu? Apa kau tau betapa sulitnya aku menjalani kehidupanku karena memikirkanmu?
"Jangan lakukan ini, Ace..."
Aku tidak bisa kalah lagi. Aku tidak mau lemah di depan pria ini. Dia adalah pria terjahat di hidupku, aku seharusnya tidak...
"Fawnia, maafkan aku atas segala kesalahanku selama ini. Aku masih mencintaimu. Aku tidak akan menyerah. Aku akan membawamu kembali padaku."
"Dan mengurungku lagi?" aku merasa air mata menggenang di mataku. Aku mencoba menghindari tatapan Ace di bawah cahaya hangat lampu yang temaram itu. Namun, ketika aku menyadari sedikit jejak luka di keningnya, jantungku terasa sakit luar biasa.
Apa itu karena Jem? Kudengar dia dan Jem sialan itu bertengkar? Apa yang dilakukan Carcel sampai bosnya terluka? Apa dia tidak tau Ace sangat benci terluka?
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, tapi aku tidak akan pernah merelakanmu pergi." Ace mengambil satu langkah menghampiriku. Dengan senyum yang meredup sayu, jemari besar dan hangatnya berlabuh di pipiku.
Aku berdiri di tempatku dengan kaki terpaku di lantai. Tubuhku bergetar ketakutan, tapi disaat bersamaan--merasakan kehangatan itu menciptakan perasaan lega yang samar di hatiku.
Aku berdiam lama di bawah tatapan Ace yang penuh kerinduan. Mata bertemu mata, jarinya turun naik mengusap pipi dan rahangku, seolah ia menenangkanku. Padahal, dia sendiri terlihat sangat kacau dengan segala kesedihan itu.
"Maafkan aku," Ace berbisik sekali lagi. Keningnya berlabuh di puncak kepalaku.
Aku..., masih sama, mendengar ucapannya dalam kebisuan.
Sulit memaafkan Ace setelah segala luka yang ia tanamkan di memoriku. Segala penghinaan yang terucap di bibirnya, tindakannya yang memaksa, sikapnya yang tau kasar secara tiba-tiba, aku mungkin menanggapinya dengan tenang di sana karena aku berusaha bertahan hidup. Tapi sekarang, memikirkan semuanya kembali..., aku tidak bisa menganggukkan kepalaku padanya begitu saja, tidak bisa lari ke pelukannya hanya karena perasaanku padanya sudah berubah.
Itu tidak adil untuk diriku yang pernah dia lukai.
"Aku harus pergi, Ace." Mengucapkan itu, aku mendorong Ace menjauh dariku. Tidak ada kata-kata atau pencegahan yang terucap dari bibirnya. Dia melepaskanku begitu saja.
Sementara kepalaku di penuhi oleh Ace dan wajah sendunya, aku terus melangkah tergesa-gesa dan menabrak seseorang yang baru menapak masuk dari sisi balkon.
Mataku melebar terkejut, sangat terkejut saat aku menyadari siapa yang kutabrak.
"Vera?"
Jadi aku memang tidak salah tentang sosok yang kulihat bersama Anggara tadi, sosok itu memang..., Vera?
...----------------...
__ADS_1