DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
37. KEKUATAN


__ADS_3

...FAWN pov...


...----------------...


Aku bangun dalam keadaan kerongkongan yang gersang. Hari baru dimulai lagi dengan matahari yang sudah terbit tinggi di langit, dan hari ini lagi..., aku kembali menelan pahit realita bahwa aku masih berada di tempat yang sama. Aku masih terborgol di kepala ranjang dengan lengan yang sudah mati rasa.


"Kau sudah bangun," Felix--pria yang jarang kujumpai belakangan ini lantaran adanya keberadaan Haru--muncul kembali sambil membawa senampan bubur dan segelas air. Aku menatap air di gelas itu dengan ketidaksabaran.


"Air..." ucapku dan sedikit terkejut karena suaraku yang serak.


Aku pasti terlalu banyak berteriak kemarin sampai suaraku nyaris hilang. Sialan, bahkan bicara pun terasa sangat menyakitkan.


"Tunggu sebentar," kata Felix. Dia mengeluarkan sebuah kunci dari kantong jas putihnya. Tak berselang lama setelah itu juga, dia membebaskan tanganku dari borgol keparat itu.


Arrrggghhh--


Aku mengerang kesakitan ketika aku menurunkan lenganku. Ototku menjerit dalam perasaan ngilu yang mengerikan. Napasku tersengal-sengal.


"Kau sudah satu bulan di sini dan kau belum juga memahami apa pun." Felix berkomentar terhadap situasiku. Si keparat tua bangka itu, apa dia mencari masalah?


"Kau tidak akan berada di dalam situasi ini kalau kau tidak membuat bos Ace marah." katanya lagi. "Aku pikir kalian sudah dalam situasi yang lebih baik belakangan ini, tapi sekarang rasanya seperti kembali ke awal."


"Tutup mulutmu," keluhku. Aku tidak peduli pendapat Felix, sekarang aku hanya mau minum. Mengabaikan matanya yang menyorotku penuh kekhawatiran dan kejengkelan, aku mengambil gelas kaca di nampan dan menenggak habis isinya.


"Makan dan mandi, setelah itu aku akan mengobati pergelangan tanganmu."


Saat mendengar ucapan Felix, aku baru sadar kalau lenganku terluka. Ruam merah dan lecet muncul di sana, mungkin karena aku yang terus meronta-ronta kemarin. Sekarang, karena Felix menyinggungnya, aku merasa pergelangan tanganku memang agak perih.


"Di mana Haru?" tanyaku, leher dan suaraku terasa lebih baik setelah minum.


"Dia punya pekerjaan yang lebih penting selain menemanimu bermain di sini."


Felix ini..., kenapa dia selalu bicara dengan nada mengajak berkelahi!


"Lupakan, keparat. Aku menyesal mengajakmu bicara." Aku mengambil bubur yang dia sajikan di dalam mangkuk kaca, aroma lembut dari bubur itu memicu raungan di perutku. Aku yang memang sudah kelaparan sejak kemarin menyantap habis bubur itu dalam beberapa menit. Tidak butuh lama karena aku tidak mengunyah sama sekali. Aku hanya menelan seisi mangkuk itu dalam beberapa kali sendokan.


Setelah menyantap bubur yang jujur saja--belum membuatku kenyang, aku mendongak menatap Felix. Butler keluarga Hunter itu sangat menjengkelkan. Tanpa bicara, aku tau dia jijik padaku. Sangat arogan, aku harap dia tidak sempat merayakan ulang tahunnya lagi tahun depan!


"Mandilah!" Perintah Felix. Dia memungut nampan di atas meja dan meninggalkanku sendirian di kamar yang sekarang beraroma seperti bubur.


"Pria gila, sama saja seperti tuannya!" Aku merutuk sebal.


Seperti yang Felix katakan, situasiku sekarang memang terasa seperti kembali ke titik awal. Tapi aku tidak menyesal, bahkan bila Ace memukulku kembali dan menggunakan kekerasannya untuk mengontrolku, itu lebih baik daripada aku yang menuruti kemauannya dengan patuh. Aku bukan anjing, sialan. Aku tidak akan tunduk padanya hanya karena kami sudah saling menghabiskan waktu bersama berapa minggu? Satu bulan? Terserah.


Bahkan bila itu satu tahun berlalu, aku tetap tidak akan mematuhi si keparat bajingan Ace Hunter itu. Pria biadab dengan kepribadian hitam itu tidak layak mendapatkan kebaikan.


Ughh, omong-omong lenganku sangat sakit. Saatnya mandi dan lupakan kesialan kemarin.


...----------------...

__ADS_1


Perban menghiasi kiri dan kanan pergelangan tanganku, terima kasih pada Felix. Borgol yang digunakan untuk mencekal pergerakanku masih merekat di kepala ranjang, mengingatkanku pada penderitaan yang kurasakan seharian kemarin.


Aku duduk di sofa, merenungi keheningan sementara pikiranku merayap jauh dari ruangan yang mempersempit kebebasanku ini. Aku memikirkan Joseph dan apa yang sudah terjadi padanya. Apakah dia baik-baik saja atau kematian sudah menjemputnya, aku tidak tau. Aku ingin berharap dia dalam kondisi baik, tapi aku tau kehidupan macam apa yang kami jalani. Kematian bukanlah sesuatu yang baru, nyawa kami para pengawal adalah harga murah.


Ditambah lagi, Ace adalah Ace. Pria psikopat berdarah dingin itu tidak memiliki simpati sama sekali kepada manusia selain dirinya sendiri. Aku tau mampu sekejam apa orang-orang seperti dia. Orang-orang yang merasa mereka sangat berkuasa.


Sialan!


Kenapa hidupku sangat suram?


Padahal aku hanya ingin membalas budi kebaikan keluarga Rashid, tapi mengapa aku malah terjebak dalam neraka ini? Kenapa mati menjadi lebih sulit dibandingkan bertahan hidup?


Cklek!


Pintu kamar terbuka. Aku yang berbaring di sofa mengangkat kepalaku dan menemukan Ace melenggang masuk. Langit di luar masih terang, jadi cukup aneh bagiku untuk melihatnya sudah pulang. Ace langsung berjalan menuju lemari, melepas pakaian formalnya ke lantai dan berganti dengan kaos hitam. Rambut hitamnya yang tersisir rapi ke belakang diacaknya hingga berantakan. Beberapa helai surai hitamnya jatuh ke depan muka, membuatnya terlihat tampan secara manusiawi, bukan tampan seperti biasanya, tampan mematikan.


Sepasang matanya kemudian beralih menuju tempat tidur sebelum menatapku.


"Huh, disitu kau rupanya."


Apa aku punya tempat lain untuk pergi? Aku memutar mata dan kembali merebahkan kepalaku ke kepala ranjang. Aku ingin tidur saja untuk menghindarinya.


"Apa kau sudah makan?" Ace kembali bicara. Kali ini suara langkah kakinya terdengar mendekat. Aku tetap memejamkan mata. Aku tidak mau memedulikannya.


"Kau tidak mau bicara sekarang?"


Ya, benar. Kalau kau tau itu, sebaiknya kau pergi dari hadapanku kau psikopat! Andai saja aku bisa meludahkan kata-kata itu di mukanya. Tapi aku tidak mau di borgol lagi.


Aku tidak tau apa yang Ace pikirkan..., kenapa dia stress lagi? Apa dia akan marah dan memukulku? Ketakutan semacam itu kembali merayap di jantungku. Aku tidak mau dipukul, bahkan bila aku harus mati, aku ingin kematian yang cepat dan tidak menyakitkan, bukan kematian yang datang dari siksaan lamban.


"Evan atau Anggara..." ucap Ace tiba-tiba. "Menurutmu, siapa di antara mereka yang membunuh orang tuaku?"


"Hah?" Aku menanggapi terlampau cepat. Sialan, aku seharusnya diam!


"Terkejut?" Ace menengok ke arahku sekilas dan menyeringai tipis. "Kau pasti tidak akan mempercayai kalau bosmu yang mulia itu..., dan adik iparnya yang idiot mampu melakukan pembunuhan, bukan?"


"Apa maksudmu pembunuhan? Bukankah orang tuamu meninggal dalam ledakan?" Aku tau asal-muasal ledakan itu masih belum jelas karena keluarga Hunter menginginkan investigasi tertutup menyangkut insiden itu. Aku mengira, setidaknya mereka (keluarga Hunter) sudah tau penyebab kematian orang tua mereka dan sengaja tidak mengeksposnya pada media.


"Biar kuberikan sedikit informasi," kata Ace dengan suara ringan seperti bercanda. "Itu adalah pembunuhan."


"La-lalu, apa kau mencurigai bos Anggara?"


Aku tidak tau tentang Evan Caspian, tapi tuan Anggara? Pria itu baru-baru ini menjadi kepala di Spades, dia tidak mungkin terlibat dalam hal-hal hitam yang sudah terjadi bahkan sebelum dia menjadi pemimpin. Tuan Anggara adalah pria yang sangat bermartabat dan memiliki hati lembut. Dia mungkin terlihat agak dingin di luar, tapi dia bukan jenis orang yang akan menginisiasi hal-hal hitam semacam pembunuhan.


"Hanya dua di antara mereka yang dapat melaksanakan pembunuhan sebersih itu." Ace menanggapi dengan suara berat. "Aku sudah berusaha keras mencari petunjuk mengenai siapa orang di balik kematian orang tuaku. Aku bahkan berteman dengan gadis yang kepolosannya memuakkan bagiku."


Apa dia mengatakan tentang nona Indira?


"Untung saja sekarang bodyguard-nya menebus tiga tahun penuh kepalsuan memuakkan itu..., setidaknya aku mendapat imbalan atas akting ramahku. Tidakkah kau setuju?"

__ADS_1


"Kau..." Aku bangkit dari posisi berbaringku dan menatap Ace dari samping. "Kau, bukannya kau menyukai nona Indira?"


"Itu dongeng yang menarik." tukas Ace. "Aku berusaha tampil seperti itu, tapi Indira tau kalau hatiku tidak setulus apa yang kutunjukkan. Dia menolakku dan memutuskan menikah dengan si bajingan Evan. Tidakkah menurutmu pilihan Indira sangat tolol?"


"Itu pilihan yang tepat..., kurasa?" Aku tidak akan mau kalau nona Indira menikahi Ace. Pria ini busuk sampai ke tulang, sangat tidak pantas untuk nona Indira yang mulia.


"Tapi, ada apa dengan pembicaraan pembunuhan tadi?" Aku mengganti topik kembali ke semula. Aku masih tidak mengerti kenapa Ace menanyaiku perihal itu.


"Itu seperti yang kau dengar," tutur Ace kembali. "Aku di sini semata-mata demi mencari siapa yang sudah membunuh orang tuaku. Aku harus melindungi Margot dan memenuhi ambisinya agar dia kembali menjadi gadis yang waras."


"Ah..."


"Pamanku mengatakan sesuatu yang menarik tadi pagi..." lanjut Ace lagi. "dia mengatakan sesuatu seperti ini, bahwa cinta adalah kelemahan."


Cara Ace bercerita, kendati suara dan ekspresinya jenaka, matanya menunjukkan luka. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa terhadap tumpahan informasi yang dia beberkan. Aku tidak tau harus bagaimana menanggapi sepasang matanya yang terluka.


"Aku dan Margot adalah kelemahan ayahku, karena itu dia mudah tersingkirkan."


"A-aku tidak percaya itu." Aku menyela ucapan Ace dengan suara bergetar. Sensasi panas dan tidak menyenangkan merayap di hatiku, seakan-akan membakarku. Aku tidak mau mencampuri urusan Ace dan pamannya, tapi aku tidak mau penyesatan itu mewarnainya hitam.


"Cinta adalah kekuatan. Kalau bukan karena cinta, kau tidak mungkin berada di sini sekarang dan berusaha memenuhi ambisi nona Margot dan melindunginya!"


"Heh, lalu bagaimana denganmu? Tidakkah cinta sudah membuatmu terjebak di sini? Kalau bukan karena ibumu, kau pasti sudah bisa melakukan apa yang kau inginkan sekarang. Membunuhku adalah salah satunya."


Aku menghela napas berat. "Kau menyalah-artikan keputusanku. Kendati aku membencimu yang sudah memanfaatkan keselamatan orang-orangku tersayang, aku tidak pasrah dan tinggal di sini karena mereka adalah kelemahanku. Aku tidak menyalahkan keberadaan mereka sama sekali."


Ace memiringkan gestur tubuhnya menghadap ke arahku, jemarinya menyentuh perban di pergelangan tanganku.


"Aku berada di sini karena cintaku kepada mereka sangat kuat. Apakah mereka kelemahan? Tidak. Mereka adalah kekuatanku. Cintaku pada mereka membuatku rela menjalani hidup menjengkelkan bersama pria bajingan sepertimu. Aku..., aku tidak menyesal sama sekali!"


"Kau lagi-lagi berbicara dengan perspektif yang sangat positif. Apa mengatakan hal-hal positif dan bermoral tinggi seperti itu membuat hatimu terhibur?" Ace membuat lelucon, sialan, setelah ucapanku yang panjang. Dia mengejekku.


"Lalu bagaimana denganmu? Kalau cinta adalah kelemahan, apakah nona Margot adalah kelemahan bagimu?"


Hening sejenak..., Ace menghentikan jemarinya dan mendongak menatap mataku. Sepasang pupil hitamnya yang tenang--terlihat seperti badai di kegelapan malam.


"Tidak," sahutnya kemudian.


"Cinta adalah kekuatan bagiku, aku akan melakukan apa pun demi orang-orang yang kucintai. Aku percaya kau juga berada di situasi yang sama." Aku berujar kepada Ace dengan suara lemah. Aku tidak tau apa yang pria ini pikirkan, tapi ketegangan itu sudah pasti datang bukan tanpa alasan.


"Fawn..."


"Ya?"


"Terima kasih sudah membuatku mengingat kembali hal yang sangat berarti bagiku."


"E-eh, ya?"


Karena Margot adalah sosok yang sangat berarti bagi Ace, melindungi Margot dari segala ancaman adalah prioritas Ace. Itu berarti--bahkan bila ia harus menyingkirkan Fawn dalam prosesnya melindungi Margot, ia akan melakukannya.

__ADS_1


Ia akan menyingkirkan Fawn seperti yang pamannya inginkan.


...----------------...


__ADS_2