
...NORMAL pov...
...----------------...
Fawn menemukan kesadarannya ketika ia samar-samar mengendus aroma macaron dan manis secangkir teh yang tergeletak di atas meja samping tempat tidurnya. Sesaat, Fawn mengira ia sedang bermimpi. Karena tidak mungkin ia bangun dan disambut oleh hal yang paling ia sukai. Tidak ketika sebelum tidur ia masih..., tidak!
Fawn membuka mata dan bangun dalam keadaan terkejut. Rasa sakit yang kuat menyerang tengkuknya. Mengingatkan ia kembali bagaimana ia bisa terlelap dan terbangun di ruangan asing ini.
Evan, si bajingan itu memukulnya!
Ringisan keluar dari bibir Fawn saat ia berusaha menelengkan kepalanya, menatap kepada ruangan asing yang sekarang melingkupinya. Ia lalu menyadari kalau sepiring macaron yang tergeletak di atas meja dan secangkir teh itu nyata, bukan ilusi yang dibuat oleh perut laparnya.
Ini aneh.
Apa Evan Caspian adalah pria yang memberi makan tawanannya dengan cemilan mahal? Juga, ada apa dengan kamar yang luas dan besar ini?
Ornamen yang melekat di dinding kamar tempatnya berada sekarang, jika diuangkan, akan mampu memberi Fawn makan selama setahun. Tunggu..., bukankah ini salah satu kamar tamu di mansion keluarga Caspian? Kamar yang biasanya kosong dan hanya disediakan untuk tamu penting...
"Fawn?" Sebuah suara menyapa. Fawn berjingkat dari posisinya dan seketika menoleh ke sumber suara dengan mata melebar waspada.
"Nona Indi?" Fawn terkejut saat melihat Indira muncul bersama Rishan di sampingnya. Apa Indira sudah dibebaskan? Fawn menanyakan itu, melupakan kalau dia tidak di situasi untuk mencemaskan orang lain.
"Kulihat kau sudah sadar," Indira mendekat dengan langkah anggun. Ia hampir mencapai Fawn andai saja lengan Rishan tidak membatasinya. Melarangnya agar tidak melangkah lebih dekat kepada Fawn yang sekarang bisa dikategorikan sebagai ancaman.
"Ah," Indira tidak bisa memprotes. Jadi ia berhenti melangkah dan menatap Fawn. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya pada Fawn.
"Aku..., baik."
Ada keraguan yang perlahan menyeruak di dalam diri Fawn. Keraguan menyangkut harus seperti apa ia bereaksi, harus bagaimana ia menanggapi Indira? Kewaspadaan dan nalurinya untuk mempertahankan diri membuat Fawn sulit melihat Indira sebagai kawan.
"Fawn, aku tau situasinya agak membingungkan untukmu sekarang. Kau juga pasti merasa ketakutan. Karena itu..., aku datang ke sini untuk menenangkanmu. Situasinya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun." Indira bicara sambil menautkan jari-jemarinya. Meskipun kata-kata menenangkan itu ia lontarkan untuk Fawn, ia sendiri juga ingin mempercayai kalau apa yang ia katakan adalah kebenaran.
"Evan dan aku, kami semua bukan musuhmu. Percayalah, aku dan Anggara hanya berusaha melindungimu."
"Melindungiku dari apa tepatnya?" Fawn tidak tau apa yang Indira ucapkan, tapi ia cukup tau kalau dirinya tidak membutuhkan perlindungan dari orang lain.
"Seperti yang kau ketahui, hubungan Ace dan Evan tidak cukup baik. Ditambah lagi, kau di sini, dan kau pasti tau Ace memiliki obsesi padamu. Aku pribadi percaya, Ace rela melakukan apa saja untuk mendapatkanmu kembali. Karena itu, kami hanya ingin melindungimu." Indira bicara panjang lebar, tapi Fawn tidak mengerti satu pun makna yang terucap dari Indira.
"Vera menjelaskan hubunganmu dan Ace kepada Evan," lanjut Indira lagi. "Mengenai kau yang berhasil melarikan diri dan menipu Ace."
Menipu? Apa Vera mengarang sesuatu?
__ADS_1
"Itu sangat buruk--, hubungan kalian dan apa yang sudah kai alami. Semua ini salahku. Seharusnya kau tidak perlu melindungiku hari itu. Tidak perlu menggantikan posisiku. Dengan begitu kau tidak perlu merasakan segala siksaan yang Ace berikan."
"..."
"Kau bertahan dengan baik. Fakta bahwa kau masih memilih untuk memihak kami kendati neraka macam apa yang sudah kau lewati. Aku tidak akan membiarkan Ace melukaimu, Fawn. Aku akan membuatmu tetap aman. Aku akan melindungimu mulai sekarang."
Fawn masih terdiam, bungkam. Ia merasa Vera pasti mengatakan sesuatu yang bertolak belakang menyangkut hubungannya dan Ace.
Karena, jika Vera mengatakan ia adalah kekasih Ace, mengatakan kalau ia mencintai Ace sama besarnya seperti Ace mencintainya, maka perlakuan yang akan ia terima tidak akan seperti sekarang. Fawn mungkin akan digantung di basement dengan kepala menjuntai ke lantai. Dia akan disiksa karena dianggap pengkhianat.
"Apa Vera baik-baik saja?" Fawn mencoba menenangkan kegugupan yang menjalar di jantungnya.
Apa yang harus ia lakukan?
Fawn mungkin mendapat perlakuan istimewa sekarang karena Indira merasa bersalah, tapi itu tidak akan bertahan lama. Tidak bila Evan Caspian muncul dengan imajinasi gilanya untuk melukai Ace. Fawn bisa digunakan sebagai media untuk melukai Ace, dan Fawn tidak mau itu.
"Anggara merawatnya, tapi dia masih belum dibebaskan. Evan tidak merasa itu aman."
Ketenangan dalam suara Indira adalah hal lain yang membingungkan Fawn. Nona mudanya tersebut seperti kehilangan gairah hidup. Ia tidak seperti Indira yang ada di ingatannya. Indira yang penuh semangat dan egois.
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" tanya Fawn, ia sesekali melirik Rishan.
"Aku hidup dengan cukup tenang, belakangan. Aku tidak perlu perlindungan apa pun. Ace pun..., aku pikir dia tidak akan mengincarku seperti yang kalian pikirkan. Aku bukan siapa-siapa, jika dia menginginkanku, dia sudah mendapatkanku sejak aku bisa melarikan diri dari sana."
"Kau tidak tau orang seperti apa Arcelio Hunter," Rishan akhirnya turut bersuara, dan ucapannya menciptakan perasaan muak mekar di dada Fawn. Ia membayangkan akan betapa menyenangkannya bila ia mampu memukul pria itu sekali.
Siapa yang dia dia katakan tidak mengenal Ace? Fawn percaya diri kalau dirinya lebih mengenal Ace daripada siapa pun yang bernapas di bumi ini. Ace tidak akan melukainya, Ace sudah menyesal, Ace menunjukkan dengan jelas kalau dia sangat menyesal...
Ace tidak akan melakukan sesuatu yang mampu melukainya.
"Aku bisa melindungi diriku sendiri." ujar Fawn sekali lagi.
"Kata seseorang yang sudah menjadi tawanan Ace selama 3 bulan lebih. Tidak bisa dipercaya."
"Rishan, hentikan..." Indira berusaha menyela.
Namun, Fawn menyahut lebih keras. "Perlu kuingatkan juga, aku satu-satunya orang yang berhasil lolos dari tawanan Ace."
"Tidakkah itu malah membuatmu mencurigakan, Fawn. Dia mampu menahanmu selama 3 bulan, dan entah bagaimana caranya, kau berhasil lolos. Kau yakin kau lolos dengan mudah karena kemampuanmu atau karena sesuatu yang lain?"
Rishan nampaknya mencurigai Fawn, dan kecurigaan itu tidak dapat disalahkan. Fawn yang mampu bebas dari Ace ketika pria itu mempunyai pertahanan dan penjagaan yang sangat ketat membuat kebebasan Fawn mencurigakan. Ia bisa saja dilepaskan untuk memata-matai pihak Evan.
__ADS_1
Indira menghela napasnya. "Rishan, cukup. Fawn sudah menjalani masa-masa yang sulit di sana, kau yang seperti ini tidak membantunya sama sekali."
"Pertanyaannya adalah, apakah dia memang membutuhkan bantuan? Dia menutupi berita tentangnya yang menjadi tawanan keluarga Hunter selama ini, dan bukannya berhenti bekerja, dia tetap mengabdikan dirinya kembali pada pekerjaan yang sudah menyeretnya ke neraka. Tidakkah itu aneh?"
"Apa kau pikir mudah untuk perempuan terbuka dalam traumanya?" Indira kali ini meninggikan suara. "Aku harap kau berhenti menyudutkan Fawn."
"Aku mengerti kecurigaanmu," Fawn yang sudah menerima tuduhan sepihak dari Rishan memutuskan buka suara. Ia tidak mau berbohong, tapi tidak pula ia mau mengutarakan kebenaran. Tidak ketika kenyamanan yang ia terima sekarang adalah buah dari tipuan Vera. Ia tidak bisa membuang usaha Vera ke jendela dan bertingkah seperti bajingan tidak tau diri. Juga..., Fawn tidak merasa ia bisa mempercayai siapa pun sekarang.
"Faktanya, kejadian yang menimpaku memang membuatku sangat sulit untuk menceritakan apa pun." Benar, ini adalah kebenaran. Fawn tidak mau orang-orang mengetahui hubungannya dengan Ace. Informasi itu hanya akan memberikan orang lain peluang untuk melukai Ace. Orang-orang seperti Evan adalah pria yang berbahaya.
"Aku tau pekerjaanku lah yang membawaku kepada situasi itu. Akan tetapi, aku tidak akan berhenti. Tidak setelah apa yang kualami, tidak ketika aku mengingat kembali jasa keluarga Rashid dalam menaungiku dan ibuku. Aku di sini karena loyalitasku, dan hanya itu!"
Mengakhiri argumennya, Fawn lalu duduk di bibir tempat tidur. Tubuhnya kembali menjerit sakit setelah sekian lama berdiri dan bersitegang dengan Rishan. Rasanya energinya jatuh ke nol, dan ia kehilangan daya di kakinya.
Ini pasti karena dia belum makan apa pun sejak semalam.
Ugh!
"Terima kasih atas loyalitasmu pada kami, Fawn. Aku berjanji kami akan terus melindungimu dan ibumu."
Ibu? Ah...!
"Ibuku...?" Fawn seperti menelan pisau ketika ia bersuara, ketika ia mengungkit ibunya di depan Indira dan Rishan. Sekali lagi, ibunya..., sosok terpenting yang seharusnya ia lindungi dengan nyawa, berada di luar sana tanpa perlindungan. Rentan terhadap ancaman.
"Jangan mencemaskan bibi Lilian, Evan sudah memindahkannya ke rumah sakit dengan fasilitas yang lebih baik."
"Hah?"
"Seperti yang kukatakan, ini hanya untuk melindungimu. Tidak akan baik bila Ace mempunyai akses kepada ibumu."
Tapi Evan bukan opsi yang lebih baik juga.
Kata-kata Indira seharusnya membuat Fawn yang mendengarkan lega, tapi..., karena ia sudah memahami bagaimana cara dunia hitam itu bekerja, kelegaan itu tidak ada.
Anehnya, Fawn malah merasakan deja vu.
Ah, dia kembali lagi pada masa-masa itu..., pada masa-masa ketika jam digital yang memindai pergerakannya masih melekat di pergelangan kakinya. Menjadi jeruji besi yang melingkupinya.
Evan sekarang memegang kelemahannya.
...----------------...
__ADS_1