DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
150. CURIGA


__ADS_3

"Kau boleh menangis kalau kau mau," ujar Margot. Sambil duduk bersandar di sofa tunggal yang menghadap balkon, Margot menoleh ke arah Vera. Bodyguard wanita yang telah melayaninya beberapa tahun belakangan.


Meskipun Vera menunjukkan ekspresi datar di wajahnya, Margot tidak bisa menahan diri dan penasaran pada isi hati wanita tersebut. Vera--jauh di dalam lubuk hatinya, mungkin sedang berduka dan terluka.


"Aku tidak menemukan alasan kenapa aku harus menangis, Bos." Vera menanggapi.


"Bukankah kematian Anggara cukup untuk membuatmu meneteskan air mata? Kalian menjalin hubungan, bukan? Yah, walau pada akhirnya aku memanfaatkan hubungan tersebut untuk kepentinganku. kau memulainya dengan tulus."


Ucapan Margot membuat Vera termenung sesaat. Tanpa dapat mengendalikan pikirannya, wajah Anggara yang pertama kali tersenyum padanya--mengundangnya ke dalam hubungan yang terbilang menyimpang--muncul di benak Vera. Ketika pertikaian dan peperangan antar keluarga ini belum membesar dan membakar semuanya menjadi abu, hubungan Vera dan Anggara dulunya bisa dibilang cukup menyenangkan.


"Itu adalah momen yang cukup mengesankan." Vera bergumam. "Tapi aku tidak akan menangis. Apa yang terjadi di antara aku dan Anggara adalah hubungan yang terjadi di luar pekerjaan. Ketika aku bekerja, aku tidak akan melibatkan perasaanku sama sekali."


"Apa itu artinya kau hanya akan menangis ketika pulang kerja?" Margot mengejek.


"Daripada itu, lebih seperti aku tidak akan menangis sama sekali."


 Hubungan Vera dan Anggara awalnya adalah hubungan yang berjalan murni karena ketertarikan satu sama lain. Hubungan konsensual tanpa melibatkan pekerjaan sama sekali.


Namun, setelah Margot menaruh ketertarikan pada hubungan keduanya, Vera yang tau kalau tidak ada masa depan di hubungannya dan Anggara memutuskan untuk menjadikan hubungan itu sebagai bagian dari misinya. Ia merajut kedekatan, menjalin kepercayaan, semata-mata agar Anggara terpikat padanya.


Membuat pria menaruh ketergantungan padanya bukanlah hal sulit bagi Vera. Ia sudah menjalin banyak hubungan sebelum bersama Anggara, Vera tau apa yang harus ia lakukan untuk menciptakan ilusi bernama afeksi tersebut.


Ketika Vera ditangkap dan di interogasi di basement keluarga Caspian, Vera menyelamatkan Anggara karena itu adalah misi yang diberikan Ace padanya. Ace tau kalau Evan akan memanfaatkan Anggara, Ace tau kalau Anggara akan menuruti Evan dengan buta. Ace tau kalau Anggara akan mati di tangan Fawn.


Ace membagi informasi itu pada Vera di malam ia tertangkap basah berhubungan dengan Anggara, singkatnya, Ace memberitahu Vera bahwa, jika ia ingin hidup lebih lama, ia sebaiknya memihak sisi yang akan menang. Sisi itu, tanpa perlu dipertanyakan lagi, sudah pasti di sisi Ace.


"Aku sudah membuat keputusanku," kata Vera. "Loyalitasku kepada keluarga Hunter tidak akan menyaingi perasaan pribadiku. Lagipula, untuk menangisi seorang pria, aku perlu menaruh hatiku padanya untuk bisa terluka." Tapi Vera tidak melakukan itu. Ia bersimpati pada sosok Anggara sebagai pria yang akan kalah nantinya, tapi ia tidak mencintai pria itu. Jadi...


"Aku senang mendengar kalau loyalitasmu lebih besar padaku, Vera. Kalau saja kau menjadi Fawn, meninggalkan loyalitasmu untuk orang yang kau sayang, aku akan sangat sedih."


"Apa kau begitu menyayangiku, bos Margot?" gantian Vera yang menggoda Margot.


"Aku akan sangat sedih bila aku harus menyingkirkanmu."


"Aku pikir kau akan sedikit romantis padaku, Bos."


"Itu harapan yang kebesaran." Margot meregangkan punggungnya dan menguap besar. "Ah, sekarang sudah jam 10 malam. Mengapa Fawn belum pulang? Padahal aku ingin mengajaknya makan malam."

__ADS_1


"Mungkin dia perlu menenangkan diri, Bos. Daripada aku, orang yang mungkin terguncang akibat meninggalnya Anggara adalah Fawn. Mengingat pria itu sudah hidup seperti dewa di kepala Fawn, menyingkirkannya pasti meninggalkan kehampaan."


"Yaah, itu masuk akal." Margot beranjak dari sofa dan meregangkan pinggulnya. Ia hendak menuju tempat tidur ketika Vera menutup pintu balkon. Untuk sekali lagi malam itu, Margot menatap kepada langit tanpa bulan. "Besok adalah hari senin." gumam Margot.


Besok, semuanya akan terselesaikan.


...----------------...


...NORMAL pov...


...----------------...


Senin datang dengan langit cerah. Ace keluar dari kamar dengan seulas senyum tipis mekar di wajahnya. Sementara ia keluar dari kamarnya pula, Carcel menyambutnya dengan bungkukan sopan.


"Apa kau sudah siap hari ini, Carcel?" Ace bertanya menyapa.


"Kami semua sudah siap, Bos."


"Bagaimana dengan paman Jack? Aku belum mendengar informasi darinya."


"Beliau akan datang jam 10 nanti."


Ace melenggang melewati Carcel dan menuju dapur. Ia perlu mengisi staminanya agar siap menghadapi hari ini. Hari yang paling penting yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini. Hari yang akan membawanya pada kemenangan mutlak.


"Bos Ace," Carcel mengikuti Ace dari belakang sambil menuju meja makan. "Aku mendapat kabar dari Rio hari ini."


"Aah, bagaimana kabarnya?" Mengingat kembali apa yang sudah terjadi kemarin, Fawn sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Tapi mengapa dia belum kembali?


"Fawn menemui kediaman Vita Harmond kemarin."


"..." langkah Ace terhenti sejenak. "Lalu?"


"Kami sudah memberikannya informasi mengenai keberadaan Vita seperti yang Bos perintahkan."


Informasi yang dimaksudkan adalah tentang Vita yang berpindah keluar negeri. Tentu saja, informasi itu adalah kepalsuan semata. Vita Harmond telah menghilang tidak hanya dari rumahnya, melainkan dari kehidupan. Keberadaan wanita itu telah Ace lenyapkan dari peta.


"Apa reaksi Fawn atas informasi itu?" Ace menoleh kepada Carcel. Ia menunggu tanggapan bodyguard-nya tersebut sambil menarik bangku di meja makan.

__ADS_1


"Dia tidak menunjukkan reaksi yang berarti. Akan tetapi, sesuatu sepertinya sudah terjadi ketika Fawn keluar dari kediaman keluarga Rashid. Kata Rio, Fawn menghabiskan waktu lama berbicara dengan Anggara sebelum membunuhnya. Ada kemungkinan..., sesuatu yang mereka bicarakan telah menciptakan kejanggalan dalam tingkah Fawn."


"Sesuatu, kah?" Ace merenung dengan kebingungan.


"Anggara itu..., saat mati pun dia masih mempunyai cara untuk mengusikku. Apa yang dia katakan kepada Fawn?"


"..." Masalahnya, Carcel tidak tau konteks pembicaraan mereka.


"Lupakan saja," tukas Ace segera. "Memangnya apa lagi yang tersisa untuk mereka bicarakan selain keberadaanku, bukan?"


"Apa ada kemungkinan untuk Fawn mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Bos?"


"Selalu ada kemungkinan." Ace menjeda ucapannya saat Felix datang dan menyajikan sarapan di atas meja.


"Maafkan keterlambatanku, Bos. Aku tidak tau kau akan sarapan hari ini." Ini adalah tindakan yang sangat asing.


"Di mana Margot?" tanya Ace.


"Dia sarapan di kamarnya."


"Katakan padanya untuk bertemu denganku di ruang diskusi jam 8 nanti."


"Baik, Bos." Felix lalu undur diri dari hadapan Ace.


Setelah Felix undur diri dari hadapan Ace, Carcel kembali melanjutkan topik yang sempat tertunda sebelumnya.


"Bos, dapatkah kita mempercayai Fawn sepenuhnya?"


"Tidak," jawaban Ace saat itu juga membuat Carcel melebarkan mata. Ia tidak menyangka Ace akan memberikan jawaban yang bertolak belakang menyangkut Fawn.


Apa ini artinya Ace tidak mempercayai Fawn sama sekali?


"Fawn adalah keberadaan asing di rumah ini, Carcel. Tapi dia juga mempunyai nilai yang sangat tinggi bagiku. Aku menghargainya dan sangat mencintainya, tapi aku cukup bijaksana untuk tidak mempercayainya sepenuhnya."


Terlebih bila sosok itu adalah Fawnia Alder. Dia bukan wanita yang gampang tertipu oleh trik dan manipulasi. Bahkan sosok palsu seperti Jem tidak mampu menipunya, Ace perlu berhati-hati pada ketajaman gadis itu dalam membaca situasi.


"Apa yang akan terjadi bila Fawn mengetahui apa yang sudah terjadi, Bos?"

__ADS_1


"Entahlah..., aku hanya akan tau keputusan macam apa yang akan dia buat ketika aku menemuinya."


...----------------...


__ADS_2