
...NORMAL pov...
...----------------...
Jack Hunter menajamkan pandangannya, napas berembus halus sementara ia memfokuskan pistol di tangannya tepat kepada titik sasaran di seberang ruangan. Merasa ia sudah berada di posisi yang sempurna, Jack pun menarik pelatuk pistolnya. Desingan peluru keluar seperti letusan, nyaring dan menyakitkan. Dengan kecepatan yang tidak mencapai sepersekian detik, peluru itu pun mendarat di targetnya. Tepat pada titik yang sudah ia tandai.
"Serius sekali," Ace menyapa Jack dengan berdiri di bilik yang berbeda dari pria itu. Jack yang berdiri di sebelahnya, dibatasi oleh sebuah kisi kaca, memakai headphone sebelum melancarkan tembakannya ke arah papan target.
Ace tidak melakukan persiapan yang mendalam, tidak menaruh fokus yang serius pula. Ia hanya datang dan langsung menembak tepat sasaran. Carcel yang berdiri di belakang Ace dan mengamati kinerja bosnya itu bertepuk tangan ringan.
"Tidak biasanya kau datang," Jack menegur Ace sembari melangkah keluar dari biliknya. Ia dan Ace sama-sama keluar dari sana dan menuju sofa yang terpajang di sudut ruang bawah tanah itu. Dua buah jus wortel diberikan seorang pelayan, disertai dengan sepiring cookies.
"Apa ini makanan anak-anak?" Jack tidak menyukai apa yang tersaji di meja. Dia lebih ke tipe pria yang minum alkohol di siang bolong.
"Jangan bawel, paman. Apa paman tidak tau kalau jus wortel sangat bagus untuk kesehatan matamu."
"Aku belum mempunyai masalah penglihatan, Ace."
"Lebih bagus untuk pencegahan, kalau begitu." Ace tanpa menunggu pamannya merespon, menyesap jus wortel itu. Kendati Ace bukan penggemar rasa buah itu, ia tetap meminum cairan berwarna orange itu. "Aku mau paman bermata sehat ketika aku menghancurkan Evan Caspian."
"Apa itu alasanmu kemari?" Jack mencibir. "Aku tidak akan kemana-mana dan sudah pasti, tidak akan menjadi buta, sebelum kau membalaskan kematian ayahmu."
"Mari kesampingkan sedikit masalah balas membalas ini, apa paman sudah dengar tentang jumlah bodyguard yang meningkat di kediaman Caspian?"
"Aku dengar. Sebagian dari mereka adalah tentara bayaran."
Ace manggut-manggut. "Aku sedang memikirkan, bila kita akan menyerang kediaman Evan Caspian, itu berarti kita akan membutuhkan lebih banyak orang, bukan?"
"Apa kau berencana menyerang ke sana?" Jack pikir, Ace akan menunggu Evan menyerangnya duluan.
"Pada akhirnya, aku dan Evan akan berhadap-hadapan. Aku tidak akan membiarkan dia mengotori pekarangan rumahku, paman. Jika ada darah yang harus tumpah, maka darah itu tidak akan tumpah di tempatku." Ace sudah bertekad akan menyerang duluan. Menumpaskan segala masalah dengan konfrontasi langsung.
"Apa Margot tau keputusanmu?"
"Dia akan tau nanti."
"Kau tidak bisa melibatkan Margot belakangan, Ace. Bagaimanapun, dia adalah sosok yang paling haus darah di antara kalian."
Ace tau itu, makanya dia lebih memilih merahasiakan segala perencanaannya dari Margot. Ia tidak mau kegilaan dan ambisi saudaranya itu membawa rencananya berakhir berantakan. Semuanya harus sesuai yang ia perhitungkan.
"Aku tidak ada niat berebut trofi dengan Margot. Selama aku bisa menakhlukkan kediaman Caspian, maka itu sudah cukup. Siapa membunuh siapa adalah terserah Margot."
"Jadi..., bagaimana dengan rencanamu?" Jack tidak berkomentar banyak tentang hubungan Ace dan Margot. Ia lebih tertarik meneruskan perundingan mereka. "Apa kau pikir Evan akan melakukan apa yang kau pikirkan?"
"Evan akan melakukannya. Lagipula, dia selama ini sudah terobsesi pada kelemahanku. Setelah Jem menumpahkan sedikit informasi tentangku kepadanya, Evan akan lupa pada apa pun rencana Max untuknya. Aku tau Evan, dia adalah sosok yang ingin menyelesaikan setiap permasalahan seorang diri. Bantuan Max--walau ia sangat mengagumi ayahnya--tetap akan menjadi beban baginya."
"Kita sangat terbantu karena kau memahami dengan baik kepribadian Evan, Ace. Aku tidak tau harus berterima kasih atau merasa sedih pada kenyataan bahwa bantuan ini ada karena kau sudah memanfaatkan kedekatan kalian yang sudah terbangun sejak lama."
"Kedekatan kami..., oh, apa maksudmu persahabatan kami dulu?" Evan menyeringai tipis. "Itu topik yang tidak perlu. Relasi kami saat remaja dan relasi kami sekarang adalah dua hal yang berbeda. Aku yang sekarang merasa aku tidak akan berkedip bila membunuhnya."
"Tapi Evan mungkin menaruh perasaan yang berbeda."
__ADS_1
"Maka itu akan menjadi kelemahannya."
Ace menyesap jusnya sekali lagi dan meringis saat rasa itu menyengat di kerongkongannya. Sangat tidak sedap dan membuatnya muak.
"Karena sekarang semuanya sudah di posisi yang sempurna, kita tinggal menunggu Evan Caspian jatuh ke dalam jebakan yang sudah kau siapkan." Jack bersandar di sofa, ia mengabaikan jus wortel itu sepenuhnya.
"Bagaimana dengan bodyguard yang berada di bawah paman? Apa mereka sudah siap?"
"Mereka sangat antusias, sebenarnya. Senjata yang kau bawa dari Utara beberapa bulan lalu sudah seperti mainan untuk mereka. Kalau pertikaian terjadi, aku merasa..., bahkan kau dan aku tidak perlu mengotori tangan sedikit pun."
"Itu kepercayaan diri yang tinggi, tapi aku tetap ingin paman siaga." Ace menyodorkan jus wortel itu sekali lagi ke depan pamannya. "Tetaplah sehat."
"Kau menjengkelkan," keluh Jack. Ia menghela napas. Mau tidak mau, ia terpaksa meminum cairan dengan warna menjijikkan itu.
"Kabari aku ketika rencanamu berjalan baik, Ace. Aku akan siaga di posisiku."
Ace berdiri dari sofa dan melenggang bersama Carcel di sisinya. "Habiskan saja minuman itu."
Sementara Ace terus melenggang keluar menuju lobi hotel--, tempat yang berada di atas lantai arena latihan menembak itu berada, Carcel yang berada di sisi Ace memberikan laporan yang baru saja dia terima.
"Bos, Vera dan Anggara akan melakukan pertemuan malam ini di Leviathan."
"Bagaimana kabar terkait reporter Jun?"
"Dia sudah mendiskusikan masalah menyangkut hubungan Anggara kepada Evan. Aku juga mendapat kabar kalau mereka bertengkar."
"Kabar?"
Ace seketika tersenyum. "Aku tidak menyangka Fawn akan mengadukan masalah internal keluarga Caspian padamu."
"Kurasa dia hanya melepas frustasinya. Bos tau sendiri kalau Fawn sangat protektif terhadap Anggara."
"Mendapat informasi dari Fawn itu bagus. Tapi Carcel, aku harap kau tidak menaruh kedekatan yang tidak perlu padanya. Jika Fawn menghubungimu lagi, minta dia berhenti."
"Apa itu baik-baik saja?"
"Aku tidak mau dia merasa kalau aku akan selalu berada di belakangnya. Memutuskan sedikit koneksi akan membuatnya merasa resah sendiri." Ace melanjutkan saat ia sampai di depan mobilnya. "Dengan begitu, aku akan tinggal di pikirannya lebih lama."
Carcel takjub. "Itu trik yang menarik."
...----------------...
Leviathan, di pukul delapan malam, Vera berdiri sendirian di lorong belakang yang berpencahayaan temaram dan sunyi.
Hari ini, ketika Vera sedang sibuk memotong kuku Margot, ia mendapat pesan singkat dari Anggara. Pesan yang mengundangnya agar bertemu di Leviathan. Awalnya, Vera enggan menyanggupi ajakan itu, tapi Margot merebut ponselnya dan membaca pesan itu.
"Pergi saja, aku tidak membutuhkanmu," adalah usiran Margot yang blak-blakan.
Vera merasa campur aduk setelah itu juga. Ia merasa--entah bagaimana--Margot tidak menunjukkan kepedulian mendalam atas hubungannya dan Anggara. Padahal di pikiran Vera, ia sudah mengira kalau Margot akan marah besar padanya. Akan memakinya atau mungkin lebih parah, memecatnya. Tapi tidak. Setelah Margot mendapat informasi menyangkut relasi Vera dan Anggara melalui Ace, Margot cuma mengangguk dua kali dan bahu bergidik tidak peduli.
Apa hanya Vera yang merasa kalau ia sangat dekat dengan Margot? Apa Margot memang tidak peduli pada apa pun selain dirinya sendiri?
__ADS_1
Yah, seharusnya dia tidak mempertanyakan itu juga. Maksud Vera, Margot memang sedikit menyimpang dari kenormalan. Apa yang bisa dia harapkan dari wanita yang tidur dengan cahaya pink di kamarnya?
Sekarang..., mengesampingkan Margot..., Vera akan bertemu dengan Anggara. Pria yang sudah menjadi partner-nya. Tidak, partner yang Vera maksud tidak memiliki arti yang serius. Mereka bukan sepasang kekasih. Partner di sini hanya digunakan untuk mendeskripsikan hubungan konsensual yang terjalin di antara mereka. Hubungan tanpa status, tanpa nama, tanpa perasaan dan sudah pasti..., tanpa ikatan.
"Aku pikir dia sibuk belakangan ini. Kenapa tiba-tiba mengajakku bertemu?" Vera bergumam sendiri sambil menatap layar ponselnya. Vera bermain game simple di ponselnya, game yang menukar-tukar box dengan warna yang sama. Sementara dia terbenam dalam permainan itu juga, Vera tidak begitu menaruh perhatian pada kedatangan seseorang yang langsung menutup ponselnya dengan telapak tangan.
Vera mendongak dan hendak menatap sosok yang di benaknya, sudah pasti Anggara. Dan itu memang benar.
Hanya saja, sebelum Vera mampu mengutarakan kata-kata sapaan padanya, ia sudah dibungkam oleh sebuah pagutan. Mata Vera melebar saat kepalanya terdorong ke dinding. Anggara menyapanya dengan sebuah ciuman yang kasar dan tak sabaran. Sebuah ciuman yang menyiratkan kehausan dan kefrustasian.
Vera lama-lama memejamkan matanya, membiarkan Anggara mendominasinya. Ia bersandar di tembok dingin belakangnya. Tangan berpegangan rendah di jaket kulit Anggara yang terbuka. Ia menarik pria itu merapat ke dadanya, berbagi panas tubuh yang sama.
Lidah Anggara menyusup dan bermain di dalam mulutnya, kepala di miringkan sedemikian rupa. mengeksplorasinya dengan penuh damba.
Vera membalas kecupan Anggara untuk beberapa lama, dagu mendongak dengan bibir yang terbuka. Mereka saling meraup, merebut udara dari satu sama lain. Hingga akhirnya, Vera menemukan kesadarannya kembali. Ia meredam nafsu yang membuncah di dadanya, dan dengan segera saja..., ia mendorong Anggara lepas darinya.
Bibir Vera basah oleh saliva, napas naik turun terengah.
Anggara meninggikan alisnya, keberatan atas tindakan Vera.
"Apa ini alasanmu mengajakku bertemu?" Vera menatap Anggara sambil menyapu jejak saliva di bibirnya.
"Apa kau keberatan?"
"Aku pikir kita sudah punya jadwal sendiri." Vera berkomentar ketus. "Aku belum libur bekerja. Aku terpaksa menemuimu karena aku pikir ada yang penting."
"Aku butuh hiburan," ujar Anggara. Matanya terfokus pada Vera sepenuhnya.
"Aku bukan hewan sirkus yang bertugas untuk menghiburmu." Vera menepis lengan Anggara dari pundaknya. "Kalau kau butuh hiburan, cari wanita lain."
"Aku pikir kau punyaku." Anggara menekan pundak Vera kembali ke posisinya semula.
"Kita punya hubungan konsensual."
Vera menatap Anggara, mata memindai wajah pria itu dengan seksama. Saat itu juga, Vera menyadari ada jejak memar di sudut mata dan bibir pria itu. Tangan Vera naik dan hendak menyentuh wajah Anggara, tapi di saat yang bersamaan, Anggara menghentikannya.
"Jangan," cegah Anggara.
"Apa yang terjadi?"
"Bukan sesuatu yang serius."
"Kau yakin?" Vera mencemaskan Anggara. Ia tidak pernah menemukan pria itu dalam keadaan seperti ini. Lagipula, siapa yang sudah berani memukulnya? Anggara dari semua orang.
"Hanya masalah sepele." Anggara berpindah ke samping Vera, punggung turut menyapa dinding.
"Vera, kurasa..., mulai hari ini, bagaimana kalau relasi kita berhenti sampai di sini?"
"..."
"..."
__ADS_1
...----------------...