
...NORMAL pov...
...----------------...
Bukan salah Vera bila ketika ia menanggapi Anggara dengan kening terangkat sebelah. Matanya menyorot pria itu menyiratkan keterkejutan sementara bibirnya melepaskan sebuah tawa tertahan.
"Oh?" Vera terhenyak. Mana mungkin dia tidak terhenyak. Setelah semua yang terjadi di antara dirinya dan Anggara. Kendati hubungan mereka merupakan hubungan fisikal, Vera cukup menyukai menghabiskan waktunya bersama Anggara. Ia pikir, setidaknya, bila Anggara menginginkan perpisahan, mereka akan membicarakannya baik-baik dan berpisah dengan alasan yang terbilang konsensual dan masuk akal.
Namun, bukannya datang dengan alasan dan penjelasan, Anggara hanya mengatakan 'Kita harus berpisah' seperti dia adalah sosok yang superior dalam hubungan itu dan Vera hanya bisa mengangguk patuh dan berjalan pulang dengan kesedihan.
Tidak. Vera bukan sebuah tisu yang bisa pria itu pakai dan dia lempar ke pinggir jalan sesuka hatinya.
"Setidaknya jelaskan kenapa?" Vera menelan kekesalan yang menggumpal tak kasat mata di kerongkongannya, membuat ia kesulitan mengeluarkan suara.
"Tidak ada yang serius. Kita tidak serius. Jadi..."
"Kalau kau mau berpisah, Angga. Setidaknya kumpulkan keberanianmu dan berhenti mengulur pembicaraan kesana-kemari. Kenapa kau tiba-tiba mau berpisah?"
"Aku bosan padamu," jawab Anggara dan ia seharusnya tidak mengatakan itu karena tangan Vera langsung menghantam wajahnya. Memukulnya sampai kepalanya terteleng mundur.
"Kau bajingan, Anggara. Aku harap kau terbakar di neraka."
Anggara menelan darah di mulutnya, perih yang datang dari tinju itu luar biasa. Vera hendak berlalu dari sana dan Anggara seketika menarik lengan gadis itu. Menariknya cukup kuat sampai Vera termundur beberapa langkah.
"Kenapa kau sangat marah?" Anggara meninggikan suaranya. Tidak menyadari kalau dia sendiri--juga--menunjukkan kemarahan.
"Karena kau biadab brengsek yang tidak bisa bertanggung jawab pada ulahmu sendiri dan kau tidak punya hormat sama sekali kepadaku."
"Kenapa aku harus menghormatimu?" Anggara menantang Vera. "Siapa kau dan siapa aku?"
"Wow..., aku terharu." Vera mendengus remeh. "Aku tidak menyangka kau bisa menjadi lebih rendah daripada sebelumnya, tapi sekarang kau bersikap sangat menjijikkan Anggara. Makan segala title dan hartamu itu sampai kau mati tercekik atas kekayaanmu, aku tidak peduli!"
Vera hendak berlalu lagi dan kali ini Anggara memblokir jalan Vera dengan tubuhnya sendiri.
"Apa kau mau mati?" Suara Vera penuh penekanan.
"Haaah..." Anggara menghela napas. Meredakan amarah yang sudah berkumpul di kepalanya. Ia menatap Vera sekali lagi, sepasang matanya yang menyiratkan amukan dan kemurkaan--melunak. Suara keluar dari bibirnya, dan kali ini tidak ada kecaman dalam intonasinya.
"Kenapa kau tidak bisa menerima permintaanku dengan apa adanya?" Suara anggara berubah putus asa.
"Kau berdelusi kalau kau pikir aku..., aku akan patuh kepada ucapanmu."
"Kau patuh pada setiap perintahku ketika kita melakukan itu..."
"Aku hanya patuh karena aku menyukai apa yang kau lakukan padaku. Di luar itu, kau tidak punya kendali atasku, Anggara."
Anggara diam, ia diam karena ia mengerti apa yang Vera katakan bukanlah sebuah kesalahan. Hubungan mereka berlandaskan pada persetujuan satu sama lain. Bahwa, meskipun ia berada di pihak yang dominan ketika mereka di kamar--ia tidak punya kendali apa-apa terhadap Vera di luar itu. Ia tidak punya hak penuh untuk mencampakkan Vera begitu saja dan mengharapkan gadis itu mematuhinya.
Perjanjian hubungan mereka tidak seperti itu. Mereka setidaknya, seharusnya, saling menghormati satu sama lain. Namun, ia sudah merendahkan Vera. Melukai gadis itu dengan intensi agar Vera setuju meninggalkannya. Anggara yakin itu adalah cara yang benar, sebelumnya. Sampai ia menyadari Vera benar-benar terlukai atas ucapannya. Anggara tidak bisa.
"Vera, I'm sorry." Anggara merendahkan suaranya, pandangannya. Ia mencoba meraih pergelangan tangan Vera sampai gadis itu menangkisnya dan menarik satu langkah mundur dari hadapannya.
"Aku seharusnya tidak mengatakan itu." Anggara mengusap wajahnya frustasi. "Aku salah, oke. Aku..., aku tidak berpikir jernih."
__ADS_1
Vera masih enggan menanggapinya. Vera hanya berdiri di sana, menatap Anggara dengan sepasang mata yang meruncing penuh penghakiman.
"Aku..., aku akan menjelaskan situasinya padamu..." Anggara melanjutkan ucapannya. "Dan jika aku jujur padamu..., apakah kau mau menuruti permintaanku?"
"Kau tidak mempunyai kontrol atas keputusanku, Anggara."
"Dengar, Vera. Aku ingin kita berpisah baik-baik, oke? Aku tidak mau melukaimu..."
"Terlalu lambat untuk pengakuan itu. Kau sudah melukaiku tiga menit lalu."
Anggara menarik napas. "Aku tau, maafkan aku."
"Jadi...," tidak berniat menyeret rasa bersalah Anggara lama-lama, Vera akhirnya memutuskan kalau pembicaraan ini perlu dilanjutkan dan tidak berputar-putar di topik yang sama. "Apa kau sudah siap memberiku penjelasan tanpa merendahkanku sekarang?"
"Aku akan mengatakannya padamu."
Saat Anggara hendak menumpahkan penjelasannya, Vera yang sejak tadi berdiri dalam postur yang tegang dan penuh intimidasi, merilekskan ototnya. Pundaknya yang tegap merosot lesu. Ia mendekati tembok dan kembali bersandar di sana. Rokok keluar dari kantongnya, dan ia menyalakan seputung rokok untuk dirinya sendiri.
Anggara memperhatikan Vera, dan sampai saat ini, ia masih bertanya-tanya bagaimana rokok yang seharusnya menjadi sumber penyakit--membuat seorang seperti Vera, terlihat mempesona?
"Apa kau mau?" Vera mengira Anggara memperhatikannya karena rokok itu, jadi ia menawarkan satu.
Anggara menggeleng.
"Seperti yang kau ketahui, Vera. Hubunganku dan Evan, dan Ace..., semuanya runtuh berantakan. Aku dan Evan, kami perlu bekerja sama kalau kami tidak ingin menjadi korban Ace. Untuk bertahan hidup, kami harus menyingkirkannya."
"Itu lelucon yang bagus, lalu?" Vera jujur saja--skeptis terhadap hasil perlawanan Anggara dan Evan. Ace bukanlah sosok yang ingin kau jadikan musuh, Vera tau karena dia sudah melihat langsung betapa monsternya pria itu.
"Aku tau kau meremehkan kami..., aku tidak akan menyalahkanmu karena kau tau aku..., aku bukan orang yang kompeten di bidang ini."
"Aku terharu kau memujiku." Anggara tersenyum miris.
"Aku hanya bicara fakta." Vera menyesap rokoknya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan kabut asap sebelum menghembuskan napasnya yang berkabut keluar dari mulut.
"Lalu, apa kaitan masalah itu dengan kita?" tanya Vera lagi. Kali ini kepalanya menoleh ke arah Anggara.
"Evan..., dia tau hubungan kita."
"Well, itu mengejutkan. Tapi itu bukan masalah, kan? Maksudku..., kau punya hak menjalin hubungan dengan siapa saja, aku atau bukan. Itu bukan sesuatu yang perlu dia ikut-campuri."
"Aku dan Evan..., kami agak berbeda dari yang kau pikirkan."
Vera bingung. "Apa maksudmu?"
"Aku..., aku bukan lagi sosok yang berdiri setara dengan Evan. Aku..., aku hanya maskot. Aku tidak mempunyai kekuatan apa pun di balik namaku. Satu-satunya cara keluargaku, kami dapat bertahan adalah dengan menempel pada keluarga Caspian seperti lintah. Apa kau tau artinya itu?"
Tentu saja Vera tau. Itu artinya, bila Evan menunjukkan ketidak-senangan pada Anggara, ketidak-setujuan, maka Anggara sebagai pihak yang lebih rendah darinya--tidak mampu melakukan apa-apa selain patuh.
"Jadi Evan tidak mau kau bersamaku, begitu?"
"Semenjak kau dari pihak Ace, dia bahkan memintaku membunuhmu."
"Lalu, kenapa kau tidak membunuhku?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa melakukannya." Anggara menarik napas. "Aku yang menyeretmu sejak awal dalam hubungan ini, jika ada orang yang seharusnya terluka, maka itu adalah aku."
"Kau bijak," Vera terkekeh. "Tapi aku yang setuju dan membiarkanmu menyeretku, Anggara. Kau seharusnya tidak menanggung semuanya sendirian."
"Sekarang, kau mengerti keputusanku, kan?" Anggara memiringkan tubuhnya menghadap Vera. Matanya menyiratkan kesedihan yang berpadu dengan ketidak-berdayaan.
"Aku mengerti." gumam Vera. "Tapi maafkan aku, aku tidak akan setuju pada keputusanmu."
"Huh?"
"Aku suka menghabiskan waktu bersamamu, Angga. Kita sangat cocok dari segi preferensi, dan aku nyaman-nyaman saja di dekatmu, bahkan bila kita tidak melakukan apa-apa, kau adalah sosok yang berarti bagiku. Aku tidak mau mengalah dan membiarkan Evan merebutmu dariku."
Anggara tau ucapan Vera seharusnya membuat dia kesal, tapi entah mengapa, ia malah tertawa. "Apa kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?"
"Ya. Seratus persen."
"Vera, kau tidak bisa. Evan adalah sosok yang berbahaya. Dia bisa melukaimu."
"Dia bisa mencoba."
"Vera."
"Pokoknya aku tidak mau kita berpisah." Vera mendekati Anggara, mata menunjukkan determinasi penuh. "Kau adalah partner favorite-ku. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun menyangkut keselamatanku, aku..., aku akan melindungi diriku sendiri. Kau hanya perlu selalu ada untukku. Oke?"
Anggara menghela napas. Bagaimana bisa ia menolak Vera ketika gadis itu sangat dekat di dadanya? Memanipulasinya dengan sentuhan yang membuat ia menahan napasnya. Anggara tidak bisa menolak Vera, tidak ketika ia ingin mengunci gadis itu di kamarnya. Menyentuhnya, menjinakkan sisi liarnya. Membuat Vera melupakan segala hal dan hanya mengingat namanya.
Ini adalah keegoisan yang tidak bisa ia lepaskan.
Anggara tau ini adalah sebuah keputusan yang akan ia sesalkan, tapi nanti adalah nanti. Ia akan menutup mata dan berpura-pura kalau ia sedang tidak membuat kesalahan sekarang.
Ia akan mendekap Vera sekali lagi hari ini, dan menyalahkan dirinya untuk esok hari.
Vera, di satu sisi, ketika Anggara mendekapnya, tersenyum samar dengan kelegaan dan mungkin sedikit perasaan...,
Drrrttttt..., Drrrrrtttt!!!
Sebuah getaran ponsel menginterupsi keintiman keduanya. Dengan rela tak rela, Vera melepaskan pagutannya dari Anggara. Vera mengecek ponselnya dan mendapati nama David tertera di sana, menghubunginya.
"Halo," sapa Vera. Ia mencoba mempertahankan ketenangannya, kendati sekarang Anggara mendekap lehernya. Bernapas di tengkuknya.
"Vera, kau di mana?"
"Aku..., aku di..."
"Bisa kau kembali segera," ucapan David terdengar tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi?"
"Nona Margot diserang."
Vera mendorong Anggara sepenuhnya menjauh.
"Aku akan kembali."
__ADS_1
...----------------...