DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
38. KEJUTAN MARGOT


__ADS_3

...ACE pov...


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul enam pagi dan aku belum menutup mata sama sekali. Aku terjaga semalaman sementara Fawn terlelap nyaman di sampingku. Dengan lengan yang memangku pipinya, dia terlelap dengan wajah yang jelita. Ekspresinya yang kerap keras dan selalu dalam mode waspada sekarang sangat tenang. Aku yang berbaring di sebelahnya tidak bisa memalingkan muka.


Isi kepalaku penuh tentang Fawn semalaman ini. Tentang apa yang dia ucapkan padaku mengenai cinta dan alasan mengapa ia mampu bertahan dalam lingkungan yang penuh stres ini.


Aku--jujur saja--sangat mengerti posisi Fawn. Aku pun, bila bukan karena orang yang kusayang, aku tidak mungkin menempatkan diriku di posisi penuh tekanan ini. Aku tidak akan menempatkan diriku dalam segala tekanan dan kutukan bernama harapan orang-orang jika bukan karena Margot.


Aku sangat mencintai Margot. Dia adalah saudaraku satu-satunya, keluarga terakhir yang kumiliki di bumi ini. Dia adalah sosok yang selalu mendukung kebebasanku dulu, selalu mengapresiasi keputusanku dan selalu ada untukku ketika ayah dan ibu tidak menyetujui tindakanku. Margot adalah segalanya di hidupku, ketika dia hancur, aku bersumpah akan melakukan apa pun untuk memperbaikinya. Aku akan membawa dirinya keluar dari labirin penuh ambisi itu. Aku...Aku akan selalu menempatkan Margot di posisi pertama.


Dan paman Jack benar.


Keberadaan Fawn di sini akan menempatkan keluarga kami dalam bahaya. Pertikaian antar keluarga dapat terjadi. Bukan berarti aku tidak mampu memenangkan pertikaian itu, tapi aku tidak mau memberikan peluang untuk keluarga Rashid ataupun Caspian menyentuh kami.


Aku akan menyingkirkan segala hal yang mampu menjadi hambatan untuk kami mencapai kemenangan. Fawn.


Aku meyakinkan diriku semalaman akan keputusan itu. Aku memikirkan bahwa keputusanku tidak hanya baik untukku, tapi juga baik untuk Fawn. Dia sudah lama mendambakan kematian, bukan? Ini baik untuknya..., dia akan menemukan kebebasan yang dia idam-idamkan...


Iya, ini adalah keputusan yang tepat...


Menarik napas, aku bangkit menuju meja kerjaku, mengambil pistol dari sana dan dengan langkah samar, aku menyapa Fawn yang masih terlelap di tempat tidur. Kedamaian di wajahnya membuatku sedikit bergetar.


Walau waktu yang kami lewati bersama tidak lama, dia adalah gadis yang menyenangkan. Dia mendengarkan keluh-kesahku, memahami kesulitanku, dia adalah gadis dengan kejujuran dan loyalitas yang menakjubkan. Bahkan sampai sekarang, aku belum mampu melunturkan kesetiaannya pada Indira. Dia adalah gadis yang sangat kuat dan luar biasa.


Fawnia Alder..., terima kasih atas hiburan yang telah kau berikan selama ini..., meskipun singkat...


"Apa kau akan melakukannya atau tidak?" Fawn membuka mata.


Dengan mata yang masih merah, dia menatapku sayu. Tidak ada kebencian di sana selain kelegaan. Bibirnya yang pucat menyunggingkan seulas senyuman perpisahan. Layaknya sahabat lama yang baru bertemu, keramahan dan binar rindu di matanya menyapa ujung pistol yang sekarang teracung di dahinya. Ia tidak terkejut atau takut, ia bertindak seperti ia sudah menunggu momen-momen ini.


"Apa yang kau pikirkan?" Aku bertanya dengan sedikit keingintahuan.


"Sekarang? Tidak ada."


"Apa kau sangat membenciku sampai-sampai mati tidak membuatmu takut sama sekali?"

__ADS_1


"Apakah ada akhir lain untukku selain kematian? Di sini..., aku memang datang untuk mati. Entah aku membencimu atau tidak, apa yang kudapatkan tetap kematian."


Fawn mengatakan kebenaran. Tentunya, dia memang dikirim oleh Anggara untuk mati. Ia--andai saja dia tidak menarik perhatianku dengan matanya yang liar dan berani, dia mungkin sudah mati saat kami pertama kali bertemu. Dia bisa saja mati lebih cepat andai saja aku tidak mengulur waktu dan menjadikannya mainanku.


"Kau memang sangat siap, bukan?" Aku berharap sedikit saja, binar di matanya menunjukkan ketakutan dan penyesalan. Tapi ketiadaan dua emosi itu membuatku tidak nyaman. Fawn terlalu tenang dan itu menyulitkan. Hatiku..., entah mengapa aku merasakan sakit di dadaku.


Aku harus menyingkirkannya, itu adalah hal yang tepat!


"Aku harap kau juga mendapatkan kebebasan, Ace." Fawn menutup mata. Siap menyambut kematian di depan matanya.


Menarik napas dan menegapkan postur tubuhku...


Cklek!


 Suara pintu terbuka, aku tidak perlu repot-repot untuk mengecek siapa.


"Aww, apa ini?" Suara Margot tidak menurunkan siagaku sama sekali. Aku akan mengakhiri hubunganku dan Fawn sampai di sini saja.


"Apa kalian bertengkar lagi? Ace? Fawn?"


Aku tidak memberikan jawaban.


"Aku akan melakukannya." kataku tegas.


Margot terkekeh dengan suara dan mata yang memancarkan aura mengerikan.


Margareth Hunter yang sebenarnya adalah Margot yang sekarang. Tidak peduli betapa mulus dia menyembunyikan dendam hitam di hatinya dengan kegilaan, dia yang asli tidak akan pernah menghilang. Dia adalah Margot yang memohon padaku untuk menemukan pembunuh orangtua kami. Margot yang mengacungkan peluru ke mulutnya bila dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia adalah Margot yang sudah mengikatku di tempat ini.


"Kau tau, Ace..., ada batasan untuk sebuah kebohongan." Margot menyusuri sepanjang lenganku yang memegang pistol dengan jemari lentiknya. Kuku-kuku hitam itu menyapa pistol di tanganku dan dalam detik-detik yang tidak kuperkirakan, Margot merebut senjata itu secepat kilat dan...Bang!!!


"...."


"..."


Waktu di antara kami seperti berhenti. 


Jantungku seperti jatuh ke jempol kaki. Dengan keterkejutan yang besar, aku menatap ke arah tembakan Margot. Ke arah Fawn yang membuka matanya sangat lebar dalam keterkejutan.

__ADS_1


"APA YANG KAU LAKUKAN?" Aku berteriak keras dari dasar paru-paruku.


Margot menyerahkan pistol itu ke tanganku dengan seringai mengerikan di parasnya. "Bukankah kau mau menembaknya?"


Itu memang...,


"Kau sedang tidak berpikir jernih, Ace." Margot memutar mata, seakan-akan meremehkan keseriusan tekadku sebelumnya. Dengan langkah santai, Margot menghampiri Fawn yang masih duduk di tempat tidur. Gadis itu tentunya--masih hidup. Peluru yang ditembakkan Margot meleset di dekat kakinya.


"Kalau kau ingin membunuhnya, kau sudah menyelesaikan dia sebelum dia membuka mata." Margot menyapa Fawn dan melabuhkan cengkraman di leher gadis itu. Aku yang berdiri di belakang mereka segera berbalik dan membuang muka.


Aku masih belum bisa mengumpulkan ketenanganku setelah apa yang terjadi. Pemikiran kalau Fawn akan menghilang dari hadapanku membuat sesuatu di dalam diriku bergemuruh riuh. Aku bergetar dalam keterkejutan dan paling membingungkan, aku ketakutan.


"Fawn..." suara Margot menyapa kupingku. "Apa aku menakutimu?"


"Ti-tidak."


Itu kebohongan. Siapa yang tidak akan terkejut dengan tembakan yang datang tiba-tiba? Tidak peduli betapa siapnya Fawn pada kematian, pemikiran kalau itu akan datang secepat kedipan mata pasti akan membuat jantungnya meledak dalam keterkejutan.


"Ace--tuanmu sangat stres belakangan ini..." Margot berucap sambil memberikan kecupan di pipi Fawn, pemandangan itu membuatku tidak nyaman. Apa dia berusaha menakuti Fawn dengan kepribadian suramnya?


"Untuk sementara, sampai keawarasan Ace kembali..., aku akan menjadi tuanmu."


"HUH?" Bagaimana bisa Margot membuat keputusan sepihak macam itu?


"Dia punyaku, Margot." Aku menyela dengan kesal.


"Kau baru saja berusaha menyingkirkannya, apa aku salah? Apa kau lupa kau nyaris meledakkan kepalanya barusan?"


"Itu kau..."


"Tidak," Margot memotongku cepat. "Aku hanya menunjukkan keinginanmu yang sebenarnya, kau belum siap dia mati. Itu tidak mengejutkan, Fawn memang menggemaskan..." Margot mengakhiri ucapannya dengan kekehan, ia melirik Fawn dan mencubit pipi gadis itu dengan keras. Fawn meringis kesakitan.


"Aku akan mengamankannya sampai pikiranmu jernih," ujar Margot kembali. "Aku tidak mau kau membuat keputusan dengan gegabah dan membuatmu hancur. Kau adalah pionku, Ace. Kau paham betapa berharganya kau untukku, bukan? Kita masih memiliki misi yang perlu dilaksanakan. Aku tidak mau..., karena kebodohanmu..., kau berakhir kehilangan kewarasan dan menjadi sosok yang tidak berguna."


"Kau hanya mencemaskan dirimu sendiri," ejekku lesu.


Sejenak, aku mengira Margot mencemaskan aku dan bagaimana keputusanku akan mempengaruhi kehidupanku. Tapi sekarang, setelah mendengar ocehannya, aku merasa menyedihkan karena sudah besar kepala. Margot hanya mengutamakan kesehatan mentalku agar aku mampu memenuhi ambisinya.

__ADS_1


"Terserah kau saja, lakukan apa yang kau mau." Aku membalikkan badan dan melenggang keluar dari kamarku.


...----------------...


__ADS_2