
NORMAL pov
...----------------...
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Kata-kata itu keluar dari mulut Vera dengan penuh penekanan dan teriakan tertahan. Lawan bicaranya--seorang pria dengan rambut pirang biru--menatap Vera seperti pria tidak bersalah.
"Clubbing, apalagi memangnya?" Pria itu menyahut dengan suara jenaka. Alisnya yang diwarnai senada dengan rambutnya, mengerut. Mempertanyakan Vera seolah-olah pertanyaan gadis itu tidak masuk akal.
"Lalu kenapa kau menghampiriku, keparat? Apa kau tidak sadar aku sedang bekerja?" Vera masih menahan suaranya agar tidak meledak.
Tadi--atau lebih tepatnya 15 menit yang lalu, si pria dengan surai biru elektrik itu menghampirinya seperti pemabuk gila. Tidak menyadari posisi Vera yang sedang bekerja. Kedatangannya membuat segala pengawal berbisik bersahutan di kuping Vera, menanyakan situasi Vera apakah aman atau tidak?
Margot dan Anggara bahkan berhenti bicara dan melihat ke arah mereka, bertanya-tanya terhadap kedatangan makhluk asing itu. Untungnya saat itu Margot sedang dalam mood baik. Dia membaca situasi Vera dan meminta Vera menangani laki-laki yang Vera katakan sebagai 'kenalan'.
Jadi, di sinilah Vera sekarang. Di lorong sempit yang terhubung pada toilet, dia berdiri berhadap-hadapan dengan si 'kenalan'-nya.
"Relax. Aku tidak tau kau sedang bekerja." si pria menggaruk alisnya dan tertawa kecil. "Jadi, apa wanita barusan bos-mu? Dia cantik..., apa aku boleh mendekatinya?"
"Apa kau mau mati?" Vera mendorong pria itu ke dinding.
"Hei--slow, aku bercanda..., well, tidak juga. Aku tidak akan mendekatinya oke, oke...!"
"Kalau kau masih mau hidup, jangan berkeliaran di sekitarku, Alle."
"Tapi aku membutuhkanmu..." Alle--nama si pria--meraih pergelangan tangan Vera yang masih mencengkeram jaket kulitnya. "Lebih tepatnya..., aku butuh uang cash..., apa kau membawa uang? Aku dirampok, sialan. Teman-temanku mengerjaiku, aku kalah taruhan dan mereka akan mengambil mobilku kalau aku tidak mentraktir mereka--"
"Apa aku tabunganmu?"
"Veraaa, kau tau kau spesial bagiku. Mana mungkin aku melihatmu sebagai tabungan. Kau membuatku terdengar jahat. Apa hanya aku yang memanfaatkanmu di sini? Apa aku memanfaatkanmu? Kita adalah sepasang kekasih, ingat? Sudah sewajarnya kau membantuku..."
"..."
"Veraaa..." Suara Alle melembut. Dia yang berdiri tinggi di hadapan Vera menyamaratakan tingginya dengan wajah pucat Vera sebelum melabuhkan kecupan di pipi gadis itu. "I love you..."
"Tsk!" Vera mengeluarkan dompetnya dengan kesal. Tidak ada hal yang bisa dia lakukan ketika hatinya melemah oleh setiap bujukan yang pria itu berikan. Berlembar-lembar uang ia berikan kepada Alle sebelum kembali menodongkan telunjuknya di depan wajah pria itu.
"Ini terakhir kalinya aku membiarkanmu mendekatiku ketika aku bekerja, Alle. Kalau kau muncul sesuka hatimu lagi, aku tidak akan segan-segan membiarkan teman-temanku membunuhmu."
"Aww, romantisnya. Apa kau sedang memancing gairahku dengan bertingkah seperti itu?" senyum Alle merekah tipis. "Kau tau aku suka kau yang tegas seperti ini..., hehehehe."
"Alle!"
"Fine, aku tidak akan dekat-dekat. Terima kasih atas bantuannya, Vera. You're my precious..." sebelum berlalu dari hadapan Vera, Alle mengecup uang yang gadis itu berikan dan menaruh segulung uang itu di jaket kulitnya. "See you."
Setelah kepergian Alle, Vera berdiri sendirian di lorong yang sunyi. Bunyi dentuman musik terdengar samar di lorong itu. Ia menarik napas sebentar sebelum akhirnya menyalakan kembali alat dengar yang terhubung pada Willa dan bodyguard lainnya.
"Willa, di mana posisimu sekarang?" Vera bersandar di tembok sambil memijit kening.
"Kami masih berada di tempat yang sama."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
"Ver, apa kau baik-baik saja?"
Ditanya seperti itu, Vera terdiam sebentar sebelum memaksakan senyumnya mekar di kegelapan. "Aku baik. Hanya masalah kecil."
"Baiklah," Willa mengakhiri tanyanya dan Vera pun kembali menegapkan tubuh, siap untuk pergi. Saat itu juga, ketika ia hendak melangkah, pintu kaca yang terhubung ke lorong itu terbuka. Anggara melangkah keluar dari pintu itu dan menatap tepat ke arahnya.
"Tuan Anggara," Vera membungkuk sopan sebagai sapaan.
"Kita bertemu lagi..." Anggara tersenyum kepada kebetulan yang terus berdatangan.
"Mmm."
"Kemana perginya kenalan-mu?" Anggara--seperti tidak membaca situasi Vera yang ingin melarikan diri dari hadapannya, sengaja memperpanjang tanyanya. Ia melirik kiri kanan, bertingkah seperti laki-laki idiot yang tidak bisa melihat.
"Urusan kami sudah selesai, jadi dia sudah pergi."
"Pasti urusan yang penting..." Mata Anggara bergulir kepada dompet yang berada di tangan Vera sebelum kembali naik dan menatap wajah gadis itu. "Apa kau baik-baik saja?"
Menyadari arah tatapan Anggara, Vera segera saja menjejalkan dompetnya di kantong celana. Rasanya seperti tertangkap basah melakukan kesalahan walau sebenarnya Vera tidak melakukan kesalahan. Tidak dalam sudut pandangnya.
"Aku baik, tuan Anggara. Terima kasih sudah bertanya." Vera mengembangkan cengiran lebar yang kerap ia gunakan sebagai tameng untuk menutupi ketidak-nyamanannya.
"Hn." Anggara tidak terpedaya.
"Aku akan kembali, kalau begitu. Tuan Anggara, permisi."
...----------------...
"Apa yang terjadi padamu?" Margot menanyai Vera ketika pengawalnya itu kembali. Kendati hadir dengan ekspresi datarnya yang biasa, Margot bisa merasakan kalau Vera-nya sedang dalam suasana hati yang tidak baik. "Apa si landak biru itu melakukan sesuatu padamu?"
"Landak?"
"Penampilannya seperti landak," kata Margot, walau sebenarnya penampilan Alle--si pria yang dimaksudkan--sangat tidak mirip dengan landak. Vera menghela napas atas singgungan bosnya dan hanya tersenyum.
"Tidak ada, bos Margot. Tadi itu hanya temanku, dia tidak tau aku sedang bekerja. Maafkan aku sudah mencampuri kehidupan pribadiku dengan pekerjaan."
"Jangan merengek, itu bukan masalah sama sekali. Kau adalah manusia yang punya kenalan juga, jadi itu tidak salah kalau ada beberapa orang yang mengenalimu. Benarkan, Willa?"
"Benar, Bos." Willa mengamini ucapan Margot.
"Hanyaa..." nada suara Margot berubah tegas. Ia mengangkat kertas yang terselip di gelasnya dan mendorong kertas itu ke dada Vera. "Pastikan saja temanmu itu tau siapa bosmu."
"Eh, apa ini?" Vera menyambut kertas itu dan melihat nomor HP familiar terukir di kertas itu. Nomor HP Alle dengan pesan 'call me!' tertera di bawahnya.
"Keparat..." Vera mengumpat tanpa sengaja. "Willa, apa yang terjadi?"
"Dia datang begitu saja..." Willa menimpali dengan cengiran bersalah. "Bos Margot memintaku membiarkannya jadi..., yah..."
"Ini memalukan, sialan." Vera meremas kertas itu di genggamannya sebelum kembali menghadap Margot dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan aku, Bos. Kau boleh menghukumku dengan apa pun!"
__ADS_1
Sebagai pengawal pribadi Margot, tidak--sebagai kepala pengawal sementara Margot, Vera merasa dia sudah gagal segagal-gagalnya. Tidak hanya ia mencampur pekerjaannya dengan masalah pribadi, dia juga membuat bosnya berurusan-- terganggu oleh sosok yang merupakan 'masalah pribadi'-nya. Ini adalah kutukan, dia berhak dihukum keras.
"Jangan mempermalukanku, Vera. Angkat kepalamu." Margot tertawa jenaka.
"Apa terjadi sesuatu?" Anggara kembali bergabung bersama mereka. Vera pun menepi dan menelan ludah panik. Rautnya pucat pasi. Bayangan ia ditendang keluar dari pekerjaan ini menakutinya. Karena, tidak seperti Ace yang pengertian dan masih memaklumi satu atau dua kesalahan kecil, Margot tidak. Margot adalah tipe wanita yang melakukan sesuatu tergantung suasana hatinya. Karena itu..., dia lebih menakutkan dari Ace.
"Tidak ada..." Margot tersenyum manis kepada Anggara sebelum menoleh kepada Vera. Sepasang netra gelapnya seperti memperingatkan Vera untuk bungkam dan kembali ke posisinya semula. Peka terhadap maksud bosnya, Vera pun mundur dengan teratur.
"Anggara, bagaimana kabar Indira? Sudah lama aku tidak melihatnya? Apa dia menjadi wanita yang sangat mengabdi pada rumah tangganya setelah menikah sampai-sampai lupa pada dunia luar?"
Anggara menggeleng seraya tersenyum tipis. "Tidak ada hal semacam itu. Indi hanya ingin berehat."
"Kau tau Indira sangat dekat dengan Ace, bukan? Karena mereka dulu adalah teman akrab, aku selalu berpikir kalau mungkin mereka akan berakhir bersama. Hahahahaha. Sayang sekali, sepertinya harapanku begitu naif."
"Persahabatan adalah persahabatan, cinta adalah cinta. Kurasa." Anggara mengangkat bahu. "Kau tidak bisa mencampuri keduanya."
"Hmmm, tapi ada juga kasusnya sahabat menjadi cinta, kan?" Margot tidak mau kalah. "Aku sangat kecewa saat tau Indira menikah dengan Evan, kupikir aku sudah kehilangan calon ipar idaman."
"Hahahaha. Kau memang sangat kehilangan."
Di mata Anggara, tidak ada wanita yang levelnya setara dengan Indira di dunia ini. Selain karena keindahan Indira yang layaknya Aphrodite, Indira adalah gadis dengan keanggunan dan elegansi yang memikat mata dan hati siapa pun yang memandang. Dia sempurna dari ujung kaki hingga kepala, murni dan luar biasa.
"Jadi, bagaimana dengan Ace?" Anggara berdeham sebentar, matanya melirik Margot jenaka. "Kapan dia akan menyusul Indira ke pelaminan?"
"Itu pertanyaan yang menarik," sahut Margot, telunjuk mengetuk dagu. "Aku pikir itu akan sulit."
"Kenapa? Aku tidak merasa mencari wanita akan menjadi halangan untuk Ace. Dia bagaimana pun adalah salah satu laki-laki idaman di negeri ini. Setidaknya, begitulah kutipan menyangkut Ace di internet." Tentunya, pandangan Anggara terhadap Ace jauh berbeda dari kutipan tersebut. Bagi Anggara, Ace tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sebuah bisul di ******! Keberadaannya membuat segala hal runyam.
"Mencari wanita bukan halangan sama sekali, tenang saja." Margot tersenyum miring. "Ace tidak perlu mencari sesuatu yang sudah ada di genggaman tangannya."
"Ya? Apa maksudmu Ace sudah..." Anggara terpana. Apa maksud Margot Ace sudah mempunyai kekasih?
"Bercanda, Anggara, bercanda." Walau sebenarnya tidak. Margot menggeleng sambil menyeringai senang. "Kalau Ace mempunyai kekasih, itu akan menjadi ledakan besar."
"Yaah, itu memang benar."
"Lalu bagaimana denganmu, mengesampingkan Ace, kau juga menjadi bulan-bulanan gadis di malam acara lady Mikoto waktu itu, bukan? Apa kau sudah mempunyai calon untuk menyusul jejak adikmu?"
Pertanyaan itu akhirnya terputar kepada Anggara kembali. Buah dari rasa penasarannya menggigitnya.
"Tidak..., tidak ada yang seperti itu." Anggara menimpali sambil menyesap margarita-nya.
"Lalu, apa ini artinya kau sedang terbuka untuk semua orang?"
"Tidak semua orang..." Anggara menatap Margot tepat di mata, berusaha menyampaikan maksud ucapannya ke gadis yang sekarang sedang menjadi targetnya. "Hanya satu orang."
Margot membalas tatapan Anggara dengan seringai yang tidak luntur sama sekali dari parasnya.
"Aku penasaran siapa satu orang beruntung itu."
Di belakang Margot dan Anggara yang saling menggoda, Vera bersama Willa menyimak ucapan keduanya dengan telinga memerah. Yah, sepertinya jarak berdiri mereka terlalu dekat. Ini mulai tidak nyaman untuk disimak.
__ADS_1
...----------------...