DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
94. BERMAIN API


__ADS_3

NORMAL pov


...----------------...


Leviathan--untuk kedua kalinya, Fawn berada di sana.


Di tempat yang sudah ramai oleh orang-orang dengan harum aroma tubuh yang memabukkan, Fawn melenggang selangkah di belakang Indira. Fawn mengiring Indira memasuki pesta yang dirangkai oleh Mesa. Sebuah pesta khusus untuk menghibur Indira yang sedang dalam suasana hati paling buruk. 


Beberapa tamu mendekati Indira ketika ia melewati pintu, menyapanya dengan tangan terbuka lebar. Indira yang malam itu memang berniat melepas stress-nya, menanggalkan segala kesopanan dan keanggunan yang biasa ia tunjukkan. Dengan penuh keantusiasan, Indira menyambut setiap tangan yang hendak mendekapnya. Jatuh dalam setiap rangkulan dengan tawa lebar penuh keriangan.


Fawn dan Joseph yang berjalan di belakang Indira saling melempar lirikan, tapi tidak mengatakan apa-apa. Tanpa bicara, Fawn sudah tau betapa besar Joseph merasa risih terhadap situasi yang sedang terjadi di hadapannya. Sangat jarang bagi Joseph melihat nona muda mereka menjadi sangat bebas dan buas. Dia seperti gadis yang jauh berbeda.


Saat itu juga, Fawn bersumpah ia menyaksikan Aidan berkeliaran di lantai dua dengan telepon merekat di telinga. Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan Indira. Satu-satunya yang dapat Aidan lakukan hanya melaporkan setiap aksi Indira kepada Evan.


"Indiiiiii, my beautiful Diamond..." Seorang pria dengan jas berwarna magenta merengkuh Indira seperti merengkuh bayi koala. Fawn menatap kedekatan keduanya dengan senyum terkulum. Fawn kenal pria itu, dia adalah sahabat Indira saat SMA dan merupakan pria yang memimpin industri Fashion saat ini.


"Alex, nice to meet you." Indira menggelayut manja di lengan sohibnya tersebut. Melepas rindu kendati aroma parfume Alex membuatnya mengernyitkan hidung. "Di mana Mesa?"


"Kau bertemu denganku dan kau malah mencari orang lain?"


"Oh, aku perlu berterima kasih karena dia sudah mengatur pesta ini untukku."


"Pestanya cantik, bukan?" Alex memindahkan rangkulannya dari pundak Indira dan memilih menggandeng wanita itu di lengannya. "Mesa menghubungiku tadi sore dan aku sangat terkejut ketika dia bilang kau mengundangku."


"Terkejut? Apa aku membuat pesta adalah sesuatu yang aneh?"


"Bukan aneh, Princess. Sangat-sangat aneh. Kau dari semua orang, tuan puteri sepertimu adalah tipe perempuan yang akan duduk nyaman di singgasananya dengan kaki tersilang dan tangan terpangku elegan. Kau bukan tipe perempuan yang akan melakukan ini..." Maksud Alex adalah berpesta dengan musik DJ memekakan telinga. Hell, Alex bahkan tidak menyangka Indira akan mendarat di sebuah bar.


"Aku bukanlah aku satu menit yang lalu." kata Indira. Ia tersenyum miring. "Orang-orang berubah, Alex."


"Apa pun itu, aku selalu mendukung arah perubahanmu, Bintang kecil." Alex melepaskan rangkulannya dari Indira saat seseorang dari seberang lantai dansa melambaikan tangan memanggilnya. "Kalau kau mencari Mesa, dia sedang bersama selingkuhanmu di sana."


Saat itu juga, ketika Alex menunjuk ke arah Bar Counter, Mesa yang dicari-cari oleh Indira sedang menatap ke arah mereka. Gadis itu duduk berdampingan dengan Ace Hunter.


Fawn melihat kedekatan keduanya dengan mata yang seketika berotasi jengah.


Ace sepertinya..., adalah magnet wanita.

__ADS_1


"Oh, lihat..., selingkuhanku juga datang." Indira mengikuti ejekan Alex dengan tawa renyah. "Aku akan ke sana, Alex. Senang bisa melihatmu, tuan serba sibuk."


"Kau sudah seharusnya senang. Oke, see you."


Ketika Alex memutar langkahnya menjauhi Indira, Indira pun memutuskan untuk menyapa Mesa yang sekarang melambaikan tangan dan memanggilnya.


Mesa--gadis muda yang mengenakan dress berwarna metalic dan memantulkan cahaya lampu tersebut--melambaikan tangan kepada Indira. Tapi, kendati tangannya sibuk menyapa Indira, mata Mesa sesekali melirik pria yang berada di sampingnya. Bertanya-tanya apakah Arcelio Hunter melihat senyum lebar yang ia pamerkan sekarang? Apa dia terkesima? Apa gadis yang ceria adalah tipenya? Sesuatu semacam itu menghantui benak Mesa.


"Ace, kau dan Indira..., itu tidak benar, kan?" Mesa ingat pertanyaan yang ia luncurkan saat hanya berduaan dengan Ace tadi. Tapi, bukannya menyangkal Mesa, Ace saat itu hanya menyesap koktail di gelasnya dengan ekspresi bosan. Karena kebisuan yang Ace tunjukkan, Mesa menjadi semakin penasaran. Jangan bilang Ace dan Indira benar-benar bermain api di belakang Evan!


"Uwaaah, Indira sangat cantik." Mesa--untuk kedua kalinya hari itu, berusaha mengajak Ace bicara.


Ace memandang ke arah Indira dan dua pengawalnya yang mengiring Indira. "Sangat cantik."


Sahutan Ace membuat Mesa merasa pahit di lidahnya.


Yang tidak Mesa ketahui adalah, sepasang manik kelam itu bukan menyorot Indira. Pandangan Ace hanya jatuh kepada satu orang, satu perempuan yang mengenakan turtle neck hitam di balik jas hitamnya. Berjalan dengan keseriusan dan ekspresi datar yang menggemaskan. Seseorang bernama Fawnia Alder.


"Hello, Indi..." Mesa menyapa Indira, tangannya terbuka lebar dan mendekap Indira yang berhasil mencuri perhatian orang-orang dengan keindahannya. Mesa iri, tapi tidak bisa mengatakan apa-apa karena Indira sudah dan akan selalu menjadi nomor satu jika itu menyangkut kecantikan.


"Kau telat," Ace menyapa Indira tanpa ada niat turun dari bangku tinggi itu. Kakinya tersilang elegan sementara kiri dan kanan tangannya merenggang panjang di bibir meja bar. Mata Ace menyorot Fawn sebentar, kepada leher jenjangnya yang tersembunyi oleh kerah baju yang ia kenakan. Ace bisa menebak apa alasan Fawn tampil serapat itu, dan ia bangga pada ulahnya yang sudah berhasil membuat Fawn menjadi memikirkan penampilannya.


Ace ingin melihatnya, jujur saja. Reaksi Fawn yang selalu ia gemari. Oh andai saja ia bisa menculik Fawn kembali ke dalam dekapannya tanpa membuat gadis itu membencinya!


"Aku terkejut kau datang," kata Indira. "Kupikir kau tidak suka menghadiri pesta yang tidak ada kaitannya dengan bisnis."


"Ini adalah bisnis, Indira." Ace menimpali. Jika ia bisa membuat Evan Caspian kehilangan ketenangannya, Ace akan berkontribusi pada pesta ini dengan suka-rela. Terlebih lagi, Ace juga punya agendanya sendiri.


Fawnia yang berdiri di belakang Indira adalah agenda rahasia Ace Hunter.


"Berita tentang kalian menjadi perbincangan hangat sekarang, apa ini baik untuk kalian bertemu?" Mesa kembali bersuara.


"Oh..., aku takut aku hanya akan menyiram minyak kepada api." Indira sarkastik. Ia mendekati Ace dan bersandar di lengan pria itu. Tingkah manjanya membuat kening Mesa meninggi sebelah. "Sayangku, apa kau hendak menciptakan skandal lagi denganku?"


"Sebanyak aku ingin membantumu, sepertinya tidak sejauh ini." Ace mendorong Indira menjauh darinya. Ia seketika mencari mata Fawn dan menemukan gadis itu menatapnya sinis. Tunggu, apa Fawn marah?


"Aku percaya, dengan sejumlah model tampan yang kau undang datang ke pestamu, cukup untuk menjadi temanmu malam ini, Indira."

__ADS_1


"Oooh," Indira mengerang sebal. "Tapi tidak ada yang lebih baik darimu, Ace."


"Aku tau aku sempurna, tapi aku tidak mau membuat seseorang cemburu."


"Seseorang?" Mesa yang menyahut.


"Evan," sahut Ace. Bohong sih, Ace hanya tidak mau Fawn menendang wajahnya ketika mereka hanya berdua. Sekuat-kuatnya Ace, Ace tidak mau membuat masalah dengan Fawn. Tidak ketika gadis itu berada di luar jangkauannya. Ace tidak ingin membuat Fawn meragukannya.


"Saranku, Indira...," Ace kembali mencuri pandang kepada Fawn. Gadis itu berdiri terlalu rapat kepada Joseph. Mereka tidak bicara, tapi sesekali melempar tatapan dan bertelepati. Ace menggigit pipi bagian dalamnya, menahan diri agar tidak menendang Joseph agar menghilang dari bumi. Pria itu..., apa dia ingin Rio membolongi kepalanya?


"Ace.."


"Huh, ya?"


Indira mengerutkan dahi bingung. "Apa saranmu?"


"Oh..., kalau kau ingin bersenang-senang," yang mana maksud Ace adalah untuk membuat Evan Caspian mengamuk murka, "Menarilah di sana."


Kening Ace menuju ke arah lantai dansa, tempat para wanita dan pria membaur tanpa spasi. Tubuh meliuk-liuk seduktif.


"Apa kau gila?" Indira bergidik.


"I tell you, Indira. Jangan bermain setengah-setengah..." Ace mengulurkan gelas koktailnya kepada Indira. "Minumlah, kau butuh sedikit energi."


"Kau harus bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu padaku, oke?" Indira menenggak koktail itu dalam sekali tegukan. Joseph melangkah maju, hendak memprotes tapi tidak berani bicara saat Ace menatapnya tajam.


"Jangan cemas," ujar Ace. "Jika aku di sini, tidak akan ada yang bisa melukaimu."


Tidak karena Ace adalah orang yang membenci luka, ia selalu mengutamakan keselamatannya. Bila ia pergi ke suatu tempat, maka 100 persen, tempat itu akan penuh oleh keamanan.


Fawn mendengarkan ucapan Ace dan kembali mencebik. Pria arogan, pikirnya.


"Sebentar, sebentar..." Mesa yang tidak paham pada apa pun yang Indira dan Ace bicarakan--menyela dengan kebingungan. "Apa yang kalian bicarakan, sebenarnya."


Indira menyeka sudut bibirnya dari koktail dan tersenyum jenaka. "Bukan sesuatu yang perlu kau ketahui, Mesa."


Ini hanya bentuk pemberontakan Indira kepada Evan Caspian, suaminya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2