
...FAWN pov...
Dari informasi yang Haru berikan tadi siang, seorang pengawal nona Margot ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di bibir jalan perkebunan yang sunyi. Kematiannya disebabkan oleh satu tembakan peluru yang bersarang di tengkoraknya. Sebagai seorang pengawal juga, aku merasakan ngilu di belakang kepalaku ketika membayangkan kematian itu.
Tentu saja, sebagai bodyguard, sudah ada kontrak tertulis bahwa pekerjaan kami memungkinkan nyawa kami dapat melayang kapan saja dan di mana saja. Bahwa, sebagai ganti dari pengorbanan itu kami akan mendapatkan kompensasi. Kami sudah tau risiko dari pekerjaan yang berat ini. Kami memilih jalan ini.
Tapi, tetap saja..., ketika dihadapkan dengan kematian, mungkin ada sedikit penyesalan dan kesedihan.
Semua orang menginginkan kematian yang layak.
Aku sedikit sedih saat memikirkan orang yang bahkan tidak kuketahui siapa. Lalu aku kembali mengingat situasiku sebagai tawanan di sini, masih bernapas dan masih makan enak. Aku setiap hari berteriak ingin mati ke muka Ace. Memohonnya untuk melubangi kepalaku dengan peluru agar aku tidak perlu menderita lagi di sini.
Aku tidak begitu menghargai kehidupanku, jujur saja. Mungkin karena kupikir selama aku sudah melunasi hutang budiku kepada tuan Anggara, aku tidak punya tujuan apa-apa lagi.
Sekarang..., kalau kupikirkan ulang, mungkin hidup tidak begitu menyedihkan.
Aku ingin hidup..., mungkin bila aku bertahan hidup, aku akan memiliki kesempatan untuk membalas kegilaan Ace. Bisa saja aku yang berbalik melubangi kepalanya. Siapa yang tau?
Aku merenungi situasiku sambil berpangku dagu di tempat tidur sampai aku mendengar teriakan Ace dari luar. Aku memeluk bantal dan mendekati pintu. Menyimak lebih jelas pertikaiannya dengan Carcel. Ace sepertinya dalam suasana hati yang buruk, keparat!
Apa yang harus kulakukan?
Aku panik dan takut. Ace yang psikopat adalah Ace yang menakutkan. Dia bisa kehilangan kemanusiaannya dan menjadi monster. Menyakitiku tanpa pertimbangan, sialan. Padahal baru beberapa hari belakangan dia bertingkah baik.
Kenapa dia kumat lagi?
Aku mundur mendekati tempat tidur. Aku tidak mau dekat-dekat dengan pintu lagi, aku takut dia masuk dan langsung meremukkan kepalaku.
__ADS_1
"Keparat!" Ace memasuki kamar, mengusap rambutnya ke belakang sebelum menendang meja kerjanya dengan brutal.
Meja dari kayu mahogani itu nyaris terjungkal. Benda-benda yang berada di atasnya tumpah ke lantai. Jantungku berdebar kuat, bayangkan kalau meja itu adalah aku. Aku pasti mati di tempat.
"Semua orang di rumah ini keparat!!!" Ace memaki entah siapa sambil menendang barang-barangnya yang berhambur di lantai. Aku menatapnya dalam kengerian. Apa dia tidak sadar kalau dia adalah penghuni rumah ini juga? Kau sebaiknya berpikir sebelum memaki dirimu sendiri, Ace bajingan. Kenapa kau harus marah-marah di kamar ini sih!
Aku bisa kencing berdiri karena ketakutan. Pria ini sudah menanamkan rasa takut ke tubuhku, hingga aku merasa aku bukan diriku sendiri lagi.
"Apa yang kau perhatikan!" Ace menyadari keberadaanku dan matanya menyalak marah. Aku meneguk ludah. Seseorang, tolong selamatkan aku!
Apa yang harus kulakukan dalam kesialan ini? Bagaimana mungkin aku tidak memperhatikanmu kalau kau membuat keributan di sini sialan? Siapa yang tau kalau kau tidak akan mulai melempar barang-barang ke arahku?
"Kau pasti sangat senang ketika tau aku menghadapi masalah, kan? Kau dan kalian semua adalah bajingan!!! Keparat!!!"
Hei, jangan menudingku sembarangan!
Sebanyak-banyaknya aku berdoa dan menyumpahi kesialanmu, aku sekarang tidak dalam keadaan senang sama sekali. Tidak, bagaimana bisa aku senang kalau sekarang Ace bertingkah seperti gunung yang siap meletus? Lagipula, aku bukan psikopat sepertinya yang akan tertawa di atas penderitaan orang lain. Yah, walau terkadang aku kerap mengatakan omong kosong tentang menari di atas pemakamannya, aku tidak serius.
Mengabaikan tudingan Ace, aku mengambil satu langkah mendekat.
"A-apa kau baik-baik saja?"
Hell, kenapa suaraku tersendat? Apa aku sebegitu ketakutan sampai kehilangan kemampuan bicara dengan normal? Ace jadi menatapku aneh karena cara bicaraku, keparat!
"Apa aku terlihat baik-baik saja di matamu?"
Tidak Ace, kau terlihat sangat tegang. Aku ingin menjawabnya tapi menahan diri. Aku tidak mau ditampar.
Sebanyaknya aku membenci pria ini, entah mengapa aku sedikit prihatin melihatnya seperti sekarang. Sebagai pemimpin keluarga, dia pasti mempunyai banyak beban di kepalanya. Kehidupan orang-orang elit tidak mudah. Untuk bisa bertahan di posisi atas, kau harus bertahan dalam banyak tekanan yang membuatmu terkadang nyaris kehilangan kewarasan.
__ADS_1
Nona Indira mengatakan padaku, Ace yang dia kenali saat SMA bukanlah Ace yang biasa berteman dengannya sekarang. Mungkin tekanan itu lah yang mengubahnya.
Aku jadi teringat Ace yang pernah tersenyum di dapur. Senyuman itu sangat tulus, dan itu membuat hatiku perih. Keras dunia benar-benar mampu menempa seorang pria menjadi monster.
"Semua ini salahku," suara Ace seperti rintihan kesakitan. Aku menangkap lengannya seketika saat dia jatuh terhuyung ke lantai. Aku membantunya duduk di samping ranjang, kepala bersandar di selimut. Aku duduk di samping Ace, memperhatikannya retak dalam cengkraman kuat beban kehidupan.
"Aku hanya ingin mereka membiarkanku sendiri. Aku tidak mau hidup di sini! Aku ingin pergi!" Ace meratap dengan kepala yang menunduk dalam.
Otakku tanpa sadar membuat lelucon. Aku ingin memukul pundak Ace lalu mengatakan 'Hei, aku juga sama. Ayo, melarikan diri dari sini!'. Tapi aku akan berujung ditampar kalau aku membuat lelucon itu.
Haaaaah!
Aku juga terjebak di sini tau, kau adalah penyebabnya Ace Hunter. Tidak peduli seberapa besar penderitaanmu membuatku bersimpati, aku tidak bisa melupakan kalau kau juga sudah melakukan hal yang salah padaku.
"Aku hanya ingin Margot bahagia, tapi aku tidak tau lagi..., terlalu banyak beban dalam mencapai keinginan ini. Semua ini..., aku pikir aku akan mati sebelum aku bisa memperbaiki keluarga ini." Ace kembali memuntahkan keluh-kesahnya.
Aku tidak tau apa masalah di keluarga Hunter. Bukankah mereka baik-baik saja sejauh ini? Yah, mengesampingkan fakta kalau nona Margot masih dalam mode berduka sejak tiga tahun lalu, kupikir Ace dalam keadaan yang stabil. Dia mengisi posisi ayahnya dengan lebih baik, menjadi pemimpin yang sangat superior dari tiga keluarga lainnya.
Apa ada sesuatu yang tidak kuketahui tentang keluarga ini? Bukankah masalah mereka hanya masalah menyangkut perusahaan? Bersaing dengan Spades dan Clubs? Tapi, kenapa Ace menjadi sangat rapuh sekarang? Apa yang Ace ingin gapai? Kenapa dia sangat terpuruk? Aku tanpa sadar menambah hal-hal yang seharusnya tidak menarik minatku.
Bibirku terkatup rapat sementara kepalaku mengingat-ingat sesuatu yang mungkin kulewati. Aku terus berpikir tanpa menyadari kalau Ace tiba-tiba bersandar di pundakku. Aku melirik wajahnya seketika dan melihat sepasang manik kelamnya telah bersembunyi di balik kelopak matanya. Panjang halus bulu mata itu terlihat sayu.
Saat itu pula, aku menyadari setetes air membasahi pipi kirinya. Jejak tipis yang membuatku lagi-lagi terpana.
Apa Ace menangis?
Aku menahan napas sebentar. Suara halus napas Ace menyapa telingaku, mengingatkanku kalau sosok batu yang selalu kudoakan menderita ini adalah manusia juga. Aku kembali merasakan prihatin kepadanya jadi aku tidak menepis dia menjauh. Aku membiarkan Ace memanfaatkan pundakku sebagai bantalnya, setidaknya, hanya sekali ini saja.
"Tidurlah, semua akan baik-baik saja setelah kau bangun."
__ADS_1
Aku menasihatinya seperti orang tolol.