DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
148. PESAN


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Aku selalu percaya, apa pun yang kulakukan, bila itu untukmu, aku tidak akan mempunyai penyesalan apa pun, Evan." Maximillian berujar tenang. Sepasang iris teduhnya menyorot ke arah si putera semata wayangnya dengan penuh kelembutan.


"Oleh karena itu, ketika aku mempersiapkan posisi ini untukmu di atas darah dan penderitaan orang lain, aku tidak menyesal sama sekali. Kau pantas menerima yang terbaik di dunia ini."


"..."


Maximillian tersenyum. "Kau selalu tau itu, kan? Kalau itu untukmu, aku rela melakukan apa pun?"


Evan--lawan bicara Maximillian di ruang belajar yang beraroma seperti jasmine tea tersebut mengangguk samar. "Aku mengerti, Ayah."


"Pertikaian ini sudah terseret terlalu lama." kata Max lagi. "Tidak peduli apa yang kulakukan, aku tidak bisa mencegah kita menghadapi kehancuran."


"Maafkan aku, Ayah. Semua ini terjadi karena aku yang tidak kompeten. Bahkan ketika aku mempunyai peluang untuk menyingkirkan Ace, aku masih tidak becus dalam tugasku..., aku seharusnya tidak mengecewakanmu."


"Aku tidak akan menyalahkanmu, Evan. Kau sudah melakukan yang kau bisa. Ace hanya..., berbeda. Setidaknya sekarang aku mengerti mengapa Harkin takut kepada potensi puteranya sendiri. Dia adalah monster."


Tapi kata-kata Max pun tidak membuat Evan merasa senang atau lega. Ucapan Max hanya memvalidasikan kalau Ace adalah sosok yang luar biasa. Bahwa, tidak peduli betapa keras Evan berjuang menjadi luar biasa, ia masih tidak mampu menyaingi pria itu.


Evan membenci fakta itu. Ia benci menjadi sosok yang inferior dari Arcelio Hunter. Mengapa pria itu menjadi sangat luar biasa ketika mereka sama-sama menempuh pendidikan di jalur yang sama? Mengapa Ace harus menjadi sosok prodigi yang keberadaannya seperti keajaiban ketika mereka memulai kehidupan di garis start yang sama?


Evan selama ini, sejauh ini selalu merasa dirinya berada di posisi yang setara dengan Ace. Ia selalu merasa sejajar--baik itu dari segi kemampuan dan kekuatan. Evan selalu merasa ia mampu melakukan apa yang Ace lakukan, sampai akhirnya hari ini datang. Hari ketika mereka telah tersudutkan sepenuhnya.


Apakah ini yang Anggara rasakan ketika ayah dan ibunya terang-terangan membandingkan dia dengan Ace setiap hari?


"Ayah, aku tidak mau menyerah." Evan mengakui keinginan hatinya yang paling dalam. "Aku..., aku luar biasa sebelum ini. Aku sudah memimpin Clubs hingga setara dengan Diamonds, aku percaya aku masih bisa melakukan sesuatu. Pasti ada jalan untuk memenangkan pertikaian ini."


Tentunya, masih ada satu cara untuk selamat. Bicara soal cara itu juga, Max belum menginformasikan penawaran yang Ace berikan padanya. Max tidak mau pikiran Evan semakin terbebani. Max masih belum tau keputusan macam apa yang perlu ia buat untuk menangani permasalahan ini. Max masih belum tau apakah ia harus menyerah atau tidak?


"Aku mengerti keinginanmu, Evan. Akan tetapi, aku ingin kau memikirkan dirimu sendiri juga. Apakah pertarungan ini pantas untuk nyawamu? Kau adalah sosok yang sangat istimewa bagiku. Aku mau kau berumur panjang dan berbahagia. Bila pertikaian ini sampai membuatmu kehilangan itu semua, maka kita sebaiknya mundur, Evan."

__ADS_1


"Walaupun kita mundur, Ace tidak akan berhenti. Ayah tau apa alasan mereka memulai pertikaian ini sejak awal, bukan?"


Jika pertikaian ini hanya dilandaskan karena persaingan dan keinginan untuk mendominasi satu sama lain, maka akan mudah bagi pihak Evan untuk menyerahkan posisi mereka. Sebagaimana Jem yang menyerah menyaingi Ace, pihak Caspian mungkin saja dapat melakukan hal yang serupa.


Namun, masalahnya bukan di sana. Alasan pertikaian ini terjadi adalah karena Maximillian yang menyingkirkan Harkin dari lantai permainan. Ia membunuh sosok yang sangat berharga di keluarga Hunter.


"Ayah tau," sahut Max. Jika ada orang yang lebih tau inti permasalahan ini, maka itu adalah Max sendiri. Dia adalah penyebab api permusuhan ini berkobar. Ia juga adalah satu-satunya orang yang mampu memadamkan api tersebut.


"Evan..." Max hendak melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba saja pintu diketuk dari luar. Ucapan yang hendak keluar dari bibir Max seketika tertelan ke dasar kerongkongan. Perhatiannya pun tertuju ke arah pintu.


"Masuk," perintah Max.


Tak berselang lama setelah itu, Theo memasuki ruang kerja Max dengan kejanggalan dalam ekspresinya.


"Theo, ada apa?" tanya Evan duluan. Ia mengenal bodyguard-nya tersebut dengan baik. Dia bukanlah tipe pria yang akan menunjukkan ekspresinya dengan gampang. Dia selalu berekspresi datar dan tenang.


"Bos Evan...," Theo mengeluarkan suara, pandangannya berpindah dari Evan dan Max dengan kegugupan. "Kabar baru saja datang dari pengawal yang bertugas di kediaman Rashid,"


"Bos Evan, Hari ini di kediaman Rashid, tuan Anggara, nona Indira, tuan Callum dan isterinya..., mereka ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa."


"..."


"...."


Mata Evan melebar terpana. Saat itu juga, ia merasa seakan-akan ditikam oleh tombak tak kasat mata. Apa ia salah dengar? Apa Anggara benar-benar telah....? Indira juga...?


"Ba-bagaimana mungkin?"


Itu dia pertanyaannya, bagaimana bisa mansion yang dilindungi oleh segudang pengawal dapat disusupi segampang itu? Apa yang mereka lakukan sampai situasinya menjadi seperti sekarang?


"Demi kenyamanan tuan Anggara dan keluarganya, pengamanan hanya diketatkan dari luar. Bagian dalam mansion hanya dijaga oleh beberapa pengawal pribadi keluarga Rashid. Saat penyerangan terjadi, nampaknya pengawal yang berjaga di luar tidak menyadari kejadian itu sama sekali."


"Bagaimana mungki--" Evan nyaris berteriak sampai akhirnya ia merasakan tepukan ringan di pundaknya. Maximillian berada di sampingnya, menenangkannya tanpa suara.

__ADS_1


"Theo, apa kau tau siapa pelakunya?"


"Fawnia Alder," jawab Theo. "Kemungkinan penyusupan ke sana menjadi sangat mudah untuknya karena dia sudah memahami peta mansion itu dengan baik."


Bagaimanapun, Fawn menghabiskan hidupnya bekerja di sana. Dia hidup sangat lama di sana untuk tau setiap jalan keluar masuk dari mansion tersebut.


"Apa benar-benar tidak ada yang selamat?" Max kembali bertanya. Di hatinya, sedikit saja ia mengharapkan seseorang yang ia kenal dari rumah itu masih dapat terselamatkan.


"Maafkan aku, Bos."


"Apa yang terjadi pada Indira?" Evan bertanya dengan bibir yang bergetar. Ia masih kesulitan memproses informasi itu. Indira dari semua orang--istrinya yang tidak berdosa, sosok yang ia percaya akan mendampinginya hingga ia menua..., medali di kehidupannya.


"Nona Indira ditemukan dengan luka tikam di perutnya, dan tuan Anggara..., dia menenggak racun yang sama yang sudah kita gunakan untuk menyingkirkan Ace. Dari laporan penyelidikan sementara, kemungkinan tuan Anggara meminum racun itu setelah Fawn mengancamnya dengan nyawa nona Indira."


"Haaa..." Evan mendengar laporan itu dengan napas tersekat. Tanpa bisa mengendalikan reaksinya, mata Evan tergenang oleh cairan hangat yang perlahan mengaburkan pandangannya.


Jadi ini pembalasan dendam Fawn padanya? Karena ia telah memanfaatkan gadis itu untuk menyingkirkan Ace?


"Ayah, apa yang harus aku lakukan?" Evan tertawa dengan air mata mengalir di pipi kirinya. Amarah membaur dengan kesedihan di wajahnya. "Bagaimana mungkin aku mengalah ketika situasinya menjadi seperti ini?"


"Evan, tenangkan dirimu terlebih dahulu." Max menghela napas berat dan panjang. Rasanya seperti satu bongkahan batu besar jatuh menimpa pundaknya lagi. Menambah beban tak kasat mata di tubuhnya yang sudah menua.


Di mata Evan, tindakan Fawn dapat dikatakan sebagai balas dendam. Tapi untuk Max yang memperoleh pesan dari Ace, ini adalah peringatan.


Ia harus membuat keputusan sebelum senin datang. Ia harus membuat pilihan, antara menyelamatkan Evan atau menyelamatkan nyawanya sendiri!


"Evan," Max menunduk dan mengecup surai ikal puteranya. "Mulai sekarang, aku mau kau tidak gegabah dan fokuslah untuk melindungi dirimu sendiri."


"Huh?"


"Ayah akan berusaha menyelamatkanmu, karena itu...," kumohon, tetaplah hidup.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2