DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
41. SIAPA?


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


Jemaine Emery sedang melenggang santai di bibir pantai, kaki terbenam di dalam pasir sementara air asin menjilat setiap jejak tapakannya. Di samping Jem, Rose--asisten pribadinya--melenggang dengan ketidaknyamanan. Tentu saja Rose tidak merasa nyaman, pakaian Rose sangat tidak cocok untuk berjalan di pantai. Rok span sempit itu membuatnya melangkah kesulitan di atas pasir yang panas. Dia juga tidak bisa memakai alas kaki mengingat heels mahalnya akan terendam dalam pasir.


Sebuah tab berada di tangan Rose, menyala dan menampilkan jadwal kerja Jem untuk beberapa hari ke depan.


"Bos Jem..., a-apa yang kita lakukan di sini?" Rose yang sudah mengikuti Jem berjalan setengah jam-an tanpa arah, di bawah matahari yang terik dan di atas pasir yang panas, akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Kita berjalan, Rose." Jem menyahut ringan. Dia nampak tidak merasa bersalah sudah membuat asisten pribadinya itu mengekorinya di tengah terik matahari yang membakar kulit.


"Bos Jeremy akan kembali hari ini, bukan? Apa bos Jem tidak akan pulang ke rumah?"


Bicara soal Jem, kendati dia adalah kepala di Hearts, kedudukannya masih belum bisa dianggap resmi. Jeremy Emery--adik yang dua tahun lebih muda dari Jem--tiba-tiba membuat kejutan di tengah keluarga dengan prestasinya yang membanggakan. Jem yang sudah nyaris memakai mahkota kemenangannya terpaksa menunda dan menunggu perkembangan Jeremy untuk beberapa tahun ke depan.


Bila Jeremy ternyata melampaui kemampuan Jem, Jeremy lah yang akan menjadi kepala di Hearts.


"Aku tidak akan pulang," sahutan Jem tidak membuat Rose terkejut.


"Lalu..." Rose hanya ingin kembali ke daratan, memakai sepatu, minum air es, dan mendinginkan dirinya di bawah AC. "Apa bos akan pergi ke kediaman Hunter lagi malam ini?"


"Huh, aku tidak akan melakukannya. Tidak untuk sementara." Jem berhenti melangkah dan melihat ke arah laut yang terbentang luas di depan wajahnya. Kapal-kapal nelayan yang mengarungi laut biru itu mengisi arah pandangnya juga.


"Seseorang di tempat itu mulai mengiritasiku."


"Ya?"


"Rose, apa kau mengingat Fawnia Alder?"


"Fawnia?" Rose ingat Jem pernah memintanya menyelidiki latar belakang wanita itu baru-baru ini. Lalu, setelah Rose melihat fotonya, ternyata itu adalah salah seorang pengawal puteri keluarga Rashid. Jujur saja, Rose sangat terkejut, tapi dia menjaga dirinya tetap profesional dan melakukan apa yang Jem minta.


Meskipun sangat janggal melihat seorang bodyguard menarik minat Jem--Jem dari semua orang.


"Aku mengingatnya," kata Rose.


"Apa kau pernah bertemu dengannya langsung?"


"Uh, yaa. Beberapa kali." Fawnia adalah kepala bodyguard Indira Rashid. Setiap Jem berkunjung ke kediaman keluarga Rashid untuk bertemu dengan Anggara, satu atau dua kali, Rose akan bersua langkah dengan Fawnia di halaman depan atau bahkan di koridor rumahnya yang tenang.


"Saat kau melihatnya, apa yang kau pikirkan pertama kali?"

__ADS_1


"Dia cantik?"


"Katakan sesuatu yang belum aku tau."


"Uh, tangguh, mungkin? Meskipun dia adalah perempuan yang bekerja di bidang yang kebanyakan dikuasai oleh pria, dia mampu menunjukkan kekuatannya dan menjadi kepala bodyguard. Dia membuatku menghormatinya, dan takut...?"


"Dia memang tangguh." Jem menanggapi ucapan Rose sambil terkekeh. Kenangan tentang keberanian yang mata Fawn tunjukkan padanya beberapa waktu lalu masih membuat perut Jem penuh kupu-kupu.


"Apa dia cerdas?" Jem kembali bertanya.


"Aku rasa, iya..., aku tidak bisa menyimpulkan hanya dari beberapa kali pertemuan. Tapi, bila itu berdasar data penyelidikan tempo waktu, kemampuannya dalam mengambil keputusan yang tepat sangat tinggi dan teliti. Dia mungkin punya insting yang sangat bagus."


"Heeeh, ternyata seperti itu." Jem memungut sebuah kulit kerang dari pasir dan menatap corak ungu yang mekar di punggung kulit kerang itu. Seperti kupu-kupu.


"Bos Jem?" panggil Rose, kali ini dengan suara agak risau. Keringat mengalir di wajah Rose dan menetes menuju dagunya. "Mengenai Fabian, apa yang harus kita lakukan?"


"Ah, karena kau mengungkitnya...," Jem melempar kulit kerang di tangannya kembali ke pasir. "Apa kalian sudah menemukan petunjuk tentang siapa yang membunuhnya?"


"Kami belum menemukan petunjuk apa pun, Bos. Keluarga Hunter pun di posisi yang sama. Aku tidak berpikir mereka sudah menemukan petunjuk apa pun mengenai kematian Fabian."


"Situasi ini mulai membuatku kesal, Rose. Aku mau kau melakukan segala cara untuk menemukan pembunuh Fabian sebelum Ace menemukannya. Orang itu pasti tau keterkaitanku pada Fabian, dan mempermainkanku. Ini tidak bisa dibiarkan. Relasiku dan Ace bisa berantakan."


"Aku harap kau tidak mengecewakanku." Jem melangkah kembali di dalam pasir basah.


Raut Jem saat itu berubah keruh. Kendati Jem berusaha menutup ekspresinya dengan ketenangan, ia tidak bisa tidak merasa cemas tentang keberadaan asing yang menginterupsi hubungannya dan keluarga Hunter. Seseorang di luar sana--seseorang dengan motif terselubung, seseorang yang lebih licik darinya sedang mempermainkannya. Mengingatkan Jem kalau rencana jangka panjang Jem sejauh ini dapat rusak kapan saja bila sosok itu bersuara.


"Mengenai pesta hari sabtu nanti, apakah aku perlu menghubungi nona Margot untuk menemanimu?"


Karena hubungan Jem dan Margot sudah sangat dekat, bukan hal aneh lagi bila partner pesta Jem adalah Margot. Mereka kerap pergi bersama, bergandengan tangan dengan kemesraan layaknya dua saudara. Jem sangat menghormati Margot, dan disaat bersamaan--dia juga...


"Ah, tidak perlu..." Jem menegapkan gestur berdirinya. Dia yang sedari tadi melangkah sambil menunduk, menegapkan kepala dan tubuhnya sebelum melangkah ke pasir yang panas dan kering. Seorang bodyguard yang mengekori mereka maju dan menyerahkan sebuah sandal kepada Jem.


"Margot akan pergi bersama Anggara," kata Jem, rahang Rose seketika jatuh ternganga.


"HAH?"


"Mengejutkan, bukan?" Jem menyelipkan kedua tangannya di saku celana. Ia menapak di pasir panas dan melenggang menuju mobilnya. "Margot sedang melakukan sesuatu yang tidak kuketahui dan situasi ini mulai di luar kendali."


Jem mengkhawatirkan papan caturnya yang ternyata lebih besar dan lebih sulit untuk dimainkan.


Apa yang sedang Ace dan Margot pikirkan?

__ADS_1


Jem sudah sulit mencaritahu lantaran adanya keberadaan baru bernama Fawn yang selalu mengaburkan pandangan Ace. Lalu, untuk Margot..., wanita itu menumpah informasi seperti menumpahkan setitik misteri. Butuh penafsiran panjang untuk mengetahui kegilaan apa yang sedang dia rencanakan!


Sialan!


Apa yang hendak Margot lakukan kepada penerus keluarga Rashid itu sekarang?


"Rose, aku ingin kau melakukan satu hal lagi untukku." Jem yang baru menapak masuk di mobil menjeda tangan bodyguard yang hendak menutup pintu. Sepasang mata biru keabu-abuannya menatap kepada Rose yang sekarang berkipas-kipas di luar. Rose akan pulang dengan mobil lain.


"Apa itu?" Rose segera menyalakan tab-nya, siap mencatat apa saja yang hendak Jem katakan padanya.


"Hubungi Eleanor dan tanyakan apa dia mau menjadi partnerku ke acara sabtu nanti."


"Baik, Bos."


Setelah menyampaikan perintahnya, pintu lalu ditutup dari luar. Jem yang sebelumnya berpanas-panasan di luar, seketika diterjang oleh dingin AC mobil. Kulitnya yang terbakar oleh matahari merinding akan sensasi dingin yang merayap di kulitnya. Jem pun memejamkan mata, kepala bersandar lega.


Sementara Jem memejamkan mata seperti beristirahat, pikirannya tidak serileks penampilan luarnya. Seperti laba-laba yang menganyam jaringnya, otak Jem bekerja menyangkutkan satu dan satu hal yang dapat membantunya di masa depan.


Sesuatu, sesuatu yang dapat ia lakukan...


Eleanor Finnigan...


Gadis bersurai merah lebat dan berpenampilan seperti pelacur itu muncul di kepala Jem. Sebuah pion, sesuatu yang dapat dia manfaatkan untuk mengulik informasi tentang Anggara Rashid adalah wanita itu. Mengesampingkan kalau gadis itu adalah gadis paling menyebalkan dan berisik, bila dia mampu dimanfaatkan, Jem sudi berkompromi pada apa pun kesulitannya.


"Aku harus berhasil," Jem kembali membuka mata dan jaring di benaknya sudah terangkai sempurna. "Ini pasti akan berhasil."


Jem tersenyum tipis kepada perencanaan yang terbentang di benaknya. Bila ia berhasil melakukan apa yang dia pikirkan, ia akan berhasil menggapai apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya. Ia akan menang.


...----------------...


Sementara itu, di suatu tempat yang beraromakan seperti roti panggang dan cat kuku, seorang wanita bertiarap di tempat tidurnya. Sebelah tangan memegang roti bakar sementara tangan lain memegang sebuah foto. Tatapan gadis itu berpindah-pindah dari foto di tangannya kepada papan di dinding kamarnya yang menempelkan foto dari wajah-wajah familiar.


"Sekarang, Jemaine Emery..., apa yang akan kamu lakukan?" Gadis itu mengusap foto Jem yang berada di tangannya. Menyapu wajah tampan Jem yang tersenyum seperti malaikat baik hati dengan kuku-kukunya yang baru dicat dengan warna merah terang.


"Menarilah di tanganku," kekehnya sebelum bangkit dan menempelkan foto Jem di dinding. Bergabung dengan foto-foto lain yang terpaku di sana.


Salah satu dari sekian banyak foto di dinding itu adalah Fabian, seorang bodyguard keluarga Hunter. Setelah menempelkan foto Jem di dinding, gadis itu melirik foto Fabian dengan risih. Pipinya mengunyah roti sementara pikirannya kembali berlari pada ingatan yang membuat nafsu makannya hilang.


"Memikirkan kematianmu, aku jadi mau muntah." Gadis itu mengernyitkan hidungnya jijik, seperti menahan aroma yang tidak sedap agar tidak mencapai indera penciumannya. Walau sebenarnya aroma yang ia benci itu sudah tidak ada, tapi tetap saja, mengingat aroma darah yang tumpah di lantai waktu itu--dia seketika memuntahkan rotinya ke dalam tisu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2