
...NORMAL pov...
...----------------...
Berita duka mengenai Lilian Alder telah sampai ke telinga Indira dan Anggara. Dua bersaudara yang sekarang tinggal di bawah atap yang sama--di mansion keluarga Rashid--menjadi bersitegang setelah mendengar berita tersebut. Indira adalah pihak yang marah dan memicu amarah Anggara karena amukannya.
Tentu saja, alasan dari amukan Indira datang dari Anggara juga. Indira menyalahkan Anggara atas kepergian Lilian yang tiba-tiba.
"Jika bukan karena kau yang memindahkannya ke rumah sakit yang tidak memadai, Lilian tidak akan meninggal dunia," adalah argumen Indira sore itu juga. Sore setelah Jemaine Emery mengabarkannya tentang Lilian.
"Aku sudah melakukan apa yang aku bisa. Bukan salahku bila wanita itu ditakdirkan meninggal. Dia sudah sakit sejak lama, sudah sewajarnya bila sewaktu-waktu dia menyerah. Lagipula, alasannya mampu bertahan hidup sampai sekarang adalah karena keluarga kita yang mengakomodasi pengobatannya sampai sejauh ini." Anggara melawan balik.
Anggara sudah merasa cukup atas segala perlawanan yang terus Indira berikan belakangan. Gadis itu menyalahkannya atas segala hal yang terjadi di muka bumi ini. Bahkan kematian Joseph pun menjadi kesalahan Anggara juga.
Sialan. Mengapa nyawa para bodyguard itu lebih penting dari posisinya sebagai kepala keluarga ini? Mengapa adiknya jadi memusuhinya karena kematian pion-pion yang tidak berguna?
"Daripada menyalahkanku, Indi. Kau seharusnya berterima kasih. Jika bukan karena aku yang menyelamatkanmu, kau akan masih terkurung di kediaman Caspian dan menjadi tawanan dari suami gilamu itu."
"Kenapa aku harus berterima kasih? Kau sendiri yang menjadikan pria gila itu suamiku! Kau juga yang membuat kita akan mati sekarang, Anggara. Fawn akan membunuh kita. KEPARAT!" Indira lepas kendali dan berteriak. Ia merasa dirinya terjepit di dalam situasi yang tidak mampu ia ubah sama sekali. Seakan-akan takdirnya hanya satu, yaitu mati.
"Jangan berpikiran dangkal. Kau pikir satu orang seperti Fawn cukup untuk menyingkirkan kita semua? Apa kau tidak melihat berapa banyak pengawal yang dikerahkan Evan untuk melindungi kita? Kendati suamimu itu gila, dia masih mengutamakan kesalamatan kita juga. Kau sebaiknya berhenti bertingkah dan mulai mematuhi suamimu, Indira."
"Aku tidak ada niat mematuhi pembunuh." Indira meraih vase bunga di atas meja buffet dan membantingnya ke lantai. "Lagipula cepat atau lambat kita akan mati. Fawn akan membunuh kita semua, dan kau Anggara..., kau sudah berhasil membuat dirimu sebagai keturunan terakhir di Rashid. Kau berhasil mengakhiri kutukan keluarga kita yang selalu berujung sebagai pecundang!"
"JAGA MULUTMU, INDIRA!"
"Aku tidak peduli lagi. Aku harap kau mati terbakar sendiri!"
Indira berlari keluar dari ruang kerja Anggara dan membanting pintunya dengan kasar. Sejenak, di keheningan koridor, Indira menemukan lututnya kehilangan tenaga. Ia bersandar di tembok dan memejamkan mata.
Apa yang harus ia lakukan?
Indira merenungkan situasinya sekarang dengan ketakutan. Ia tau cepat atau lambat, ia akan diburu oleh Fawn. Kepalanya akan menjadi trofi kemenangan keluarga Hunter. Ia akan mati. Indira tidak ingin mati.
"Aku harus melarikan diri..." Indira membuka mata dan datang dengan tekad itu. Lututnya masih bergetar hebat saat ia menyusuri lorong menuju kamarnya. Cahaya jingga di luar jendela perlahan meredup menjadi hitam. Malam telah datang.
Seperti dikejar oleh malaikat maut, Indira mengemas barang-barangnya dengan kepanikan. Indira tidak tau mengapa, semakin waktu berputar, semakin ia merasa kepanikan luar biasa. Seakan-akan seseorang berbisik di tengkuknya dan menyuruh ia untuk segera pergi dari sana.
"Maafkan aku, Ayah, Ibu..., Anggara. Aku tidak tertarik untuk mati di sini." Indira bergumam sambil menyeret kopornya ke luar dari kamar. Ia melirik koridor kamarnya yang sunyi dan menelan saliva ngeri.
Sejak kapan kediaman Rashid membuatnya bergidik?
Sementara Indira melangkah di koridor lantai dua dengan kehati-hatian dan kegugupan, sesuatu yang besar sedang terjadi di lantai pertama. Indira nyaris menapakkan kakinya ke atas tangga marmer yang terhubung ke lantai pertama, andai saja ia tidak melihat kejadian yang mengerikan tersaji di bawah sana.
__ADS_1
Callum Rashid--ayah Indira--duduk bersimpuh di ujung tangga, tersedak oleh darahnya sendiri. Ia menekan lehernya, berusaha mencegah darah yang menerobos keluar dari sana. Namun, upaya itu sia-sia. Torehan besar di sana membuat darahnya tumpah tanpa bisa dicegah. Tanpa sempat berteriak, tanpa sempat membuat perlawanan, Callum Rashid jatuh ke lantai dengan masih memegang luka menganga di lehernya. Mata pria itu terbuka, horor dan penuh teror.
Di dekat Callum Rashid yang mulai kehabisan darah, sesosok wanita dalam pakaian serba hitam berdiri dengan ekspresi dingin. Wanita itu..., tidak salah lagi adalah Fawnia Alder. Sesosok wanita yang terakhir kali Indira mengingatnya, menyorotkan pandangan penuh kebencian padanya.
"A-Ayah?" Indira membungkam bibirnya sendiri. Ia mundur beberapa langkah dengan air mata yang segera tumpah. Ayahnya telah menjadi santapan pertama kebencian Fawnia.
"Sudah dimulai..." gumam Indira. Balas dendam Fawn sudah dimulai. "Apa yang harus aku lakukan?"
Dengan tubuh yang menggigil dingin, Indira berlari tertatih meninggalkan tangga. Indira ingin menemukan Anggara, meneriaki wajahnya dan menyalahkannya. Tapi, mengambil waktu ke sana..., ke ruang kerja Anggara adalah hal sia-sia. Tidak ada keselamatan di sana. Anggara tidak akan bisa menyelamatkannya.
"Joseph, kau seharusnya tidak mati dan meninggalkanku!" Indira mulai menangis lagi. Ia tidak tau harus bagaimana melarikan diri dari takdir kematiannya. Haruskah ia mendekati Fawn dan memohon ampun di kaki wanita itu? Fawn diingatan Indira bukanlah wanita yang kejam. Dia sangat ramah dan murah tersenyum.
Dia mungkin akan memaafkan--
"Siapa yang mau kubodohi?" Indira mau menampar wajahnya sendiri. Fawn yang ada di ingatannya adalah Fawn yang berbeda dari Fawn yang ia temukan di ujung tangga. Wanita itu memancarkan aura berbahaya. Juga, mengingat apa yang sudah dilalui Fawn untuk sampai ke tahap ini, mustahil ia mampu membuat Fawn memaafkannya. Mustahil.
"Nona Indira..."
Ha?
"Apa kau hendak pergi ke suatu tempat, nona Indira?"
Di belakang Indira, suara langkah dari sepatu boots mendekat. Indira pikir ia sudah berlari dengan cepat dan tanpa suara, tapi bagaimana..., aah..., apakah ini rumor tentang Fawn yang selalu ia dengarkan dari Joseph? Bahwa Fawnia adalah bodyguard yang mampu bergerak cepat dan sangat hebat dalam penyusupan? Dia mampu menyingkirkan lawannya tanpa suara.
"Kenapa kau ada di sini, Fawn?" Indira menoleh dan menemukan mantan bodyguard-nya tersebut sedang berdiri di belakangnya, tangan memegang sebilah pisau. Pisau itu pastilah pisau yang sama yang ia gunakan untuk menyingkirkan Callum Rashid.
Memikirkan ia akan kehilangan nyawanya oleh pisau yang sama yang sudah merenggut nyawa ayahnya membuat Indira semakin bergetar ketakutan. Ia tidak ingin mati dengan cara menakutkan seperti itu.
Ia tidak mau mati.
"Aku datang untuk berkunjung," kata Fawn tenang. "Aku punya urusan yang belum selesai dengan bos Angga."
"..."
"Kembali lagi pada pertanyaanku sebelumnya, nona Indira. Apa kau hendak pergi ke suatu tempat? Kau meninggalkan kopormu di koridor."
Indira menelan ludah. "Aku..., aku tidak terlibat apa pun, Fawn. Kau seharusnya tau ini dengan sangat baik. Kau bersamaku selama ini, kau tau betapa aku benci terlibat dalam masalah ini. Kumohon..."
"Aku sempat berpikir demikian sampai Anggara melibatkanku dan Ibuku dalam masalah pribadinya." Fawn melenggang mendekati Indira, dan setiap langkah yang ia ambil untuk mendekat, Indira mengambil satu langkah menjauh.
"Aku mengerti aku adalah bodyguard. Nyawaku tidak berarti apa-apa untuk orang seperti kalian. Pekerjaan ini, aku memilihnya karena aku sudah siap mati. Tapi, nona Indira..., semena-mena padaku dan memaksaku menyingkirkan orang yang berarti bagiku..., kau tidak berpikir aku akan mematuhi kalian begitu saja, bukan?"
"..."
__ADS_1
"Sebanyak-banyaknya aku menaruh loyalitas padamu, kau masih orang asing di hidupku." Fawn menggapai leher Indira dan mencengkeramnya. "Kau seharusnya memperlakukan bawahanmu dengan penuh kehati-hatian, nona Indira. Hanya karena kami adalah senjatamu, bukan berarti kami tidak bisa melukaimu."
"Jadi, apa kau akan melukaiku sekarang? Kau akan membunuhku? Setelah apa yang kulakukan padamu dan bibi Lilian?"
"Jangan berani menyebut nama ibuku," Fawn memberikan kecaman pada Indira dengan menambah kekuatan dalam cengkeramannya. Indira seketika kesulitan bernapas dalam cekikannya.
"Sekarang..." gumam Fawn. "Aku penasaran, apa yang akan Anggara lakukan bila dia berada di posisi yang sama denganku."
"Kau tidak mendapat keuntungan apa pun dari menyakitiku, Fawn. Aku tau kau bukan wanita yang akan merasakan kepuasan dari balas dendam..., tindakan brutal ini..., ini bukan kau sama sekali. Kau sebaiknya berhenti selama kau belum bertindak terlampau jauh. Kau bukan monster..., aku tau kau..."
"Sssshhh!" Fawn berbisik di telinga Indira, telunjuk di bibirnya menyiratkan permintaan agar Indira meredakan suaranya. "Kalau kau berisik, konsentrasi bos Anggara bisa kacau. Kau tau sekarang adalah jam kerjanya, kan?"
"Fawnia..., kumohon..., hentikan ini!"
Fawn menghela napas. Ia yang sebelumnya menyeret Indira dengan kekangan kuat di leher, menjatuhkan Indira ke lantai dengan sekali dorongan. Fawn berjongkok di dekat Indira dan mengusap surai cokelat panjang nona mudanya tersebut.
"Aku sedang dalam proses menghentikan segala kegilaan yang hendak suami dan saudaramu lakukan, Indira. Kau pikir apa yang kulakukan sampai mengejarmu dan merisikokan keselamatanku sendiri untuk ke sini?" Fawn mengubah usapannya menjadi jambakan dalam sekali gerakan.
"Balas dendam? Kau benar, aku bukan tipe wanita yang akan menaruh dendam. Aku lebih ke tipe orang yang akan mengutukmu seumur hidup daripada membunuhmu. Tapi aku tidak bisa melakukan itu."
"..."
"Meskipun mengutukmu adalah solusi termudah bagiku untuk melanjutkan hidup, aku lebih memilih menyingkirkan kalian untuk kebaikanku di masa depan."
"Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari ini, Fawnia."
"Itu dia kesalahanmu, aku akan mendapatkan hal yang paling kuinginkan bila aku menyingkirkanmu." Fawn menepuk pipi Indira dua kali sebelum menyeret Indira agar mengikutinya.
Saat itu, yang ada di pikiran Fawn hanya satu.
Keselamatan Arcelio Hunter.
"Jika aku menyingkirkanmu dan Anggara, aku akan menyelamatkan Ace dari bahaya. Setidaknya, setelah apa yang sudah Ace lakukan untuk menyelamatkanku, aku perlu membalas budi dengan menyingkirkan musuhnya."
"Kau melakukan ini untuk Ace?" Indira merespon di tengah kesakitannya. "Apa kau gila?"
"Aku tidak gila, aku hanya..."
Sedang jatuh cinta?
Fawn tersenyum miring kepada Indira yang menatapnya. Ketakutan dan kengerian yang berpadu-padan di iris cokelat itu seperti hiburan. Fawn tau apa yang ia lakukan adalah kejahatan, tapi ia tidak merasakan penyesalan apa pun sekarang.
"Ini akan segera berakhir, Nona Indira. Aku akan mengembalikan semuanya menjadi seperti semula."
__ADS_1
...----------------...