DI DALAM SANGKAR

DI DALAM SANGKAR
103. MAX


__ADS_3

...NORMAL pov...


...----------------...


"Aku pikir kau sudah mati," adalah ucapan Axel saat Fawn kembali ke kediaman utama keluarga Caspian. Fawn--masih memakai pakaiannya kemarin, rambut agak berantakan dan raut letih yang transparan.


Fawn tidak menanggap Axel. Fawn hanya berlalu dari hadapan pria itu dan menuju kamarnya. Fawn sangat iritasi pagi ini. Bukan kepada Axel, tapi kepada dirinya sendiri. Oh, dirinya, bagaimana dia bisa lengah kepada Ace? Bagaimana bisa dia mengira, tawaran ringan semacam 'Apa kau mau melihat Butter sebelum pulang?' hanya akan berakhir sebagai melihat Butter?


"Ace keparat," Fawn mencaci Ace dengan suara yang hanya dirinya sendiri mampu dengarkan. Ia menutup pintu kamarnya dan segera mencari cermin. Fawn mengecek penampilannya pagi ini yang jujur saja, sangat berantakan, lalu mengecek kepada tubuhnya dengan lebih mendetail.


"Sialan, Ace..." Fawn mengusap jejak merah di lehernya yang kentara. Jejak yang Ace tinggalkan di sana ketika mereka seharusnya hanya 'melihat Butter'.


Dengan jejak yang menempel di tubuhnya sekarang, hanya ada satu solusi yang dapat ia pilih. Iya, turtle neck lagi.


Benar-benar merepotkan.


Drrrtttt..., drrrttttt!


Sebuah panggilan muncul di ponsel Fawn. Dengan segera, ia mengecek kontak yang tertera di layarnya, memanggilnya.


Vita.


Sebuah kontak yang jarang menghubunginya, sekarang menyapanya. Vita adalah satu dari sedikit orang yang keberadaannya sangat penting di hidup Fawn. Dia adalah seorang patissier yang membuka toko kue di bibir kota. Fawn ketika tidak pergi bekerja, biasanya mampir ke cafe Vita. Hanya saja, semenjak Vita dijadikan ancaman oleh Ace, Fawn merasa dia sudah mengekspos Vita kepada bahaya. Fawn takut menghubungi gadis itu lagi.


Sampai akhirnya hari ini tiba, Vita menghubunginya duluan.


"Halo, Vita." Fawn menyapa dengan suara riang.


"Halo, Fawn. Apa kabar?"


"Aku baik," Fawn agak berbohong. Punggungnya terasa mau patah sekarang saking lelahnya. "Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja? Sudah lama aku tidak berkunjung ke tempatmu, kan?"


"Setidaknya kau sadar diri," Vita mengejek. "Anyway, aku baik kok. Aku menghubungimu karena aku agak cemas pada kabarmu. Kau sudah lama tidak mampir kemari, dan pekerjaanmu bukanlah pekerjaan yang bisa menjamin keselamatan...,"


Di antara semua orang yang mengenal Fawn, Vita adalah satu-satunya orang yang tidak menyukai Fawn bekerja sebagai bodyguard. Di mata Vita, tidak hanya pekerjaan itu berbahaya, nyawa Fawn sangat tidak sebanding dengan upah yang Anggara berikan. Vita merasa, bahkan bila Fawn merasa berhutang-budi, menyerahkan nyawanya kepada keluarga kaya itu bukanlah solusinya. Fawn tidak peduli pada pendapat Vita, tentu saja.


"Haruskah aku berkunjung ke tempatmu nanti?" Fawn bertanya.


"Itu bukan pertanyaan lagi, kau memang harus."


"Ehehehehe, tenang saja kalau begitu. Aku juga mempunyai banyak waktu luang belakangan ini."


"Mmm, hubungi aku kalau kau mau datang. Aku akan mempersiapkan cake favorite-mu."


"Awww, baiklah. Jadi..., apa ada alasan lain kau menghubungiku?"

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada. Hahahahaha. Aku sungguh hanya ingin mengecek situasimu kok. Kau harus beristirahat dari pekerjaanmu dan kemari, oke. Kau butuh istirahat dan banyak memakan makanan lezat."


"Kau tidak perlu mencemaskanku," kata Fawn. Sebenarnya, daripada harus banyak makan, Fawn merasa dia perlu beristirahat dari makanan.


"Errrr, baiklah. Baiklah."


"Sampai jumpa."


"Daah, sampai jumpa." 


Setelah mengakhiri panggilan dengan Vita, Fawn lalu menaruh ponselnya. Ia bersiap-siap mandi. Fawn tidak tau apa yang perlu  ia lakukan hari ini, tapi, mari melihat situasi di luar dulu.


...----------------...


Joseph sedang bersandar di pagar balkon lantai dua ketika Fawn datang dan menyapanya. Pria yang merupakan juniornya itu sedang berdiri sambil memegang segelas kopi. Mata Joseph berotasi ke arah Fawn sebentar sebelum kembali menatap kepada hutan.


"Aku dengar kau baru kembali tadi pagi." Joseph berujar duluan.


"Begitulah."


"Aku awalnya mencemaskan tentang situasi buruk yang mungkin terjadi padamu. Mengingat kau pergi kemana dan tempat itu bukan tempat teraman di dunia..., tapi..., setelah aku melihat kondisimu lagi, aku jadi menyesal sudah mencemaskanmu."


"Ada apa dengan kondisiku?" Fawn menatap penampilannya dari atas ke bawah dan ke atas kembali. Dia pikir tidak ada yang salah darinya hari ini.


"E-eh? Ini...? Aku demam."


"Demam cinta?"


"Tidak ada yang seperti itu, sialan." Aku mau meninju Joseph dan melemparnya dari lantai dua.


"Kau tidak perlu menutupi apa pun. Itu kebebasanmu, Fawn. Juga, apa kau yakin mau berbohong dengan pipi semerah itu?"


"Ini..., sudah kubilang aku demam, kan?"


"Yayayaya, terserah." Joseph menyesap kopinya sambil memikirkan kalau Fawn ternyata cukup kikuk dalam asmara, itu lucu. Padahal dia pikir Fawn adalah sosok yang lebih superior darinya dalam hal apa pun.


"Jadi, apa aku kenal siapa pria beruntung itu?" Joseph kembali bicara.


"Kau tidak akan mau mengenalnya," tukas Fawn. Mengingat Ace adalah sosok yang pernah mencederai lengan Joseph, Fawn mengira keduanya tidak akan dalam situasi baik jika mereka saling mengenal satu sama lain. Ditambah Ace adalah sosok yang agak posesif, Fawn merasa pria itu tidak akan menyukai bila ia dekat dengan pria mana pun, termasuk Joseph.


"Heeeh, jadi orang rahasia, ya..." Joseph manggut-manggut. Dia tidak begitu mengejar topik menyangkut kekasih rahasia Fawn lagi. Joseph lebih memilih menawarkan kopinya kepada Fawn. Fawn menggeleng sebagai balasan.


"Apa kabar pekerjaan kita hari ini?" tanya Fawn sebagai gantinya.


"Tidak ada, seperti yang kau lihat. Kita hanya akan..." Belum sempat Joseph menyelesaikan kata-katanya, sebuah mobil yang memasuki pekarangan depan keluarga Caspian menarik perhatian mereka berdua.

__ADS_1


Mobil itu...


"Bukankah itu mobil tuan Maximillian?"


Maximillian Caspian adalah ayah dari Evan Caspian. Seorang pria yang terkenal sangat disegani sebelum ini. Seorang pria yang memimpin Clubs hingga kejayaannya nyaris menyetarai Diamond. Max adalah pria yang tidak hanya berkarisma, juga merupakan pria yang terkenal sangat dermawan. Dia mempunyai banyak yayasan yang membantu anak-anak kurang mampu, membantu melindungi alam, satwa liar dan segala macam. Oh, pria itu juga terkenal sering berkontribusi dalam donasi di sana-sini.


Fawn cukup takjub pada Max, jujur saja, dan prihatin. Bayangkan akan sesedih apa pria itu bila mengetahui putera semata-wayangnya melakukan tindakan keji? Membunuh orang tua Ace adalah kesalahan yang tidak termaafkan, Tidak untuk Ace dan Margot yang sekarang sedang mengincar kepala mereka.


"Sepertinya hal besar akan segera terjadi," kata Joseph tiba-tiba.


"Kurasa." Fawn menarik napasnya dalam, sebelum mengembuskannya panjang.


"Aku sudah mencari kabar tentang nona Indira," lanjut Jem lagi. "Dari penyelidikanku, tuan Evan tidak hanya mengurung nona Indira di kamarnya."


"Kau serius?"


"Ya. Aku mencuri dengar dari pelayan yang mengantar makanan di sana. Aku tidak tau jelasnya mengenai apa yang terjadi, tapi..., aku akan berusaha menyusup ke sana nanti."


"Joseph, bagaimana kalau kau ketahuan?"


"Tidak akan."


"Kau yakin?"


Joseph mengangguk samar. "Aku cukup percaya diri kali ini."


"Katakan kalau kau membutuhkan bantuanku, oke?"


Sementara Fawn dan Joseph saling bertukar bicara di balkon lantai dua, Max Caspian memasuki rumahnya dengan langkah lebar dan pasti. Tujuannya hanya satu, menuju ruang kerja puteranya.


Max dikawal oleh dua enam orang bodyguard dan ketika ia sampai di depan ruang kerja Evan, tiga dari enam bodyguard-nya berhenti di depan pintu, sementara tiga lagi menyusulnya masuk.


Evan yang sudah menunggu kedatangan Tarin spontan berdiri.


Ia mengitari meja kerjanya dan langsung menghampiri Tarin dengan tangan terbuka. mereka berbagi pelukan di sana, Tarin mengusap kepala Evan dengan kelembutan sementara Evan membenamkan wajahnya di pundak sang ayah.


"Senang bisa melihatmu, Van. Bagaimana kabarmu setelah semua yang terjadi?" Tarin melepaskan pelukannya pada Evan perlahan dan memberikan anaknya tersebut usapan halus di lengan. "Maafkan Ayah baru datang."


"Tidak apa-apa, ayah." Evan menyunggingkan senyuman yang kentara sekali menyembunyikan kefrustasian. "Aku hanya..., maafkan aku sudah mengecewakanmu."


"Tidak ada yang mengecewakan darimu, Evan. Kau sudah bekerja luar biasa."


"Apa pun yang terjadi mulai sekarang, semuanya akan menjadi tanggung jawab ayah." Max mengusap pipi Evan menggunakan ibu jarinya. Menenangkan anak kesayangan dan semata-wayangnya dengan kemanjaan yang kerap ia dan istrinya berikan, kasih sayang yang akan selalu ia limpahkan kepada Evan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2