
...ACE pov...
...…...
Karena Fabian adalah pengawal khusus Margot, aku sebagai kepala keluarga Hunter menyempatkan datang ke pemakaman Fabian yang dibuat oleh David. Carcel berada di sampingku, menuntunku menuju tempat berlangsungnya upacara pemakaman Fabian.
Setiba di lokasi pemakaman, sejumlah pekerjaku yang juga datang ke pemakaman itu menunduk sopan dan memberikanku ruang agar berdiri paling depan.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku maju ke barisan terdepan bersama Carcel. Kami memantau jalannya prosesi pemakaman itu ditemani suara tangis seorang bocah lima belas tahun yang kata Carcel--adalah anak Fabian. Aku memperhatikan bocah itu dipeluk oleh seorang wanita paruh baya, dia meratap kepergian Fabian dengan wajah bersimbah air mata.
Ditinggal oleh satu-satunya keluarga yang dia miliki pasti sangat berat.
Melihat anak angkat Fabian, aku jadi bernostalgia kepada hari ketika paman Jack datang ke kampusku untuk mengatakan informasi tentang kematian ayah dan ibu. Saat itu, daripada menangis, aku terpaku dalam perasaan yang hampa yang ambigu. Perasaan kehilangan dan keterkejutan itu membaur di kepalaku, bertemu dengan kebingungan.
Apa yang terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi?
Sesaat, saat itu aku melupakan kalau orangtuaku adalah manusia juga. Peluang untuk kehilangan mereka semudah mengedipkan mata. Tuhan mampu merenggut, menghapus keberadaan mereka dari sisiku kapan saja. Aku melupakan kalau mereka tidak abadi dan merasa sangat tidak percaya ketika mereka sudah benar-benar pergi.
Hari ketika pemakaman orang tuaku dilaksanakan, aku masih dalam keterkejutan yang bercampur dengan kepahitan. Aku tidak menangis, tapi jantungku seperti dicabut paksa dari dadaku. Aku menatap seiring peti mati mereka ditenggelamkan ke dasar bumi. Aku nyaris tidak berkedip sama sekali. Aku menyaksikan bagaimana keberadaan mereka benar-benar terhapus dari hidupku. Bahwa, kedepannya aku dan Margot hanya akan memiliki satu sama lain.
"Bos, saatnya memberikan penghormatan terakhir." Carcel menegurku bangun dari lamunan.
Aku mengerjapkan mata dan menyadari sudah saatnya untuk kami mengucapkan perpisahan kepada Fabian. Di mulai dari keluarga Fabian, lalu para kerabatnya. Aku berada di urutan pertama setelah keluarga Fabian. Mungkin karena aku bosnya, aku mendapatkan keistimewaan itu. Padahal kupikir David lebih berhak berada di baris terdepan ini.
Dengan langkah yang tenang, aku mendekati peti mati Fabian. Wajah pria yang kerap tersenyum ramah padaku itu tampil pucat pasi. Terbaring lesu dengan jas hitam yang baru. Aku meletakkan setangkai mawar putih di atas peti Fabian dan mengucapkan kata perpisahan.
"Semoga di kehidupanmu yang berikutnya dipenuhi jalan berbunga."
Setelah mengucapkan perpisahan, aku melangkah kembali ke dalam barisan sementara kerabat Fabian yang lain beriringan memberikan perpisahan.
Aku melihat David, Vera, Dean dan Willa (bodyguard pribadi Margot) berbaris di depan peti mati Fabian, mengucapkan perpisahan dengan wajah muram. Melihat mereka, aku jadi teringat Margot yang sekarang berkurung di kamarku bersama Fawn.
Untuk beberapa alasan, Margot tidak mau datang ke pemakaman Fabian sama sekali. Kupikir alasan utamanya adalah karena dia masih belum rela melepaskan bodyguard kesayangannya, atau nomor 2, dia masih trauma kepemakaman setelah kematian orangtua kami.
...---...
__ADS_1
Setelah prosesi pemakaman selesai, aku bersama Carcel singgah ke sebuah cafe dan membeli segelas kopi dingin. Kami berdiri di area bebas merokok dalam ketenangan sementara musik pop yang menjengkelkan memenuhi ruangan. Aku menyesap rokok di bibirku dan musik tolol itu mulai menyusup ke kupingku.
[Melayang-layang, ketika kau panggil namaku, hanya dengan itu aku melambung ke angkasa...]
[Melayang-layang, ketika kau tertawa, aku pun tersenyum...]
"Apa musik pop sekarang terdengar seperti ini?" Aku melirik Carcel dengan kegelian.
Rasanya sangat menggelikan. Aku bukan penikmat musik pada umumnya, tapi mendengar setiap kata dari musik itu membuatku merinding. Aku tidak paham cinta dan tidak pernah paham lagu cinta. Memikirkan sebuah senyuman mampu melelehkan hati seseorang terdengar agak konyol bagiku.
"Oh, lagu ini sangat populer sekarang. Aku pernah tidak sengaja mendengar bos Margot dan nona Fawn menyanyikan lagu ini." Carcel menjawabku santai.
"Huh?" Aku mengerutkan dahi. Kapan itu terjadi?
"Bos Margot sering berkaroke di kamar bos Ace setiap sore. Musiknya kadang terdengar sampai keluar." Carcel menjawabku dengan tidak nyaman.
Oh, kalau itu sore hari maka pantas saja. Aku biasanya meninggalkan keriuhan yang diciptakan Margot dan berkurung di kamar lain untuk tidur.
[Terima kasih Tuhan, walaupun hanya permainan dari takdir, pertemuan secara kebetulan ini membawa kebahagiaan.]
Dia menciptakan kenyamanan di hidupku yang runyam dan memikirkannya saja sudah membuatku tertular senang.
Ini...
"Bos Ace?"
Uhk!!!
Aku tersedak asap rokok.
"Ya?" Apa yang baru saja aku pikirkan? Tertular senang? Aku tidak punya waktu untuk merasakan senang. Perasaan itu sudah lama aku abaikan, kutinggalkan demi kehidupanku yang sekarang.
Aku tidak pernah membayangkan diriku akan merasa senang di kehidupanku saat ini.
"Bos, sepertinya ponselmu bergetar." Carcel mengingatkanku tentang benda elektronik yang sekarang berada di saku jasku.
__ADS_1
Dengan segera, aku merogoh saku dan menjawab panggilan telepon yang tertera di layar.
"Halo," sapaku dengan nada serius. Ini adalah panggilan dari paman. "Ada apa?"
"Halo, Ace. Di mana kau sekarang?" suara paman seperti alarm yang menandakan bahaya, aku seketika memfokuskan pendengaranku pada setiap ucapannya.
"Aku membeli kopi," kataku. Mata melirik ke arah cafe yang penuh oleh pengunjung remaja dan anak-anak muda yang baru lulus SMA.
"Pulanglah sekarang, kita punya hal urgen yang perlu dibicarakan."
"Urgen semacam apa?" aku tidak mau digantung oleh ucapan paman dan mendesaknya untuk menjawab keingintahuanku saat itu juga.
"Seurgen Margot yang ingin membongkar makam Fabian dan mengeluarkan jenazah pria itu kembali dari tanah untuk diajak bertinju."
"HAH?!" Apa pamanku mabuk atau aku mulai punya penyakit telinga?
"Pulanglah dan tenangkan kakakmu, dia sangat marah sekarang. Hewan peliharaanmu bahkan tidak bisa menenangkannya."
"Tunggu, apa yang terjadi sebenarnya?" Aku mematikan rokok dan mengisyaratkan Carcel untuk pulang. Bodyguard-ku itu lekas menuruti ucapanku dan pergi keluar duluan untuk mengambil mobil dari tukang parkir.
"Sesuatu mencurigakan ditemukan Margot saat meretas rekening pribadi anak angkat Fabian." suara paman membuatku menelan ludah. Entah aku memiliki kekuatan naluriah atau cenayang, aku bisa membaca dengan jelas apa yang hendak pamanku katakan berikutnya.
Rahangku mengeras dalam kekecewaan dan kemurkaan.
"Ace, ini masih kemungkinan..., tapi..., kurasa Fabian adalah pengkhianat dan mata-mata yang sudah menjual informasi kita keluar."
Ucapan paman mengkonfirmasikan kekecewaanku.
Sebuah batu besar seperti menimpa kepalaku saat itu juga. Aku tidak terkejut, tapi aku masih merasakan kekecewaan yang mendalam.
...Fabian, apa yang sudah kau lakukan!...
...------...
*ps. lirik lagu di atas merupakan terjemahan dari lagu Kana Hanazawa - Renai Circulation.
__ADS_1