
...FAWN pov...
...----------------...
Selama ini, aku tidak pernah menyesali tindakanku ataupun keputusanku. Bahkan ketika aku menjadi tawanan di sini, aku kesal pada situasiku, tapi itu tidak berarti aku menyalahkan bos Anggara dan nona Indira atas kesialanku. Aku tau yang salah bukanlah mereka berdua melainkan Ace. Pekerjaanku pun memang melibatkan risiko penyiksaan dan kematian di kontraknya, jadi aku tidak akan terkejut atau takut ketika aku memutuskan mati. Aku sudah menyadari semua perihal tersebut dari awal.
Mengenai Ace yang berubah pikiran dan tidak membunuhku, aku memang sangat marah dan putus asa di bawah kendalinya. Aku membenci dia yang berubah pikiran segampang menjentikkan tangan. Dia kadang baik dan kadang menjadi sangat buruk. Aku membenci Ace Hunter, tapi aku tidak merasakan kebencian sama sekali terhadap bos Anggara yang sudah mengutusku untuk lompat ke situasi ini.
Aku tidak pernah mencicipi penyesalan yang membuat jantung dan kulitku seperti dicakar kuat--tidak sampai aku mengingat kembali bagaimana gilanya aku menggapai wajah Ace Hunter dan ******* bibir pria itu seperti wanita yang sudah kehilangan kewarasannya.
Iya, mencium Ace Hunter--dan bergumul dengannya dalam kegilaan yang seharusnya tidak ada--aku menyesali itu semua ketika kewarasan kembali menguasai kepalaku. Aku tidak mengerti hatiku. Wajah pria itu boleh saja tampan dan menawan, tapi tindakannya sangat buruk. Ketampanannya bukan alasan untuk melupakan kejahatan yang sempat pria itu torehkan di hatiku. Penghinaan yang kuterima karena terpaksa hidup dengan pria itu sangat besar, tapi aku menciumnya seperti wanita murahan.
Mengingat kejadian itu, aku mau mengutuk diriku sendiri. Lompat dari menara tertinggi, patah tulang dan mati. Itu lebih baik daripada berpikir kalau ciuman itu sangat mendebarkan.
Aku membenci Ace Hunter, aku sudah mengatakan ini berulang kali tapi...seharusnya tidak ada tapi di sini. Apa yang kupikirkan?
Hari ini lagi, di dalam ruangan yang sama, aura permusuhan sangat kental di antara kami berdua. Dia tidak mengatakan apa pun terhadap sikapnya tempo waktu yang menakutkanku, dan aku..., aku tidak akan mau berdamai dengannya. Sudah saatnya aku bangun ke realita, tidak peduli seberapa baik dia menunjukkan sikapnya, dia adalah orang yang membuatku menderita. Dia memasang gelang ini di kakiku, rantai kebebasanku.
Aku tidak akan memaafkannya sampai aku mati!
"Apa yang kau pikirkan?" suara Felix menyapaku yang sedari tadi diam. Aku menoleh ke arah si tua bangka yang kerap mencari masalah padaku. Hari ini, si bajingan tua itu memakai apron masuk ke kamarku. Apron hitam dengan senampan cemilan kering di dalam dekapan.
Aku mulai merasa seperti binatang yang perlu diberi makan pada jam tertentu. Setiap jam 10 pagi, jam 2 siang dan jam 4 sore, Felix akan datang dan mengganti cemilan untukku. Itu belum termasuk dengan jam untuk makanan berat.
"Aku pikir karena kau sudah di sini kau dan bos Ace setidaknya sudah berdamai."
"Haaah, apa yang bisa diperdamaikan dari situasi kami? Apa kau akan berdamai dengan orang yang ingin membunuh orang tuamu?"
Felix menaruh nampan di atas meja seperti biasa. "Bos Ace melakukan itu demi dirimu sendiri, dia tidak mau kau pergi. Setidaknya pikirkan posisi bos Ace juga. Kau satu-satunya orang yang bisa menghibur dia belakangan ini. Tidak, lebih tepatnya, kau adalah salah satu keajaiban di dunia ini, Fawn. Bos Ace selalu tampil keras di hadapan kami sampai-sampai kami tidak melihatnya seperti manusia melainkan robot. Tapi sejak kau ada, dia jadi lebih pengertian dan terlihat manusiawi."
"Lalu, haruskah aku membelai rambutnya dan mencium kakinya untuk berterima kasih?"
Aku tidak tau alasan Ace melunak kepadaku, tapi apa pun itu, perubahannya yang sekarang tidak membenarkan sama sekali tindakannya di masa lalu. Aku juga masih belum memaafkannya karena sudah membunuh Joseph.
Oh, Joseph... memikirkan kalau hidupnya berakhir terlalu cepat karenaku membuat sekujur tubuhku seperti tertusuk jarum. Hatiku sakit oleh perasaan bersalah dan penyesalan yang berlimpah. Aku..., aku sangat menyesal sudah bertindak gegabah. Aku sangat menyesal sudah mencium musuh yang sudah membunuh kawanku sendiri.
__ADS_1
Aku merasa ingin mati saja hari ini.
"Felix, bantu aku pergi dari sini..." Aku membuat permohonan yang putus asa. Aku tau dia tidak akan menyanggupi permintaanku, tapi aku tidak tau lagi harus memohon kepada siapa. Aku benar-benar ingin pergi dari tempat ini sebelum aku kehilangan kewarasanku.
"Aku tidak akan bisa membantumu dalam hal itu," jawaban Felix seperti yang kuprediksikan. "Satu-satunya orang yang dapat membantumu pergi dari sini hanya dirimu sendiri, Fawn."
"Huh, yaa. Seperti aku adalah James Bond yang bisa membantai seisi rumah ini dengan mata terpejam sebelah?"
"Kau tau tidak semua hal bergantung pada kekuatan fisik, bukan?" Felix menatapku dengan keseriusan. Aku berhenti berkomentar sarkastik dan menatapnya balik.
"Beberapa peperangan dimenangkan dengan pikiran, Fawn. Kalau kau tau cara menggunakan akalmu, aku percaya..., tidak ada yang mustahil. Kau pasti bisa pergi dari sini."
"Apa kau baru saja menyemangatiku?"
Felix menggelengkan kepala. "Aku hanya bosan memberikanmu makanan."
Itu alasan yang masuk akal. Untuk pertama kalinya hari itu, aku tersenyum oleh kata-kata Felix. Pria tua yang selalu mencari masalah padaku dengan suaranya yang sinis dan matanya yang tajam--hari ini membersihkan kabut yang menutupi mataku. Dia memberikanku sesuatu yang mungkin mampu kulakukan...Aku--aku hanya perlu berpikir sekarang.
Dengan tekad yang mulai membuncah, aku melenggang menuju balkon. Langkahku ringan. aku butuh udara segar dan sinar matahari sore sekarang.
"Joseph?" bibirku mengering terbuka. Apa mataku menipuku atau Joseph--Joseph benar-benar masih hidup dan bernapas di bawah sana? Jika itu Joseph maka...,
Aku berbalik dengan langkah bergetar. Lututku lemas, seperti daya dari tubuhku perlahan-lahan melemah. Aku tidak tau apa yang kurasakan sekarang. Apakah itu kelegaan, keterkejutan, kehampaan atau malah kebencian?
Jantungku seperti diremas kuat. Aku masuk ke dalam ruangan dan duduk termenung di sofa. Pikiranku masih memproses penglihatanku tadi dan demi Tuhan, itu memang Joseph. Dia hidup dan bernapas baik-baik saja. Dia..., masih hidup?
"Aku akan mengabarimu nanti," suara Ace terdengar di dekat pintu. Hatiku mencelos saat menyadari keberadaan pria itu. Dia--dia adalah sumber dari segala rasa sakit yang bersarang di jantungku saat ini. Mataku panas oleh emosi yang membuncah.
Suara langkah Ace yang mendekat membuatku mengangkat kepala. Mata kami bertemu begitu saja. Dia selalu melakukan itu ketika dia kembali, dia akan mencari keberadaanku sebelum melanjutkan apa pun itu yang ingin dia lakukan. Tapi, tidak hari ini. Aku tidak akan membiarkan dia melanjutkan apa pun itu.
"Ace..." Aku memanggilnya dengan suara yang kutekan agar tidak menjadi teriakan. Mataku menatapnya sementara jantungku kembali berdentum kencang.
"Ada apa?" Ace berdiri di belakang sofa, tangan sibuk menggulung lengan kemejanya.
"Apa ada sesuatu yang belum kau beritahu padaku?"
__ADS_1
"Ya?"
Bagaimana bisa dia merahasiakan tentang Joseph kepadaku? Aku..., aku mengira Joseph sudah mati. Aku bahkan berduka beberapa hari dan sampai saat ini, aku masih merasakan penyesalan mendalam atas kematian Joseph. Mentalku tersiksa dan... dan dia menipuku?
Apa dia tidak tau seberapa banyak hatiku berdarah atas ketakutan dan perasaan bersalah, bahwa...Joseph, pria yang sudah kuanggap sebagai saudara, teman seperjuangan dan pria tak berdosa..., mati karenaku?
Apa penderitaanku begitu menghiburnya?
"Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu lagi?"
Aku tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa waktu yang lama. Aku..., aku termenung dalam ketidakpercayaan. Ace adalah pria yang kejam, aku sudah menyadari itu sejak hari pertama aku mengetahui keberadaannya. Tapi..., aku tidak bisa tidak terkejut oleh kebiadabannya.
Aku..., aku berharap ada sedikit cahaya di hatinya. Aku ingin percaya, alasan bahwa jantungku berdegup kencang hanya karena keberadaannya adalah karena aku melihat cahaya di dalam kegelapannya.
Tapi sekarang aku mengerti mengenai apa yang Ace katakan. Dia benar, aku penuh kenaifan.
"Tidak ada..." Aku menggelengkan kepala.
Aku sudah membulatkan tekadku, bahkan bila itu berarti aku berubah menjadi iblis dan kehilangan kepolosanku di dalam kegelapan, aku--aku akan keluar dari tempat ini.
"Kau yakin kau baik-baik saja?"
Aku menggelengkan kepala dan memaksakan satu cengiran tipis mekar di parasku saat itu juga. "Aku hanya..., aku lapar. Apa kau mau makan bersamaku?"
"Hah?"
"Aku bosan sendirian, temani aku makan."
Ace terlihat kebingungan sebentar, tapi tidak mengatakan apa-apa ketika dia mendekati sofa. Aku melirik parasnya dari samping dan merasakan ngilu di dada. Jika di mata Ace cinta adalah kelemahan, maka aku akan membuatnya mencintaiku. Aku tidak percaya diri tapi..., aku akan berusaha mendapatkan kelemahannya.
Mencuri hatinya dan pergi. Dia tidak akan mampu melukai orang yang dia cintai.
Aku akan memenangkan peperangan ini.
...----------------...
__ADS_1